Pengalaman Pahit Gubsu Bobby Nasution Saat ‘Menyamar’: Mengungkap Gurita Pungli di Objek Wisata Karo

Dimas Pratama | SuaraInfo
20 Jun 2026, 21:26 WIB
Pengalaman Pahit Gubsu Bobby Nasution Saat 'Menyamar': Mengungkap Gurita Pungli di Objek Wisata Karo

SuaraInfo — Pemandangan pegunungan yang asri, udara sejuk yang menusuk tulang, hingga kehangatan kolam belerang alami seharusnya menjadi daya tarik utama bagi siapa pun yang berkunjung ke Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Namun, di balik keindahan alam tersebut, terselip sebuah realita pahit yang kerap dikeluhkan oleh para pelancong: praktik pungutan liar (pungli) yang seolah tidak ada habisnya. Ironisnya, korban dari praktik ilegal ini bukan hanya masyarakat biasa, melainkan juga orang nomor satu di Sumatra Utara, Gubernur Bobby Nasution.

Dalam sebuah pengakuan yang cukup mengejutkan, Bobby Nasution menceritakan pengalaman pribadinya saat berlibur ke salah satu destinasi populer, yakni pemandian air panas Sidebuk-debuk di Desa Semangat Gunung. Berbeda dari kunjungan kerja biasanya yang dikawal ketat oleh protokol dan aparat, kali ini Bobby datang sebagai warga sipil biasa bersama anak dan istrinya. Tanpa atribut jabatan, ia merasakan langsung betapa menjengkelkannya menjadi target pemerasan terstruktur di kawasan wisata tersebut.

Modus ‘Tiap Injak Rem Bayar’ di Sidebuk-debuk

Bobby mengisahkan bahwa kunjungannya ke Sidebuk-debuk saat itu benar-benar bersifat pribadi. Ia ingin menikmati waktu santai bersama keluarga tanpa ada sekat birokrasi. Namun, niat baik tersebut justru berujung pada kekesalan. Ia mendapati bahwa wisatawan dipaksa mengeluarkan uang berkali-kali hanya untuk menempuh jarak yang pendek menuju lokasi pemandian.

Baca Juga Drama Penipuan Wisata Labuan Bajo: Mengapa Bos Travel yang Tilap Rp 85 Juta Kini Melenggang Bebas?
Drama Penipuan Wisata Labuan Bajo: Mengapa Bos Travel yang Tilap Rp 85 Juta Kini Melenggang Bebas?

“Saya juga pernah datang ke sana (Sidebuk-debuk) acara tidak resmi, sama anak-anak dan istri saya ke sana. Karena tidak pakai perangkat protokoler, ya bayar. Bayar juga akhirnya,” ungkap Bobby dalam sebuah kesempatan saat bertemu dengan Bupati Karo, Antonius Ginting. Pernyataan ini terekam dalam unggahan di media sosial resminya yang kini tengah menjadi perbincangan hangat publik.

Lebih lanjut, mantan Wali Kota Medan ini menggambarkan betapa masifnya pungutan tersebut dengan analogi yang cukup telak. Ia menyebut bahwa wisatawan seolah-olah harus membayar setiap kali mereka menginjak rem kendaraan. “Makanya wisatawan itu marah. Belok kanan pertama bayar, belok kiri pertama bayar, belok kanan kedua bayar lagi. Tiap mereka injak rem, mereka harus bayar. Itu baru untuk kendaraannya saja, belum lagi kalau mereka mau masuk ke tempat berendam, bayar lagi,” tegasnya dengan nada prihatin.

Dampak Destruktif: Belajar dari ‘Kematian’ Wisata Siosar

Persoalan pungli di wisata Karo bukan sekadar masalah recehan yang hilang dari dompet turis. Menurut Bobby, ini adalah ancaman eksistensial bagi ekonomi daerah. Ia memberikan contoh nyata yang sangat menyedihkan, yakni kawasan wisata Siosar. Jika beberapa tahun lalu Siosar menjadi primadona baru dengan kunjungan yang membeludak, kini kondisinya berbanding terbalik.

Baca Juga Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta
Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta

Bobby menceritakan pengalamannya kembali mengunjungi Siosar pada tahun 2025 ini. Ia terkejut melihat perubahan drastis yang terjadi. Lokasi yang dulunya penuh sesak dengan tawa wisatawan kini berubah menjadi tempat yang sepi dan cenderung mati suri. Ia menekankan bahwa perilaku buruk oknum-oknum di lapangan telah membunuh potensi ekonomi masyarakat lokal dalam jangka panjang.

“Dulu di Siosar itu luar biasa ramainya. Di 2025 saya coba masuk ke sana lagi, waduh. Dulunya susah nyari kamar karena saking penuhnya, sekarang malah susah nyari orang di sana. Artinya sepi, semua usaha di sana mati. Baik itu pemilik modal besar, masyarakat kecil yang punya vila, hingga pengelola homestay, semuanya terpaksa tutup,” jelas Bobby panjang lebar.

Fenomena ini, menurut analisis SuaraInfo, merupakan bukti bahwa kenyamanan dan rasa aman adalah komoditas utama dalam industri pariwisata. Sekali citra suatu daerah rusak akibat pungli, maka butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan kepercayaan publik, atau bahkan mungkin tidak akan pernah kembali lagi.

Ultimatum untuk Pemerintah Kabupaten Karo

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan di pariwisata Sumut, khususnya di Tanah Karo, Bobby Nasution memberikan instruksi tegas kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo. Ia meminta Bupati dan jajarannya untuk tidak tinggal diam dan segera mencari solusi konkret guna memberantas pungli hingga ke akarnya.

Baca Juga Keajaiban Air Soda Parbubu: Menelusuri Jejak Pemandian Langka Dunia di Jantung Tapanuli Utara
Keajaiban Air Soda Parbubu: Menelusuri Jejak Pemandian Langka Dunia di Jantung Tapanuli Utara

Bobby menekankan beberapa poin penting yang harus segera dibenahi, di antaranya:

  • Integrasi Sistem Pembayaran: Menerapkan sistem satu pintu atau digitalisasi retribusi untuk meminimalisir interaksi uang tunai di lapangan yang rentan diselewengkan.
  • Pengawasan Ketat: Menempatkan petugas keamanan dan personel Satpol PP secara rutin di titik-titik rawan pungli untuk memberikan rasa aman kepada wisatawan.
  • Edukasi Masyarakat: Menyadarkan masyarakat lokal bahwa tindakan pungli adalah “bunuh diri ekonomi” yang akan merugikan mereka sendiri di masa depan.
  • Tindakan Hukum Tegas: Berkolaborasi dengan pihak kepolisian untuk menindak premanisme yang berkedok uang parkir atau uang masuk tambahan.

Gubernur mengingatkan bahwa Kabupaten Karo memiliki potensi yang sangat besar. Jika dikelola dengan jujur dan profesional, Karo bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatra Utara. Namun, selama hantu pungli masih bergentayangan, mimpi untuk menjadikan Karo sebagai destinasi internasional akan sulit terwujud.

Harapan Baru bagi Wisatawan

Curhatan jujur dari sang Gubernur ini diharapkan menjadi titik balik bagi perbaikan tata kelola pariwisata di Sumatra Utara. Masyarakat berharap, keberanian Bobby mengungkap pengalamannya sendiri dapat memicu aksi nyata dari aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Wisatawan menginginkan transparansi; mereka tidak keberatan membayar retribusi asalkan uang tersebut jelas peruntukannya bagi pembangunan daerah, bukan masuk ke kantong pribadi oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Baca Juga Unik! Mengapa Warga Kepulauan Talaud Enggan Terima Uang Logam? Simak Cerita dari Ujung Utara Nusantara
Unik! Mengapa Warga Kepulauan Talaud Enggan Terima Uang Logam? Simak Cerita dari Ujung Utara Nusantara

Ke depannya, tantangan besar menanti Pemkab Karo untuk membuktikan bahwa mereka mampu membersihkan daerahnya dari citra buruk pungli. Jangan sampai keindahan pemandian air panas Sidebuk-debuk atau kesejukan Siosar hanya tinggal kenangan di buku sejarah pariwisata karena keserakahan segelintir pihak.

Sebagai penutup, Bobby mengajak semua pihak untuk bekerja sama. Pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Tanpa adanya integritas dari pengelola dan keramahan dari warga lokal, keindahan alam sehebat apa pun tidak akan mampu bertahan dalam persaingan industri perjalanan global yang semakin ketat.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *