Polemik TKDN Mobil Listrik China: Antara Komitmen Investasi dan Tantangan Industri Komponen Lokal

Citra Kirana | SuaraInfo
08 Mei 2026, 11:25 WIB
Polemik TKDN Mobil Listrik China: Antara Komitmen Investasi dan Tantangan Industri Komponen Lokal

SuaraInfo — Gelombang kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) asal Negeri Tirai Bambu kini tengah merajai jalanan Indonesia. Dengan desain yang futuristik dan teknologi canggih yang ditawarkan dengan harga kompetitif, pabrikan China berhasil memikat hati konsumen domestik. Namun, di balik gemerlap penetrasi pasar tersebut, sebuah isu krusial mulai mencuat ke permukaan dan menjadi perdebatan hangat di kalangan pengamat otomotif serta pelaku industri: sejauh mana kontribusi nyata mereka terhadap struktur industri nasional melalui Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)?

Kritik tajam datang dari berbagai penjuru, menuding bahwa kehadiran raksasa otomotif China di Indonesia sejauh ini barulah sebatas perakitan sederhana atau simple assembly. Tuduhan ini bukan tanpa alasan. Banyak pihak menilai bahwa nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri masih sangat minim, sementara komponen-komponen vital dan bernilai tinggi tetap didatangkan dari negara asal mereka.

Sorotan Tajam dari Asosiasi Komponen

Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menjadi salah satu pihak yang paling vokal dalam menyuarakan kekhawatiran ini. Dalam sebuah diskusi mendalam, Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, mengungkapkan bahwa struktur produksi mobil listrik saat ini belum memberikan ruang yang cukup bagi pemasok suku cadang lokal untuk ikut berkembang.

Baca Juga Link Live Streaming MotoGP Ceko 2026: Ambisi Marc Marquez dan Drama Skorsing Bezzecchi di Sirkuit Brno
Link Live Streaming MotoGP Ceko 2026: Ambisi Marc Marquez dan Drama Skorsing Bezzecchi di Sirkuit Brno

Menurut Basuki, perhitungan TKDN yang ada saat ini memungkinkan sebuah merek mengklaim angka tinggi hanya dengan melakukan beberapa proses dasar. “Jika kita bedah, proses merakit saja sudah menyumbang sekitar 30 persen dalam komponen penilaian. Kemudian, jika baterainya sudah dirakit di sini, itu bisa menyumbang 40 persen. Totalnya sudah 70 persen. Lalu, apa yang tersisa untuk industri lokal? Hanya komponen kecil yang nilai tambahnya tidak signifikan,” tegasnya.

Kondisi ini menciptakan jurang pemisah antara harapan pemerintah untuk membangun ekosistem industri otomotif yang mandiri dengan realita di lapangan. GIAMM berharap agar pabrikan besar tidak hanya membawa modal dan teknologi, tetapi juga merangkul vendor lokal dalam rantai pasok global mereka agar terjadi transfer teknologi yang berkelanjutan.

Jawaban Tegas dari Pabrikan GAC Indonesia

Menanggapi riuh rendah tudingan tersebut, para produsen China tidak tinggal diam. Salah satu pemain baru yang cukup agresif, GAC Indonesia, memberikan klarifikasinya. Melalui CEO GAC Indonesia, Andry Ciu, pihak perusahaan menegaskan bahwa mereka senantiasa patuh pada koridor regulasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Baca Juga Perjuangan Tak Kenal Lelah Veda Ega Pratama di Moto3 Italia 2026: Finis 10 Besar di Tengah Drama Mugello
Perjuangan Tak Kenal Lelah Veda Ega Pratama di Moto3 Italia 2026: Finis 10 Besar di Tengah Drama Mugello

Andry menjelaskan bahwa proses lokalisasi memerlukan waktu dan tahapan yang tidak instan. Saat ini, produk unggulan mereka, GAC Aion, diklaim telah menyentuh angka TKDN di kisaran 40 persen. Angka ini dianggap sebagai titik awal yang krusial sebelum melangkah ke tahap yang lebih mendalam.

“Pemerintah sudah menetapkan regulasi yang jelas mengenai local content. Kami memulainya dari 40 persen, dan secara bertahap angka ini akan terus kami tingkatkan hingga mencapai 60 persen sesuai dengan target waktu yang ditentukan,” ujar Andry saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta.

Lebih lanjut, Andry menekankan bahwa investasi China di Indonesia bersifat jangka panjang. Keputusan untuk memproduksi kendaraan secara lokal merupakan bukti komitmen mereka untuk tidak sekadar berdagang, melainkan membangun basis produksi. Menurutnya, seiring dengan berkembangnya volume penjualan, ekosistem pemasok di sekitar pabrik juga akan terbentuk secara natural.

Tantangan Mencapai Nilai Tambah Riil

Masalah TKDN bukan sekadar angka di atas kertas yang digunakan untuk mendapatkan insentif pajak dari pemerintah. Lebih dari itu, TKDN adalah instrumen untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tidak hanya didorong oleh konsumsi, tetapi juga oleh sektor manufaktur yang kuat.

Baca Juga Strategi Daihatsu Dongkrak Produksi 11 Persen: Gandeng 700 UMKM Lokal Perkuat Rantai Pasok Nasional
Strategi Daihatsu Dongkrak Produksi 11 Persen: Gandeng 700 UMKM Lokal Perkuat Rantai Pasok Nasional

Jika pabrikan hanya melakukan perakitan baut atau screwdriver assembly, maka dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat akan terbatas pada penyerapan tenaga kerja di tingkat pabrik rakitan saja. Namun, jika komponen lokal seperti sistem pengereman, suspensi, interior, hingga perangkat lunak dikembangkan di Indonesia, maka ribuan Usaha Kecil Menengah (UKM) di sektor otomotif akan ikut terangkat.

Saat ini, tantangan terbesar bagi pemasok lokal adalah standar kualitas yang sangat tinggi dari pabrikan EV China dan skala ekonomi yang belum mencukupi. Banyak vendor lokal yang merasa kesulitan untuk bersaing dengan harga komponen impor yang diproduksi secara massal dalam skala jutaan unit di China.

Regulasi Pemerintah Sebagai Penentu Arah

Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya memperketat aturan main guna mendorong percepatan ekosistem EV. Melalui Kementerian Perindustrian, jadwal peningkatan ambang batas TKDN terus dipantau. Hal ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk asing, tetapi juga menjadi basis ekspor untuk kawasan Asia Tenggara dan dunia.

Pemerintah menyadari bahwa transisi menuju kendaraan listrik adalah momentum langka untuk merestrukturisasi industri otomotif nasional yang selama puluhan tahun didominasi oleh merek-merek tertentu. Dengan adanya persaingan antara merek Jepang yang sudah mapan dan merek China yang inovatif, posisi tawar Indonesia seharusnya semakin kuat untuk menuntut lokalisasi yang lebih dalam.

Baca Juga Tragedi Bus ALS di Muratara: Terbongkarnya Skandal Izin Bodong dan Dugaan Pemalsuan Dokumen
Tragedi Bus ALS di Muratara: Terbongkarnya Skandal Izin Bodong dan Dugaan Pemalsuan Dokumen

Menatap Masa Depan Industri Hijau

Perdebatan mengenai rendahnya TKDN mobil listrik China sebenarnya merupakan bagian dari proses pendewasaan industri. Tekanan dari asosiasi seperti GIAMM sangat diperlukan sebagai kontrol sosial dan industri agar para investor tidak terlena dengan kemudahan yang diberikan pemerintah tanpa memberikan timbal balik yang setimpal bagi kemajuan industri komponen dalam negeri.

Di sisi lain, keterbukaan pabrikan seperti GAC Indonesia untuk mengikuti regulasi memberikan harapan bahwa target kemandirian industri otomotif bukanlah mimpi belaka. Kuncinya terletak pada kolaborasi yang sinergis antara kebijakan pemerintah yang tegas, kesiapan vendor lokal untuk meningkatkan standar kualitas, dan komitmen para investor global untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian integral dari rantai pasok mereka.

Pada akhirnya, publik berharap agar jalanan Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh mobil listrik yang ramah lingkungan, tetapi juga oleh kendaraan yang sebagian besar jiwanya—mulai dari riset, desain, hingga komponen terkecilnya—merupakan hasil karya anak bangsa. Hanya dengan cara itulah, revolusi kendaraan listrik benar-benar membawa kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga Sinergi Kemenekraf dan MaxDecal di Mandalika Festival of Speed 2026: Memacu Ekonomi Kreatif Lewat Lintasan Balap Internasional
Sinergi Kemenekraf dan MaxDecal di Mandalika Festival of Speed 2026: Memacu Ekonomi Kreatif Lewat Lintasan Balap Internasional
Citra Kirana

Citra Kirana

Pengamat tren otomotif dan mobilitas. Fokus pada review kendaraan terbaru dan tips perawatan praktis bagi pengendara urban di Suara Oto.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *