Kebo-keboan Alasmalang: Eksotisme Ritual Tolak Bala dan Simbol Kemakmuran Agraris di Jantung Banyuwangi

Dimas Pratama | SuaraInfo
29 Jun 2026, 09:27 WIB
Kebo-keboan Alasmalang: Eksotisme Ritual Tolak Bala dan Simbol Kemakmuran Agraris di Jantung Banyuwangi

SuaraInfo — Di bawah terik matahari yang menyengat Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, suasana mendadak riuh dengan suara denting lonceng sapi dan derap langkah kaki yang berat. Minggu, 28 Juni 2026, bukan sekadar hari biasa bagi masyarakat setempat. Ratusan warga berkumpul, bukan hanya untuk berpesta, melainkan untuk merawat sebuah warisan leluhur yang telah berumur ratusan tahun: Tradisi Kebo-keboan. Sebuah ritual kolosal yang memadukan spiritualitas, seni pertunjukan, dan rasa syukur mendalam atas hasil panen yang melimpah.

Transformasi Mistis: Saat Manusia Menjelma Menjadi ‘Kerbau’

Pemandangan di jalanan Desa Alasmalang tampak ganjil namun memukau. Puluhan pria bertubuh kekar merombak penampilan mereka secara total. Kulit mereka dipoles hitam pekat menggunakan jelaga atau campuran oli, sementara di kepala terpasang tanduk buatan yang kokoh. Tak lupa, lonceng kayu berukuran besar dikalungkan di leher mereka, menciptakan bunyi ritmis setiap kali mereka bergerak. Mereka adalah pemeran utama dalam ritual ini, sosok yang merepresentasikan kerbau—mitra paling setia bagi para petani di sawah.

Baca Juga Kesucian Yadnya Kasada 2026: Mengapa Wisata Gunung Bromo Ditutup Total Selama Empat Hari?
Kesucian Yadnya Kasada 2026: Mengapa Wisata Gunung Bromo Ditutup Total Selama Empat Hari?

Para ‘kerbau manusia’ ini diarak berkeliling desa (Ider Bumi) dalam sebuah prosesi yang penuh energi. Mereka tidak sekadar berjalan; mereka menari, menyeruduk, hingga berkubang di dalam lumpur yang sengaja disiapkan di sepanjang rute. Bagi warga Alasmalang, kerbau adalah simbol kemuliaan dan sumber kesejahteraan. Dalam kacamata budaya lokal, memuliakan kerbau berarti menghormati kehidupan itu sendiri yang bersumber dari tanah pertanian yang subur.

Lebih dari Sekadar Ritual: Doa Lintas Agama untuk Kesejahteraan

Meskipun dilaksanakan secara rutin setiap bulan Muharram dalam penanggalan Hijriah atau bulan Suro dalam kalender Jawa, Kebo-keboan Alasmalang menyimpan dimensi spiritual yang sangat luas. Budayawan terkemuka Banyuwangi, Aekanu Hariyono, menjelaskan bahwa esensi dari tradisi ini adalah doa kolektif. Menariknya, permohonan yang dipanjatkan tidak bersifat eksklusif bagi satu golongan saja.

“Di sini terjadi sebuah harmoni yang indah. Muatan permohonan dipanjatkan secara lintas agama. Saya meyakini masyarakat yang hadir berasal dari latar belakang keyakinan yang beragam, bukan hanya Islam. Inti dari segala ritual ini adalah tentang kesejahteraan bersama,” ungkap Aekanu saat ditemui di sela-sela acara. Ia menambahkan bahwa tradisi ini menyimpan ribuan harapan yang membumbung ke langit secara bersamaan demi kemakmuran desa dan Kabupaten Banyuwangi secara keseluruhan.

Baca Juga Menyingkap Tabir Kesunyian Goa Jepang Klungkung: Antara Jejak Sejarah yang Terlupakan dan Mitos Keangkeran
Menyingkap Tabir Kesunyian Goa Jepang Klungkung: Antara Jejak Sejarah yang Terlupakan dan Mitos Keangkeran

Nuansa agraris yang kental dalam perayaan ini juga merupakan manifestasi dari filosofi ‘Gemah Ripah Loh Jinawi’. Istilah klasik ini menggambarkan kondisi wilayah yang subur makmur, kaya akan hasil bumi, serta penduduknya hidup dalam ketenteraman. Pesan ekologis pun terselip kuat di sana: jika manusia ingin hidup sejahtera, mereka wajib memelihara dan menjaga keseimbangan alam sekitar.

Apresiasi Pemerintah: Semangat ‘Tandang Bareng’

Kehadiran Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, di tengah kerumunan massa menambah bobot formalitas sekaligus apresiasi terhadap pelestarian budaya ini. Ipuk mengaku terpukau dengan kreativitas warga yang mampu mengemas ritual adat menjadi sebuah atraksi budaya yang sangat menarik tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

“Saya merasa sangat bahagia melihat masyarakat begitu antusias dan kreatif. Kebo-keboan bukan sekadar tontonan, melainkan cerminan kultur agraris kita yang sangat kuat. Tradisi ini telah bertahan selama ratusan tahun karena warga menjaganya secara turun-temurun,” ujar Bupati Ipuk dengan nada bangga. Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada para sesepuh adat dan generasi muda Alasmalang yang tetap menjaga nyala tradisi ini di tengah gempuran budaya modern.

Baca Juga Eksklusif: Kehadiran 8 Macan Tutul Jawa di Bromo Tengger Semeru Berikan Harapan Baru bagi Konservasi Satwa Langka
Eksklusif: Kehadiran 8 Macan Tutul Jawa di Bromo Tengger Semeru Berikan Harapan Baru bagi Konservasi Satwa Langka

Lebih lanjut, Ipuk menekankan bahwa tradisi ini membangun karakter masyarakat yang tangguh. Di dalamnya terkandung nilai kerja keras, disiplin, dan yang paling utama adalah gotong royong. Semangat ini selaras dengan jargon pembangunan daerah, yakni ‘Tandang Bareng’ atau bekerja bersama-sama. Menurutnya, prestasi yang diraih Banyuwangi selama ini adalah buah dari kerja kolektif yang serupa dengan semangat gotong royong dalam persiapan Kebo-keboan.

Magnet Wisatawan Mancanegara: Terpukau Kehangatan Warga

Daya pikat Kebo-keboan Alasmalang rupanya telah menyeberangi samudera. Di antara ribuan penonton, tampak Lara Cummings, seorang wisatawan asal Michigan, Amerika Serikat, yang tidak berhenti mengabadikan momen melalui lensa kameranya. Ia terlihat sangat menikmati atmosfer desa yang dipenuhi musik tradisional dan sorak-sorai penonton saat melihat para ‘kerbau’ bergumul di lumpur.

“Saya merasakan kehangatan yang luar biasa di sini. Semua orang berkumpul, tersenyum, dan tertawa bersama. Mereka makan bersama sambil menyaksikan pertunjukan. Ini adalah sesuatu yang sangat unik dan belum pernah saya lihat di manapun di dunia,” kata Lara dengan mata berbinar. Lara bahkan mengikuti hampir seluruh rangkaian acara, mulai dari persiapan awal hingga puncak prosesi.

Baca Juga Strategi Besar Danantara: Mengonsolidasi Hotel BUMN di Bawah Naungan InJourney demi Kebangkitan Pariwisata
Strategi Besar Danantara: Mengonsolidasi Hotel BUMN di Bawah Naungan InJourney demi Kebangkitan Pariwisata

Pengalaman Lara di Alasmalang semakin melengkapi petualangannya di Banyuwangi. Selain mengagumi tradisi budaya, ia juga sempat menjajal pendakian ke kawah Ijen dan mencicipi berbagai kuliner khas daerah tersebut. Baginya, Banyuwangi adalah paket lengkap destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam sekaligus kekayaan budaya yang autentik.

Menjaga Eksistensi di Tengah Arus Zaman

Meskipun dunia terus berubah, Desa Alasmalang seolah memiliki benteng pertahanan budaya yang kokoh. Ritual Kebo-keboan menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat berdampingan dengan perkembangan zaman selama masyarakatnya memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap identitas mereka.

Simbolisasi penjor yang menjulang tinggi dengan gantungan berbagai hasil bumi di sepanjang jalan desa menjadi pengingat permanen: bahwa selama tanah masih dipijak dan alam masih dijaga, kemakmuran akan selalu mengalir. Pariwisata Banyuwangi kini bukan lagi sekadar soal pemandangan alam, melainkan tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan sejarah dan leluhurnya melalui ritual yang penuh makna seperti Kebo-keboan Alasmalang.

Dengan berakhirnya ritual tahun ini, warga Desa Alasmalang kembali ke sawah mereka dengan semangat baru. Mereka percaya bahwa doa yang telah dipanjatkan bersama deru lumpur dan tarian kerbau akan membawa keberkahan, menjauhkan hama, dan memastikan lumbung-lumbung padi tetap penuh hingga tahun-tahun mendatang.

Baca Juga Mencekam! Pesawat China Eastern Airlines Senggol Garbarata di Shanghai, Penumpang Sempat Tertahan
Mencekam! Pesawat China Eastern Airlines Senggol Garbarata di Shanghai, Penumpang Sempat Tertahan
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *