Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Pipa PVC Bukan Teman Pengukus yang Aman?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
26 Jun 2026, 09:29 WIB
Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Pipa PVC Bukan Teman Pengukus yang Aman?

SuaraInfo — Suara lengkingan khas dari uap panas yang keluar dari lubang kecil gerobak kue putu selalu berhasil membangkitkan memori masa kecil. Kue berwarna hijau berbahan dasar tepung beras dengan isian gula merah dan taburan kelapa parut ini memang menjadi primadona kuliner tradisional Indonesia. Namun, di balik aromanya yang menggoda, tersimpan sebuah rahasia dapur yang cukup mengkhawatirkan. Fenomena penggunaan potongan pipa paralon atau pipa PVC (Polyvinyl Chloride) sebagai cetakan sekaligus wadah pengukus kini tengah menjadi sorotan tajam para ahli.

Pipa yang sejatinya diciptakan untuk mengalirkan air dalam instalasi bangunan ini kerap disalahgunakan oleh sebagian pedagang karena kepraktisannya. Padahal, tindakan ini menyimpan bom waktu bagi kesehatan jangka panjang para penikmatnya. Pakar dari Fakultas Teknik dan Teknologi Pertanian IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, angkat bicara memberikan peringatan keras mengenai praktik yang sudah dianggap lumrah namun mematikan ini.

Suhu Tinggi dan Titik Lemah Pipa PVC

Secara teknis, pipa paralon tidak pernah dirancang untuk bersentuhan dengan suhu ekstrem, apalagi digunakan dalam proses pengolahan makanan sehat. Prof Eko menjelaskan bahwa pipa PVC, terutama jenis unplasticized PVC (uPVC), hanya mampu bertahan pada suhu di bawah 50 derajat Celcius. Di atas ambang batas tersebut, struktur kimia plastik mulai tidak stabil.

Baca Juga Rahasia Medis Benjamin Netanyahu: Perjalanan Sembunyi-sembunyi Melawan Kanker Prostat dan Pentingnya Deteksi Dini
Rahasia Medis Benjamin Netanyahu: Perjalanan Sembunyi-sembunyi Melawan Kanker Prostat dan Pentingnya Deteksi Dini

Masalah muncul ketika kita melihat fakta di lapangan. Proses pembuatan kue putu melibatkan pengukusan dengan uap air yang suhunya mencapai 100 derajat Celcius. Hal ini dilakukan agar terjadi proses gelatinisasi pati beras pada suhu sekitar 80 derajat Celcius. Jarak yang sangat jauh antara ketahanan pipa (50°C) dan suhu operasional (100°C) inilah yang menjadi pemicu utama terjadinya bencana kimiawi.

“Suhu tinggi ini dapat mengakibatkan migrasi atau perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu yang sedang dimasak,” jelas Prof Eko. Dengan kata lain, setiap gigitan kue putu yang dikukus dalam paralon berpotensi mengandung residu bahan kimia yang terlepas akibat panas yang berlebihan.

Ancaman Logam Berat dan Zat Karsinogenik

Risiko kesehatan yang membayangi bukanlah isapan jempol belaka. Salah satu zat tambahan yang sering ditemukan dalam pembuatan pipa PVC adalah stabilizer yang mengandung Pb atau timbal. Logam berat ini sangat berbahaya bagi tubuh manusia karena sifatnya yang sulit dikeluarkan dan cenderung mengendap. Paparan timbal secara terus-menerus melalui konsumsi kuliner tradisional yang terkontaminasi dapat memicu kerusakan organ vital, terutama gangguan pada fungsi ginjal.

Baca Juga Sering Salah Beli Ukuran Sepatu? Inilah Alasan Medis Mengapa Sore Hari Adalah Waktu Terbaik Untuk Berbelanja
Sering Salah Beli Ukuran Sepatu? Inilah Alasan Medis Mengapa Sore Hari Adalah Waktu Terbaik Untuk Berbelanja

Tak berhenti di situ, Prof Eko juga memperingatkan adanya kemungkinan migrasi monomer pembentuk PVC. Zat-zat ini bersifat karsinogenik, yang artinya memiliki potensi besar dalam memicu pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh. Bayangkan, camilan yang seharusnya memberikan energi dan kebahagiaan justru menjadi perantara zat berbahaya ke dalam aliran darah kita.

Kembali ke Bambu: Solusi Aman dan Berbudaya

Melihat risiko yang begitu besar, pertanyaannya adalah: mengapa kita tidak kembali ke akar budaya kita sendiri? Secara tradisional, kue putu dikukus menggunakan potongan bambu kecil. Penggunaan bambu bukan sekadar masalah estetika atau tradisi, melainkan memiliki dasar keamanan pangan yang sangat kuat. Bambu adalah bahan alami yang tahan terhadap suhu tinggi uap air dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti plastik.

Menurut pandangan jurnalis SuaraInfo, kembali menggunakan bambu juga akan menjaga cita rasa otentik kue putu. Serat bambu memberikan aroma khas yang tidak bisa didapatkan dari cetakan plastik. Tentu saja, penggunaan bambu harus dibarengi dengan standar kebersihan yang ketat. Pencucian yang bersih dan pengeringan yang sempurna sangat penting untuk mencegah tumbuhnya jamur pada pori-pori bambu.

Baca Juga Sering Kram Perut? Waspadai Gejala Kanker Usus Besar yang Kini Mengintai Usia Muda
Sering Kram Perut? Waspadai Gejala Kanker Usus Besar yang Kini Mengintai Usia Muda

Namun, jika pedagang bersikeras menggunakan material modern karena alasan efisiensi, maka pemilihan material harus dilakukan dengan sangat hati-hati. “Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang memang dikhususkan untuk pangan (food grade) dan mampu bertahan pada suhu tinggi,” tegas Prof Eko. Pastikan ada logo sendok dan garpu serta label ketahanan panas pada kemasan material tersebut sebelum digunakan untuk mengolah jajanan pasar.

Tanggung Jawab Kolektif untuk Keamanan Pangan

Isu penggunaan pipa PVC ini sejatinya adalah puncak gunung es dari masalah keamanan pangan di tingkat industri rumah tangga dan pedagang kaki lima. Prof Eko menekankan bahwa edukasi tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Ini adalah tanggung jawab lintas sektor yang melibatkan pemerintah, produsen, hingga konsumen itu sendiri.

Otoritas terkait seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), pemerintah daerah melalui dinas kesehatan, serta lembaga pendidikan tinggi harus proaktif turun ke lapangan. Langkah-langkah yang bisa diambil meliputi:

  • Sosialisasi intensif kepada para pedagang mengenai bahaya plastik non-food grade.
  • Pemberian pelatihan mengenai teknik pengolahan pangan yang aman namun tetap ekonomis.
  • Pengawasan berkala terhadap alat-alat produksi yang digunakan oleh pelaku usaha kuliner.
  • Edukasi kepada masyarakat luas agar lebih kritis dalam memilih makanan yang dikonsumsi.

Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan terbesar. Dengan berhenti membeli produk yang jelas-jelas menggunakan wadah yang tidak aman, kita secara tidak langsung memaksa para produsen untuk berubah ke arah yang lebih sehat. Memilih makanan bukan hanya soal rasa di lidah, tapi juga soal investasi kesehatan di masa depan.

Baca Juga Waspada Gejala Tersembunyi Kanker Serviks: Mengapa Deteksi Dini Bisa Menyelamatkan Nyawa?
Waspada Gejala Tersembunyi Kanker Serviks: Mengapa Deteksi Dini Bisa Menyelamatkan Nyawa?

Kesimpulannya, kelezatan kue putu jangan sampai dikorbankan oleh ketidaktahuan atau keinginan untuk berhemat secara instan. Pipa PVC mungkin murah dan mudah ditemukan di toko bangunan, namun ia tidak memiliki tempat di dalam panci pengukus makanan. Mari kita dukung para pedagang yang masih setia menggunakan bambu atau material aman lainnya demi menjaga warisan kuliner Indonesia yang sehat dan berkualitas.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *