Farhan Geram! Alun-alun Bandung Ditutup Lagi Akibat Hasil Renovasi Miliaran Rupiah yang ‘Raruksak’

Dimas Pratama | SuaraInfo
19 Jun 2026, 09:25 WIB
Farhan Geram! Alun-alun Bandung Ditutup Lagi Akibat Hasil Renovasi Miliaran Rupiah yang 'Raruksak'

SuaraInfo — Wajah jantung Kota Bandung, Alun-alun, yang seharusnya kini sudah bersolek cantik dan siap menyambut warga serta pelancong, justru kembali harus ‘bersembunyi’ di balik pagar penutup. Keputusan mengejutkan ini diambil langsung oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang mengaku sangat tidak puas dengan hasil pengerjaan renovasi di kawasan ikonik tersebut. Meski anggaran yang digelontorkan tidak sedikit, realita di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang jauh dari ekspektasi.

Langkah tegas sang Wali Kota ini tentu memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat. Banyak warga yang bertanya-tanya, mengapa fasilitas publik yang sudah dinanti-nantikan kehadirannya justru kembali digembok tepat setelah proses revitalisasi dinyatakan selesai. Menanggapi kegelisahan publik, Farhan dengan nada bicara yang lugas mengungkapkan bahwa alasan utama penutupan tersebut adalah kualitas pekerjaan kontraktor yang dinilai buruk dan asal-asalan.

Kekecewaan Sang Wali Kota: Antara Estetika dan Realita

Dalam sebuah pertemuan di Balai Kota Bandung, Farhan tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebutkan bahwa ada kesalahan mendasar dalam pelaksanaan proyek pembangunan tersebut. Baginya, kenyamanan dan keamanan warga adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar, apalagi jika menyangkut pembangunan infrastruktur publik yang menjadi wajah kota.

Baca Juga Menyusuri Jejak 1,5 Abad Stasiun Gundih: Sang Penjaga Simpul Sejarah di Jantung Grobogan
Menyusuri Jejak 1,5 Abad Stasiun Gundih: Sang Penjaga Simpul Sejarah di Jantung Grobogan

“Alun-alun teh gini, kenapa saya tutup waktu itu, karena pekerjaan dari renovasinya jelek. Makanya saya tutup,” ujar Farhan dengan gaya bicara khasnya yang blak-blakan. Ia menekankan bahwa membiarkan fasilitas dengan kualitas rendah dibuka untuk umum hanya akan mempercepat kerusakan dan membahayakan pengunjung.

Keputusan ini diambil setelah Farhan melakukan inspeksi dan melihat langsung kondisi fisik bangunan yang tidak sesuai dengan standar yang ia harapkan. Istilah ‘raruksak’ atau rusak dalam bahasa Sunda, menjadi gambaran betapa parahnya kondisi beberapa titik di Alun-alun meskipun statusnya adalah bangunan yang baru saja selesai direnovasi.

Dana Fantastis Rp 6,8 Miliar yang Berujung Ironi

Proyek revitalisasi Alun-alun Bandung bukanlah proyek kecil. Berdasarkan data yang dihimpun, pemerintah telah mengucurkan dana yang cukup fantastis untuk mengubah wajah kawasan ini. Pada tahap pertama, anggaran sebesar Rp 2,8 miliar telah dialokasikan, disusul dengan tahap kedua yang menelan biaya mencapai Rp 4 miliar. Jika ditotal, negara telah mengeluarkan Rp 6,8 miliar demi mempercantik wisata Bandung di pusat kota.

Baca Juga Pesona Abadi Kebun Raya Cibodas: Destinasi Eduwisata Favorit yang Tetap Ramah di Kantong Wisatawan
Pesona Abadi Kebun Raya Cibodas: Destinasi Eduwisata Favorit yang Tetap Ramah di Kantong Wisatawan

Namun, besarnya anggaran tersebut tampaknya tidak berbanding lurus dengan hasil yang diterima. Farhan menyoroti bagaimana fasilitas yang baru saja dibuka pada akhir tahun 2025 lalu langsung mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa ada yang salah dalam proses pengerjaan maupun pemilihan material oleh pihak kontraktor.

“Ingat nggak, waktu liburan akhir tahun 2025, kan dibuka. Karena baru, raruksak. Karena memang pekerjaannya jelek,” tambah Farhan. Ia menyesalkan adanya ketidakprofesionalan dalam pelaksanaan proyek yang seharusnya bisa menjadi warisan bagi warga Bandung.

