Drama 101 Menit di Ennio Tardini: Eksekusi Dingin Malen Jaga Asa Liga Champions AS Roma
SuaraInfo — Stadion Ennio Tardini menjadi saksi bisu sebuah drama kolosal yang menguras emosi dalam lanjutan pekan ke-36 Serie A musim 2025/2026. AS Roma, yang datang dengan ambisi besar untuk mengamankan tiket ke Liga Champions, harus melewati perjuangan melelahkan sebelum akhirnya berhasil menundukkan tuan rumah Parma dengan skor tipis 3-2. Kemenangan ini tidak diraih dengan mudah; I Lupi sempat berada di ambang kekalahan sebelum membalikkan keadaan di masa injury time yang berlangsung sangat panjang.
Dominasi Awal Giallorossi dan Ketajaman Donyell Malen
Sejak peluit pertama dibunyikan, anak asuh Gian Piero Gasperini langsung mengambil inisiatif serangan. Mengandalkan kreativitas Paulo Dybala di lini tengah, Roma berusaha membongkar pertahanan rapat Parma yang digalang oleh duet Circati dan Troilo. Baru sembilan menit laga berjalan, pendukung tim tamu sempat bersorak saat Donyell Malen menggetarkan jala gawang Zion Suzuki. Namun, kegembiraan itu sirna setelah wasit menganulir gol tersebut karena Malen sudah lebih dulu terjebak posisi offside.
Meski gol pertamanya dianulir, Malen tidak patah arang. Striker internasional Belanda tersebut terus mencari celah di antara barisan belakang Ducali. Upaya keras Roma akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-22. Melalui skema serangan balik yang rapi, Paulo Dybala melepaskan umpan terukur yang membelah pertahanan lawan. Malen yang memiliki kecepatan luar biasa berhasil menjangkau bola dan dengan tenang menaklukkan Suzuki untuk membawa AS Roma unggul 1-0.
Sepanjang babak pertama, Roma tampil sangat dominan. Lini tengah yang dikomandoi Bryan Cristante dan Manu Kone berhasil memutus aliran bola Parma, memaksa tuan rumah lebih banyak bertahan. Hingga turun minum, skor 1-0 untuk keunggulan Serigala Ibu Kota tetap bertahan, memberikan rasa optimisme bagi para pendukungnya yang memadati tribun tandang.
Respons Cepat Parma dan Kebangkitan Tuan Rumah
Memasuki babak kedua, situasi berubah drastis. Parma yang tidak ingin malu di depan pendukungnya sendiri tampil lebih agresif. Hanya dua menit setelah babak kedua dimulai, tepatnya di menit ke-47, Gabriel Strefezza mengejutkan lini belakang Roma. Memanfaatkan sedikit ruang di luar kotak penalti, ia melepaskan tembakan menyusur tanah yang sangat akurat. Bola meluncur deras ke pojok gawang tanpa mampu dijangkau oleh Mile Svilar. Skor pun berubah menjadi imbang 1-1.
Gol penyeimbang tersebut seolah memberikan nafas baru bagi Parma. Mereka mulai berani menekan dan seringkali merepotkan trio bek Roma yang diisi Mancini, Ndicka, dan Hermoso. Gasperini merespons perubahan taktik lawan dengan memasukkan beberapa pemain segar seperti Daniel Ghilardi dan Devyne Rensch untuk memperkuat sisi sayap dan pertahanan.
Namun, petaka seolah menghampiri Roma di penghujung laga. Pada menit ke-87, Mandela Keita melepaskan sebuah tendangan spekulasi dari jarak jauh. Bola yang meluncur deras secara tak terduga berubah arah dan gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Svilar. Parma berbalik memimpin 2-1, sebuah situasi yang membuat ambisi Roma lolos ke kompetisi kasta tertinggi Eropa terancam sirna dalam sekejap.
Keajaiban di Masa Injury Time: Dari Rensch Hingga Malen
Ketika banyak pihak mengira Roma akan pulang dengan tangan hampa, karakter mental baja yang ditanamkan Gasperini mulai terlihat. Memasuki menit ke-94, kemelut hebat terjadi di jantung pertahanan Parma. Daniel Ghilardi yang maju membantu serangan berhasil memenangkan duel udara dan menyodorkan bola pendek kepada Devyne Rensch. Bek sayap muda itu tidak menyia-nyiakan peluang dan melepaskan tembakan mendatar yang merobek jala gawang Suzuki. Skor kembali sama kuat 2-2.
Pertandingan belum berakhir sampai di situ. Drama sesungguhnya terjadi pada menit ke-98. Dalam sebuah kemelut di kotak penalti, Sascha Britschgi melakukan pelanggaran keras terhadap Rensch. Awalnya wasit tidak langsung menunjuk titik putih, namun setelah mendapatkan instruksi dari ruang kontrol VAR, sang pengadil lapangan melakukan peninjauan di pinggir lapangan.
Keputusan krusial pun diambil; wasit menyatakan Britschgi melakukan pelanggaran berat dan memberikan kartu kuning kedua (kartu merah) kepadanya, sekaligus menghadiahi penalti untuk Roma. Di bawah tekanan ribuan suporter tuan rumah, Donyell Malen maju sebagai algojo. Dengan ketenangan luar biasa pada menit ke-101, Malen mengirim bola ke arah yang berlawanan dengan gerakan kiper. Gol! Roma membalikkan kedudukan menjadi 3-2.
Implikasi di Klasemen dan Langkah Menuju Liga Champions
Kemenangan dramatis ini memberikan tambahan tiga poin yang sangat vital bagi Roma dalam perburuan Klasemen Liga Italia. Saat ini, I Lupi kokoh di peringkat kelima dengan koleksi 67 poin dari 36 pertandingan. Mereka terus menempel ketat tim-tim di empat besar, menjaga peluang untuk kembali mencicipi atmosfer Liga Champions musim depan tetap terbuka lebar.
Di sisi lain, bagi Parma, kekalahan ini tentu sangat menyakitkan mengingat mereka sempat unggul hingga menit-menit akhir. Pasukan Fabio Pecchia kini tertahan di posisi ke-13 dengan 42 poin. Meski sudah relatif aman dari zona degradasi, kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka dalam mengelola fokus di menit-menit krusial pertandingan.
Susunan Pemain Kedua Tim
- Parma: Suzuki; Delprato (Britschgi 74′), Circati, Troilo, Valenti, Valeri (Carboni 74′); Ordonez, Nicolussi Caviglia, Keita; Strefezza (Pellegrino 53′), Elphege.
- AS Roma: Svilar; Mancini, Ndicka, Hermoso (Ghilardi 53′); Celik (Rensch 75′), Cristante (El Aynaoui 58′), Kone (Venturino 75′), Wesley; Dybala, Soule (Pisilli 58′); Malen.
Performa Malen dalam pertandingan ini kembali membuktikan bahwa ia adalah investasi terbaik Roma musim ini. Dengan dua golnya di laga ini, ia semakin mengukuhkan diri sebagai top skor klub dan pemain yang paling diandalkan saat situasi buntu. Roma kini menyisakan dua laga penentu di sisa musim hasil pertandingan Serie A, di mana setiap poin akan terasa seperti emas demi mewujudkan mimpi ke kompetisi Eropa.