Adu Balap Pariwisata Asia: Mengapa Indonesia Masih Terengah-engah Mengejar Vietnam?

Dimas Pratama | SuaraInfo
03 Jun 2026, 15:26 WIB
Adu Balap Pariwisata Asia: Mengapa Indonesia Masih Terengah-engah Mengejar Vietnam?

SuaraInfo — Wajah sektor pariwisata Indonesia saat ini layaknya koin dengan dua sisi yang sangat kontras. Di satu sisi, angka-angka statistik menunjukkan kurva pertumbuhan yang cukup manis di tengah badai ketidakpastian global. Namun di sisi lain, bayang-bayang kegagalan untuk menyalip negara tetangga di kawasan Asia Tenggara masih menjadi hantu yang menghantui kebijakan strategis nasional kita.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Juni 2026, arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air memang menunjukkan tren positif. Sepanjang periode Januari hingga April 2026, tercatat sebanyak 4,68 juta kunjungan wisman telah masuk ke berbagai pintu gerbang Indonesia. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 8,24 persen.

Resiliensi di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, dalam forum rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, menyampaikan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia menekankan bahwa sektor pariwisata nasional memiliki daya tahan atau resiliensi yang luar biasa, mengingat kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja akibat dinamika geopolitik yang memanas sejak Februari 2026.

Baca Juga Update Gerbang Langit Nusantara: Daftar 17 Bandara Internasional di Indonesia Tahun 2026 dan Strategi Efisiensi Nasional
Update Gerbang Langit Nusantara: Daftar 17 Bandara Internasional di Indonesia Tahun 2026 dan Strategi Efisiensi Nasional

“Kita harus mengakui bahwa situasi geopolitik global saat ini sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Banyak keraguan muncul di industri perjalanan internasional. Namun, Indonesia membuktikan tetap mampu menarik minat pelancong asing. Bahkan, jika kita bedah lebih dalam, pada periode Maret hingga April saja, pertumbuhan kita menyentuh angka 8,72 persen,” ungkap Widiyanti di hadapan para wakil rakyat.

Pemerintah sendiri telah memasang target yang cukup ambisius untuk tahun 2026. Setidaknya, diharapkan ada 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan wisman yang masuk hingga akhir tahun nanti. Target ini bukan sekadar angka, melainkan tumpuan bagi pemulihan ekonomi nasional pasca-berbagai tantangan global yang silih berganti menghantam.

Bukan Sekadar Kuantitas, Kualitas Wisatawan Meningkat

Menariknya, narasi yang dibangun oleh kementerian saat ini tidak lagi hanya terpaku pada jumlah kepala yang datang, melainkan pada seberapa dalam mereka merogoh kocek selama berada di Indonesia. Konsep quality tourism atau pariwisata berkualitas tampaknya mulai membuahkan hasil.

Data menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran per kunjungan wisatawan asing pada kuartal I 2026 mencapai angka US$1.346. Nilai ini naik sebesar 5,36 persen dibandingkan tahun lalu. Ambisi pemerintah bahkan lebih tinggi, yakni mengejar target pengeluaran di kisaran USD 1.372 hingga USD 1.404 hingga akhir tahun. Hal ini berbanding lurus dengan peningkatan lama tinggal (length of stay) wisman yang naik sekitar 8,53 persen.

Baca Juga Menilik Masa Depan IKN: Bukan Sekadar Pusat Administrasi, Melainkan Magnet Wisata dan Ekonomi Baru
Menilik Masa Depan IKN: Bukan Sekadar Pusat Administrasi, Melainkan Magnet Wisata dan Ekonomi Baru

Devisa yang dihasilkan dari sektor ini pun tidak main-main. Pada kuartal pertama tahun ini saja, devisa pariwisata telah menyumbang sebesar USD 4,05 miliar atau setara dengan Rp 68,28 triliun. Angka ini mencatatkan kenaikan 6,30 persen secara tahunan, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan target kontribusi akhir tahun berada di angka 4,6 hingga 4,7 persen.

Sentilan DPR: Indonesia Masih Kalah dari Vietnam dan Thailand

Namun, di tengah paparan data yang serba positif tersebut, kritik tajam datang dari Senayan. Anggota Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mengingatkan pemerintah agar tidak terlalu cepat berpuas diri dengan pertumbuhan satu digit tersebut. Pasalnya, jika melihat kacamata persaingan regional, Indonesia dinilai masih tertinggal cukup jauh dari para rivalnya.

