Misteri Nutri Level: Mengapa Minuman Label ‘No Sugar’ Justru Masuk Kategori C dan D?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
15 Mei 2026, 07:26 WIB
Misteri Nutri Level: Mengapa Minuman Label 'No Sugar' Justru Masuk Kategori C dan D?

SuaraInfo — Fenomena menjamurnya gerai minuman kekinian di setiap sudut kota kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya konsumen hanya disuguhi deretan menu dengan visual estetik, kini pemandangan berbeda mulai terlihat. Beberapa gerai besar mulai menyematkan label Nutri Level pada daftar menu mereka. Namun, di balik transparansi gizi ini, terselip sebuah fakta yang cukup mengejutkan bagi para pencinta gaya hidup sehat: minuman yang diklaim sebagai less sugar atau bahkan no sugar ternyata tidak otomatis mendapatkan rapor hijau atau kategori A.

Sistem Nutri Level yang digagas pemerintah ini bertujuan untuk memberikan edukasi visual yang cepat bagi pelanggan. Namun, ketika label kategori C dan D justru muncul pada varian minuman yang dianggap ‘aman’, masyarakat mulai bertanya-tanya. Mengapa minuman pahit atau yang tanpa tambahan gula masih bisa dianggap memiliki profil nutrisi yang kurang optimal menurut standar kesehatan terbaru?

Membedah Paradoks Label ‘No Sugar’ dalam Nutri Level

Banyak dari kita yang sering terjebak dalam persepsi bahwa kadar gula tambahan adalah satu-satunya indikator kesehatan sebuah minuman. Faktanya, dalam laporan terbaru yang dihimpun tim redaksi, beberapa menu populer menunjukkan hasil yang kontraintuitif. Sebagai contoh, di gerai Xing Fu Tang, menu Grape with Green Tea yang dipesan tanpa gula tambahan tetap bertengger di kategori C. Lebih mengejutkan lagi, menu Ovaltine Milk dengan label no sugar pun harus puas berada di level D, yang merupakan kategori terendah.

Baca Juga Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat
Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat

Bukan hanya minuman manis, minuman berbasis kopi yang biasanya identik dengan rasa pahit dan rendah kalori pun tak luput dari penilaian ketat ini. Di Fore Coffee, varian seperti Triple Peach Americano dan Berry Manuka Americano justru masuk ke dalam daftar kategori C dan D. Hal ini tentu memicu perdebatan di kalangan konsumen: jika kopi pahit saja tidak masuk kategori A, lalu minuman seperti apa yang dianggap benar-benar sehat oleh sistem ini?

Lebih dari Sekadar Gula: Memahami Komposisi GGL

Penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa Nutri Level tidak hanya memotret satu aspek saja. Penilaian ini merupakan akumulasi dari komponen Gula, Garam, dan Lemak (GGL) per 100 ml produk. Sistem ini dirancang untuk melihat profil nutrisi secara holistik, bukan sekadar melihat apakah ada sendok gula tambahan yang dimasukkan oleh barista ke dalam gelas Anda.

Ada tiga pilar utama yang menjadi dasar penilaian Nutri Level:

  • Total Gula: Mencakup gula tambahan (sukrosa) dan gula alami yang sudah ada di dalam bahan baku (fruktosa dan laktosa).
  • Lemak Jenuh: Biasanya bersumber dari penggunaan krimer, susu full cream, atau whipping cream.
  • Natrium atau Garam: Sering kali tersembunyi dalam bahan pengawet atau penambah rasa dalam sirup buah olahan.

Minuman dengan klaim ‘tanpa gula’ tetap bisa mendapatkan nilai buruk jika kandungan lemak jenuh dari susunya tinggi, atau jika kadar natrium di dalamnya melampaui ambang batas yang ditetapkan untuk kategori kesehatan prima.

Baca Juga Solusi Bijak Menghadapi Intoleransi Laktosa pada Anak: Jangan Buru-Buru Hentikan Konsumsi Susu
Solusi Bijak Menghadapi Intoleransi Laktosa pada Anak: Jangan Buru-Buru Hentikan Konsumsi Susu

Penjelasan Medis: Mengapa Gula Buah Tetap Dihitung?

Menanggapi kebingungan publik, dr. Tjandraningrum, M.Gizi, SpGK, seorang pakar gizi klinik, memberikan penjelasan yang mencerahkan. Menurutnya, label no sugar sering kali disalahartikan sebagai ‘bebas gula sama sekali’. Padahal, banyak bahan dasar minuman kekinian yang secara alami sudah mengandung gula dalam jumlah besar.

“Walaupun dia no sugar tapi tetap ada gula. Di buah itu ada namanya gula buah atau fruktosa,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan diskusi. Beliau menambahkan bahwa penggunaan sirup perasa, meskipun diklaim sebagai sirup buah asli, merupakan konsentrat yang memiliki kepadatan kalori dan gula yang tinggi. Sirup anggur atau sirup buah lainnya adalah penyumbang utama mengapa minuman tetap memiliki indeks glikemik yang perlu diwaspadai.

Selain itu, proses pengolahan juga sangat berpengaruh. Buah yang telah diolah menjadi jus atau konsentrat cenderung kehilangan serat alaminya, sehingga gula di dalamnya lebih cepat diserap oleh tubuh. Inilah alasan mengapa kesehatan tubuh tetap terancam jika kita mengonsumsi minuman olahan buah secara berlebihan, meski tanpa tambahan gula pasir sekalipun.

Baca Juga Waspada Tren Ngopi Gen Z: Sensasi Manis di Lidah yang Berujung ‘Pahit’ bagi Kesehatan Liver
Waspada Tren Ngopi Gen Z: Sensasi Manis di Lidah yang Berujung ‘Pahit’ bagi Kesehatan Liver

Bahaya Tersembunyi di Balik Topping dan Tekstur

Daya tarik utama minuman kekinian sering kali terletak pada tekstur dan visualnya. Penggunaan mousse, krimer, cheese foam, hingga topping seperti boba dan jelly adalah faktor kunci yang memperburuk skor Nutri Level. Bahan-bahan ini adalah sumber utama lemak jenuh dan kalori kosong.

Banyak konsumen yang memesan kopi Americano namun menambahkan topping atau perasa buah dengan harapan mendapatkan rasa yang lebih segar. Tanpa disadari, penambahan elemen-elemen ini secara drastis mengubah profil nutrisi minuman tersebut dari yang awalnya ringan menjadi beban bagi metabolisme tubuh. Ukuran gelas yang besar (large size) juga memperparah kondisi ini, karena total asupan gizi yang masuk ke tubuh dihitung berdasarkan volume total yang dikonsumsi.

Nutri Level: Sebuah Panduan, Bukan Vonis

Meski terlihat mengkhawatirkan, kehadiran Nutri Level di gerai-gerai Indonesia adalah langkah maju dalam perlindungan konsumen. Sistem ini bukan bertujuan untuk melarang masyarakat mengonsumsi minuman favorit mereka, melainkan bertindak sebagai instrumen transparansi. Dengan adanya label A, B, C, dan D, konsumen kini memiliki kekuatan untuk membuat keputusan yang lebih sadar (conscious decision).

Baca Juga Rahasia Transformasi Shindy Samuel: Perjuangan Pangkas 104 Kg hingga Tampil Pangling dengan Berat 67 Kg
Rahasia Transformasi Shindy Samuel: Perjuangan Pangkas 104 Kg hingga Tampil Pangling dengan Berat 67 Kg

Pemerintah melalui Kemenkes dan BPOM berharap sistem ini dapat menekan angka risiko diabetes dan obesitas yang terus meningkat di Indonesia. Label ini mengajak kita untuk lebih bijak dalam mengatur frekuensi konsumsi. Jika hari ini Anda memilih minuman dengan level D, maka ada baiknya untuk mengimbanginya dengan asupan makanan yang lebih sehat dan aktivitas fisik yang cukup di hari berikutnya.

Tips Menjadi Konsumen Bijak di Era Nutri Level

Menghadapi tren label gizi ini, kita sebagai konsumen perlu lebih kritis. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil untuk tetap menikmati minuman kekinian tanpa mengabaikan kesehatan:

  1. Perhatikan Ukuran Porsi: Memilih ukuran terkecil (small atau regular) dapat mengurangi total asupan kalori secara signifikan.
  2. Batasi Topping: Cobalah untuk menikmati minuman tanpa tambahan boba, jelly, atau krim yang berlebihan.
  3. Pahami Bahan Dasar: Pilihlah minuman berbasis teh atau kopi murni tanpa tambahan sirup buah olahan jika menginginkan kategori nutrisi yang lebih baik.
  4. Gunakan Label sebagai Pembanding: Gunakan Nutri Level untuk membandingkan dua menu yang berbeda dan pilihlah yang memiliki peringkat lebih tinggi (mendekati A).

Pada akhirnya, Nutri Level adalah sebuah alat navigasi di tengah hutan rimba industri makanan dan minuman olahan. Dengan memahami makna di balik huruf-huruf tersebut, kita tidak lagi sekadar menjadi pembeli, melainkan menjadi konsumen cerdas yang mengutamakan pola hidup sehat jangka panjang. Mari jadikan label ini sebagai titik awal untuk lebih peduli terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita setiap harinya.

Baca Juga Mengubah Tekanan Menjadi Kekuatan: Mengapa Stres Adalah Sahabat Tersembunyi untuk Kesehatan Mental Anda
Mengubah Tekanan Menjadi Kekuatan: Mengapa Stres Adalah Sahabat Tersembunyi untuk Kesehatan Mental Anda
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *