Dinding Tebal Lionel Mpasi: Saat Mimpi Kongo Nyaris Menjadi Mimpi Buruk Inggris di Atlanta

Aris Setiawan | SuaraInfo
02 Jul 2026, 07:25 WIB
Dinding Tebal Lionel Mpasi: Saat Mimpi Kongo Nyaris Menjadi Mimpi Buruk Inggris di Atlanta

SuaraInfo — Stadion Atlanta malam itu menjadi saksi sebuah drama kolosal yang hampir saja mengubah peta persaingan di kancah sepak bola dunia. Di bawah sorotan lampu stadion yang megah dalam perhelatan Piala Dunia 2026, tim nasional Inggris harus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk menundukkan perlawanan sengit Republik Demokratik (RD) Kongo. Namun, narasi utama dari laga babak 32 besar ini bukanlah sekadar kemenangan tipis The Three Lions, melainkan sosok raksasa di bawah mistar gawang Kongo bernama Lionel Mpasi yang tampil bak pahlawan mitologi.

Kejutan Awal dari Tanah Afrika

Sejak peluit pertama dibunyikan, publik sepak bola dunia mungkin mengira laga ini akan menjadi jalan tol bagi Timnas Inggris untuk melaju ke babak berikutnya. Namun, realita di lapangan hijau berbicara lain. Baru memasuki menit ke-7, pendukung Inggris terbungkam ketika Brian Cipenga berhasil mengoyak jala gawang yang dikawal Jordan Pickford. Gol cepat ini bukan sekadar keberuntungan; itu adalah manifestasi dari keberanian para pemain RD Kongo yang tidak gentar menghadapi nama besar pemain bintang Liga Primer Inggris.

Baca Juga Tragedi di Boston: Rekor Abadi Jerman Runtuh di Tangan Paraguay pada Piala Dunia 2026
Tragedi di Boston: Rekor Abadi Jerman Runtuh di Tangan Paraguay pada Piala Dunia 2026

Tertinggal satu gol, anak asuh Thomas Tuchel langsung merespons dengan serangan bertubi-tubi. Gelombang serangan yang dipimpin oleh Jude Bellingham dan sang kapten Harry Kane terus mengalir ke area pertahanan Kongo. Di sinilah panggung utama Lionel Mpasi dimulai. Kiper yang merumput bersama Le Havre ini menunjukkan bahwa dirinya adalah tembok yang sulit ditembus, sebuah penghalang fisik dan mental yang membuat barisan penyerang Inggris nyaris kehilangan akal.

Lionel Mpasi: Sang Penjaga Gerbang yang Tak Kenal Takut

Sepanjang babak pertama, Mpasi melakukan serangkaian penyelamatan yang memaksa para penonton untuk memberikan tepuk tangan meski mereka mendukung kubu lawan. Tiga peluang emas Inggris yang seharusnya menjadi gol dimentahkan dengan refleks yang luar biasa. Bellingham, yang dikenal dengan penempatan bolanya yang cerdas, berkali-kali dibuat geleng-geleng kepala ketika tembakannya berhasil ditepis keluar.

Tidak hanya Bellingham, Harry Kane yang merupakan predator di kotak penalti pun sempat dibuat frustrasi. Sebuah sundulan keras yang mengarah tepat ke sudut gawang berhasil dijangkau oleh tangan Mpasi dengan kecepatan reaksi yang sulit dipercaya. Ketangguhan kiper berusia 32 tahun ini memastikan RD Kongo tetap unggul hingga turun minum, menciptakan suasana tegang di ruang ganti Inggris.

Baca Juga Veda Ega Pratama Siap Tempur di Moto3 Spanyol 2026: Tekad Membayar Kesalahan Kualifikasi di Jerez
Veda Ega Pratama Siap Tempur di Moto3 Spanyol 2026: Tekad Membayar Kesalahan Kualifikasi di Jerez

Drama Babak Kedua dan Tekanan yang Memuncak

Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan semakin meningkat. Thomas Tuchel mencoba melakukan penyesuaian taktik untuk memecah konsentrasi pertahanan Kongo. Namun, Mpasi kembali menunjukkan kelasnya. Salah satu momen paling dramatis terjadi ketika Marcus Rashford melepaskan sepakan keras dari sudut sempit. Bola meluncur deras, namun Mpasi lagi-lagi berada di posisi yang tepat untuk menepisnya, sebelum akhirnya bola tersebut disapu bersih oleh rekan setimnya.

Statistik mencatat bahwa Mpasi berhasil melakukan 5 penyelamatan krusial sepanjang laga. Berdasarkan data dari Sofascore, ia diganjar rating 7.6, angka tertinggi di skuat Kongo yang ia bagikan bersama mantan bek Manchester United, Aaron Wan-Bissaka. Kombinasi antara ketenangan Wan-Bissaka di lini belakang dan ketangkasan Mpasi di bawah mistar benar-benar membuat Inggris berada di ambang keputusasaan.

Titik Balik: Sang Kapten Menjawab Keraguan

Sepak bola seringkali ditentukan oleh satu momen kecil yang mengubah segalanya. Setelah membombardir gawang Kongo tanpa henti, celah itu akhirnya muncul. Berawal dari pergerakan lincah Anthony Gordon yang mengirimkan umpan silang akurat, Harry Kane akhirnya berhasil memenangkan duel udara. Sundulan tajam Kane sebenarnya sempat mengenai tangan Mpasi, namun derasnya laju bola tidak mampu dibendung sepenuhnya dan meluncur masuk ke dalam gawang. Skor berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Inggris, setelah sebelumnya mereka berhasil menyamakan kedudukan.

Baca Juga Dominasi Srikandi Merah Putih di Sydney: Ana/Trias dan Rachel/Febi Melaju ke Semifinal Australian Open 2026
Dominasi Srikandi Merah Putih di Sydney: Ana/Trias dan Rachel/Febi Melaju ke Semifinal Australian Open 2026

Kemenangan tipis ini membawa Inggris melenggang ke babak 16 besar, namun mereka meninggalkan lapangan dengan rasa hormat yang mendalam terhadap lawan mereka. RD Kongo mungkin tersingkir sebagai tim Afrika ketiga di babak ini setelah Senegal, tetapi mereka pulang dengan kepala tegak. Penampilan heroik mereka, terutama Lionel Mpasi, akan terus diingat sebagai salah satu performa individu terbaik di turnamen ini.

Refleksi Pasca-Pertandingan: Tugas yang Belum Usai

“Tugas saya adalah membantu tim dan melakukan penyelamatan,” ujar Mpasi dalam wawancara pasca-pertandingan kepada Daily Mail. Nada bicaranya tetap rendah hati meski ia baru saja membuat para pemain termahal di dunia kerepotan. “Untungnya, saya bisa melakukan beberapa penyelamatan selama pertandingan. Saya sangat ingin bisa menahan dua tembakan yang akhirnya berujung gol tersebut, tapi inilah sepak bola,” tambahnya dengan nada sedikit kecewa.

Di sisi lain, kemenangan ini menjadi alarm bagi Thomas Tuchel. Meskipun Inggris mendominasi penguasaan bola dan menciptakan banyak peluang, efektivitas di depan gawang masih menjadi catatan besar. Ketajaman Harry Kane memang menyelamatkan muka Inggris kali ini, namun tantangan yang jauh lebih berat sudah menanti di depan mata.

Baca Juga Drama di Kansas City: Sepatu Tempur Harry Kane dan Jude Bellingham Digasak Maling Jelang Piala Dunia 2026
Drama di Kansas City: Sepatu Tempur Harry Kane dan Jude Bellingham Digasak Maling Jelang Piala Dunia 2026

Menuju Estadio Azteca: Menantang Sang Tuan Rumah

Langkah Inggris selanjutnya akan membawa mereka ke Mexico City. Di sana, mereka akan berhadapan dengan Meksiko di babak 16 besar yang dijadwalkan berlangsung di Estadio Azteca pada 6 Juli mendatang. Menghadapi tuan rumah di salah satu stadion paling ikonik di dunia tentu membutuhkan persiapan yang jauh lebih matang daripada yang mereka tunjukkan di Atlanta.

Pertandingan melawan RD Kongo telah memberikan pelajaran berharga: bahwa di panggung sebesar Piala Dunia, tidak ada lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Jika Inggris ingin membawa pulang trofi yang sudah sangat lama mereka idamkan, mereka harus mampu mengatasi tekanan dari kiper-kiper sehebat Lionel Mpasi dan pertahanan solid tim-tim kuda hitam lainnya.

Kisah Lionel Mpasi di Atlanta adalah pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal nama besar dan nilai transfer, melainkan tentang dedikasi, kerja keras, dan keberanian untuk berdiri tegak di hadapan raksasa. Meski petualangan Kongo di Amerika Serikat berakhir, Mpasi telah menuliskan namanya dalam sejarah sebagai sosok yang hampir saja meruntuhkan dominasi Tiga Singa.

Baca Juga Juergen Klopp Resmi Beri Sinyal Hijau untuk Timnas Jerman: Revolusi Baru Die Mannschaft Dimulai?
Juergen Klopp Resmi Beri Sinyal Hijau untuk Timnas Jerman: Revolusi Baru Die Mannschaft Dimulai?
Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *