Dilema Harga Pertamax: Meski Melonjak Tajam, Pertamina Klaim Masih Jauh di Bawah Nilai Keekonomian Asli

Citra Kirana | SuaraInfo
20 Jun 2026, 13:26 WIB
Dilema Harga Pertamax: Meski Melonjak Tajam, Pertamina Klaim Masih Jauh di Bawah Nilai Keekonomian Asli

SuaraInfo — Gelombang penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia kembali menjadi sorotan hangat di tengah masyarakat. Saat ini, harga Pertamax resmi dipatok di angka Rp 16.250 per liter, sebuah lonjakan yang cukup terasa bagi dompet para pengendara lantaran mengalami kenaikan sebesar Rp 3.950 dari harga sebelumnya. Namun, di balik keluhan masyarakat yang mulai beralih ke bahan bakar yang lebih murah, tersimpan sebuah fakta mengejutkan yang diungkapkan oleh pihak otoritas energi nasional.

PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, menegaskan bahwa angka belasan ribu rupiah tersebut sebenarnya belum menyentuh level harga pasar yang sesungguhnya. Meskipun kenaikan ini terasa berat bagi sebagian kalangan, Pertamina menyebutkan bahwa harga tersebut baru merepresentasikan sekitar separuh dari nilai keekonomian produk beroktan (RON) 92 tersebut.

Jurang Lebar Antara Harga Jual dan Nilai Keekonomian

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, memberikan penjelasan mendalam mengenai logika di balik angka-angka tersebut. Menurutnya, penyesuaian yang berlaku saat ini masih jauh dari kata ideal jika dilihat dari kacamata bisnis murni. Roberth mengungkapkan bahwa harga Pertamax yang dinikmati masyarakat hari ini sejatinya masih berada di level sekitar 50 persen dari harga keekonomian yang seharusnya.

Baca Juga Skandal Kelalaian di Balik Tragedi KA Argo Bromo: Sopir Taksi Green SM Cuma Dilatih Sehari Sebelum Petaka
Skandal Kelalaian di Balik Tragedi KA Argo Bromo: Sopir Taksi Green SM Cuma Dilatih Sehari Sebelum Petaka

“Dengan spesifikasi RON yang lebih tinggi dan kualitas pembakaran yang jauh lebih baik, secara logika ekonomi, harga Pertamax seharusnya berada jauh di atas Pertalite. Namun, realitasnya saat ini kita masih melakukan penyesuaian secara bertahap,” ujar Roberth saat memberikan klarifikasi resminya. Hal ini menunjukkan bahwa ada selisih besar yang harus ditanggung agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Sebagai informasi tambahan, Pertamax masuk ke dalam kategori Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU). Berbeda dengan BBM bersubsidi, kategori JBU secara regulasi memiliki fleksibilitas harga yang mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia. Namun, dalam konteks Indonesia, pergerakan harga ini tidak dilepaskan sepenuhnya ke pasar bebas demi melindungi daya beli masyarakat.

Intervensi Pemerintah di Tengah Tekanan Fiskal

Menariknya, kenaikan harga yang terjadi pada 10 Juni lalu bukanlah sebuah langkah mendadak. Roberth membeberkan bahwa sebenarnya ada arahan koordinatif antara pemerintah dan Pertamina untuk menahan kenaikan harga pada periode-periode krusial sebelumnya. Awalnya, rencana penyesuaian harga sempat muncul pada April 2026, namun pemerintah memutuskan untuk melakukan intervensi guna menjaga suasana kondusif di masyarakat.

Baca Juga Mengupas Eksistensi Daihatsu Rocky Hybrid di Indonesia: Strategi Elektrifikasi dan Realita Penjualan yang Mengesankan
Mengupas Eksistensi Daihatsu Rocky Hybrid di Indonesia: Strategi Elektrifikasi dan Realita Penjualan yang Mengesankan

“Pemerintah berkoordinasi erat dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga per 1 April kemarin. Harga Pertamax sengaja ditahan agar tidak membebani masyarakat pada saat itu,” ungkapnya. Langkah ini diambil sebagai strategi ‘bantalan ekonomi’ agar gejolak global tidak langsung menghantam daya beli domestik secara frontal.

Baru ketika beban fiskal dirasa semakin berat dan kondisi pasar global tidak menunjukkan tanda-tanda pendinginan, langkah penyesuaian diambil sebagai jalan tengah. Kebijakan ini tidak hanya dilakukan oleh Pertamina, melainkan juga diikuti oleh seluruh Badan Usaha (BU) swasta penyedia BBM di tanah air. Tujuannya satu: menjaga keseimbangan antara ketahanan finansial negara dengan kemampuan ekonomi warga.

Perbandingan Harga dengan Negara Tetangga: Siapa yang Termurah?

Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, mari kita tengok bagaimana tetangga-tetangga kita di Asia Tenggara menyikapi kenaikan harga komoditas ini. Jika kita membandingkan dengan Malaysia, situasinya sedikit unik. Di Negeri Jiran, tidak ditemukan BBM dengan oktan 92 yang identik dengan Pertamax. Mereka menggunakan standar RON 95 dan 97.

Baca Juga Gemuruh Indonesia Raya di Portugal: Perjuangan Dramatis Muhammad Kiandra Ramadhipa Taklukkan Estoril
Gemuruh Indonesia Raya di Portugal: Perjuangan Dramatis Muhammad Kiandra Ramadhipa Taklukkan Estoril

Di Malaysia, BBM RON 95 yang disubsidi dijual sangat murah, yakni sekitar 1,99 ringgit atau setara Rp 8.796 per liter. Namun, untuk versi non-subsidi, harganya melonjak menjadi 3,72 ringgit atau sekitar Rp 16.444. Angka ini hampir setara dengan harga Pertamax saat ini, namun dengan kualitas oktan yang lebih tinggi.

Bergeser ke Thailand, para pengendara di sana harus merogoh kocek lebih dalam. BBM RON 91 saja dibanderol seharga 42,74 baht atau menembus angka Rp 23.327 per liter. Filipina bahkan lebih ekstrem lagi; harga bensin tanpa timbal RON 91 di sana mencapai 90,36 peso (sekitar Rp 26.430), sementara untuk RON 97, harganya sudah menyentuh angka fantastis Rp 30.815 per liter.

Vietnam menjadi satu-satunya negara di kawasan ini yang memiliki harga sedikit lebih bersaing dengan Indonesia. Bensin RON 92 di Vietnam saat ini dipasarkan di kisaran Rp 14 ribuan per liter, sedikit lebih rendah dibandingkan harga terbaru Pertamax.

Dampak Geopolitik dan Pesan Ketahanan Energi

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menambahkan dimensi lain dalam diskusi ini: geopolitik global. Konflik internasional dan rantai pasokan yang terganggu telah mendorong harga pasar internasional untuk RON 92 ke level yang cukup mengerikan.

Baca Juga Review Eksklusif Chery E5 Facelift: Transformasi Radikal Sang ‘Robo Shark’ yang Siap Menyapa Indonesia
Review Eksklusif Chery E5 Facelift: Transformasi Radikal Sang ‘Robo Shark’ yang Siap Menyapa Indonesia

“Jika kita melihat market internasional, harga RON 92 itu sebenarnya sudah berada di angka Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Kami di Pertamina telah berupaya sekuat tenaga untuk menahan harga di level Rp 12.300 selama mungkin sebelum akhirnya harus melakukan penyesuaian ini,” jelas Sigit. Penahanan harga dalam jangka waktu panjang ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk mendukung stabilitas nasional.

Sigit juga menekankan bahwa penyesuaian harga ini bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan demi memastikan ketersediaan suplai di pasar. Tanpa penyesuaian yang proporsional, risiko kelangkaan pasokan akibat beban operasional yang tidak seimbang bisa menjadi ancaman yang lebih besar bagi konsumen.

Migrasi Konsumen: Dilema Efisiensi vs Kualitas

Kenaikan harga yang nyaris menyentuh Rp 4.000 per liter ini tentu memicu fenomena sosial baru. Banyak pengemudi transportasi online dan masyarakat umum yang mulai ‘turun kasta’ dari Pertamax kembali ke Pertalite. Langkah ini diambil semata-mata demi menjaga agar dapur tetap ngepul, meskipun mereka menyadari risiko jangka panjang terhadap mesin kendaraan mereka.

Baca Juga Revolusi Senyap di Jalanan: Mengenal Pindad Electric Pedicab, Becak Listrik Canggih Besutan Anak Negeri
Revolusi Senyap di Jalanan: Mengenal Pindad Electric Pedicab, Becak Listrik Canggih Besutan Anak Negeri

Penggunaan BBM beroktan rendah pada mesin yang dirancang untuk oktan tinggi dapat menyebabkan gejala ‘knocking’ atau mesin mengelitik, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya perawatan. Namun, bagi masyarakat kecil, biaya harian yang melonjak adalah ancaman yang lebih nyata dan mendesak untuk diselesaikan saat ini juga.

Pertamina sendiri mengimbau agar masyarakat yang mampu tetap menggunakan BBM berkualitas tinggi demi kesehatan mesin dan lingkungan. Peran pemerintah dalam memberikan subsidi pada sektor-sektor tertentu tetap menjadi kunci utama agar transisi energi dan penyesuaian harga ini tidak menimbulkan guncangan sosial yang masif di masa depan.

Kesimpulannya, angka Rp 16.250 adalah sebuah kompromi besar. Di satu sisi, ia merepresentasikan tekanan harga minyak dunia yang tak terbendung, namun di sisi lain, ia adalah bukti nyata adanya subsidi terselubung atau ‘peran pemerintah’ yang masih menopang separuh dari biaya asli bahan bakar tersebut. Masa depan harga energi di Indonesia akan sangat bergantung pada bagaimana stabilitas geopolitik dunia berkembang dan seberapa kuat fondasi ekonomi domestik kita bertahan.

Citra Kirana

Citra Kirana

Pengamat tren otomotif dan mobilitas. Fokus pada review kendaraan terbaru dan tips perawatan praktis bagi pengendara urban di Suara Oto.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *