Menggali Potensi Raksasa Wisata Religi Indonesia yang Masih Terlelap: Sebuah Catatan Kritis BRIN
SuaraInfo — Indonesia sering kali dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa, bukan hanya karena kekayaan alamnya yang membentang luas, tetapi juga karena kedalaman akar spiritualitas yang menghunjam di sanubari masyarakatnya. Dari Sabang hingga Merauke, jejak-jejak peradaban luhur terserak dalam bentuk bangunan suci, ritus budaya, hingga makam-makam para tokoh besar yang membawa ajaran kebijaksanaan. Namun, di balik kemegahan tersebut, tersimpan sebuah ironi besar: potensi wisata religi kita ternyata belum digarap secara maksimal dan masih sering dianggap sebagai sektor kelas dua.
Sorotan tajam ini datang dari Alfan Firmanto, seorang peneliti kawakan di bidang Khasanah Keagamaan dan Peradaban dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam sebuah diskusi mendalam bertajuk ‘BRIN Goes to Industry 4’ yang digelar di Jakarta baru-baru ini, Alfan membedah anomali yang terjadi dalam industri pariwisata tanah air. Meski Indonesia memiliki aset spiritual yang tak ternilai harganya, data justru menunjukkan angka kunjungan yang berbanding terbalik dengan kekayaan yang dimiliki.
Paradoks Angka dan Realitas di Lapangan
Salah satu poin krusial yang diangkat Alfan adalah data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025. Secara mengejutkan, angka minat terhadap wisata religi hanya berada di kisaran 2,45 persen. Angka ini seolah menjadi tamparan keras bagi para pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Mengapa sebuah negara dengan populasi religius terbesar di dunia justru memiliki persentase kunjungan wisata spiritual yang begitu kecil?
“Ini yang menjadi tanda tanya besar bagi saya. Berdasarkan data BPS, wisata religi menempati posisi yang masih sedikit diminati. Padahal, jika kita melihat langsung ke lapangan, realitasnya jauh berbeda,” ungkap Alfan dengan nada prihatin. Ia menilai ada kesenjangan informasi atau mungkin kesalahan dalam cara kita mengemas narasi pariwisata religi sehingga tidak terbaca secara maksimal dalam statistik nasional.
Padahal, bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke situs-situs bersejarah, seperti makam Walisongo di Pulau Jawa, mereka akan menyaksikan sebuah fenomena yang luar biasa. Tempat-tempat tersebut tidak pernah tidur. Selama 24 jam nonstop, arus manusia terus mengalir, menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang sangat hidup. Fenomena ‘wisata tanpa tidur’ inilah yang menurut Alfan merupakan kekuatan unik yang tidak dimiliki oleh jenis pariwisata lainnya.
Ekonomi Spiritual: Lebih dari Sekadar Ziarah
Berbicara tentang wisata religi bukan sekadar urusan ritual atau doa. Di balik itu semua, terdapat perputaran roda ekonomi kerakyatan yang sangat masif. Alfan mengenang bagaimana sektor ini sempat lumpuh total saat pandemi Covid-19 melanda, yang mengakibatkan ribuan pedagang kecil, pengelola penginapan, hingga penyedia jasa transportasi kehilangan mata pencaharian mereka.
“Pergerakan ekonomi di kawasan wisata religi itu luar biasa besar. Uang yang berputar di sana mampu menghidupi ribuan keluarga. Ini adalah lini pariwisata yang tidak bisa dianggap sebelah mata,” tegasnya. Ketika seorang peziarah datang, mereka tidak hanya membawa doa, tetapi juga membelanjakan uang untuk akomodasi, konsumsi, hingga oleh-oleh khas daerah setempat.
Lebih jauh lagi, kegiatan keagamaan berskala besar memiliki potensi untuk menyumbang devisa negara. Bayangkan jika manajemen festival keagamaan atau peringatan hari besar dikelola dengan standar internasional. Hal ini tentu akan menarik wisatawan mancanegara yang tertarik pada studi budaya dan pengalaman spiritual otentik.
Magnet Arsitektur: Dari Masjid Kuno hingga Ikon Modern
Indonesia memiliki modal yang sangat kuat dalam hal bangunan fisik. Alfan membagi potensi ini menjadi dua kategori: situs bersejarah dan ikon arsitektur modern. Di masa lalu, kita mengenal Masjid Istiqlal yang hingga kini masih menjadi magnet utama di Jakarta. Namun, belakangan ini, muncul gelombang baru masjid ikonik yang menggabungkan fungsi ibadah dengan estetika arsitektur yang memukau.
Sebut saja Masjid Al-Jabbar di Bandung yang berdiri megah di atas danau retensi, atau Masjid Sheikh Zayed di Solo yang merupakan simbol persahabatan internasional. Belum lagi Masjid Kubah Emas di Depok yang sempat viral beberapa tahun lalu. Tempat-tempat ini membuktikan bahwa tempat ibadah bisa menjadi destinasi wisata yang menarik minat lintas kalangan, termasuk generasi muda yang gemar mencari spot foto estetis namun tetap sarat makna.
“Potensinya bukan hanya masjid-masjid kuno yang penuh sejarah, tetapi juga bangunan-bangunan baru yang kini luar biasa desainnya. Ini adalah modal besar untuk memperkuat branding pariwisata kita ke depan,” tambah Alfan.
Kekuatan Tradisi dan Haul Ulama
Selain bangunan fisik, Indonesia juga kaya akan ‘intangible heritage’ atau warisan budaya tak benda. Tradisi keagamaan seperti Haul (peringatan wafatnya tokoh agama) atau Maulid Nabi sering kali menjadi magnet yang mampu mendatangkan ribuan, bahkan jutaan orang dalam satu waktu. Di berbagai daerah, acara-acara seperti ini telah menjadi agenda rutin yang ditunggu-tunggu.
Sayangnya, koordinasi antara penyelenggara acara keagamaan dengan dinas pariwisata sering kali belum berjalan sinkron. Akibatnya, potensi untuk mengonversi kerumunan massa tersebut menjadi nilai tambah ekonomi yang lebih terstruktur sering kali terlewatkan. Alfan berharap ke depannya ada integrasi yang lebih baik dalam mengelola event budaya berbasis religi agar bisa memberikan dampak yang lebih luas dan profesional.
Menuju Masa Depan Wisata Religi yang Terintegrasi
Mengakhiri pemaparannya, peneliti BRIN tersebut menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan wisata religi. Di era industri 4.0, digitalisasi informasi mengenai situs-situs religi, aksesibilitas yang lebih baik, serta peningkatan fasilitas penunjang di lokasi wisata menjadi kunci utama. Wisata religi tidak boleh lagi dipandang sebagai wisata tradisional yang kumuh atau tidak teratur.
Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi pusat wisata religi dunia, menyaingi destinasi-destasi global lainnya. Hal ini bukan mustahil, mengingat keragaman agama di Indonesia menyediakan katalog wisata yang lengkap, mulai dari situs Islam, Hindu, Buddha, hingga Kristen dan Katolik yang semuanya memiliki sejarah unik dan mendalam.
Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana mengubah angka 2,45 persen tersebut menjadi angka yang lebih signifikan. Dibutuhkan kemauan politik dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan bahwa kekayaan spiritual ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat di masa depan.
Sudah saatnya kita terbangun dan menyadari bahwa di bawah kaki kita, terdapat tambang emas spiritual yang siap memikat dunia. Melalui narasi yang tepat dan pengelolaan yang profesional, wisata religi Indonesia akan menemukan masa keemasannya, membawa pesan kedamaian sekaligus kemakmuran bagi seluruh negeri.