Pep Guardiola Ingatkan Skuad Manchester City: Fokus Performa, Jangan Terjebak Drama Wasit dan VAR

Aris Setiawan | SuaraInfo
13 Mei 2026, 19:26 WIB
Pep Guardiola Ingatkan Skuad Manchester City: Fokus Performa, Jangan Terjebak Drama Wasit dan VAR

SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris yang kian memanas, manajer kawakan Manchester City, Pep Guardiola, kembali melontarkan pesan mendalam yang ditujukan khusus kepada anak asuhnya. Menjelang laga krusial melawan Crystal Palace dalam lanjutan Liga Inggris, pria asal Catalonia tersebut menekankan pentingnya menjaga fokus pada kualitas permainan di lapangan ketimbang meratapi keputusan pengadil lapangan atau teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang belakangan ini kembali memicu kontroversi hebat.

Pesan ini muncul bukan tanpa alasan. Atmosfer Premier League baru-baru ini diguncang oleh perdebatan panas setelah dianulirnya gol penyerang West Ham United, Callum Wilson, saat menghadapi Arsenal pada akhir pekan lalu. Keputusan wasit Chris Kavanagh yang sempat mengesahkan gol tersebut, sebelum akhirnya dibatalkan setelah berkonsultasi dengan VAR, menjadi topik utama di berbagai media olahraga internasional. Namun, bagi Guardiola, terjebak dalam pusaran emosi akibat keputusan wasit hanya akan merugikan timnya sendiri.

Filosofi Kontrol yang Bisa Dikendalikan

Guardiola dikenal sebagai pelatih yang sangat mengagungkan detail taktis dan disiplin mental. Dalam konferensi pers terbaru, ia menegaskan bahwa satu-satunya cara bagi Manchester City untuk terus meraih kesuksesan adalah dengan meminimalkan faktor keberuntungan atau keputusan eksternal. Menurutnya, jika sebuah tim bermain cukup dominan dan efektif, maka keputusan wasit yang buruk sekalipun tidak akan mampu membendung kemenangan mereka.

Baca Juga Sinergi Baru di Bernabéu: Marc Cucurella Siap Jadi ‘Pelayan’ Setia bagi Vinicius Junior
Sinergi Baru di Bernabéu: Marc Cucurella Siap Jadi ‘Pelayan’ Setia bagi Vinicius Junior

“Satu-satunya hal yang benar-benar bisa kami kendalikan adalah performa kami sendiri di atas lapangan. Itulah yang selalu saya tekankan kepada para pemain,” ujar Pep dengan nada tegas namun tenang. Ia menyadari bahwa sebagai manusia, wasit bisa saja melakukan kesalahan, dan teknologi VAR pun masih menyisakan ruang untuk perdebatan subjektif. Oleh karena itu, solusi terbaik bagi The Citizens adalah tampil jauh lebih baik dari lawan sehingga hasil akhir tidak perlu bergantung pada ‘belas kasihan’ keputusan wasit.

Mengingat Luka Lama: Belajar dari Ketidakadilan Masa Lalu

Untuk memperkuat argumennya, Guardiola tidak segan-segan mengungkit kembali kenangan pahit yang dialami timnya dalam beberapa musim terakhir. Ia merujuk pada kekalahan Manchester City di dua final Piala FA berturut-turut, yakni pada tahun 2024 dan 2025, di mana ia merasa keputusan wasit sangat merugikan timnya. Konteks sejarah ini digunakan Pep bukan untuk mengeluh, melainkan sebagai bahan pelajaran berharga bagi skuadnya saat ini.

Pada final Piala FA 2024, City harus mengakui keunggulan rival sekota mereka, Manchester United, dengan skor tipis 1-2. Kala itu, publik Etihad Stadium merasa geram karena dua insiden pelanggaran terhadap Erling Haaland di kotak penalti sama sekali tidak digubris oleh wasit maupun VAR. Setahun kemudian, di final 2025, insiden lain terjadi saat kiper Crystal Palace, Dean Henderson, terlihat memegang bola di luar kotak penalti namun lolos dari kartu merah.

Baca Juga Analisis Mendalam MotoGP Belanda 2026: Jorge Martin Mengincar Takhta di ‘The Cathedral of Speed’
Analisis Mendalam MotoGP Belanda 2026: Jorge Martin Mengincar Takhta di ‘The Cathedral of Speed’

“Kami kalah di dua final tersebut karena wasit tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, bahkan dengan bantuan VAR sekalipun. Namun, ketika hal itu terjadi, saya selalu melihat ke dalam diri kami sendiri. Kami kalah karena kami tidak bermain cukup bagus untuk mengatasi situasi tersebut. Kami harus bermain lebih baik, bukan menyalahkan wasit,” tutur sang manajer dengan penuh refleksi.

Analogi Lemparan Koin dan Realitas VAR

Dalam dunia sepak bola modern yang serba terukur, Guardiola memberikan perumpamaan yang menarik mengenai VAR. Ia menyamakan keputusan teknologi tersebut layaknya sebuah “lemparan koin”—sesuatu yang sulit diprediksi dan sering kali berada di luar nalar logis tim yang bertanding. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Inggris, Pep mengaku telah belajar untuk tidak menaruh kepercayaan penuh pada konsistensi keputusan pengadil.

Melalui pendekatan ini, ia ingin menanamkan mentalitas juara kepada para pemainnya agar mereka memiliki ketangguhan psikologis. Jika para pemain terlalu sibuk memikirkan apakah mereka akan mendapatkan penalti atau apakah lawan akan terkena kartu merah, fokus mereka pada strategi sepak bola yang telah disusun bisa goyah. Konsentrasi yang terpecah inilah yang sering kali menjadi celah bagi lawan untuk mencuri poin.

Baca Juga Dominasi Mutlak Les Parisiens: Bungkam Angers 3-0, PSG Semakin Kokoh di Puncak Klasemen Ligue 1
Dominasi Mutlak Les Parisiens: Bungkam Angers 3-0, PSG Semakin Kokoh di Puncak Klasemen Ligue 1

Menatap Laga Melawan Crystal Palace dengan Serius

Menjelang pertandingan dini hari nanti, fokus utama Manchester City adalah Crystal Palace. Tim asuhan Oliver Glasner tersebut dikenal sebagai tim yang kerap merepotkan klub-klub besar dengan pertahanan solid dan serangan balik cepat. Guardiola memperingatkan bahwa kehilangan fokus sedikit saja, entah karena terganggu keputusan wasit atau hal lainnya, bisa berakibat fatal bagi ambisi mereka mempertahankan gelar.

“Kami harus fokus sepenuhnya pada Palace. Mereka adalah tim yang terorganisir dengan sangat baik. Setelah laga ini, kami masih harus bertandang ke Bournemouth dan menghadapi tantangan besar di markas Aston Villa pada laga pamungkas. Setiap detik dalam pertandingan sangatlah krusial,” tambahnya. Bagi Guardiola, menjaga ritme permainan dan intensitas serangan adalah kunci untuk membungkam kritik dan menghindari drama yang tidak perlu.

Narasi Perebutan Takhta Premier League

Saat ini, persaingan di papan atas Premier League memang sedang berada di titik nadir ketegangan. Arsenal yang terus melaju kencang memberikan tekanan luar biasa bagi City. Dalam situasi seperti ini, margin kesalahan harus ditekan hingga ke titik nol. Dengan meminta pemainnya untuk mengabaikan faktor wasit, Guardiola secara tidak langsung sedang membangun benteng mental yang kuat di ruang ganti Etihad.

Baca Juga Dibalik Megatransfer Abad Ini: Pengakuan Beppe Marotta Soal Ketidaksetujuannya Terhadap Kedatangan Ronaldo di Juventus
Dibalik Megatransfer Abad Ini: Pengakuan Beppe Marotta Soal Ketidaksetujuannya Terhadap Kedatangan Ronaldo di Juventus

Pesan Guardiola ini juga menjadi pengingat bagi seluruh penikmat sepak bola bahwa meskipun teknologi hadir untuk membantu, esensi dari permainan ini tetaplah apa yang terjadi di kaki para pemain selama 90 menit. Manchester City dituntut untuk menunjukkan identitas mereka sebagai juara bertahan yang mampu mengatasi segala rintangan, termasuk rintangan yang datang dari faktor eksternal yang tidak bisa mereka kendalikan.

Dengan persiapan yang matang dan mentalitas yang telah ditempa oleh berbagai pengalaman pahit, publik menanti apakah Kevin De Bruyne dan kawan-kawan mampu mengaplikasikan instruksi sang manajer dengan sempurna. Kemenangan atas Crystal Palace bukan hanya soal tiga poin tambahan, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa Manchester City tetaplah tim yang menentukan nasibnya sendiri, bukan ditentukan oleh peluit wasit atau monitor VAR.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *