Mengenang Kejayaan Porong: Transformasi Pusat Ekonomi Sidoarjo Menjadi Kawasan ‘Kota Mati’ Akibat Lumpur Lapindo

Dimas Pratama | SuaraInfo
04 Jun 2026, 23:27 WIB
Mengenang Kejayaan Porong: Transformasi Pusat Ekonomi Sidoarjo Menjadi Kawasan 'Kota Mati' Akibat Lumpur Lapindo

SuaraInfo — Sidoarjo yang dulu riuh dengan klakson kendaraan, tawar-menawar di pasar yang hangat, serta gemerlap lampu pertokoan hingga larut malam, kini menyisakan sunyi yang mencekam. Kawasan Porong, yang puluhan tahun silam berdiri tegak sebagai pilar utama ekonomi di wilayah Sidoarjo bagian selatan, kini telah berubah wajah secara drastis. Bencana semburan lumpur panas yang meletus sejak Mei 2006 bukan sekadar menenggelamkan ribuan rumah, melainkan juga memutus nadi kehidupan masyarakatnya hingga menciptakan suasana yang menyerupai ‘kota mati’.

Perjalanan menyusuri Jalan Raya Porong lama saat ini menyuguhkan pemandangan yang kontras dengan memori masa lalu. Jika dahulu mata kita dimanjakan dengan barisan pertokoan yang padat, pedagang kaki lima yang menjajakan kuliner khas, hingga kesibukan ekonomi lokal yang tak pernah tidur, kini yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan kosong dengan cat yang mulai mengelupas dan pintu besi yang berkarat rapat-rapat.

Jejak Kejayaan yang Terkubur di Bawah Endapan Lumpur

Sebelum bencana melanda, Porong adalah titik temu strategis. Kecamatan ini merupakan pintu gerbang yang menghubungkan Surabaya dengan wilayah Jawa Timur bagian timur dan selatan. Tidak mengherankan jika kawasan ini tumbuh menjadi pusat perbelanjaan dan transit yang sangat hidup. Namun, semburan lumpur Lapindo yang tak kunjung berhenti memaksa peradaban di sana untuk berhenti berdetak secara perlahan namun pasti.

Baca Juga Museum Tutup di Hari Senin? Tak Perlu Risau, Ini 5 Destinasi Wisata Alternatif yang Tetap Buka untuk Liburan Anda
Museum Tutup di Hari Senin? Tak Perlu Risau, Ini 5 Destinasi Wisata Alternatif yang Tetap Buka untuk Liburan Anda

Terhentinya aktivitas perdagangan di sini dipicu oleh lumpuhnya akses transportasi utama. Luapan lumpur yang merendam belasan desa di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin membuat infrastruktur jalan tidak lagi bisa diandalkan. Dampaknya sangat masif; ribuan warga harus angkat kaki dari tanah kelahiran mereka, dan seiring dengan perpindahan penduduk tersebut, pusat-pusat keramaian pun ikut sirna ditelan waktu dan ketidakpastian.

Kesaksian dari Garis Depan: Mereka yang Menolak Menyerah

Di tengah suasana yang sepi dan berdebu, masih ada segelintir pengusaha yang mencoba bertahan meski tertatih. Salah satunya adalah Rio, pemilik Toko Cendrawasih. Toko sandal dan sepatu miliknya menjadi saksi bisu bagaimana kejayaan kawasan ini perlahan menguap. Rio tetap membuka pintu tokonya setiap hari, meski pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

“Dulu di sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam melayani pembeli. Sekarang banyak yang tutup karena sudah tidak ada pembeli,” kenang Rio dengan nada getir saat berbincang dengan tim kami. Menurutnya, penurunan drastis pengunjung mulai terasa segera setelah titik semburan muncul. Ketakutan akan meluapnya lumpur dan rusaknya akses jalan membuat pelanggan setia mulai meninggalkan kawasan ini.

Baca Juga Dampak Tragedi Stasiun Bekasi Timur: KAI Batalkan 24 Perjalanan KA Jarak Jauh demi Keselamatan Penumpang
Dampak Tragedi Stasiun Bekasi Timur: KAI Batalkan 24 Perjalanan KA Jarak Jauh demi Keselamatan Penumpang

Bergeser sedikit ke utara, kondisinya bahkan lebih memprihatinkan. Rio menyebutkan bahwa tokonya adalah satu-satunya yang masih bertahan di blok tersebut. Meski beberapa toko bangunan dan pakaian masih terlihat beroperasi di arah selatan, denyut jantung perdagangannya tetap tidak bisa disamakan dengan era sebelum bencana lumpur lapindo terjadi.

Dampak Domino: Dari Properti hingga Pertanian

Nasib serupa juga dialami oleh Iswan Christanto, pemilik toko bahan bangunan di kawasan yang sama. Baginya, dampak lumpur bukan hanya soal hilangnya pelanggan harian, tetapi juga kehancuran ekosistem bisnis secara menyeluruh. Banyak rekan sejawatnya yang sesama pengusaha memilih untuk gulung tikar karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan pemasukan yang kian merosot.

Iswan menjelaskan bahwa dampak bencana ini bersifat domino. Hilangnya ribuan unit rumah warga berarti hilangnya pasar bagi para pedagang. Selain itu, kerusakan lahan pertanian di sekitar lokasi semburan membuat daya beli masyarakat petani hancur. Masalah semakin diperparah dengan anjloknya harga tanah dan nilai properti di kawasan terdampak. Investasi yang dulu ditanamkan dengan harapan keuntungan besar, kini seolah terkubur bersama lumpur yang mengeras.

Baca Juga Tragedi di Batang Toru: Ketika Siklon Senyar Menghapus Jejak Orang Utan Tapanuli dari Muka Bumi
Tragedi di Batang Toru: Ketika Siklon Senyar Menghapus Jejak Orang Utan Tapanuli dari Muka Bumi

Jeritan Pemandu Wisata di Balik Gundukan Tanggul

Di sisi lain, muncul sebuah profesi baru pasca-bencana: pemandu wisata lumpur. Namun, profesi yang lahir dari keterpaksaan ini pun kini mulai terancam. Ula Muanisa (42), salah satu pemandu wisata, mengungkapkan bahwa penghasilannya kini turun drastis. Jika pada masa awal semburan ia bisa mengantongi Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, kini mendapatkan Rp 50 ribu saja sudah terasa sangat sulit.

“Bahkan sekarang banyak pengunjung yang turun sendiri secara gratis tanpa jasa pemandu, jadi kami sering tidak dapat penghasilan sama sekali,” keluh Ula. Ketidakpastian kunjungan wisatawan di lokasi wisata Sidoarjo yang unik ini memaksanya untuk memutar otak demi dapur tetap mengepul. Menjadi tukang ojek dadakan adalah satu-satunya jalan keluar yang ia ambil untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Senada dengan Ula, Mustofa yang juga menggantungkan hidup sebagai pemandu wisata menyebutkan bahwa masa-masa sulit ini semakin diperparah sejak pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Meskipun aktivitas warga telah kembali normal, jumlah wisatawan yang berkunjung ke tanggul lumpur belum menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya. Hari Sabtu dan Minggu yang biasanya diharapkan menjadi ladang rezeki, kini seringkali hanya berlalu tanpa hasil yang memuaskan.

Baca Juga Keajaiban Air Soda Parbubu: Menelusuri Jejak Pemandian Langka Dunia di Jantung Tapanuli Utara
Keajaiban Air Soda Parbubu: Menelusuri Jejak Pemandian Langka Dunia di Jantung Tapanuli Utara

Menanti Sentuhan Pemerintah untuk Kebangkitan Ekonomi

Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, harapan kini tertuju pada kebijakan pemerintah daerah. Sastro, seorang warga Desa Jatirejo, menyatakan bahwa warga sangat berharap adanya promosi yang lebih gencar dari pemerintah terhadap potensi wisata di kawasan terdampak. Ia menilai bahwa jika kawasan ini dikelola dan dipromosikan dengan baik sebagai destinasi wisata edukasi atau geowisata, maka ekonomi masyarakat sekitar bisa kembali bergerak.

“Banyak korban lumpur yang beralih profesi menjadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Kami berharap pemerintah daerah ikut membantu mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo, agar wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali,” tutup Sastro penuh harap.

Tragedi lumpur Porong adalah pengingat bagi kita semua tentang betapa rapuhnya tatanan ekonomi terhadap bencana alam dan industri. Kini, Porong lama tetap berdiri dengan sisa-sisa kemegahannya yang mulai memudar, menunggu tangan dingin yang mampu mengubah kesunyian ‘kota mati’ ini menjadi harapan baru bagi generasi mendatang.

Baca Juga Eksplorasi Tangerang Selatan: 8 Destinasi Wisata Paling Hits yang Menawarkan Pengalaman Tak Terlupakan
Eksplorasi Tangerang Selatan: 8 Destinasi Wisata Paling Hits yang Menawarkan Pengalaman Tak Terlupakan
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *