Krisis Hebat Melanda Honda di China: Penjualan Merosot Tajam hingga 48 Persen, Akankah Sang Raksasa Bertahan?
SuaraInfo — Industri otomotif global tengah menyaksikan pergeseran peta kekuatan yang drastis, terutama di pasar mobil terbesar di dunia, China. Kabar mengejutkan datang dari salah satu pabrikan raksasa asal Jepang, Honda, yang dilaporkan tengah mengalami masa-masa sulit. Penjualan mobil Honda di Negeri Tirai Bambu tersebut tidak hanya sekadar melambat, melainkan terjun bebas hingga ke level yang sangat mengkhawatirkan bagi para pemegang saham dan analis industri.
Rapuhnya Benteng Honda di China
Selama bertahun-tahun, China menjadi lumbung keuntungan bagi Honda. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa benteng pertahanan mereka mulai retak. Fenomena ini bukan lagi sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan sebuah sinyal merah yang menandakan adanya perubahan fundamental dalam preferensi konsumen di China. Beberapa model andalan yang sebelumnya menjadi primadona kini justru harus ditarik dari peredaran atau dibatasi produksinya demi menekan kerugian yang lebih dalam.
Honda terpaksa melakukan berbagai penyesuaian produksi yang menyakitkan. Langkah-langkah drastis seperti pembatasan jumlah unit yang tersedia, penghentian pemesanan untuk model tertentu, hingga pengurangan alokasi ke jaringan dealer menjadi pemandangan umum. Ironisnya, kebijakan ini diambil di tengah kondisi pasar di mana mobil Honda seolah kehilangan daya tariknya di mata warga lokal.
Penurunan Drastis yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data yang dihimpun dari Car News China, angka-angka yang muncul sangatlah kontras dengan kejayaan mereka di masa lalu. Pada bulan keempat tahun ini, Honda hanya mampu membukukan angka penjualan sebanyak 22.595 unit. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan kemerosotan tajam sebesar 48,3 persen. Penurunan hampir separuh dari volume penjualan normal ini tentu menjadi tamparan keras bagi strategi global Honda.
Kondisi memprihatinkan ini tidak berhenti di satu bulan saja. Jika kita melihat secara akumulatif dari bulan Januari hingga April, total penjualan Honda tercatat berada di angka 145.065 unit. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 28 persen dibandingkan periode Januari-April tahun lalu. Data yang dirilis oleh Sina Finance ini menegaskan bahwa pasar otomotif China saat ini benar-benar sedang tidak berpihak pada pabrikan asal Jepang tersebut.
Nasib Dua Raksasa Patungan: GAC dan Dongfeng
Di China, eksistensi Honda dijalankan melalui dua entitas perusahaan patungan yang berbeda, yaitu GAC Honda dan Dongfeng Honda. Meskipun keduanya membawa nama besar Honda, operasional mereka dilakukan secara terpisah, mulai dari proses produksi, manajemen penjualan, hingga jaringan distribusi dealer. Sayangnya, kedua entitas ini sama-sama merasakan pahitnya hantaman krisis pasar.
GAC Honda, misalnya, kini harus menghadapi kenyataan pahit di mana beberapa model mereka mulai kehilangan panggung. Salah satu contoh yang paling mencolok adalah Honda ZR-V. Mobil yang baru saja melakukan debutnya pada Agustus 2022 ini kini seolah “dianak-tirikan” dalam hal promosi. Di berbagai sudut kota, iklan ZR-V nyaris tak lagi terlihat, dan pihak dealer kini hanya fokus pada upaya menghabiskan sisa stok yang menumpuk di gudang mereka.
Obral Besar-Besaran: Strategi Bertahan atau Tanda Menyerah?
Demi menarik minat pembeli, strategi banting harga pun tak terelakkan. Honda ZR-V yang awalnya dibanderol dengan harga sekitar 210.000 yuan atau setara dengan Rp 540 jutaan, kini diobral dengan harga yang sangat jauh di bawah itu. Kabarnya, mobil ini bisa dibawa pulang dengan harga hanya 84.800 yuan atau sekitar Rp 218 jutaan. Diskon gila-gilaan lebih dari 50 persen ini mencerminkan betapa desperatnya situasi yang dihadapi di lapangan.
Tak hanya ZR-V, model legendaris seperti Honda Accord e:PHEV pun tak luput dari kebijakan cuci gudang. Mobil sedan kelas atas ini ditawarkan dengan harga sekitar 138.800 yuan. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai upaya terakhir untuk menjaga arus kas tetap mengalir, meskipun harus mengorbankan margin keuntungan secara signifikan. Selama periode promosi harga rendah ini, dilaporkan tidak ada alokasi produk baru yang masuk, mengindikasikan bahwa perusahaan benar-benar sedang mengosongkan inventaris.
Akhir Perjalanan Honda Fit dan ZR-V?
Salah satu kabar paling mengejutkan adalah dihentikannya pemesanan untuk Honda Fit hatchback (yang kita kenal sebagai Honda Jazz di beberapa pasar). Mobil yang selama ini menjadi ikon kendaraan kompak yang lincah dan hemat bahan bakar ini dilaporkan telah berhenti menerima pesanan baru sejak awal tahun 2026. Dealer kini hanya melayani pembelian untuk sisa stok yang tersedia di showroom.
Nasib serupa juga menimpa saudara kembarnya yang diproduksi oleh Dongfeng Honda. Jadwal produksi untuk model ini telah dihentikan total, dan fokus utama saat ini hanyalah melikuidasi unit yang masih tersisa. Fenomena ini memicu spekulasi apakah Honda akan mulai meninggalkan segmen mobil kompak konvensional di China demi beralih sepenuhnya ke mobil listrik atau justru mulai menarik diri perlahan dari kompetisi yang kian sengit.
Mengapa Konsumen China Meninggalkan Honda?
Pertanyaan besarnya adalah: Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada revolusi kendaraan energi baru (NEV) yang dipimpin oleh pabrikan lokal seperti BYD dan Xiaomi. Konsumen di China kini lebih melirik kendaraan yang sarat akan teknologi digital mutakhir dan efisiensi energi yang tinggi. Pabrikan lokal China mampu menawarkan mobil listrik dengan fitur canggih namun dengan harga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan mobil berbahan bakar bensin (ICE) milik Honda.
Selain itu, kecepatan inovasi pabrikan China yang sangat luar biasa membuat siklus pembaruan produk menjadi sangat singkat. Sementara itu, Honda dan beberapa pabrikan Jepang lainnya dinilai terlalu lambat dalam merespons tren elektrifikasi. Akibatnya, citra merek yang dulu dianggap sebagai lambang kualitas dan prestise kini mulai memudar di mata generasi muda China yang lebih melek teknologi.
Menilik Masa Depan Honda di Tengah Dominasi Mobil Listrik
Jika kita menengok ke belakang, kejayaan Honda di China pernah menyentuh angka yang fantastis. Pada tahun 2020, mereka berhasil mencatatkan rekor penjualan hingga 1,6 juta unit dalam setahun. Namun, empat tahun berselang, angka itu menyusut drastis. Sepanjang tahun 2025 saja, total penjualan hanya mencapai 645.345 unit, turun 24,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data ini menunjukkan tren penurunan yang konsisten dan sistematis. Jika Honda tidak segera melakukan langkah transformatif yang radikal di sektor kendaraan ramah lingkungan, bukan tidak mungkin pangsa pasar mereka akan terus tergerus oleh dominasi merek-merek lokal China yang kian agresif. Krisis di China ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri otomotif global bahwa loyalitas merek tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar di era elektrifikasi.
Ke depan, tantangan Honda bukan hanya soal menjual lebih banyak mobil, melainkan bagaimana mereka bisa meredefinisi identitas produk mereka agar relevan dengan kebutuhan masa depan. Di tengah gempuran teknologi baterai dan kecerdasan buatan dalam kendaraan, Honda harus membuktikan bahwa mereka masih memiliki taji untuk bersaing di garda terdepan otomotif dunia.