Misi Kebangkitan Anthony Ginting: Membidik Top 20 Dunia dan Menata Mental di Tengah Ketatnya Persaingan

Aris Setiawan | SuaraInfo
27 Mei 2026, 13:26 WIB
Misi Kebangkitan Anthony Ginting: Membidik Top 20 Dunia dan Menata Mental di Tengah Ketatnya Persaingan

SuaraInfo — Panggung bulutangkis dunia selalu memiliki cerita tentang pasang surut performa para atletnya. Saat ini, sorotan tajam sedang tertuju pada pilar utama tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting. Pemain yang dikenal dengan gerak kaki yang eksplosif dan serangan mematikan ini tengah berjuang melewati fase tersulit dalam kariernya. Berada di luar lingkaran elit 30 besar, Ginting kini mematok target realistis namun penuh tantangan: menembus peringkat 20 besar dunia sebelum tirai tahun 2026 ditutup.

Realitas Pahit di Papan Peringkat BWF

Dunia bulutangkis profesional sangatlah dinamis dan kejam terhadap jeda performa. Berdasarkan rilisan peringkat terbaru dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) per tanggal 26 Mei 2026, Anthony Ginting harus menerima kenyataan pahit terlempar ke posisi ke-44. Peringkat ini bukanlah tempat yang biasa bagi pemain sekelas Ginting yang dalam beberapa tahun terakhir hampir selalu menghuni jajaran lima besar dunia.

Kondisi ini semakin kontras jika melihat jajaran tunggal putra Merah Putih lainnya. Jonatan Christie masih kokoh bertahan di peringkat kelima dunia, menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Sementara itu, fenomena menarik terjadi dengan melejitnya para junior. Alwi Farhan kini sudah bertengger di posisi ke-13, disusul oleh Moh. Zaki Ubaidillah yang merangkak naik ke posisi ke-36. Keberhasilan para pemain muda ini di satu sisi menjadi angin segar bagi regenerasi Indonesia, namun di sisi lain menjadi cermin refleksi bagi Ginting untuk segera berbenah.

Baca Juga Perburuan Sepatu Emas Liga Champions 2025/2026: Harry Kane Terjang Rekor Mbappe di Tengah Drama Paris
Perburuan Sepatu Emas Liga Champions 2025/2026: Harry Kane Terjang Rekor Mbappe di Tengah Drama Paris

Penurunan peringkat ini bukanlah tanpa alasan. Rentetan cedera dan hasil yang kurang memuaskan dalam beberapa turnamen terakhir menjadi faktor utama. Sejak kembali dari masa pemulihan cedera, pencapaian terbaik peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 ini hanyalah mencapai babak semifinal di Swiss Open. Selebihnya, ia sering kali harus angkat koper lebih awal di babak-babak pertama.

Pertarungan Melawan Keraguan Diri

Bagi seorang atlet elit, cedera fisik mungkin bisa disembuhkan dengan fisioterapi dan istirahat yang cukup. Namun, cedera mental berupa hilangnya kepercayaan diri jauh lebih sulit untuk dipulihkan. Ginting secara terbuka mengakui bahwa kekalahan di babak-babak awal turnamen sangat menggerus keyakinannya saat berdiri di lapangan.

“Kalau target sih pastinya ingin semaksimal mungkin masuk dulu 20 besar di tahun ini sampai beres,” ujar Ginting saat ditemui di kawah candradimuka atlet, Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur. Ia menyadari bahwa ada banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan di Jakarta sebelum ia kembali terbang ke mancanegara untuk bertanding.

Baca Juga Ambisi Toprak Razgatlioglu Tembus 10 Besar MotoGP Hungaria 2026: Kecepatan Ada, Namun Traksi Masih Jadi Kendala Utama
Ambisi Toprak Razgatlioglu Tembus 10 Besar MotoGP Hungaria 2026: Kecepatan Ada, Namun Traksi Masih Jadi Kendala Utama

Ginting mengungkapkan bahwa menjaga pola pikir positif adalah kunci utama dalam masa transisinya. Setiap hari, ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa kemampuan teknisnya belum hilang, hanya perlu dipoles kembali dengan kepercayaan diri yang kuat. “Memang itu yang harus di-fight dan tetap bilang yang positif-positif terus ke saya sendiri setiap harinya. Puji Tuhan, cederanya juga sudah membaik, jadi hal-hal non-teknis seperti kepercayaan diri itulah yang sekarang lebih mempengaruhi untuk bisa improve terus,” tambahnya dengan nada optimis.

Strategi Merangkak dari Turnamen Level Bawah

Dampak langsung dari anjloknya ranking BWF adalah hilangnya privilese untuk memilih turnamen. Pemain di peringkat 40-an tidak lagi memiliki jaminan otomatis untuk masuk ke babak utama turnamen level Super 750 atau Super 1000 seperti All England atau Indonesia Open. Bahkan, untuk turnamen sekelas Indonesia Open, Ginting harus bersabar berada di daftar tunggu atau reserve list.

Strategi logis yang kini diambil oleh tim pelatih dan Ginting adalah fokus pada turnamen level Super 300 hingga Super 500. Langkah ini dianggap sebagai jalur paling realistis untuk mengumpulkan poin demi poin demi mendongkrak peringkat secara perlahan. Selain soal poin, turnamen level ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi Ginting untuk kembali mencicipi rasanya memenangkan pertandingan demi pertandingan.

Baca Juga Membongkar Alasan John Herdman Tetap Percaya Muhammad Ferarri di Skuad Timnas Indonesia
Membongkar Alasan John Herdman Tetap Percaya Muhammad Ferarri di Skuad Timnas Indonesia

“Main di Super 750 atau 1000 pun mungkin statusnya reserve. Kayak sekarang di Indonesia Open, saya ada di urutan cadangan ke-5 atau ke-6. Jadi memang fokusnya ke turnamen level 300-500 dulu,” tutur pemain berusia 29 tahun itu.

Ada alasan taktis di balik pilihan ini. Jika memaksakan diri langsung bermain di level tertinggi, risiko bertemu dengan pemain top dunia di babak pertama sangatlah besar. Hal itu bisa menjadi bumerang bagi psikologisnya jika kembali mengalami kekalahan prematur. Dengan bermain di level yang lebih rendah, Ginting memiliki kesempatan lebih besar untuk melaju jauh hingga babak final dan meraih gelar juara.

Fokus di Cipayung: Fondasi Menuju Kebangkitan

Saat ini, pusat perhatian Anthony Sinisuka Ginting adalah memaksimalkan setiap sesi latihan di Pelatnas PBSI. Jakarta menjadi tempatnya untuk menempa kembali kekuatan fisik dan ketajaman pukulan yang sempat memudar. Baginya, persiapan yang matang di Jakarta adalah separuh dari kemenangan di lapangan nantinya.

“Makanya, selain mengembalikan kepercayaan diri di lapangan, apa yang dilatih selama di Jakarta ini bisa benar-benar fokus dan bebas lah gitu,” ungkap Ginting. Ia menegaskan bahwa dirinya ingin merengkuh gelar juara kembali, dimulai dari level terendah hingga nantinya kembali bersaing di panggung besar.

Baca Juga Misi Mustahil di Emirates: Burnley Tolak Jadi ‘Karpet Merah’ bagi Arsenal dalam Perburuan Gelar Liga Inggris
Misi Mustahil di Emirates: Burnley Tolak Jadi ‘Karpet Merah’ bagi Arsenal dalam Perburuan Gelar Liga Inggris

Masyarakat pecinta bulutangkis tanah air tentu berharap proses regenerasi di sektor tunggal putra terus berjalan beriringan dengan kembalinya performa terbaik para pemain senior. Kehadiran Ginting yang kompetitif di jajaran atas dunia masih sangat dibutuhkan, terutama untuk memberikan teladan dan persaingan sehat bagi para juniornya seperti Alwi Farhan dan kawan-kawan. Perjalanan menuju 20 besar dunia memang terjal, namun dengan tekad baja yang ditunjukkan di Cipayung, bukan tidak mungkin Ginting akan segera kembali ke habitat aslinya di puncak prestasi dunia.

Dukungan penuh dari PBSI dan para penggemar diharapkan menjadi bahan bakar tambahan bagi Ginting. Di usia yang masih sangat produktif, pengalaman dan kematangan bermain Ginting adalah aset berharga bagi bulutangkis Indonesia dalam menghadapi turnamen-turnamen besar mendatang, termasuk persaingan menuju kejuaraan dunia berikutnya.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *