Waspada! Inilah Daftar Bandara di Eropa dengan Risiko Keterlambatan Tertinggi: Antrean Panjang Menanti di Musim Liburan
SuaraInfo — Mengincar keindahan arsitektur klasik di Italia, eksotisme pantai di kepulauan Yunani, atau kemeriahan festival musim panas di Spanyol adalah impian bagi jutaan pelancong dunia. Namun, di balik daya tarik wisata Benua Biru yang memikat, tersimpan tantangan besar yang siap menyambut para wisatawan di pintu masuk utama mereka: bandara. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa sejumlah bandara utama di Eropa tengah berjuang menghadapi lonjakan penumpang yang masif, yang berujung pada antrean panjang yang melelahkan dan ketidakteraturan jadwal penerbangan.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis biasa. Fenomena ini merupakan akumulasi dari kembalinya gairah wisata internasional pascapandemi yang melampaui ekspektasi infrastruktur setempat. Bagi Anda yang merencanakan perjalanan dalam waktu dekat, memahami peta kepadatan ini menjadi krusial agar agenda liburan tidak berantakan akibat terjebak di terminal selama berjam-jam.
Regulasi Baru EES: Keamanan Ketat yang Memperlambat Alur
Salah satu faktor utama yang memperparah situasi di perbatasan Eropa adalah implementasi Entry/Exit System (EES) yang diberlakukan oleh Uni Eropa. Sistem ini dirancang untuk memperkuat keamanan perbatasan dengan mewajibkan pengambilan data biometrik, termasuk sidik jari dan pemindaian wajah, bagi setiap pelancong yang berasal dari luar Uni Eropa. Meski tujuannya mulia untuk digitalisasi dan keamanan, proses ini memakan waktu jauh lebih lama dibandingkan pemeriksaan paspor konvensional.
Banyak otoritas bandara yang belum sepenuhnya siap dengan sarana pendukung biometrik ini dalam skala besar. Akibatnya, terjadi penumpukan penumpang di area imigrasi. Jika biasanya pemeriksaan dokumen hanya memakan waktu hitungan detik, kini prosesnya bisa berlipat ganda, menciptakan antrean yang mengular hingga ke luar area terminal pada jam-jam sibuk. Hal ini menjadi peringatan bagi wisatawan untuk menyiapkan waktu ekstra sebelum jadwal keberangkatan mereka.
Analisis AirAdvisor: Italia, Yunani, dan Spanyol di Titik Kritis
Berdasarkan riset mendalam yang dirilis oleh AirAdvisor dan dikutip oleh Express, negara-negara Mediterania yang menjadi magnet destinasi wisata utama adalah yang paling terdampak. Yunani dan Spanyol tercatat sebagai negara dengan jumlah bandara paling sering mengalami keterlambatan operasional. Namun, predikat bandara dengan potensi keterlambatan tertinggi justru disematkan pada Bandara Milan Bergamo di Italia.
Milan Bergamo, yang sering menjadi pilihan bagi maskapai bertarif rendah (LCC), kini kewalahan menangani arus penumpang yang terus meningkat. Keterbatasan ruang terminal dan kepadatan lalu lintas udara di wilayah Italia Utara membuat manajemen waktu menjadi tantangan yang sangat berat bagi pengelola bandara tersebut.
Logika di Balik Efek Domino Penundaan
CEO AirAdvisor, Anton Radchenko, memberikan perspektif menarik mengenai mengapa bandara-bandara tertentu, khususnya di kepulauan Yunani, sangat rentan terhadap gangguan. Ia menjelaskan bahwa banyak bandara di pulau-pulau tersebut sebenarnya memiliki kapasitas yang sangat terbatas. Bandara-bandara ini awalnya dibangun untuk melayani populasi lokal dan jumlah turis yang moderat, bukan ledakan massa seperti yang terjadi saat ini.
“Bandara-bandara di pulau wisata jauh lebih kecil dibandingkan bandara di kota metropolitan, namun mereka dipaksa melayani volume wisatawan yang setara saat musim liburan tiba,” ujar Radchenko. Ia menekankan bahwa dalam kondisi seperti ini, satu gangguan kecil—seperti masalah teknis pada satu pesawat atau keterlambatan kedatangan satu kru—akan memicu efek domino yang merusak seluruh jadwal penerbangan di hari itu. Semakin siang, penundaan akan semakin menumpuk, membuat penerbangan di malam hari memiliki risiko delay yang jauh lebih besar.
Daftar 20 Bandara di Eropa dengan Risiko Delay Tertinggi
Sebagai panduan bagi Anda yang sedang menyusun rencana tiket pesawat, berikut adalah urutan 20 bandara di Eropa yang menurut riset AirAdvisor memiliki potensi keterlambatan paling tinggi:
- Milan Bergamo, Italia (Posisi teratas karena kepadatan trafik LCC)
- Nice Cote d’Azur, Prancis (Pintu masuk mewah yang kini sesak)
- Kefalonia, Yunani
- Pisa, Italia
- Corfu, Yunani
- Palma de Mallorca, Spanyol
- Reus, Spanyol
- Ponta Delgada, Portugal
- Olbia, Italia
- Zadar, Kroasia
- Zakynthos, Yunani
- Naples, Italia
- Chania, Yunani
- Paphos, Siprus
- Kos, Yunani
- Rhodes, Yunani
- Ibiza, Spanyol
- Alicante, Spanyol
- Mykonos, Yunani
- Porto, Portugal
Bagaimana Wisatawan Harus Bersikap?
Mengetahui risiko ini bukan berarti Anda harus membatalkan rencana perjalanan. Namun, diperlukan strategi yang lebih matang dalam melakukan persiapan traveling. Para ahli menyarankan agar wisatawan tiba di bandara setidaknya tiga hingga empat jam sebelum keberangkatan internasional, terutama jika Anda berangkat dari daftar bandara di atas.
Selain itu, pastikan untuk selalu memantau status penerbangan melalui aplikasi resmi maskapai secara berkala. Membawa perbekalan ringan dan memastikan perangkat komunikasi terisi penuh juga menjadi hal penting untuk menjaga kenyamanan selama masa tunggu yang tidak terduga. Jangan lupa untuk memeriksa kembali kelengkapan dokumen biometrik yang diperlukan agar tidak memperlama proses di meja imigrasi.
Kepadatan bandara di Eropa adalah realitas baru yang harus dihadapi di tengah tren perjalanan global yang terus meningkat. Dengan perencanaan yang lebih awal dan kesabaran ekstra, pengalaman menjelajahi keindahan Eropa tetap bisa dinikmati meskipun harus melewati hiruk-pikuk terminal yang padat. Tetaplah waspada dan jadilah pelancong yang cerdas dalam menghadapi dinamika industri penerbangan saat ini.