Potret Muram Bendungan Leuwikeris: Dari Primadona Wisata Menjadi Lautan Eceng Gondok yang Terabaikan

Dimas Pratama | SuaraInfo
30 Apr 2026, 15:28 WIB
Potret Muram Bendungan Leuwikeris: Dari Primadona Wisata Menjadi Lautan Eceng Gondok yang Terabaikan

SuaraInfo — Kemegahan Bendungan Leuwikeris yang sempat mencuri perhatian publik tanah air kini tengah menghadapi babak kelam. Proyek infrastruktur raksasa yang membelah aliran Sungai Citanduy di perbatasan Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya ini, semula digadang-gadang bakal menjadi ikon baru pariwisata Jawa Barat. Namun, realita di lapangan justru menyuguhkan pemandangan yang kontras dan menyesakkan dada.

Hanya dalam hitungan waktu yang relatif singkat setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, pesona biru air waduk kini sirna. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah hamparan hijau pekat yang menutupi permukaan air. Bukan karena kejernihannya, melainkan karena invasi masif tanaman eceng gondok yang tumbuh subur tak terkendali. Fenomena ini mengubah wajah destinasi yang sempat viral tersebut menjadi tampak seperti daratan yang ditumbuhi semak belukar.

Lanskap yang Berubah Total di Kawasan Raden Patih

Berdasarkan penelusuran mendalam tim di kawasan Raden Patih, Desa Handapherang, Kabupaten Ciamis, perubahan drastis ini sangat terasa. Area yang sebelumnya menyerupai danau luas dengan riak air yang menenangkan, kini telah tertutup rapat oleh vegetasi air. Kerapatan eceng gondok di lokasi ini begitu ekstrem, hingga di beberapa titik, permukaan air sama sekali tidak terlihat lagi.

Baca Juga Nestapa di Jantung Kota Malang: Mengapa Wisatawan Mulai Berpaling dari Kayutangan Heritage?
Nestapa di Jantung Kota Malang: Mengapa Wisatawan Mulai Berpaling dari Kayutangan Heritage?

Kondisi ini tentu sangat disayangkan, mengingat potensi wisata Ciamis yang semula diharapkan bangkit dari sektor ini. Para wisatawan yang dulu rela datang jauh-jauh untuk sekadar berswafoto dengan latar belakang bendungan megah, kini nyaris tak terlihat. Atmosfer riuh rendah kegembiraan pengunjung berganti dengan kesunyian yang mencekam, hanya menyisakan lambaian daun eceng gondok yang tertiup angin.

Sampah dan Saung Tua yang Terbengkalai

Pemandangan memprihatinkan tidak hanya datang dari tanaman gulma tersebut. Di tepian waduk, sisa-sisa kejayaan wisata dadakan ini masih terlihat dari beberapa saung kecil yang kini merana. Saung-saung yang dulunya menjadi tempat favorit bagi para pemancing dan keluarga untuk bersantai, kini mulai lapuk dimakan usia dan cuaca. Di sekitarnya, tumpukan sampah plastik dan limbah domestik tampak menggunung di sudut-sudut pinggir waduk.

Mirisnya, tanaman eceng gondok ini telah berekspansi hingga mendekati struktur utama tubuh bendungan. Meski pihak pengelola telah memasang jaring pembatas untuk menghalau sampah dari aliran hulu, tampaknya kekuatan alam dan pertumbuhan vegetasi yang cepat ini sulit untuk dibendung. Jaring-jaring tersebut kini justru tampak terbebani oleh massa tanaman yang berat, menciptakan risiko teknis yang perlu segera mendapatkan perhatian serius.

Baca Juga Simfoni Alam di Balik Kabut Bogor: Mengulas Kesuksesan Konser SERENADA di Enchanting Valley
Simfoni Alam di Balik Kabut Bogor: Mengulas Kesuksesan Konser SERENADA di Enchanting Valley

Nasib Empat Titik Wisata Dadakan yang Kini Mati Suri

Sebelum invasi eceng gondok ini semakin parah, terdapat empat titik utama yang menjadi primadona kunjungan warga di sekitar Bendungan Leuwikeris. Keempat lokasi tersebut adalah Raden Patih, Puncak Manohara, Sayang Kaak, dan Karang Hantu. Lokasi-lokasi ini sempat menjadi ladang ekonomi baru bagi warga setempat yang mendirikan warung-warung sederhana.

Namun, pantauan saat ini menunjukkan pemandangan yang memilukan. Warung-warung tersebut kini mayoritas telah dibongkar, meninggalkan puing-puing kayu dan bambu yang berserakan. Hilangnya daya tarik visual akibat eceng gondok secara langsung membunuh ekosistem ekonomi kecil yang sempat tumbuh di sana. Warga yang semula menggantungkan harapan pada geliat pariwisata, kini terpaksa gigit jari melihat aset daerah mereka tertutup gulma.

Kesaksian Warga: Antara Harapan dan Keputusasaan

Uyeng (49), salah seorang warga setempat yang kerap beraktivitas di sekitar bendungan, mengisahkan bahwa kondisi memprihatinkan ini bukanlah hal baru. Menurutnya, pertumbuhan eceng gondok sudah mulai terlihat sejak setahun terakhir. Meskipun sempat ada upaya pembersihan, hasilnya tidak sebanding dengan kecepatan tumbuh tanaman tersebut.

Baca Juga Terobosan Dua Abad London Zoo: Menyingkap Rahasia Medis Satwa di Balik Galeri Kaca
Terobosan Dua Abad London Zoo: Menyingkap Rahasia Medis Satwa di Balik Galeri Kaca

“Dulu sempat ada perahu khusus yang digunakan untuk menyisir dan membersihkan eceng gondok. Saya ingat terakhir kali melihat aktivitas pembersihan itu sebelum lebaran kemarin. Setelah itu, seolah dibiarkan begitu saja. Kalau kondisinya sudah memenuhi seluruh permukaan air seperti sekarang, rasanya akan sangat sulit dan membutuhkan biaya besar untuk membereskannya,” ujar Uyeng dengan nada pasrah.

Dampak Ekologis dan Kebutuhan Solusi Terpadu

Masalah eceng gondok di bendungan bukan sekadar persoalan estetika semata. Secara ekologis, pertumbuhan tanaman ini yang terlalu masif dapat menurunkan kadar oksigen dalam air, yang pada gilirannya mengancam keberlangsungan ekosistem ikan di dalamnya. Selain itu, penguapan air (evapotranspirasi) melalui daun eceng gondok jauh lebih tinggi dibandingkan penguapan permukaan air terbuka, yang bisa berdampak pada volume air waduk dalam jangka panjang.

Diperlukan langkah taktis dan berkelanjutan dari pihak terkait, mulai dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) hingga pemerintah daerah, untuk mengatasi pencemaran lingkungan dan masalah gulma ini. Tanpa penanganan yang komprehensif, Bendungan Leuwikeris dikhawatirkan hanya akan menjadi monumen megah yang terperangkap dalam jeratan tanaman liar, kehilangan fungsinya sebagai penggerak ekonomi warga melalui sektor pariwisata.

Baca Juga Melambung Tinggi: Keluhan Penumpang Atas Lonjakan Drastis Harga Tiket Pesawat dari Bali
Melambung Tinggi: Keluhan Penumpang Atas Lonjakan Drastis Harga Tiket Pesawat dari Bali

Menanti Kembalinya Kejayaan Leuwikeris

Harapan untuk melihat kembali kejernihan air di Bendungan Leuwikeris masih ada. Namun, hal itu menuntut komitmen kuat dalam hal pemeliharaan. Masyarakat berharap agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga memperhatikan aspek perawatan pasca-pembangunan. Wisatawan tentu mendambakan sebuah tempat yang asri, bersih, dan terkelola dengan baik, bukan sebuah rawa raksasa yang dipenuhi sampah.

Kisah Bendungan Leuwikeris saat ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen pengelolaan waduk di Indonesia. Keindahan alam yang dipadukan dengan kemajuan teknologi seharusnya bisa menjadi warisan yang lestari, bukan sekadar viral sesaat lalu terlupakan karena terabaikan. Publik kini menanti, kapan kiranya perahu-perahu pembersih akan kembali merapat dan mengembalikan martabat Leuwikeris sebagai permata di jantung Ciamis.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *