Misi Sunyi Mang Kiclik: Berjibaku Melawan Hutan Hijau Eceng Gondok yang Menyesakkan Waduk Saguling

Dimas Pratama | SuaraInfo
18 Mei 2026, 13:30 WIB
Misi Sunyi Mang Kiclik: Berjibaku Melawan Hutan Hijau Eceng Gondok yang Menyesakkan Waduk Saguling

SuaraInfo — Di balik hamparan hijau yang seolah menyelimuti permukaan air dengan tenang, tersimpan sebuah ancaman nyata bagi ekosistem air di Jawa Barat. Waduk Saguling, yang merupakan salah satu tumpuan hidup warga di wilayah Bandung Barat, kini tengah berjuang melawan kepungan eceng gondok yang kian tak terkendali. Namun, di tengah kepungan gulma tersebut, muncul sesosok pria sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk sebuah misi yang mungkin dianggap mustahil oleh sebagian orang. Ia adalah Taufik Rahmat Wardani, atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Mang Kiclik.

Pria berusia 33 tahun ini bukanlah pejabat pemerintah maupun aktivis lingkungan yang kerap tampil di layar kaca. Mang Kiclik hanyalah warga biasa dari Kampung Bobojong, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin. Namun, apa yang dilakukannya melampaui tugas warga sipil pada umumnya. Dengan tangan kosong dan tekad sekeras baja, ia terjun langsung ke dalam air yang keruh demi menyelamatkan Waduk Saguling dari cengkeraman tanaman yang dalam bahasa latin disebut Eichhornia crassipes tersebut.

Baca Juga Transformasi Aviasi Nasional: Mengulas Reaktivasi Bandara Husein-Adisutjipto dan Fenomena Alam Gunung Rinjani
Transformasi Aviasi Nasional: Mengulas Reaktivasi Bandara Husein-Adisutjipto dan Fenomena Alam Gunung Rinjani

Hamparan Hijau yang Menyesakkan Napas Sungai Citarum

Kondisi Waduk Saguling saat ini memang sangat memprihatinkan. Aliran Sungai Citarum yang seharusnya mengalir bebas, kini terhambat oleh pulau-pulau eceng gondok yang tumbuh sangat masif. Pertumbuhan gulma air ini begitu cepat hingga membentuk daratan semu yang seolah-olah bisa dipijak. Permukaan air waduk yang dulunya biru jernih kini berubah menjadi hijau pekat, menutupi akses cahaya matahari ke dalam air yang sangat dibutuhkan oleh biota di bawahnya.

Masalah ini bukan sekadar persoalan estetika pemandangan semata. Eceng gondok yang menutupi permukaan air menyebabkan kadar oksigen di dalam air menurun drastis, mengancam kelangsungan hidup ikan dan organisme air lainnya. Bagi masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan, fenomena ini adalah bencana ekonomi yang berjalan secara perlahan namun pasti. Upaya lingkungan hidup yang dilakukan secara swadaya menjadi sangat krusial di saat bantuan alat berat belum kunjung tiba secara rutin.

Perjuangan Tanpa Pamrih Mang Kiclik di Tengah Bahaya

Setiap hari, jika kondisi fisiknya memungkinkan, Mang Kiclik akan turun ke waduk. Bukan untuk memancing atau berwisata, melainkan untuk menceburkan diri ke dalam air hingga setinggi leher. Tanpa alat pelindung diri yang memadai, ia menarik dan mengangkat gumpalan-gumpalan eceng gondok ke daratan. Pekerjaan ini ia lakukan selama dua hingga tiga jam setiap harinya di bawah terik matahari atau gerimis yang menusuk kulit.

Baca Juga Strategi Cerdas Jakarta: Manfaatkan Momentum Rupiah Melemah untuk Genjot Kunjungan Wisatawan Mancanegara
Strategi Cerdas Jakarta: Manfaatkan Momentum Rupiah Melemah untuk Genjot Kunjungan Wisatawan Mancanegara

“Awalnya saya mulai bergerak sejak 2017, tapi memang saat itu belum rutin. Namun, melihat kondisi Waduk Saguling yang semakin parah tertutup eceng gondok, sejak Januari 2025 saya putuskan untuk melakukannya setiap hari,” tutur Mang Kiclik saat ditemui oleh tim SuaraInfo di sela-sela kegiatannya. Semangatnya tidak surut meski ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan mungkin hanya sebagian kecil dari solusi besar yang dibutuhkan.

Bayangkan saja, dalam satu hari kerja kerasnya, Mang Kiclik pernah menghitung berat eceng gondok yang berhasil ia kumpulkan mencapai angka 500 kilogram atau sekitar 5 kuintal. Jumlah yang sangat fantastis untuk seorang pria yang bekerja secara manual. Tanpa bantuan ekskavator atau mesin pemotong, ia memindahkan berton-ton beban basah tersebut hanya dengan kekuatan otot lengannya. Tindakan heroik di Bandung Barat ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap alam tidak selalu butuh modal besar, melainkan kemauan yang besar.

Dampak Nyata: Dari Masalah Ekonomi Hingga Wabah Penyakit

Mang Kiclik menjelaskan bahwa keputusannya untuk rutin membersihkan waduk bukan tanpa alasan yang mendesak. Keberadaan eceng gondok telah mematikan mata pencaharian banyak warga. Perahu-perahu nelayan lokal kini tak bisa lagi melaju karena baling-baling motor mereka kerap tersangkut akar eceng gondok yang tebal dan kuat. “Perahu kita tidak bisa jalan, perairan penuh sekali. Dampaknya, kita jadi kesulitan mencari ikan untuk makan dan dijual,” keluhnya.

Baca Juga Wajah Baru Bandara Changi: Transformasi Digital dan Robotik di Terminal 3 Menuju Masa Depan Penerbangan
Wajah Baru Bandara Changi: Transformasi Digital dan Robotik di Terminal 3 Menuju Masa Depan Penerbangan

Tak hanya urusan perut, masalah kesehatan juga mulai menghantui warga Kampung Bobojong. Tumpukan eceng gondok yang rapat menjadi sarang yang sempurna bagi nyamuk untuk berkembang biak. Warga mulai mengeluhkan serangan wabah nyamuk yang luar biasa dalam beberapa waktu terakhir. Nyamuk-nyamuk tersebut bertelur di sela-sela batang eceng gondok yang lembap, menciptakan siklus penyakit yang mengancam anak-anak dan lansia di sekitar waduk. Masalah kesehatan masyarakat ini menjadi alasan tambahan mengapa pembersihan eceng gondok menjadi hal yang darurat.

Bertahan dalam Kesunyian: Ketika Rekan Seperjuangan Satu Per Satu Mundur

Dahulu, Mang Kiclik tidak sendirian. Ada beberapa rekan yang sempat ikut turun tangan membantu membersihkan area perairan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu dan tuntutan ekonomi untuk menghidupi keluarga, satu per satu rekan seperjuangannya mulai mundur dan kembali ke pekerjaan masing-masing. Kini, Mang Kiclik seringkali terlihat berjuang sendirian di tengah luasnya Waduk Saguling.

Meski bekerja dalam kesunyian dan tanpa bayaran, Mang Kiclik tetap teguh. Ancaman penyakit kulit akibat air yang kotor, gigitan lintah, hingga potensi serangan binatang buas seperti ular yang sering bersembunyi di balik rimbunnya eceng gondok tidak membuatnya gentar. Ia memiliki harapan besar bahwa aksinya ini bisa memantik semangat warga lainnya, dan yang lebih penting, mengetuk pintu hati pemerintah daerah maupun pusat.

Baca Juga Menyingkap Pesona Bumi Nyiur Melambai: Harmoni Alam, Sejarah, dan Kuliner Khas Sulawesi Utara
Menyingkap Pesona Bumi Nyiur Melambai: Harmoni Alam, Sejarah, dan Kuliner Khas Sulawesi Utara

“Sekarang sisa saya sendiri, yang lain sudah sibuk bekerja. Harapan saya sederhana, semoga apa yang saya lakukan ini bisa menginspirasi orang lain untuk ikut peduli. Saya sangat berharap pemerintah bisa bergerak lebih masif untuk merawat Waduk Saguling ini sebelum semuanya terlambat,” tambahnya dengan nada penuh harap.

Perlunya Intervensi Pemerintah dan Solusi Jangka Panjang

Perjuangan Mang Kiclik adalah sebuah pengingat bahwa pengelolaan Sungai Citarum dan waduk-waduk di alirannya memerlukan perhatian serius dan berkelanjutan. Meskipun program pemerintah seperti Citarum Harum telah berjalan, namun kondisi di lapangan seperti di Waduk Saguling menunjukkan bahwa tantangan ekologis ini sangatlah dinamis. Eceng gondok memiliki kemampuan regenerasi yang sangat cepat; jika tidak ditangani secara menyeluruh dari hulu ke hilir, upaya manual seperti yang dilakukan Mang Kiclik akan selalu berpacu dengan waktu.

Dibutuhkan sinergi antara teknologi mekanis seperti penggunaan aquatic weed harvester dan pemberdayaan masyarakat lokal untuk mengolah eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomis, misalnya pupuk organik atau kerajinan tangan. Dengan begitu, masyarakat memiliki insentif ekonomi untuk menjaga kebersihan waduk secara mandiri dan berkelanjutan.

Baca Juga Liburan Anti-Gagal di Trans Studio Bali: Eksplorasi 16 Wahana Seru dan Promo Spesial Schooliday yang Menggoda
Liburan Anti-Gagal di Trans Studio Bali: Eksplorasi 16 Wahana Seru dan Promo Spesial Schooliday yang Menggoda

Kisah Mang Kiclik adalah narasi tentang cinta pada tanah kelahiran dan ketulusan menjaga alam. Di tengah dunia yang semakin individualis, aksi nyata pria dari Cililin ini menjadi oase yang menyegarkan. Ia tidak menunggu instruksi, ia tidak menunggu bantuan, ia hanya melakukan apa yang ia bisa untuk memastikan bahwa Waduk Saguling tetap bisa memberikan kehidupan bagi generasi mendatang. SuaraInfo akan terus mengawal perjuangan pahlawan-pahlawan lokal seperti Mang Kiclik, yang bekerja dalam senyap demi kebaikan bersama.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *