Misteri ‘Kutukan’ Sang Jawara: Menakar Peluang Kebangkitan Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026

Aris Setiawan | SuaraInfo
04 Jun 2026, 15:30 WIB
Misteri 'Kutukan' Sang Jawara: Menakar Peluang Kebangkitan Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026

SuaraInfo — Masih segar dalam ingatan kolektif pencinta sepak bola dunia bagaimana gol dramatis Andres Iniesta di Soccer City, Johannesburg, menghantarkan Spanyol ke puncak dunia pada tahun 2010. Kala itu, La Furia Roja tampil sebagai kekuatan yang tidak terhentikan dengan filosofi tiki-taka yang menghipnotis. Namun, siapa sangka bahwa trofi emas tersebut justru menjadi awal dari sebuah tren penurunan yang mengkhawatirkan bagi salah satu raksasa Eropa ini di panggung dunia.

Sejak mengangkat trofi bergengsi itu, perjalanan Timnas Spanyol di tiga edisi Piala Dunia berikutnya justru diwarnai dengan catatan merah. Statistik mencatat sebuah anomali yang cukup mengejutkan: dari 11 pertandingan yang dijalani dalam tiga turnamen terakhir, tim Matador hanya mampu mengemas tiga kemenangan saja. Sebuah angka yang tentu sangat kontras dengan status mereka sebagai salah satu kiblat sepak bola modern.

Masa Keemasan yang Perlahan Pudar

Kesuksesan Spanyol antara tahun 2008 hingga 2012 sering disebut sebagai periode dominasi paling absolut dalam sejarah sepak bola internasional. Dengan memenangkan dua gelar Euro dan satu Piala Dunia secara berturut-turut, Spanyol seolah-olah telah menemukan formula abadi untuk memenangkan pertandingan. Namun, sepak bola terus berevolusi, dan tim-tim lain mulai menemukan penawar dari gaya permainan penguasaan bola yang menjadi ciri khas mereka.

Baca Juga Benteng Tak Tertembus: Mengupas Strategi Keamanan Tiga Lapis Timnas Inggris Menuju Piala Dunia 2026
Benteng Tak Tertembus: Mengupas Strategi Keamanan Tiga Lapis Timnas Inggris Menuju Piala Dunia 2026

Setelah kejayaan di Afrika Selatan, harapan publik tentu tetap tinggi. Spanyol diprediksi akan terus mendominasi. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Ada semacam kejenuhan taktis yang membuat permainan mereka menjadi mudah terbaca, sementara regenerasi pemain yang diharapkan bisa melanjutkan estafet kegemilangan justru terjebak dalam bayang-bayang kesuksesan para seniornya.

Tragedi Brasil 2014: Runtuhnya Kerajaan Tiki-Taka

Kejutan besar pertama terjadi di Piala Dunia 2014 yang digelar di Brasil. Spanyol datang sebagai juara bertahan dengan skuad yang relatif masih dihuni oleh pilar-pilar utama dari edisi 2010. Namun, petaka dimulai saat mereka dihancurkan oleh Belanda dengan skor telak 1-5 di pertandingan pembuka. Kekalahan ini bukan sekadar soal skor, melainkan simbol runtuhnya dominasi mereka.

Penderitaan berlanjut saat mereka ditaklukkan oleh Chile dengan skor 0-2. Meskipun sempat meraih kemenangan hiburan 3-0 atas Australia, perjalanan Spanyol harus berakhir tragis di fase grup. Ini adalah kali pertama dalam sejarah modern seorang juara bertahan tersingkir begitu cepat dengan cara yang sangat menyakitkan. Publik pun mulai mempertanyakan, apakah era keemasan Spanyol sudah benar-benar berakhir?

Baca Juga Dramatis! Ekuador Bungkam Jerman Lewat Aksi Comeback, Tiket Babak 16 Besar Resmi Digenggam
Dramatis! Ekuador Bungkam Jerman Lewat Aksi Comeback, Tiket Babak 16 Besar Resmi Digenggam

Drama Rusia 2018: Dominasi Tanpa Solusi

Empat tahun berselang, di Rusia 2018, Spanyol kembali mencoba peruntungan. Persiapan mereka sempat diganggu oleh drama pemecatan pelatih Julen Lopetegui sesaat sebelum turnamen dimulai. Di bawah arahan Fernando Hierro, Spanyol tampil kurang meyakinkan meski berhasil lolos dari grup. Mereka hanya menang tipis 1-0 atas Iran, serta bermain imbang 3-3 melawan Portugal dan 2-2 melawan Maroko.

Langkah mereka kembali terhenti di babak 16 besar. Menghadapi tuan rumah Rusia, Spanyol mencatatkan ribuan operan namun gagal menembus pertahanan gerendel lawan. Pertandingan berakhir imbang 1-1 dan harus diselesaikan lewat adu penalti yang berujung pada kekalahan 3-4 bagi Spanyol. Kegagalan ini mempertegas masalah kronis mereka: penguasaan bola yang dominan namun minim kreativitas di area sepertiga akhir lapangan.

Qatar 2022: Start Fantastis yang Berakhir Tragis

Di bawah asuhan Luis Enrique, Spanyol menunjukkan harapan baru di Piala Dunia 2022 Qatar. Mereka mengawal turnamen dengan performa meledak-ledak saat menghancurkan Kosta Rika 7-0. Kemenangan ini sempat membuat banyak pihak yakin bahwa Spanyol telah kembali ke performa terbaiknya. Namun, konsistensi kembali menjadi masalah utama bagi skuad muda La Roja.

Baca Juga Harapan Baru Selecao: Neymar dan Thiago Silva Masuk Skuad Sementara Brasil untuk Piala Dunia 2026
Harapan Baru Selecao: Neymar dan Thiago Silva Masuk Skuad Sementara Brasil untuk Piala Dunia 2026

Setelah ditahan imbang Jerman 1-1 dan secara mengejutkan kalah 1-2 dari Jepang, Spanyol tetap melaju ke babak sistem gugur. Namun, sejarah seolah berulang. Di babak 16 besar, mereka kembali dipaksa bermain imbang 0-0 oleh Maroko selama 120 menit. Dalam drama adu penalti, Spanyol bahkan tidak mampu mencetak satu gol pun, kalah 0-3 dari tim kejutan tersebut. Rekor buruk Spanyol pun semakin panjang dan mengakar kuat.

Menatap Piala Dunia 2026: Misi Memutus Kutukan

Kini, perhatian tertuju pada gelaran Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Spanyol datang dengan wajah baru di bawah kepemimpinan pelatih Luis de la Fuente. Generasi baru yang dipimpin oleh pemain-pemain muda berbakat seperti Lamine Yamal dan kawan-kawan diharapkan mampu membawa perubahan paradigma dalam gaya bermain tim.

Meski dihantui statistik buruk hanya menang tiga kali dalam 11 laga terakhir di Piala Dunia, optimisme tetap ada. Sebuah supercomputer bahkan sempat menempatkan Spanyol sebagai salah satu kandidat kuat juara. Hal ini didasari pada performa mereka yang terus menanjak di ajang UEFA Nations League dan kualifikasi Euro. Namun, tantangan sesungguhnya adalah membuktikan bahwa mereka bisa tetap tenang saat tekanan turnamen besar melanda.

Baca Juga Momen Ikonik di London Colney: Saat Gary Neville Dihadiahi Jersey Arsenal oleh Mikel Arteta dan Josh Kroenke
Momen Ikonik di London Colney: Saat Gary Neville Dihadiahi Jersey Arsenal oleh Mikel Arteta dan Josh Kroenke

Analisis Grup H: Jalan Terjal Menuju Penebusan

Berdasarkan undian, Spanyol tergabung di Grup H bersama Uruguay, Arab Saudi, dan Cape Verde. Secara di atas kertas, Spanyol diunggulkan untuk melaju jauh. Namun, menilik sejarah, mereka tidak boleh meremehkan lawan manapun. Uruguay dikenal dengan pertahanan solid dan serangan balik yang mematikan, sementara Arab Saudi pernah mengejutkan dunia dengan mengalahkan Argentina di edisi sebelumnya.

Ujian sebenarnya bagi Luis de la Fuente adalah bagaimana ia mampu mengombinasikan filosofi penguasaan bola dengan efektivitas serangan. Spanyol tidak lagi bisa hanya sekadar mengalirkan bola dari kaki ke kaki tanpa ancaman nyata. Jika ingin menghapus noda hitam dalam satu dekade terakhir, La Furia Roja harus tampil lebih tajam, lebih klinis, dan lebih adaptif terhadap berbagai situasi pertandingan.

Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung pembuktian bagi Spanyol. Apakah mereka akan tetap terjebak dalam pusaran kegagalan masa lalu, ataukah mereka akan bangkit dan menunjukkan bahwa sang Matador belum benar-benar kehilangan taringnya? Publik sepak bola dunia kini menanti jawaban tersebut dengan penuh antusiasme.

Baca Juga Dominasi Tanpa Batas: Erling Haaland Kembali Rengkuh Sepatu Emas Premier League 2025/26
Dominasi Tanpa Batas: Erling Haaland Kembali Rengkuh Sepatu Emas Premier League 2025/26
Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *