Jokowi Menuju Layar Lebar: Siap Perankan Tokoh Utama dalam Film Kolosal Budaya Dayak

Dimas Pratama | SuaraInfo
25 Mei 2026, 19:27 WIB
Jokowi Menuju Layar Lebar: Siap Perankan Tokoh Utama dalam Film Kolosal Budaya Dayak

SuaraInfo — Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7, kesibukan Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi ternyata jauh dari kesan purnatugas yang sepi. Sosok yang dikenal dengan kesederhanaannya ini baru saja mengejutkan publik dengan kabar keterlibatannya dalam sebuah proyek seni yang sangat ambisius. Bukan lagi soal politik atau pembangunan infrastruktur, melainkan sebuah lompatan besar ke dunia seni peran melalui proyek film layar lebar yang mengangkat kemegahan budaya Dayak.

Dalam suasana santai di kediaman pribadinya di Sumber, Banjarsari, Solo, Jokowi menyambut hangat kedatangan tamu istimewa dari tanah Kalimantan. Adalah Panglima Jilah, Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), yang secara khusus bertandang untuk menawarkan peran penting kepada sang mantan presiden. Penawaran ini bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah ajakan serius untuk memperkuat narasi Budaya Indonesia melalui media sinematografi.

Antusiasme Jokowi: Dari Figuran hingga Pemeran Utama

Menanggapi tawaran yang terbilang tidak biasa tersebut, Jokowi merespons dengan tawa khasnya yang renyah. Tanpa ada kesan canggung, ia menyatakan kesiapannya untuk terjun ke lokasi syuting. Pernyataan ini menunjukkan sisi lain dari Jokowi yang selalu terbuka terhadap inovasi dan pelestarian seni. “Ya siap saja. Pemeran utama siap, pemeran pembantu siap, figuran pun juga siap,” ungkapnya saat ditemui wartawan pada Senin (25/5/2026).

Baca Juga Eksplorasi Mall Rongsok Depok: Surga Vintage yang Menyimpan Kisah Haru di Balik Pintu Helikopter dan Peti Mati
Eksplorasi Mall Rongsok Depok: Surga Vintage yang Menyimpan Kisah Haru di Balik Pintu Helikopter dan Peti Mati

Kesiapan Joko Widodo ini bukan tanpa alasan. Baginya, setiap kesempatan untuk mempromosikan kekayaan tradisi Nusantara adalah tugas yang harus dijalankan dengan senang hati. Namun, ia menyadari bahwa dunia akting adalah ranah yang baru baginya. Sambil berseloroh, ia menambahkan bahwa dirinya perlu melakukan persiapan khusus sebelum benar-benar berdiri di depan kamera profesional. “Ya kalau mengajak main film, berarti saya harus latihan akting dulu,” imbuhnya diiringi tawa ringan yang mencairkan suasana.

Misi Panglima Jilah dan Jejak Sejarah Dayak-Majapahit

Panglima Jilah, sebagai tokoh sentral di balik ide ini, memiliki visi yang sangat mendalam. Kehadirannya menemui Jokowi pekan lalu bukan hanya untuk sekadar reuni, tetapi membawa misi besar untuk mendokumentasikan sejarah luhur Suku Dayak dalam bentuk film kolosal. Menurut Panglima Jilah, respons Jokowi terhadap ide pelestarian budaya ini sangat positif, terutama karena materi film yang akan digarap menyentuh sisi sejarah yang jarang terekspos.

Film yang direncanakan ini akan mengambil latar belakang masa lampau, yang menceritakan tentang kejayaan suku Dayak dan interaksinya dengan kerajaan-kerajaan besar di nusantara. Salah satu poin menarik yang akan diangkat adalah kolaborasi antara suku Dayak dengan tanah Jawa, khususnya pada era Majapahit. Narasi ini diharapkan dapat mempererat rasa persatuan nasional dan menunjukkan bahwa hubungan antar-etnis di Indonesia telah terjalin kuat sejak berabad-abad yang lalu.

Baca Juga Etika Penerbangan: Hindari 3 Kebiasaan Penumpang yang Bikin Pramugari Risih dan Terganggu
Etika Penerbangan: Hindari 3 Kebiasaan Penumpang yang Bikin Pramugari Risih dan Terganggu

“Kami ingin membawa Bapak Jokowi untuk bermain di film Dayak ini. Beliau akan menempati posisi pemeran utama. Kami akan merancang naskah dan produksinya sebaik mungkin agar pesan budaya ini sampai ke generasi muda,” ujar Panglima Jilah dengan penuh optimisme saat memberikan keterangan di Solo.

Eksplorasi Budaya Melalui Sinematografi Modern

Keterlibatan seorang mantan kepala negara dalam film bertema budaya tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi industri film nasional. Langkah ini dinilai sebagai strategi komunikasi budaya yang sangat efektif. Dengan popularitas dan pengaruh yang dimiliki Jokowi, film ini diprediksi tidak hanya akan menjadi tontonan domestik, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional dan festival film dunia.

Budaya Dayak yang kaya akan filosofi, simbolisme, dan kearifan lokal selama ini memang menjadi daya tarik bagi peneliti maupun sineas. Namun, dengan kehadiran tokoh nasional seperti Jokowi, bobot dari pesan yang disampaikan dipastikan akan lebih kuat. Film ini diharapkan mampu menjadi jembatan edukasi bagi masyarakat luas mengenai sejarah panjang Kalimantan yang selama ini mungkin hanya diketahui lewat buku teks sejarah yang terbatas.

Baca Juga Gema Merah di Toronto: Mengapa ‘Canadian Clapper’ Menjadi Suvenir Paling Dicari di Piala Dunia 2026?
Gema Merah di Toronto: Mengapa ‘Canadian Clapper’ Menjadi Suvenir Paling Dicari di Piala Dunia 2026?

Tantangan dan Harapan untuk Industri Kreatif

Meskipun sejauh ini belum ada sutradara lain yang secara resmi melirik Jokowi untuk bermain di film komersial lainnya, tawaran dari Pasukan Merah TBBR ini telah membuka diskursus baru. Apakah ini akan menjadi awal dari karier baru Jokowi di dunia hiburan, ataukah hanya sebuah bentuk dedikasi satu kali untuk kepentingan budaya? Apapun pilihannya, publik tampak sangat antusias menantikan debut akting dari pria asal Solo tersebut.

Pihak produksi film kolosal Dayak ini dikabarkan tengah melakukan riset mendalam terkait skenario dan pemilihan lokasi syuting agar dapat merepresentasikan suasana masa lampau secara akurat. Tantangan terbesar tentu saja terletak pada sinkronisasi jadwal sang mantan presiden serta proses adaptasi beliau terhadap teknis pengambilan gambar yang melelahkan.

Kehadiran film ini nantinya diharapkan dapat memicu semangat bagi para sineas muda untuk terus menggali kekayaan tradisi lokal tanpa rasa takut akan kehilangan pasar. Keberanian Jokowi untuk menyatakan “siap” menjadi bukti bahwa tidak ada batasan usia atau profesi untuk terus berkontribusi bagi bangsa, termasuk melalui jalur seni dan kebudayaan.

Baca Juga Farewell DXB: Mengapa Bandara Tersibuk di Dunia Akan Ditutup pada 2035?
Farewell DXB: Mengapa Bandara Tersibuk di Dunia Akan Ditutup pada 2035?

Seiring dengan proses persiapan yang terus berjalan, masyarakat kini tinggal menunggu kapan trailer pertama atau pengumuman resmi mengenai judul film ini akan dirilis. Jika semua rencana berjalan mulus, film kolosal budaya Dayak ini akan menjadi salah satu karya paling ikonik dalam sejarah perfilman Indonesia, yang menyatukan unsur kepemimpinan, sejarah, dan seni dalam satu bingkai yang indah.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *