Tragedi Maut di Jembatan Cunca Wulang: Kelalaian Infrastruktur di Balik Tewasnya Pasutri Asal Austria

Dimas Pratama | SuaraInfo
26 Mei 2026, 09:27 WIB
Tragedi Maut di Jembatan Cunca Wulang: Kelalaian Infrastruktur di Balik Tewasnya Pasutri Asal Austria

SuaraInfo — Sebuah duka mendalam menyelimuti sektor pariwisata Indonesia, khususnya di kawasan Labuan Bajo yang tengah gencar dipromosikan sebagai destinasi super prioritas. Di balik pesona alamnya yang memukau, sebuah tragedi memilukan merenggut nyawa dua wisatawan mancanegara. Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi pengelolaan fasilitas wisata yang seharusnya menjamin keamanan setiap pengunjung.

Kronologi Memilukan di Air Terjun Cunca Wulang

Sepasang suami istri berkebangsaan Austria, Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57), harus mengakhiri perjalanan liburan mereka dengan cara yang sangat tragis. Keduanya dilaporkan tewas setelah terjatuh dari jembatan gantung di kawasan objek wisata Air Terjun Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden yang terjadi pada Minggu (24/5/2026) ini mengungkap fakta kelam mengenai kondisi infrastruktur yang jauh dari kata layak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pasangan ini sedang menikmati trekking menuju area air terjun. Namun, saat mereka melintasi jembatan gantung yang berada di ketinggian sekitar 20 meter dari dasar sungai, petaka terjadi. Jembatan yang menjadi akses utama tersebut tiba-tiba ambruk, membuat Jurgen dan Astrid jatuh bebas dan menghantam bebatuan sungai yang keras di bawahnya. Benturan hebat tersebut menyebabkan luka fatal yang membuat nyawa keduanya tidak tertolong.

Baca Juga Menelusuri Surga Avifauna: Keajaiban Burung Endemik di Jantung Taman Nasional Bogani Wartabone
Menelusuri Surga Avifauna: Keajaiban Burung Endemik di Jantung Taman Nasional Bogani Wartabone

Investigasi Kepolisian: Jembatan yang Menjadi Jebakan Maut

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara mendalam. Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa kondisi jembatan tersebut memang sudah sangat memprihatinkan dan tidak layak untuk dilalui oleh wisatawan.

“Tim kami menemukan adanya lubang menganga sepanjang 1,20 meter pada lantai jembatan yang patah. Ini menunjukkan adanya kerapuhan struktural yang sudah berlangsung lama namun tidak mendapatkan penanganan,” ungkap Christian. Polisi menemukan bahwa kayu-kayu penyangga atau tulang utama jembatan telah lapuk termakan usia dan cuaca ekstrem di kawasan hutan tersebut.

Lebih mengejutkan lagi, hasil pemeriksaan fisik di lokasi mengungkap bahwa jaringan pengaman (safety net) yang seharusnya terpasang di sisi kiri dan kanan jembatan telah rusak parah, bahkan hilang hingga 90 persen. Kondisi ini membuat jembatan tersebut tidak memiliki sistem proteksi sama sekali bagi para pejalan kaki yang melintas di atasnya.

Absennya Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan

Tragedi di Labuan Bajo ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga disinyalir kuat akibat kelalaian manajemen. AKBP Christian Kadang menyoroti ketiadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) tertulis terkait pengecekan rutin terhadap fasilitas jembatan tersebut. Pihak pengelola seolah membiarkan fasilitas publik digunakan tanpa pengawasan teknis yang berkala.

Baca Juga Kompensasi Penuh Pasca Tragedi Bekasi: KAI Pastikan Refund Tiket 100 Persen Bagi Ribuan Penumpang Terdampak
Kompensasi Penuh Pasca Tragedi Bekasi: KAI Pastikan Refund Tiket 100 Persen Bagi Ribuan Penumpang Terdampak

“Hasil pemeriksaan sementara mengungkap adanya kondisi jembatan yang sebagian papan sudah goyang dan terangkat. Tidak ada tanda-tanda perawatan rutin. Selain itu, sistem keselamatan wisata yang memadai sama sekali tidak ditemukan di area tersebut,” tambahnya. Padahal, keselamatan merupakan aspek krusial dalam pariwisata berkelanjutan.

Meskipun pemandu lokal sempat memberikan peringatan mengenai jalur trekking yang licin akibat cuaca, namun peringatan tersebut tidak cukup untuk menahan beban risiko dari jembatan yang memang sudah rusak secara struktural. Selain itu, terungkap pula bahwa pengelola wisata Air Terjun Cunca Wulang tidak menyediakan fasilitas asuransi kecelakaan bagi para wisatawan, sebuah fakta yang semakin memperburuk citra pengelolaan wisata di daerah tersebut.

Langkah Hukum: Lima Saksi Kunci Diperiksa

Guna mengusut tuntas unsur kelalaian dalam kasus ini, Satreskrim Polres Manggarai Barat telah bergerak cepat dengan memeriksa lima saksi kunci. Mereka yang dimintai keterangan meliputi:

  • Kepala Desa Cunca Wulang selaku otoritas wilayah setempat yang bertanggung jawab atas koordinasi area.
  • Petugas pos retribusi tiket masuk yang bertugas saat kejadian.
  • Pramuwisata (guide) lokal yang mendampingi kedua korban.
  • Sopir mobil sewaan yang mengantar pasangan Austria tersebut.
  • Anggota Bhabinkamtibmas yang merupakan personel pertama di lokasi untuk mengamankan TKP.

Kepolisian menegaskan akan mendalami semua aspek hukum yang berlaku. Jika ditemukan adanya bukti kuat mengenai kelalaian dalam pemeliharaan fasilitas yang menyebabkan kematian orang lain, maka pihak-pihak terkait dapat dijerat dengan sanksi hukum yang tegas. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk mencari siapa yang bersalah, tetapi juga sebagai bahan evaluasi total bagi sektor pariwisata di Manggarai Barat.

Baca Juga Drama Monyet Liar Gunung Gede Terobos Dapur Warga Sukabumi: Diduga Kelaparan dan Terusir dari Kelompok
Drama Monyet Liar Gunung Gede Terobos Dapur Warga Sukabumi: Diduga Kelaparan dan Terusir dari Kelompok

Upaya Repatriasi dan Masa Depan Wisata Cunca Wulang

Saat ini, jenazah Jurgen dan Astrid Perjul masih disemayamkan di instalasi pemulasaran jenazah RSUD Komodo, Labuan Bajo. Pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta untuk mengurus segala administrasi pemulangan jenazah ke negara asal mereka yang dijadwalkan akan dilakukan pada Selasa (26/5).

Air Terjun Cunca Wulang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Lokasinya yang eksotis dengan tebing-tebing batu mirip ‘Grand Canyon’ mini menjadikannya daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Namun, kejadian ini dipastikan akan berdampak pada tingkat kunjungan dan kepercayaan turis asing terhadap standar keamanan di Indonesia.

Kecelakaan ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Daerah Manggarai Barat dan Dinas Pariwisata setempat. Status destinasi super prioritas yang disandang Labuan Bajo harus dibarengi dengan kualitas infrastruktur yang mumpuni. Tanpa adanya jaminan keselamatan, keindahan alam sehebat apapun tidak akan mampu menutupi bayang-bayang ketakutan wisatawan akan tragedi serupa.

Baca Juga Viki, Saksi Bisu Sejarah: Mengenal Kura-kura Raksasa Berusia 103 Tahun di Faunaland Ancol
Viki, Saksi Bisu Sejarah: Mengenal Kura-kura Raksasa Berusia 103 Tahun di Faunaland Ancol

Pemerintah diharapkan segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh fasilitas wisata, mulai dari jembatan, dermaga, hingga sarana trekking di seluruh wilayah NTT. Kejadian yang menimpa Jurgen dan Astrid Perjul harus menjadi titik balik perbaikan total dalam sistem manajemen risiko pariwisata di tanah air.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *