Skandal VAR Piala Dunia 2026: Carlos Queiroz Sindir Wasit ‘Sedang Ngopi’ Saat Laga Ghana vs Inggris Berakhir Dramatis

Aris Setiawan | SuaraInfo
24 Jun 2026, 13:25 WIB
Skandal VAR Piala Dunia 2026: Carlos Queiroz Sindir Wasit 'Sedang Ngopi' Saat Laga Ghana vs Inggris Berakhir Dramatis

SuaraInfo — Panggung megah turnamen Piala Dunia 2026 kembali menyuguhkan drama yang menguras emosi, bukan hanya dari sisi teknis permainan di lapangan hijau, melainkan juga dari balik layar monitor Video Assistant Referee (VAR). Pertandingan sengit di Grup L yang mempertemukan raksasa Eropa, Inggris, dengan kekuatan tangguh Afrika, Ghana, berakhir dengan skor kacamata 0-0. Namun, hasil imbang tersebut justru menjadi pemicu ledakan kemarahan dari pelatih kawakan Ghana, Carlos Queiroz.

Bertempat di Stadion Foxborough, Massachusetts, pada Selasa (23/6/2026) waktu setempat, atmosfer pertandingan terasa sangat mencekam sejak menit awal. Ghana yang dijuluki sebagai Black Stars tampil dengan disiplin taktik yang luar biasa, mampu meredam agresi serangan The Three Lions yang dipenuhi pemain bintang. Namun, sorotan utama pasca-pertandingan bukanlah pada skor akhir, melainkan pada kritik pedas Queiroz yang menyebut kinerja wasit video seolah-olah sedang terhenti karena ‘jam istirahat kopi’.

Ketegangan di Foxborough: Ketika Ghana Mengunci Pergerakan Tiga Singa

Sepanjang 90 menit waktu normal, tim nasional Inggris memang mendominasi penguasaan bola. Kendati demikian, skema pertahanan berlapis yang diterapkan Carlos Queiroz membuat Harry Kane dan kawan-kawan frustrasi. Timnas Inggris berulang kali mencoba membongkar pertahanan Ghana melalui sisi sayap, namun kecepatan dan kekuatan fisik para pemain Black Stars selalu mampu memutus aliran bola sebelum masuk ke area berbahaya.

Baca Juga Ironi Inklusivitas di Piala Dunia 2026: Janji Manis Gianni Infantino yang Terbentur Tembok Imigrasi
Ironi Inklusivitas di Piala Dunia 2026: Janji Manis Gianni Infantino yang Terbentur Tembok Imigrasi

Ghana tidak hanya bertahan. Melalui serangan balik yang terukur, mereka beberapa kali mengancam gawang Jordan Pickford. Intensitas pertandingan memuncak di fase akhir babak kedua, di mana sebuah insiden di kotak penalti Inggris memicu protes keras dari seluruh bangku cadangan Ghana. Penyerang andalan mereka, Prince Adu, terjatuh setelah mengalami kontak fisik dengan bek Inggris, Ezri Konsa. Dalam tayangan ulang, terlihat ada indikasi pelanggaran, namun wasit utama tidak bergeming dan VAR tidak memberikan rekomendasi untuk peninjauan ulang.

Misteri Ruang VAR: Sindiran Tajam Sang Pelatih Kawakan

Dalam sesi konferensi pers yang berlangsung panas setelah pertandingan, Carlos Queiroz tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Pelatih asal Portugal itu melontarkan kalimat-kalimat sarkastis yang langsung menjadi tajuk utama berbagai media olahraga internasional. Ia secara terbuka mempertanyakan integritas dan fungsi VAR dalam turnamen sebesar Piala Dunia.

“Saya benar-benar ragu apakah sistem VAR masih berfungsi di turnamen ini. Apakah alat itu masih menyala? Apakah orang-orang di dalamnya masih bekerja?” ujar Queiroz dengan nada menyindir yang tajam. Ia merasa timnya telah dirampok dari kemenangan yang seharusnya bisa mereka raih melalui titik putih. Menurut Queiroz, insiden yang menimpa Prince Adu adalah pelanggaran yang sangat jelas dan tidak memerlukan perdebatan panjang jika dilihat melalui monitor.

Baca Juga Psywar Lamine Yamal dan Balasan Berkelas Jules Kounde: Aroma Persaingan Memanas di Piala Dunia 2026
Psywar Lamine Yamal dan Balasan Berkelas Jules Kounde: Aroma Persaingan Memanas di Piala Dunia 2026

Queiroz kemudian menambahkan sindiran yang paling ikonik dari malam itu: “Mungkin para petugas VAR sedang pergi ngopi. Yah, saya mengerti, kadang-kadang saya juga merasa haus dan butuh kopi di tengah pekerjaan. Tapi masalahnya, ini adalah penalti yang jelas, bahkan mungkin layak kartu merah. Apakah Anda semua yang ada di ruangan ini ragu itu penalti? Ataukah hanya saya yang melihatnya berbeda karena saya berjuang di pinggir lapangan?” sindirnya di hadapan para jurnalis.

Analisis Insiden: Dari Benturan Pickford Hingga Tekel Ezri Konsa

Ketidakpuasan Ghana sebenarnya sudah bermula sebelum insiden Prince Adu dengan Ezri Konsa. Beberapa menit sebelumnya, sebuah benturan keras melibatkan Prince Adu dan kiper Inggris, Jordan Pickford. Dalam situasi perebutan bola liar, Pickford tampak melakukan terjangan yang cukup berisiko. Namun, keputusan wasit justru berbalik arah; Inggris diberikan tendangan bebas dan Ghana dianggap melakukan pelanggaran terhadap kiper.

Keputusan-keputusan kontroversial ini dinilai Queiroz sebagai bentuk keberuntungan besar bagi Inggris. “Inggris adalah tim besar, tapi malam ini mereka sangat beruntung. Sangat beruntung bisa lolos dari hukuman penalti yang sangat layak kami dapatkan,” tegasnya. Kekecewaan ini mendalam karena bagi Ghana, satu gol saja dalam pertandingan tersebut bisa mengubah peta persaingan di Grup L Piala Dunia secara signifikan.

Baca Juga Analisis Mendalam MotoGP Belanda 2026: Jorge Martin Mengincar Takhta di ‘The Cathedral of Speed’
Analisis Mendalam MotoGP Belanda 2026: Jorge Martin Mengincar Takhta di ‘The Cathedral of Speed’

Mentalitas Black Stars dan Strategi Pragmatis Queiroz

Meskipun dibumbui kemarahan terhadap wasit, Queiroz tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap anak asuhnya. Ghana membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap di Piala Dunia 2026. Dengan mengandalkan transisi cepat dan kekuatan di lini tengah, mereka mampu membuat Inggris tidak berkutik. Strategi pragmatis yang diterapkan mantan asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United ini terbukti efektif meredam dominasi pemain-pemain kreatif Inggris.

“Pada akhirnya, jika kita mengesampingkan masalah wasit, hasil imbang ini mungkin terasa adil bagi kedua tim. Inggris punya bola, tapi kami punya semangat dan perjuangan yang lebih keras. Kami menciptakan peluang emas, mereka pun punya peluang di menit-menit akhir. Saya cukup puas dengan performa pemain saya, meski tetap merasa kami berhak mendapatkan hasil yang lebih baik,” tambah Queiroz.

Peta Persaingan Grup L: Jalan Terjal Menuju 32 Besar

Hasil imbang 0-0 ini membuat situasi di Grup L semakin memanas. Baik Inggris maupun Ghana kini sama-sama mengantongi empat poin dari dua pertandingan awal mereka. Dengan satu laga tersisa di fase grup, penentuan siapa yang akan melaju ke babak 32 besar akan sangat bergantung pada hasil pertandingan terakhir. Klasemen Piala Dunia saat ini menunjukkan persaingan yang sangat ketat, di mana selisih gol akan menjadi faktor penentu utama jika poin akhir tetap sama.

Baca Juga Dominasi Bajul Ijo: Persebaya Surabaya Lumat Arema FC 4-0 dalam Derbi Jawa Timur yang Panas
Dominasi Bajul Ijo: Persebaya Surabaya Lumat Arema FC 4-0 dalam Derbi Jawa Timur yang Panas

Menariknya, Queiroz menutup sesi wawancara dengan sebuah candaan yang bermaksud melindungi dirinya dari potensi sanksi FIFA. “Saya minta maaf jika terdengar terlalu menyindir. Saya harus membungkus kritik ini dengan candaan, karena jika saya mengatakannya dengan sangat serius, mungkin saya akan segera mendapatkan surat panggilan sanksi. Jadi, anggap saja semua tadi adalah lelucon, meski kita semua tahu kebenarannya,” pungkasnya sambil tersenyum kecut.

Kontroversi ini dipastikan akan memicu diskusi panjang mengenai standarisasi penggunaan VAR di masa depan. Bagi Ghana, fokus mereka kini beralih sepenuhnya ke laga penentuan, sementara bagi Inggris, hasil imbang ini menjadi sinyal waspada bahwa status tim unggulan tidak menjamin kemudahan dalam menembus pertahanan tim-tim Afrika yang kini semakin berkembang pesat secara taktis di panggung sepak bola internasional.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *