Fenomena Nekat di Puncak Tertinggi: Mengapa Ribuan Pendaki Masih Menantang Maut di Gunung Fuji Saat Musim Ditutup?
SuaraInfo — Gunung Fuji, sang ikon abadi Negeri Sakura, selalu menyimpan daya tarik magis bagi para petualang dari seluruh penjuru dunia. Namun, di balik keindahannya yang tertutup salju, tersimpan sebuah fenomena yang memicu kekhawatiran serius bagi otoritas setempat. Meski musim pendakian resmi telah berakhir, ribuan orang dilaporkan tetap nekat menapaki jalur-jalur terjal menuju puncak tertinggi di Jepang tersebut, menantang risiko cuaca ekstrem demi menghindari kerumunan massa yang menyesakkan.
Berdasarkan analisis mendalam yang dilakukan oleh media kenamaan The Yomiuri Shimbun bekerja sama dengan Location AI, terungkap data mengejutkan yang diperoleh dari pelacakan sinyal ponsel. Setidaknya terdapat sekitar 10.000 pendaki yang nekat melakukan perjalanan ke puncak Gunung Fuji di luar jendela waktu resmi setiap tahunnya dalam rentang periode 2019 hingga 2025. Angka ini menunjukkan bahwa larangan resmi seolah hanya menjadi sekadar himbauan bagi mereka yang memburu kesunyian di atas awan.
Melampaui Barikade: Pengejaran Kesunyian yang Berisiko
Secara regulasi, musim pendakian resmi di Gunung Fuji sebenarnya sangat terbatas, yakni hanya berlangsung dari awal Juli hingga tanggal 10 September. Namun, ketika kalender menunjukkan pertengahan September dan jalur pendakian secara teknis telah ditutup serta dipasangi barikade fisik, aktivitas di sana justru tidak benar-benar mati. Sisa bulan September justru menjadi periode paling padat bagi para pendaki luar musim yang mencari celah di antara pengawasan petugas.
Para pendaki ini seringkali terlihat secara terang-terangan melewati barikade atau mencari jalur alternatif yang tidak terjaga demi mencapai titik tertinggi 3.776 meter di atas permukaan laut. Alasan utama yang paling sering mencuat adalah kelelahan psikologis terhadap fenomena overtourism. Banyak dari mereka merasa bahwa mendaki di musim resmi tidak lagi memberikan pengalaman spiritual atau ketenangan karena jalur yang penuh sesak layaknya pasar tumpah.
“Saya memilih datang setelah gunung ditutup karena saat musim resmi, suasananya terlalu ramai dan berisik. Saya ingin merasakan Gunung Fuji yang sebenarnya,” ungkap seorang pria berusia 53 tahun asal Nagoya yang baru saja turun dari jalur pendakian. Meskipun ia akhirnya terpaksa membatalkan niatnya mencapai puncak karena cuaca buruk, pengakuannya mencerminkan mentalitas ribuan pendaki lainnya yang memprioritaskan privasi di atas keselamatan pribadi.
Bahaya ‘Bullet Climbing’ dan Faktor Ekonomi
Selain faktor keramaian, motivasi ekonomi juga turut bermain peran dalam tren pendakian ilegal ini. Sejak beberapa tahun terakhir, Prefektur Yamanashi dan Shizuoka mulai memberlakukan biaya masuk sebesar 4.000 yen atau sekitar Rp 450 ribu bagi setiap pendaki selama musim resmi. Bagi sebagian orang, nominal ini dianggap sebagai beban tambahan, sehingga mereka memilih mendaki di luar musim untuk menghindari pungutan tersebut sekaligus menghemat biaya wisata Jepang mereka.
Tak jarang, para pendaki nekat ini melakukan metode yang sangat berbahaya yang dikenal dengan istilah bullet climbing. Ini adalah praktik mendaki sepanjang malam tanpa istirahat atau tidur di pondok gunung (mountain hut) agar bisa mengejar matahari terbit di puncak dan segera turun di pagi hari. Praktik ini sangat berisiko karena tubuh tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk aklimatisasi terhadap ketinggian, yang seringkali berujung pada penyakit ketinggian (AMS) yang fatal.
Kondisi cuaca di Gunung Fuji di luar musim resmi jauh lebih tidak terduga dibandingkan saat musim panas. Angin kencang yang mampu menghempaskan tubuh manusia, hujan es yang tiba-tiba, hingga sambaran petir menjadi ancaman nyata yang setiap saat bisa mencabut nyawa. “Anginnya begitu kencang hingga saya merasa akan diterbangkan, dan saya sangat takut terkena batu-batu yang jatuh dari atas,” tambah pria asal Nagoya tersebut, menggambarkan betapa mencekamnya situasi di lereng Fuji saat cuaca memburuk.
Statistik Kelam dan Tantangan Penegakan Hukum
Data dari Kepolisian Prefektur Shizuoka dan Yamanashi memberikan gambaran yang suram mengenai dampak dari nekatnya para pendaki ini. Sepanjang periode 2019-2025, tercatat ada 79 kecelakaan serius yang melibatkan pendaki luar musim, dengan 19 di antaranya berakhir dengan kematian. Angka kematian ini tergolong sangat tinggi jika dibandingkan dengan rasio kecelakaan pada musim resmi yang mencatat 310 insiden dengan 21 korban jiwa. Hal ini membuktikan bahwa risiko mendaki di luar musim berkali-kali lipat lebih mematikan.
Salah satu tragedi yang baru-baru ini menyita perhatian adalah tewasnya seorang pendaki Jepang berusia 33 tahun pada April lalu setelah terjatuh dari lereng yang membeku. Kejadian-kejadian seperti ini terus berulang meskipun pemerintah telah menetapkan ancaman hukuman penjara hingga enam bulan atau denda maksimal 300.000 yen (sekitar Rp 33 juta) bagi mereka yang melanggar batas pendakian.
Lantas, mengapa fenomena ini sulit dihentikan? Otoritas setempat mengakui adanya keterbatasan personel patroli untuk mengawasi area gunung yang sangat luas, terutama di malam hari atau saat cuaca buruk. Selain itu, hingga saat ini belum ada tindakan hukum tegas atau sanksi nyata yang dijatuhkan kepada para pelanggar, yang pada akhirnya membuat aturan tersebut seolah kehilangan taringnya di mata publik.
Edukasi dan Kesadaran: Kunci Keselamatan Pendakian
Fenomena pendakian luar musim ini juga melibatkan wisatawan mancanegara yang terkadang kurang mendapatkan informasi akurat mengenai bahaya yang mengintai. Seorang pendaki asal Australia berusia 22 tahun, misalnya, mengaku tetap mendaki meskipun tahu jalur telah ditutup hanya karena ia berhasil mendapatkan pemesanan tempat di salah satu pondok gunung yang masih beroperasi secara mandiri. Hal ini menunjukkan adanya celah koordinasi antara operator pondok dengan kebijakan penutupan gunung oleh pemerintah.
Bagi Anda yang merencanakan pendakian gunung, sangat penting untuk memahami bahwa gunung bukanlah sekadar objek foto, melainkan lingkungan alam liar yang harus dihormati. Menghormati jadwal pembukaan resmi bukan hanya soal mematuhi hukum, tetapi tentang menghargai nyawa sendiri dan kerja keras para tim penyelamat yang harus bertaruh nyawa setiap kali terjadi kecelakaan.
Gunung Fuji akan selalu ada di sana, menunggu dengan segala kemegahannya. Namun, mencapai puncaknya dengan cara yang aman dan bertanggung jawab adalah cara terbaik untuk benar-benar menikmati keindahan yang ditawarkan oleh gunung suci kebanggaan rakyat Jepang ini. Pastikan untuk selalu memperbarui informasi mengenai regulasi pendakian terbaru agar perjalanan Anda tidak berubah menjadi tragedi yang memilukan.