Rayakan HUT Ke-8 Motor Besar Indonesia, Bamsoet Tegaskan Pentingnya Brotherhood Sebagai Perekat Sosial Bangsa
SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman yang kian dinamis, komunitas otomotif kini tidak lagi sekadar menjadi wadah bagi para penyuka hobi berkendara. Lebih dari itu, mereka telah bertransformasi menjadi pilar kekuatan sosial yang mampu menjembatani berbagai perbedaan di tengah masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI), Bambang Soesatyo, saat menghadiri perayaan hari jadi ke-8 Motor Besar Indonesia (MBI) di Jakarta.
Dalam suasana penuh kehangatan yang berlangsung pada Jumat malam, pria yang akrab disapa Bamsoet ini menyoroti bagaimana komunitas otomotif memiliki peran krusial dalam menjaga tenun persatuan bangsa. Di saat polarisasi sosial dan ketimpangan ekonomi seringkali menjadi pemisah, semangat persaudaraan atau brotherhood yang tumbuh di jalanan justru mampu meruntuhkan sekat-sekat identitas tersebut.
Menembus Sekat Perbedaan Melalui Aspal
Menurut Bamsoet, fenomena menguatnya sekat identitas di masyarakat saat ini membutuhkan penawar yang nyata. Komunitas motor besar, seperti MBI, hadir sebagai ruang sosial cair yang mempertemukan individu dari berbagai latar belakang profesi, usia, hingga suku dan agama. Di sini, tidak ada lagi jabatan atau status sosial yang mendominasi; yang ada hanyalah sesama pengendara yang berbagi aspal yang sama.
“Komunitas otomotif sekarang sudah berkembang menjadi kekuatan sosial yang sangat diperhitungkan. Di dalamnya ada semangat brotherhood, budaya gotong royong, dan rasa kebersamaan yang tinggi. Inilah yang bisa menjadi perekat persatuan bangsa yang sangat efektif,” ungkap Bamsoet dalam keterangan resminya yang diterima redaksi SuaraInfo.
Ia menambahkan bahwa di tengah situasi politik yang terkadang memanas dan perang opini di media sosial yang seringkali memecah belah, interaksi langsung dalam komunitas memberikan perspektif yang lebih manusiawi. Melalui kegiatan seperti touring kebangsaan, para anggota komunitas diajak untuk melihat langsung keberagaman Indonesia dan membangun hubungan yang setara melalui aktivitas bersama.
Touring Sebagai Gerakan Sosial Nyata
Ketua DPR RI ke-20 ini juga menekankan bahwa makna touring harus mengalami pergeseran paradigma. Jika dulu touring sering dianggap hanya sebagai konvoi kendaraan mewah yang melintasi daerah, kini kegiatan tersebut harus dipandang sebagai sebuah gerakan sosial yang membawa manfaat nyata bagi penduduk lokal yang dilalui.
Data menunjukkan tren positif dalam dunia otomotif tanah air. Berdasarkan catatan dari Asosiasi Automotif Indonesia, lebih dari 60% anggota komunitas otomotif saat ini aktif terlibat dalam berbagai aksi sosial. Angka yang cukup signifikan ini membuktikan bahwa hobi berkendara telah bergerak melampaui sekadar kepuasan pribadi.
“Jangan lagi memaknai touring sekadar konvoi mesin besar. Touring harus menjadi gerakan sosial yang menghadirkan manfaat nyata. Ketika komunitas turun ke lapangan untuk membantu korban bencana alam, melakukan donor darah, atau membangun solidaritas lintas daerah, di situlah semangat kebangsaan tumbuh secara nyata dan organik,” tegas Bamsoet.
Misi Kemanusiaan di Atas Roda Dua
Sepanjang tahun 2025, berbagai organisasi otomotif nasional telah menunjukkan taringnya dalam kegiatan kemanusiaan. Mulai dari pembangunan fasilitas air bersih di daerah terpencil hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak kurang mampu di jalur lintas touring. Bamsoet menilai, langkah-langkah seperti ini adalah bentuk nyata dari pengabdian komunitas kepada negara.
Ia memuji inovasi dan kreativitas yang ditunjukkan oleh Motor Besar Indonesia dalam merayakan hari jadinya. Tidak hanya sekadar pesta, namun juga menyelipkan pesan-pesan moral tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama. Hal ini sejalan dengan visi besar IMI untuk menjadikan setiap anggotanya sebagai duta keselamatan jalan raya sekaligus duta kemanusiaan.
Tantangan Menjaga Identitas dan Tanggung Jawab
Meski memberikan pujian, Bamsoet juga memberikan catatan penting mengenai tantangan masa depan bagi komunitas motor. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara identitas internal komunitas dengan tanggung jawab sosial kepada masyarakat luas. Jangan sampai eksklusivitas komunitas justru menciptakan jarak dengan warga sekitar.
“Semangat brotherhood tidak boleh hanya berhenti di dalam lingkaran internal komunitas saja. Solidaritas ini harus diperluas hingga menyentuh masyarakat luas yang mungkin tidak memiliki keterikatan dengan dunia otomotif. Inilah tantangan bagi para bikers untuk terus membuktikan bahwa mereka adalah bagian integral dari masyarakat yang peduli,” lanjutnya.
Untuk mencapai hal tersebut, Bamsoet menyarankan agar setiap kegiatan komunitas, baik skala lokal maupun nasional, selalu menyertakan agenda bakti sosial atau promosi budaya lokal. Dengan demikian, kehadiran komunitas motor besar akan selalu disambut hangat oleh masyarakat karena membawa dampak ekonomi dan sosial yang positif.
Visi Indonesia yang Lebih Bersatu
Sebagai Ketua Dewan Kehormatan MBI, Bamsoet memiliki harapan besar agar komunitas ini terus menjadi teladan bagi organisasi lain di Indonesia. Ia memimpikan Indonesia yang memiliki banyak ruang persaudaraan yang mampu melampaui perbedaan politik, agama, dan status sosial.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang-ruang seperti ini. Komunitas otomotif bisa mengambil peran tersebut dengan sangat baik. Ketika para bikers mampu menjadi teladan dalam solidaritas sosial, secara tidak langsung mereka sedang ikut menjaga kedaulatan dan persatuan Indonesia di masa depan,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Melalui perayaan HUT ke-8 ini, Motor Besar Indonesia diharapkan terus konsisten dalam mengobarkan semangat persaudaraan tanpa batas. Sebab, di balik helm dan jaket kulit yang mereka kenakan, terdapat jiwa-jiwa patriot yang siap bergerak demi kemanusiaan dan keutuhan bangsa Indonesia.