“Kita harus melihat realita di lapangan. Saat kita bangga dengan 4,68 juta kunjungan, Jepang sudah melesat di angka 14 juta. Thailand sudah menyentuh 11 juta, dan yang paling menyesakkan adalah Vietnam yang hampir menyentuh 9 juta kunjungan dalam periode yang sama,” tegas Evita dalam rapat tersebut.

Baca Juga Kabar Baik Bagi Traveler: Seluruh Perjalanan KA Jarak Jauh Kini Beroperasi Normal Tanpa Pembatalan
Kabar Baik Bagi Traveler: Seluruh Perjalanan KA Jarak Jauh Kini Beroperasi Normal Tanpa Pembatalan

Evita memberikan sorotan khusus pada Vietnam. Menurutnya, beberapa tahun lalu posisi Indonesia dan Vietnam masih bisa dikatakan setara dalam hal menarik minat wisman. Namun, melalui strategi promosi wisata yang sangat agresif dan masif, Vietnam berhasil melakukan lompatan kuantum.

“Vietnam sangat cerdas dalam menjual destinasi mereka seperti Phu Quoc dan Da Nang. Mereka bahkan menyerbu pasar Indonesia dengan paket-paket wisata yang harganya sangat kompetitif. Pertanyaannya, mengapa kita yang punya kekayaan alam jauh lebih beragam justru seolah berlari di tempat dibandingkan mereka?” tanya Evita retoris.

Tantangan Infrastruktur dan Hambatan Investasi

Salah satu poin krusial yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah mengenai hambatan-hambatan fundamental yang masih menjerat kaki pariwisata Indonesia. Masalah konektivitas dan pembatalan penerbangan menjadi salah satu rapor merah. Tercatat ada sekitar 1.444 pembatalan penerbangan internasional hingga Mei 2026 akibat gejolak global, yang mengakibatkan hilangnya potensi kunjungan sekitar 160.052 wisatawan.

Selain masalah eksternal, masalah internal seperti birokrasi dan koordinasi lintas sektoral juga menjadi penghambat. Evita mencontohkan bagaimana investasi pariwisata seringkali terbentur oleh ego sektoral antar lembaga, misalnya koordinasi dengan pihak Perhutani di berbagai daerah yang dinilai masih kaku dan menyulitkan para investor.

Baca Juga Piala Dunia 2026 Terancam Sepi Wisman: Bayang-Bayang Krisis di Industri Perhotelan Amerika Serikat
Piala Dunia 2026 Terancam Sepi Wisman: Bayang-Bayang Krisis di Industri Perhotelan Amerika Serikat

“Pengembangan destinasi wisata tidak bisa hanya dipikul sendirian oleh Kementerian Pariwisata. Ini harus menjadi program strategis nasional yang mengikat semua kementerian dan lembaga. Jika urusan visa, konektivitas udara, dan kemudahan investasi belum sinkron, jangan harap kita bisa menyalip Thailand atau Vietnam,” tambah Evita.

Masa Depan Pariwisata Indonesia: Menuju Transformasi Total

Menanggapi berbagai kritik tersebut, pihak kementerian menegaskan bahwa mereka sedang berupaya keras membuka rute-rute penerbangan baru dan meningkatkan kapasitas kursi pesawat, terutama dari pasar-pasar potensial seperti Australia dan China. Sektor ketenagakerjaan pariwisata juga terus tumbuh, di mana pada tahun 2025 saja sudah mampu menyerap 25,91 juta tenaga kerja.

Kini, tantangan sesungguhnya bagi Indonesia adalah bagaimana mengubah potensi alam yang luar biasa menjadi daya tarik yang tak terbantahkan di mata dunia. Indonesia butuh lebih dari sekadar keindahan alam; Indonesia butuh kemudahan akses, harga yang kompetitif, dan strategi pemasaran yang tidak lagi konvensional.

Perjalanan menuju target 17 juta wisman memang masih panjang, namun dengan evaluasi total terhadap hambatan investasi dan peningkatan koordinasi lintas sektor, bukan tidak mungkin Indonesia kembali merebut mahkota pariwisata di Asia Tenggara. Masa depan ekonomi kreatif dan pariwisata kita bergantung pada seberapa cepat kita mampu beradaptasi dengan standar global yang terus berubah.

Baca Juga Liburan Musim Dingin Hemat di Bekasi: Cek Promo Amayzing Deals Trans Snow World yang Viral!
Liburan Musim Dingin Hemat di Bekasi: Cek Promo Amayzing Deals Trans Snow World yang Viral!

Penulis: Tim Redaksi SuaraInfo

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *