Tragedi di Bukit Penyesalan: Kisah Pilu Pendaki Asal Sukabumi yang Mengembuskan Napas Terakhir di Jalur Rinjani
SuaraInfo — Kabar duka kembali menyelimuti dunia petualangan tanah air. Gunung Rinjani, yang dikenal dengan kemegahan puncaknya dan keindahan Danau Segara Anak, kali ini menjadi saksi bisu sebuah peristiwa memilukan. Seorang pendaki asal Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan meninggal dunia setelah kehilangan kesadaran di salah satu titik paling menantang dalam jalur pendakian Sembalun, yakni Bukit Penyesalan.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para pecinta alam mengenai betapa krusialnya kesiapan fisik dan pemantauan kondisi kesehatan saat menaklukkan medan ekstrem. Korban, yang diketahui bernama Endang Subarna (48), mengembuskan napas terakhirnya di tengah perjalanan menuju atap Pulau Lombok pada Kamis (14/5/2026). Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan serombongan dan komunitas pendaki.
Awal Perjalanan yang Penuh Antusiasme
Berdasarkan informasi yang dihimpun tim redaksi, perjalanan naas ini bermula pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WITA. Endang tidak mendaki sendirian; ia tergabung dalam sebuah rombongan besar yang terdiri dari 28 orang pendaki. Mereka memulai langkah dari pintu masuk Kandang Sapi, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.
Jalur Sembalun memang sering menjadi pilihan utama bagi para pendaki yang ingin mengejar puncak atau Puncak Rinjani karena medannya yang didominasi oleh padang savana yang luas. Namun, di balik keindahannya, jalur ini menyimpan tantangan fisik yang luar biasa, terutama karena paparan panas matahari yang menyengat dan tanjakan-tanjakan terjal yang menguras stamina.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dari titik awal, rombongan sempat beristirahat di Pos 3. Dari titik ini, tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Jalur menuju Pelawangan Sembalun mengharuskan setiap pendaki melewati deretan perbukitan yang dikenal dengan nama Bukit Penyesalan—sebuah nama yang diberikan karena kemiringannya yang ekstrem membuat banyak pendaki merasa menyesal telah memilih jalur tersebut.
Detik-Detik Menegangkan di Bukit Penyesalan
Sekitar pukul 16.00 WITA, saat matahari mulai condong ke arah barat, rombongan tiba di kawasan Bukit Penyesalan. Di tengah perjuangan mendaki tanjakan yang seolah tak ada habisnya, musibah itu datang secara tiba-tiba. Endang Subarna mendadak ambruk dan jatuh pingsan di tengah jalur pendakian.
Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi, mengonfirmasi kejadian tersebut. Menurut keterangannya, korban jatuh dan tidak sadarkan diri secara mendadak. Sontak, situasi yang awalnya tenang berubah menjadi kepanikan. Rekan-rekan korban, bersama kru trekking organizer (TO) dan para porter, segera memberikan pertolongan pertama sembari mencari bantuan profesional.
“Di lokasi tersebut, Endang Subarna tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri,” jelas Lalu Rusmaladi saat memberikan keterangan resmi kepada awak media pada Jumat (15/5/2026). Kejadian ini langsung dilaporkan ke pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) agar tindakan evakuasi bisa segera dilaksanakan.
Upaya Penyelamatan Medis di Medan Sulit
Mendapat laporan darurat, petugas TNGR bekerja sama dengan tim medis dari Edelweis Medical Help Center (EMHC) yang bersiaga di Pelawangan Sembalun segera bergegas menuju lokasi kejadian. Tim medis tiba di Bukit Penyesalan dengan peralatan bantuan hidup dasar untuk mencoba menyelamatkan nyawa korban.
Tindakan medis darurat, termasuk pijat jantung atau CPR, dilakukan selama kurang lebih 30 menit. Namun, takdir berkata lain. Meskipun tim medis telah berupaya semaksimal mungkin, tidak ada tanda-tanda vital yang kembali dari tubuh korban. Medan yang terjal dan ketinggian yang cukup ekstrem menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan medis di tempat kejadian.
Setelah upaya pertolongan pertama dinyatakan tidak membuahkan hasil, fokus tim beralih pada proses evakuasi. Jenazah korban dibawa turun menuju Pos 2 jalur pendakian Sembalun. Evakuasi di gunung bukanlah perkara mudah; tim harus melewati jalanan sempit dan licin dalam kondisi hari yang mulai gelap.
Pernyataan Resmi dan Proses Pemeriksaan
Setibanya di bawah, jenazah Endang Subarna langsung diperiksa oleh dokter dari Puskesmas Sembalun untuk mendapatkan kepastian medis. Sekitar pukul 19.20 WITA, dokter secara resmi menyatakan bahwa pendaki asal Sukabumi tersebut telah meninggal dunia. Untuk keperluan lebih lanjut, jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju RSUD Soedjono Selong.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti kematian korban. Sejumlah saksi, termasuk rekan rombongan dan pihak penyelenggara pendakian, sedang dimintai keterangan. “Saat ini kami masih melakukan pendalaman terkait kejadian ini,” tutup Iptu Lalu Rusmaladi.
Kejadian pendaki tewas ini menambah daftar panjang insiden di Gunung Rinjani. Walaupun penyebab pastinya belum diumumkan, dugaan sementara sering kali mengarah pada faktor kelelahan ekstrem yang memicu gangguan pada fungsi jantung atau kondisi medis tersembunyi lainnya yang diperparah oleh ketinggian.
Mengenal Ganasnya Bukit Penyesalan
Bagi Anda yang berencana melakukan wisata Lombok dan mendaki Rinjani, memahami medan Bukit Penyesalan sangatlah penting. Bukit ini terdiri dari tujuh deretan bukit yang harus didaki setelah melewati Pos 3. Mengapa dinamakan Bukit Penyesalan? Karena setiap kali pendaki mengira telah sampai di puncak bukit, ternyata masih ada bukit lain di depannya yang harus dilalui.
Kondisi tanah yang berpasir dan berbatu, ditambah dengan kemiringan yang bisa mencapai 45 hingga 60 derajat, membuat beban fisik menjadi dua kali lipat lebih berat. Oksigen yang mulai menipis di ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) juga membuat napas terasa lebih sesak. Oleh karena itu, manajemen waktu dan istirahat sangat krusial di titik ini.
Pesan Keselamatan untuk Para Pendaki
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin mencicipi petualangan di alam bebas. Berikut adalah beberapa tips mendaki gunung yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk berangkat:
- Cek Kesehatan Secara Menyeluruh: Pastikan Anda dalam kondisi prima. Melakukan medical check-up sebelum pendakian gunung tinggi sangat disarankan.
- Latihan Fisik Konsisten: Gunung Rinjani bukanlah medan untuk pemula tanpa persiapan. Latihan kardio seperti lari atau berenang minimal sebulan sebelum keberangkatan akan sangat membantu otot dan paru-paru beradaptasi.
- Jangan Memaksakan Diri: Pahami sinyal tubuh. Jika merasa pusing, dada sesak, atau lemas yang tidak biasa, segera berhenti dan jangan memaksakan diri untuk terus naik.
- Gunakan Jasa Profesional: Menggunakan jasa porter dan pemandu berlisensi tidak hanya membantu membawa beban, tetapi mereka juga memiliki pengetahuan tentang penanganan darurat di lapangan.
Keindahan Gunung Rinjani memang selalu memanggil untuk dikunjungi, namun keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama. Mari kita doakan agar almarhum Endang Subarna mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.