Nestapa di Jantung Kota Malang: Mengapa Wisatawan Mulai Berpaling dari Kayutangan Heritage?
SuaraInfo — Kota Malang, dengan semilir anginnya yang sejuk dan deretan bangunan kolonial yang masih berdiri kokoh, selalu punya cara untuk merayu rindu para pelancong. Salah satu magnet utamanya adalah Kampung Kayutangan Heritage. Kawasan yang dipoles sedemikian rupa untuk membangkitkan memori masa lalu ini seharusnya menjadi wajah ramah bagi pariwisata Bumi Arema. Namun belakangan, wajah itu tampak muram. Bukan karena lunturnya warna cat di tembok-tembok lawasnya, melainkan karena suara-suara sumbang yang muncul dari pengalaman para pengunjungnya sendiri.
Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh gelombang keluhan wisatawan yang merasa tidak nyaman saat berkunjung ke destinasi ini. Keluhan tersebut bukan soal fasilitas yang rusak atau kebersihan yang tak terjaga, melainkan pada aspek fundamental sebuah industri jasa: keramahtamahan. Para pelancong mengeluhkan sikap sebagian oknum warga dan pengelola di wisata Malang tersebut yang dinilai ketus, kasar, dan jauh dari etika pelayanan publik yang ideal.
Viralnya Curhatan Wisatawan di Jagat Maya
Riuh rendah permasalahan ini mencuat ke permukaan setelah sebuah unggahan di platform TikTok melalui akun @dintdan menjadi viral. Dalam konten berformat carousel tersebut, sang pemilik akun yang diketahui bernama Dinta membagikan pengalaman pahitnya saat bertandang ke Kampung Kayutangan Heritage. Tajuknya cukup provokatif namun jujur: “Piye Tanggapanmu soal Tiket Masuk Kampung Kayutangan?”.
Hingga artikel ini disusun, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 260 ribu kali dan memanen ribuan komentar dari netizen yang ternyata merasakan keresahan serupa. Dinta menceritakan bagaimana suasana syahdu berfoto di gang-gang sempit penuh sejarah mendadak buyar ketika ia diteriaki oleh warga setempat. Kalimat “Tiketnya mana?” seringkali dilontarkan dengan nada tinggi tanpa ada penjelasan atau sapaan yang sopan terlebih dahulu. Hal ini tentu mengejutkan bagi wisatawan yang datang dengan niat mencari hiburan dan ketenangan di destinasi wisata bersejarah ini.
Sistem Tiketing yang Membingungkan dan Kurang Terorganisir
Selain soal sikap yang kurang bersahabat, masalah utama yang menjadi akar konflik adalah sistem pembayaran tiket masuk. Kayutangan Heritage memang memiliki banyak pintu masuk atau akses gang kecil yang terhubung langsung dengan jalan raya utama. Sayangnya, tidak semua akses tersebut dijaga oleh petugas resmi atau memiliki loket yang jelas terlihat.
Kondisi inilah yang sering memicu kesalahpahaman. Wisatawan yang masuk melalui jalur yang dianggap bebas, tiba-tiba ditagih dengan cara yang kurang menyenangkan di tengah jalan. Menurut Dinta, saat ia berkunjung untuk kedua kalinya bersama temannya yang merupakan warga asli Malang, ia masih menemui kerancuan yang sama. Alur masuk yang tidak satu pintu membuat pengawasan menjadi sporadis dan emosional.
“Pas masuk ke Kayutangannya saya menikmati, yang bikin gak nyaman menurut saya cuma tiket masuknya. Kalau emang mau ada pembayaran tiket seharusnya lebih dipertegas lagi tempat loketnya,” ujar Dinta dengan nada kecewa. Ia juga menekankan pentingnya petugas untuk tetap berjaga di pos masing-masing agar tidak ada kesan “penodongan” tiket di area dalam perkampungan.
Warga Lokal Pun Menjadi Korban Salah Sasaran
Ironisnya, ketidateraturan ini tidak hanya merugikan wisatawan luar kota. Warga lokal (warlok) Malang yang tinggal di sekitar kawasan tersebut pun kerap mendapatkan perlakuan yang sama. Akun TikTok @cantikaa menceritakan pengalamannya sebagai penghuni kampung yang tetap ditanyai tiket saat hendak pulang ke rumahnya sendiri. “Aku padahal warlok Kayutangan, kalau masuk suka ditanya tiket, padahal rumahnya di dalam kampung ini,” tulisnya dalam kolom komentar yang viral tersebut.
Fenomena ini menunjukkan adanya miskomunikasi kronis antara pengelola tingkat bawah dengan dinamika masyarakat sekitar. Ketika sebuah perkampungan diubah menjadi objek wisata, garis antara ruang privat warga dan ruang publik komersial seringkali menjadi kabur. Jika tidak dikelola dengan manajemen pelayanan publik yang mumpuni, yang terjadi adalah gesekan sosial yang merugikan citra wisata daerah.
Teriakan yang Merusak Suasana Liburan
Cerita lain datang dari netizen dengan akun @ochiii, yang mengalami kejadian traumatik saat hanya ingin numpang ke toilet. Ia mengaku tidak mengetahui bahwa akses menuju toilet tertentu mewajibkan pembayaran tiket masuk penuh, karena letak toilet yang berdekatan dengan area loket namun tidak ada penanda yang jelas. Ia pun mendapatkan perlakuan verbal yang kasar.
“Diteriakin kayak maling, ‘WONG ENDI SE IKI GAK ERO LEK MELBU KENE BAYAR’ (Orang mana sih ini, nggak tahu kalau masuk sini bayar),” kenangnya. Teriakan dalam bahasa daerah dengan nada tinggi tersebut tentu meninggalkan kesan mendalam yang negatif bagi siapapun yang mendengarnya. Sikap konfrontatif seperti ini sangat kontras dengan jargon “Malang Kuncoro” yang seharusnya mengedepankan keramahan dan martabat.
Pentingnya Re-Edukasi Sadar Wisata bagi Masyarakat
Menanggapi fenomena ini, pengamat pariwisata menilai bahwa konsep kampung tematik seperti Kayutangan memerlukan lebih dari sekadar pembenahan fisik atau estetika infrastruktur. Dibutuhkan edukasi berkelanjutan mengenai konsep “Sadar Wisata” dan “Sapta Pesona” bagi setiap elemen masyarakat yang terlibat langsung maupun tidak langsung.
Keramah-tamahan (hospitality) bukan sekadar formalitas, melainkan investasi jangka panjang. Wisatawan yang merasa dihargai akan dengan senang hati kembali dan merekomendasikan tempat tersebut kepada orang lain. Sebaliknya, satu pengalaman buruk yang diunggah ke media sosial bisa merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun dengan biaya miliaran rupiah.
Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pariwisata diharapkan tidak menutup mata terhadap keluhan yang sedang ramai ini. Evaluasi menyeluruh terhadap pengelola Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di Kayutangan Heritage harus segera dilakukan. Penempatan personel yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, standarisasi sapaan, hingga penyediaan papan informasi yang jelas di setiap akses masuk menjadi kebutuhan mendesak.
Masa Depan Kayutangan Heritage: Harapan dan Tantangan
Kayutangan Heritage adalah permata yang harus dijaga. Potensi ekonominya sangat besar bagi warga lokal, mulai dari kedai kopi yang estetik hingga jasa pemandu wisata sejarah. Namun, keberlanjutan ekonomi ini sangat bergantung pada kenyamanan pengunjung. Jika kesan “ketus” dan “kasar” terus melekat, bukan tidak mungkin Kayutangan akan ditinggalkan dan hanya menjadi monumen mati di tengah kota.
Transformasi menjadi kawasan wisata memang membawa tantangan besar, terutama dalam mengubah pola pikir masyarakat dari pemukiman biasa menjadi tuan rumah bagi publik luas. Transparansi dalam pengelolaan retribusi tiket juga harus dipastikan agar wisatawan merasa uang yang mereka keluarkan sebanding dengan fasilitas dan kenyamanan yang didapatkan.
Semoga ke depannya, setiap langkah wisatawan di trotoar Kayutangan tidak lagi dihantui oleh teriakan ketus, melainkan disambut dengan senyum tulus yang mencerminkan kehangatan asli masyarakat Malang. Pariwisata yang maju adalah pariwisata yang memanusiakan manusianya, baik pengunjung maupun penduduknya.