Kisah di Balik Perjalanan 58 Biksu Thudong dari Bali ke Klaten: Mengapa Ritual Jalan Kaki Berganti Bus?
SuaraInfo — Debu jalanan dan terik matahari nampaknya bukan penghalang bagi puluhan pria berjubah jingga yang tengah menunaikan misi spiritual lintas negara. Sebanyak 58 biksu yang menjalani ritual ritual Thudong dengan berjalan kaki dari Singaraja, Bali, akhirnya menapakkan kaki di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Namun, sebuah pemandangan menarik perhatian warga: setelah menempuh ratusan kilometer dengan berjalan kaki, para biksu ini terpantau melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta menggunakan bus. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kehangatan Pagi di Wihara Bodhivasma dan Tradisi Pindapata
Pagi itu, suasana di sekitar Wihara Bodhivasma, Jalan Mayor Kusmanto, Klaten, terasa begitu khidmat. Sejak pukul 07.30 WIB, masyarakat setempat telah berkumpul untuk menyaksikan sekaligus berpartisipasi dalam tradisi Pindapata. Dalam tradisi ini, para biksu berjalan dengan tenang sambil membawa mangkuk (patta) untuk menerima persembahan berupa makanan atau kebutuhan pokok dari umat.
Momen ini bukan sekadar prosesi pemberian bantuan, melainkan simbol kerukunan dan kemanusiaan yang mendalam. Para biksu, dengan langkah yang terukur dan wajah yang teduh, menyambut setiap pemberian warga dengan doa-doa kebaikan. Setelah menyelesaikan prosesi Pindapata, rombongan sempat beristirahat sejenak di vihara untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan estafet perjalanan mereka yang panjang.
Pelepasan Resmi oleh Bupati Klaten: Pesan Kedamaian dari Kota Bersinar
Sekitar pukul 09.00 WIB, suasana haru sekaligus bangga menyelimuti momen pelepasan para biksu. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, hadir langsung untuk memberikan penghormatan dan melepas rombongan menuju destinasi berikutnya, yakni Yogyakarta. Dalam sambutannya, Hamenang menekankan bahwa perjalanan ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas fisik.
“Kami mewakili masyarakat Klaten mengucapkan selamat datang dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para biksu. Kegiatan jalan kaki ini mungkin bagi sebagian orang dianggap sepele, namun ini adalah sebuah gerakan besar. Ini menunjukkan kepada mata dunia bahwa Indonesia, dan khususnya Klaten, adalah tempat di mana perbedaan dapat hidup berdampingan dengan harmonis,” ujar Hamenang dengan penuh semangat.
Dilema Waktu: Mengapa Harus Menggunakan Bus?
Rombongan biksu tersebut sempat menyusuri jalanan utama Klaten, mulai dari Jalan Mayor Kusmanto, melintasi Jalan Pemuda yang ikonik, hingga ke Jalan Dr. Soeradji Tirtonegoro. Namun, sesampainya di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Ratna Bantala Tegalyoso, langkah kaki mereka terhenti. Sebuah bus telah menunggu untuk mengangkut para biksu tersebut.
Wiryo Alex Fernando, Ketua Koordinator Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta Indonesia Walk for Peace 2026, memberikan penjelasan logis di balik keputusan tersebut. Ternyata, hal ini berkaitan dengan agenda kenegaraan dan protokoler yang sangat penting di Yogyakarta. Para biksu dijadwalkan untuk bertemu dengan Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
“Keputusan menggunakan bus diambil karena faktor waktu. Ngarsa Dalem (Sultan HB X) telah menentukan waktu pertemuan pada pukul 15.00 WIB di Bangsal Kepatihan. Jika kami memaksakan untuk terus berjalan kaki dari Klaten, waktunya tidak akan mencukupi atau dalam bahasa Jawa disebut ‘tidak nyandak’. Kami harus menghormati jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak Keraton,” jelas Alex saat memberikan keterangan kepada media.
Komposisi Internasional: 58 Biksu dari Empat Negara
Perjalanan Thudong kali ini bukanlah agenda lokal semata, melainkan sebuah aksi internasional yang melibatkan pemuka agama dari berbagai negara di Asia Tenggara. Alex merinci bahwa total ada 58 biksu yang bergabung dalam rombongan ini. Mayoritas berasal dari Thailand, yakni sebanyak 47 biksu.
Selain itu, terdapat dua biksu dari Laos, empat biksu dari Malaysia, dan lima biksu lainnya berasal dari tuan rumah, Indonesia. Kehadiran mereka membawa misi besar bertajuk “Walk for Peace 2026”. Mereka telah menempuh jarak hampir 400 kilometer sejak memulai perjalanan dari Singaraja, Bali. Klaten menjadi titik krusial sekaligus etape terakhir mereka di wilayah Jawa Tengah sebelum memasuki Daerah Istimewa Yogyakarta.
Misi Besar di Balik Lelahnya Langkah Kaki
Tujuan utama dari perjalanan spiritual ini adalah untuk memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di tengah dunia yang seringkali terfragmentasi oleh perbedaan, aksi nyata para biksu ini menjadi pengingat bahwa perdamaian dimulai dari langkah kaki dan ketulusan hati. Mereka berjalan bukan hanya untuk mencapai tujuan fisik, tetapi untuk menyebarkan pesan perdamaian dengan diri sendiri, lingkungan, dan antarnegara.
Setelah dari Yogyakarta, tujuan akhir dari seluruh rangkaian ritual ini adalah Candi Borobudur di Magelang. Candi megah tersebut akan menjadi saksi bisu puncak ritual keagamaan mereka, sekaligus menjadi simbol kemenangan spiritual setelah menempuh perjalanan yang menguras fisik dan mental selama berminggu-minggu.
Dampak Positif bagi Wisata Religi dan Toleransi
Fenomena Thudong ini juga memberikan dampak positif bagi sektor wisata religi di Indonesia. Dunia luar melihat bagaimana masyarakat lokal, yang mayoritas Muslim di sepanjang jalur pantura maupun jalur selatan, menyambut para biksu dengan penuh keramahan. Air mineral, makanan, hingga tempat berteduh ditawarkan oleh warga secara sukarela tanpa memandang latar belakang agama.
Bupati Klaten berharap agar semangat yang dibawa oleh para biksu ini dapat terus membekas di hati warga Klaten. “Ini adalah bukti nyata toleransi. Kita berbeda, tapi tujuannya satu: menjaga kedamaian,” pungkasnya. Perjalanan ini membuktikan bahwa batas-batas negara dan perbedaan bahasa bukan menjadi penghalang bagi terciptanya persaudaraan universal yang berlandaskan kasih sayang.
Kini, rombongan telah berada di Yogyakarta untuk menjalani serangkaian agenda budaya dan spiritual sebelum akhirnya menuju Borobudur. Meskipun sempat berganti moda transportasi, esensi dari perjuangan mereka tetaplah sama: sebuah penghormatan terhadap kehidupan dan upaya tanpa henti dalam menjaga nyala api perdamaian di muka bumi.