Menuntut Akuntabilitas Pelaksana Proyek

Lebih lanjut, Farhan menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam melihat anggaran daerah terbuang sia-sia untuk pekerjaan yang tidak bermutu. Ia menuntut adanya perbaikan total dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait, baik dari sisi pemberi tugas maupun pelaksana pekerjaan di lapangan.

“Bukan apa-apa, saya kan minta diperbaiki lagi. Terus terang, ini sebetulnya kesalahan dari pemberi dan pelaksana pekerjaan. Jadi saya minta perbaiki dulu,” tegasnya. Sikap keras ini diambil agar menjadi pelajaran bagi para kontraktor lain yang mengerjakan proyek pemerintah Kota Bandung di masa mendatang agar tidak main-main dengan kualitas.

Baca Juga Fenomena Saus Ranch di Piala Dunia 2026: Mengapa TSA Sampai Harus Turun Tangan?
Fenomena Saus Ranch di Piala Dunia 2026: Mengapa TSA Sampai Harus Turun Tangan?

Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai tanggal pasti kapan Alun-alun Bandung akan kembali dibuka untuk umum. Wali Kota Farhan memilih untuk bersikap hati-hati dan tidak ingin terburu-buru memberikan janji manis kepada warga sebelum kondisi fisik bangunan benar-benar terjamin kekuatannya.

Dampak Bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Penutupan kembali Alun-alun Bandung tentu membawa dampak yang cukup signifikan bagi sektor ekonomi kreatif dan pariwisata di sekitar kawasan tersebut. Pedagang kaki lima, pemilik toko, hingga penyedia jasa lainnya harus bersabar lebih lama menunggu keramaian pengunjung yang biasanya memadati area tersebut. Alun-alun bukan sekadar taman, melainkan magnet ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitarnya.

Meskipun demikian, Farhan tetap optimis bahwa langkah pahit ini harus diambil demi kebaikan jangka panjang. Ia yakin bahwa jika Alun-alun diperbaiki dengan standar yang layak, daya tarik wisatanya akan jauh lebih besar dan bertahan lebih lama. Hal ini selaras dengan upayanya dalam mendorong reaktivasi Bandara Husein Sastranegara yang diharapkan dapat mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Kembang.

Baca Juga 7 Rekomendasi Destinasi Kuliner Keluarga di Tangerang Selatan yang Nyaman dan Menggugah Selera
7 Rekomendasi Destinasi Kuliner Keluarga di Tangerang Selatan yang Nyaman dan Menggugah Selera

“Pokoknya sampai betul-betul selesai dan layak,” pungkas Farhan singkat namun penuh penekanan. Ia ingin memastikan bahwa ketika gerbang Alun-alun kembali dibuka nanti, warga tidak lagi mendapati lantai yang goyah, fasilitas yang rusak, atau estetika yang asal-asalan.

Filosofi Alun-alun Sebagai Ruang Bersama

Dalam konteks tata kota, Alun-alun merupakan ruang terbuka hijau sekaligus ruang interaksi sosial yang sangat vital. Bagi warga Bandung, Alun-alun dengan rumput sintetis ikoniknya adalah tempat berkumpulnya keluarga dari berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu, integritas fisik dari ruang publik ini mencerminkan bagaimana pemerintah menghargai warganya.

Keputusan Farhan untuk menghentikan operasional sementara menunjukkan sebuah kepemimpinan yang berorientasi pada kualitas, bukan sekadar mengejar seremoni peresmian. Di tengah tren pembangunan cepat di berbagai daerah, langkah Wali Kota Bandung ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan proyek yang ketat dan keberanian untuk menolak hasil kerja yang di bawah standar.

Kini, masyarakat Bandung hanya bisa menunggu dan berharap agar kontraktor segera menyelesaikan tugasnya dengan benar. Semoga dalam waktu dekat, Alun-alun Bandung dapat kembali menjadi kebanggaan yang sesungguhnya, bukan sekadar simbol pembangunan miliaran rupiah yang ‘raruksak’.

Baca Juga Abadi dalam Perunggu: Megahnya Patung 70 Ton Lionel Messi di Patagonia sebagai Simbol Keagungan Abadi
Abadi dalam Perunggu: Megahnya Patung 70 Ton Lionel Messi di Patagonia sebagai Simbol Keagungan Abadi
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *