Menelusuri Jejak Mardijkers: Melodi Keroncong dan Warisan Portugis yang Masih Hidup di Jantung Jakarta Utara

Dimas Pratama | SuaraInfo
22 Jun 2026, 11:27 WIB
Menelusuri Jejak Mardijkers: Melodi Keroncong dan Warisan Portugis yang Masih Hidup di Jantung Jakarta Utara

SuaraInfo — Di balik riuh rendah industri dan debu pelabuhan yang menyelimuti kawasan Jakarta Utara, terselip sebuah fragmen sejarah yang nyaris terlupakan namun tetap berdenyut dengan kencang. Jauh sebelum gedung pencakar langit mendominasi cakrawala ibu kota, terdapat sebuah komunitas yang telah menjaga identitas mereka selama hampir empat abad. Inilah Kampung Tugu, sebuah oase budaya di Semper Barat, Cilincing, tempat di mana darah keturunan Portugis mengalir dalam nadi warganya, menciptakan sebuah simfoni akulturasi yang tidak ditemukan di belahan Jakarta lainnya.

Akar Sejarah: Antara Prasasti dan Nama ‘Por-Tugu-Ese’

Asal-usul nama “Tugu” sendiri senantiasa menjadi subjek diskusi sejarah yang menarik. Sebagian besar sejarawan meyakini bahwa nama ini berpangkal dari ditemukannya Prasasti Tugu, sebuah batu bertulis peninggalan Kerajaan Tarumanegara dari abad ke-5 yang kini tersimpan rapi di Museum Nasional. Namun, di kalangan warga setempat, ada sebuah narasi lisan yang tak kalah kuat: bahwa nama Tugu merupakan penyederhanaan dari penyebutan ‘Por-Tugu-Ese’, identitas yang melekat pada komunitas keturunan Portugis yang menghuni wilayah ini.

Baca Juga Sinergi Global BXSea Oceanarium dan YO-GYO Aquarium Jepang: Langkah Visioner Menjaga Warisan Biru Nusantara
Sinergi Global BXSea Oceanarium dan YO-GYO Aquarium Jepang: Langkah Visioner Menjaga Warisan Biru Nusantara

Eksistensi masyarakat ini bermula pada tahun 1661. Mereka adalah kaum Mardijkers, tawanan perang Portugis yang dibawa oleh Belanda (VOC) dari berbagai wilayah taklukan seperti Malaka dan Goa. Mereka dibebaskan dengan syarat berpindah keyakinan menjadi Protestan. “Orang Tugu sudah berada di sini sejak tahun 1661. Dulu kami adalah bagian dari kolonisasi Portugis sebelum akhirnya Belanda masuk dan mengubah banyak hal, mulai dari agama hingga struktur budaya kami,” ungkap Alfondo Andries, seorang penggiat musik keroncong yang pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), saat berbincang dengan tim kami.

Marga dan Identitas yang Tak Lekang Oleh Zaman

Keunikan Kampung Tugu bukan sekadar pada bangunannya, melainkan pada manusianya. Hingga hari ini, nama-nama keluarga atau marga khas yang berbau Eropa masih tegak berdiri sebagai simbol kebanggaan. Nama-nama seperti Michiels, Andries, Abrahams, Quiko, Bacca, Simon, Braune, Salomons, dan Cornelis bukan sekadar label identitas, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan leluhur mereka yang berlayar melintasi samudra berabad-abad silam.

Baca Juga Teror di Balik Kemewahan: Ketika Buaya Raksasa Menembus Dapur Hotel Bintang Empat di Zimbabwe
Teror di Balik Kemewahan: Ketika Buaya Raksasa Menembus Dapur Hotel Bintang Empat di Zimbabwe

Bagi warga setempat, mempertahankan marga adalah bentuk perlawanan terhadap kepunahan sejarah. Meski secara fisik mereka telah berbaur dengan berbagai suku di Indonesia, identitas sebagai warga keturunan Tugu tetap dijunjung tinggi. Komunitas ini diakui secara internasional oleh Asian Portuguese Community sebagai salah satu destinasi sejarah paling lengkap di Asia. Predikat ini diberikan karena Kampung Tugu memiliki elemen warisan yang utuh: mulai dari fisik bangunan, garis keturunan yang jelas, hingga tradisi lisan dan seni yang masih dipraktikkan.

Keroncong Tugu: Jiwa dan Melodi dari Masa Lalu

Bicara soal Kampung Tugu takkan lengkap tanpa menyebut Keroncong. Seni musik ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruh dari kehidupan warga Tugu. Keroncong Tugu diyakini sebagai cikal bakal musik keroncong di Indonesia. Iramanya yang mendayu, dihasilkan dari dentingan ukulele, macute, dan prounga, membawa pendengarnya kembali ke suasana abad pertengahan yang romantis namun melankolis.

Dahulu, para leluhur mereka menggunakan Bahasa Kreol—perpaduan antara bahasa Portugis dan Melayu pasar—dalam lirik-lirik lagunya. Meski kini penggunaan bahasa Kreol mulai memudar dalam percakapan sehari-hari, beberapa kosakata masih tetap hidup di lingkungan keluarga. “Kami masih sering menyebut kakek dengan ‘tata’, kakak perempuan dengan ‘cici’, atau anak perempuan dengan ‘mina’. Bahasa ini tetap kami jaga dalam bait-bait lagu keroncong,” tambah Alfondo. Inilah bentuk pelestarian budaya yang dilakukan secara organik melalui seni suara.

Baca Juga Kebangkitan Pariwisata Indonesia 2026: Magnet Wisatawan Malaysia dan Ledakan Mobilitas Lebaran
Kebangkitan Pariwisata Indonesia 2026: Magnet Wisatawan Malaysia dan Ledakan Mobilitas Lebaran

Tradisi Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi: Ritual Persaudaraan

Kehidupan sosial masyarakat Tugu mencapai puncaknya setiap perayaan Tahun Baru. Ada dua tradisi sakral yang tetap konsisten dijalankan: Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi. Rabo-Rabo, yang berarti “ekor-mengekor”, dilakukan setiap tanggal 1 Januari. Setelah melaksanakan ibadah di gereja, warga akan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya diiringi musik keroncong. Setiap pemilik rumah yang dikunjungi wajib ikut serta dalam rombongan, sehingga barisan warga akan semakin panjang layaknya sebuah ekor yang terus tumbuh.

Satu minggu kemudian, suasana Kampung Tugu kembali meriah dengan tradisi Mandi-Mandi atau ‘mandi bedak’. Di sini, warga berkumpul di halaman Gereja Tugu untuk saling mengoleskan bedak cair ke wajah satu sama lain. Tradisi ini memiliki makna filosofis yang mendalam, yakni simbol pembersihan diri dan saling memaafkan atas segala kesalahan di tahun yang lalu. Melalui ritual adat ini, ikatan kekeluargaan di Kampung Tugu tetap solid meski zaman terus berubah.

Gereja Tugu: Saksi Bisu Arsitektur Dutch Closed

Pusat gravitasi dari seluruh kegiatan masyarakat Tugu adalah Gereja Tugu. Bangunan yang berdiri kokoh di Jalan Raya Tugu ini merupakan salah satu gereja tertua di Jakarta, kedua setelah Gereja Sion. Dibangun antara tahun 1744 hingga 1747 oleh Justinus Vink, gereja ini menggantikan bangunan sebelumnya yang hancur dalam kerusuhan besar tahun 1740.

Baca Juga Masa Depan Bandung Zoo: Investasi Triliunan Rupiah dan Sengitnya Negosiasi Para Raksasa Konservasi
Masa Depan Bandung Zoo: Investasi Triliunan Rupiah dan Sengitnya Negosiasi Para Raksasa Konservasi

Secara arsitektural, Gereja Tugu mengusung gaya Dutch Closed yang sangat kental dengan nuansa kolonial. Jendela-jendela besar dan dinding tebalnya menceritakan ketangguhan bangunan ini melewati berbagai pergolakan zaman. Sejak tahun 1993, pemerintah telah menetapkan Gereja Tugu sebagai bangunan cagar budaya yang harus dilindungi. Bagi IKBT yang dipimpin oleh Rensyi Michiels, kawasan gereja ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan markas besar untuk merumuskan berbagai agenda budaya, termasuk Festival Kampung Tugu yang direncanakan akan digelar besar-besaran pada Agustus 2026 mendatang.

Menatap Masa Depan di Tengah Arus Modernisasi

Hidup di era digital tidak lantas membuat warga Kampung Tugu melupakan akar mereka. Melalui Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), lebih dari 500 anggota komunitas ini terus berupaya agar identitas mereka tidak sekadar menjadi catatan kaki dalam buku sejarah. Mereka menyadari bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana mewariskan semangat ini kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan budaya populer global.

Kampung Tugu adalah pengingat bahwa Jakarta dibangun dari berbagai lapisan identitas yang beragam. Ia adalah simbol keberhasilan sebuah komunitas minoritas dalam menjaga marwah budaya di tengah gempuran modernitas. Mengunjungi Kampung Tugu bukan hanya soal melihat bangunan tua, melainkan merasakan kehangatan sebuah keluarga besar yang menolak untuk menyerah pada waktu. Bagi siapa pun yang ingin meresapi jejak Portugis di Jakarta, Kampung Tugu adalah destinasi yang akan memberikan perspektif baru tentang arti sebuah warisan.

Baca Juga Eksplosi Pariwisata Timur Tengah 2025: Arab Saudi Pimpin Revolusi Ekonomi Kawasan
Eksplosi Pariwisata Timur Tengah 2025: Arab Saudi Pimpin Revolusi Ekonomi Kawasan
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *