Kiamat Mobil Bensin Kian Dekat, VW Ramal Dominasi Kendaraan Listrik Total pada 2035: Hanya Sisakan 3 Persen Pasar

Citra Kirana | SuaraInfo
09 Jun 2026, 17:27 WIB
Kiamat Mobil Bensin Kian Dekat, VW Ramal Dominasi Kendaraan Listrik Total pada 2035: Hanya Sisakan 3 Persen Pasar

SuaraInfo — Industri otomotif global tengah berada di ambang transformasi paling radikal dalam satu abad terakhir. Era deru mesin pembakaran internal yang telah menemani mobilitas manusia selama puluhan tahun perlahan mulai memasuki masa senjakalanya. Volkswagen (VW), salah satu raksasa otomotif asal Jerman, baru-baru ini mengeluarkan proyeksi yang cukup mengejutkan sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai masa depan transportasi kita.

Dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun ke depan, wajah jalan raya di berbagai belahan dunia diprediksi akan berubah total. VW meramalkan bahwa penjualan mobil bensin secara global akan mengalami terjun bebas yang sangat drastis. Prediksi ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan sebuah analisis mendalam terhadap pergeseran kebijakan lingkungan dan percepatan teknologi baterai yang kian masif.

Senjakala Mesin Pembakaran Internal: Visi Radikal Volkswagen

Martin Sander, yang menjabat sebagai Dewan Direksi Pemasaran dan Purna Jual Volkswagen, mengungkapkan sebuah angka yang mencengangkan bagi banyak pihak. Menurutnya, pada tahun 2035 mendatang, pangsa pasar mobil dengan mesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) akan menyusut hingga ke level yang hampir tidak signifikan lagi di pasar global.

Baca Juga Badai Besar di Volkswagen: Di Balik Rencana PHK 100 Ribu Buruh dan Penutupan Pabrik Raksasa
Badai Besar di Volkswagen: Di Balik Rencana PHK 100 Ribu Buruh dan Penutupan Pabrik Raksasa

Sander memproyeksikan bahwa penjualan kendaraan konvensional tersebut hanya akan menyisakan sekitar tiga, empat, atau paling banyak lima persen saja dari total pasar otomotif dunia. Angka ini menandakan sebuah pergeseran paradigma di mana mobil listrik bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi standar utama bagi mobilitas masyarakat modern.

Lanskap industri otomotif memang sedang dipaksa untuk berakselerasi. Tekanan untuk mengurangi emisi karbon dan komitmen negara-negara maju terhadap target net-zero emission menjadi katalisator utama di balik merosotnya popularitas mesin berbahan bakar fosil. Volkswagen melihat bahwa dalam satu dekade ke depan, populasi kendaraan elektrik akan meledak, menenggelamkan kejayaan mesin piston yang telah berkuasa sejak revolusi industri.

Analogi Kereta Kuda: Masa Depan yang Tak Terelakkan

Ada sebuah perumpamaan menarik yang disampaikan oleh Sander untuk menggambarkan posisi mobil bensin di masa depan. Ia menganalogikan keberadaan mobil bensin di tengah dominasi kendaraan listrik nantinya seperti kereta kuda di awal abad ke-20. Pada masa itu, kereta kuda yang tadinya merupakan moda transportasi utama perlahan-lahan dianggap kuno, tidak efisien, dan tertinggal zaman seiring munculnya mobil bermotor.

Baca Juga Mengapa Prabowo Subianto Lebih Memilih Pindad Maung Ketimbang Kemewahan BMW dan Mercedes-Benz?
Mengapa Prabowo Subianto Lebih Memilih Pindad Maung Ketimbang Kemewahan BMW dan Mercedes-Benz?

Hal yang sama akan terjadi pada teknologi otomotif kita hari ini. Ketika infrastruktur pendukung kendaraan listrik sudah merata dan teknologi baterai semakin efisien, penggunaan bahan bakar cair akan dipandang sebagai sesuatu yang tidak praktis. Masyarakat masa depan kemungkinan besar akan melihat pengisian bahan bakar di SPBU sebagai ritual masa lalu yang aneh, persis seperti cara kita melihat pengisian jerami untuk kuda penarik kereta saat ini.

Namun, transisi ini tidak berjalan tanpa kontroversi. Sander memberikan catatan kritis terhadap cara dunia, terutama para pembuat kebijakan, dalam mendorong migrasi besar-besaran ke kendaraan listrik. Ia mengamati adanya ketimpangan antara narasi larangan dan penyediaan solusi nyata di lapangan.

Kritik Terhadap Kebijakan Larangan: Mengapa “Paksaan” Bukan Solusi Terbaik?

Salah satu poin krusial dalam pernyataan Sander adalah ketidaksukaannya terhadap perdebatan yang hanya berfokus pada pelarangan mobil bensin. Banyak negara saat ini berlomba-lomba menetapkan tenggat waktu kapan penjualan mobil bensin akan dilarang secara total. Baginya, pendekatan semacam ini kurang menyentuh akar permasalahan yang dihadapi oleh calon konsumen.

Baca Juga Menakar Ambisi Besar Pemerintah: Menuju 192 Ribu SPKLU di Seluruh Penjuru Nusantara pada 2034
Menakar Ambisi Besar Pemerintah: Menuju 192 Ribu SPKLU di Seluruh Penjuru Nusantara pada 2034

“Inilah mengapa saya membenci diskusi tentang larangan mobil ICE,” tutur Sander dengan tegas. Ia berargumen bahwa membicarakan larangan hanya akan menciptakan ketidakpastian dan resistensi di kalangan pelanggan. Alih-alih memberikan ancaman melalui regulasi, ia menyarankan agar industri dan pemerintah lebih fokus pada upaya meyakinkan konsumen melalui keunggulan nyata yang ditawarkan oleh kendaraan listrik.

Bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan seseorang untuk beralih ke teknologi baru jika poin utamanya hanya berkisar pada ‘kapan mobil bensin Anda tidak boleh lagi dijual’? Ini adalah tantangan psikologis bagi pasar. Konsumen butuh alasan yang positif, bukan sekadar ketakutan akan kehilangan akses terhadap teknologi yang sudah mereka gunakan dan percayai selama puluhan tahun.

Menghapus Hambatan: Infrastruktur Sebagai Kunci Kepercayaan Konsumen

Volkswagen percaya bahwa kunci utama dari percepatan adopsi kendaraan listrik bukanlah regulasi yang kaku, melainkan penghapusan hambatan kepemilikan. Hambatan terbesar saat ini masih berkutat pada masalah infrastruktur pengisian daya yang belum merata dan kekhawatiran akan jarak tempuh (range anxiety).

Baca Juga Revolusi Roda Dua Dimulai: Omoway Omo X Resmi Mengaspal di Indonesia dengan Teknologi Self-Balancing
Revolusi Roda Dua Dimulai: Omoway Omo X Resmi Mengaspal di Indonesia dengan Teknologi Self-Balancing

Sander menekankan bahwa narasi publik harus diubah. Industri perlu berbicara lebih banyak tentang pembangunan jaringan pengisian daya yang masif, cepat, dan mudah diakses. Selain itu, aspek edukasi mengenai keuntungan jangka panjang menggunakan mobil listrik—mulai dari biaya perawatan yang lebih rendah hingga performa berkendara yang lebih instan—harus lebih sering disuarakan secara positif.

Tak hanya infrastruktur fisik, faktor ekonomi juga memegang peranan vital. Harga energi listrik yang kompetitif dibandingkan bahan bakar minyak akan menjadi pendorong alami bagi konsumen untuk berpindah haluan tanpa perlu dipaksa. Jika memiliki mobil listrik terasa lebih menguntungkan secara finansial dan lebih praktis secara operasional, maka dengan sendirinya pasar akan bergerak menuju transportasi berkelanjutan.

Menuju 2035: Sebuah Realitas Baru di Jalan Raya

Proyeksi Volkswagen ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh pemangku kepentingan di industri otomotif, termasuk para penyedia komponen, produsen bahan bakar, hingga konsumen akhir. Jika ramalan bahwa penjualan mobil bensin hanya tersisa 3-5 persen benar-benar terjadi pada 2035, maka kita sedang bersiap menghadapi perubahan gaya hidup secara total.

Baca Juga Mugello Berguncang: Jorge Martin Pecahkan Rekor Kecepatan MotoGP, Akankah Menjadi Rekor Abadi Sebelum Era 850cc?
Mugello Berguncang: Jorge Martin Pecahkan Rekor Kecepatan MotoGP, Akankah Menjadi Rekor Abadi Sebelum Era 850cc?

Perusahaan-perusahaan minyak kemungkinan besar akan bertransformasi menjadi perusahaan penyedia energi terintegrasi, sementara bengkel-bengkel tradisional harus mulai melatih teknisi mereka untuk memahami sistem kelistrikan tegangan tinggi dan perangkat lunak yang kompleks. Mobil tidak lagi hanya menjadi mesin mekanis, melainkan perangkat elektronik berjalan yang terhubung secara digital.

Sebagai salah satu pionir dalam gerakan elektrifikasi, Volkswagen terus berupaya membuktikan bahwa masa depan tanpa emisi bukan sekadar mimpi hijau para aktivis lingkungan, melainkan sebuah keniscayaan bisnis yang masuk akal. Meski tantangan di depan masih membentang luas, arah pergerakan dunia sudah jelas: menuju masa depan yang lebih tenang, bersih, dan bertenaga listrik.

Kini, pilihannya ada di tangan konsumen dan pemerintah. Apakah kita akan menyambut perubahan ini dengan persiapan infrastruktur yang matang, atau tetap bertahan pada teknologi lama hingga akhirnya terpaksa berubah karena keadaan? Satu hal yang pasti, sepuluh tahun dari sekarang, deru mesin piston mungkin hanya akan menjadi simfoni nostalgia bagi segelintir kolektor, sementara sunyinya motor listrik akan menguasai jalanan kota-kota besar di seluruh dunia.

Citra Kirana

Citra Kirana

Pengamat tren otomotif dan mobilitas. Fokus pada review kendaraan terbaru dan tips perawatan praktis bagi pengendara urban di Suara Oto.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *