Drama London dan Perpisahan Pahit Antoine Griezmann: Akhir Sebuah Era di Atletico Madrid Tanpa Mahkota

Aris Setiawan | SuaraInfo
06 Mei 2026, 17:25 WIB
Drama London dan Perpisahan Pahit Antoine Griezmann: Akhir Sebuah Era di Atletico Madrid Tanpa Mahkota

SuaraInfo — Stadion Emirates di London menjadi saksi bisu runtuhnya mimpi besar raksasa Spanyol. Bagi Antoine Griezmann, malam itu bukan sekadar kekalahan biasa; itu adalah titik akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh emosi, dedikasi, namun berakhir tanpa selebrasi trofi yang ia dambakan. Antoine Griezmann secara resmi dipastikan meninggalkan Los Colchoneros dengan catatan yang terasa getir, tanpa satu pun gelar prestisius seperti La Liga atau Liga Champions dalam periode keduanya berseragam merah-putih.

Laju Atletico Madrid di kompetisi kasta tertinggi Eropa harus terhenti secara dramatis di tangan Arsenal. Dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions yang berlangsung pada Rabu (6/5/2026) dini hari WIB, skuad asuhan Diego Simeone harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor tipis 0-1. Gol semata wayang Bukayo Saka di penghujung babak pertama menjadi belati yang mengakhiri ambisi tim tamu, sekaligus memastikan Griezmann pergi dengan kepala tertunduk.

Kegagalan di London: Agregat yang Tak Berpihak

Setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 pada pertemuan pertama di Metropolitano, Atletico datang ke London dengan misi wajib menang atau setidaknya meraih hasil imbang produktif. Namun, pertahanan kokoh The Gunners yang dikomandoi William Saliba membuat lini serang Atletico, termasuk Griezmann, seolah kehilangan taringnya. Gol Saka di menit-menit krusial sebelum turun minum menjadi pukulan psikologis yang sangat berat bagi tim tamu.

Baca Juga Dominasi yang Sia-Sia: Mengapa Kemenangan Juventus Atas Lecce Justru Membuat Luciano Spalletti Meradang?
Dominasi yang Sia-Sia: Mengapa Kemenangan Juventus Atas Lecce Justru Membuat Luciano Spalletti Meradang?

Meski Diego Simeone telah mencoba melakukan berbagai rotasi taktik di babak kedua, Atletico tetap gagal memecah kebuntuan. Dengan hasil ini, Arsenal melenggang ke final dengan keunggulan agregat 2-1. Kekalahan ini bukan sekadar kegagalan melaju ke partai puncak, melainkan penanda resmi bahwa musim kompetisi 2025/2026 berakhir dengan tangan hampa bagi klub kebanggaan warga Madrid ini.

Ironis: Gelar yang Selalu Menjauh Saat Griezmann Ada

Ada sebuah narasi ironis yang melingkupi perjalanan karier Antoine Griezmann bersama Atletico Madrid. Sejarah mencatat bahwa saat Atletico Madrid berhasil mengangkat trofi La Liga pada musim 2020/2021, Griezmann justru sedang berada di Barcelona. Ia seolah melewatkan momen emas ketika klub yang membesarkan namanya itu mencapai puncak kejayaan domestik tanpa kehadirannya.

Sekembalinya ke Madrid pada tahun 2021, banyak penggemar berharap sang penyerang Prancis tersebut bisa menjadi kepingan terakhir yang membawa tim meraih gelar Liga Champions pertama mereka. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Periode kedua Griezmann bersama Los Colchoneros dipenuhi dengan perjuangan yang melelahkan namun minim hasil nyata di lemari trofi. Ia gagal mempersembahkan gelar La Liga, Copa del Rey, maupun Liga Champions selama masa bakti keduanya ini.

Baca Juga Portugal Tundukkan Chile 2-1: Drama Kartu Merah Rafael Leao Mewarnai Kemenangan A Selecao
Portugal Tundukkan Chile 2-1: Drama Kartu Merah Rafael Leao Mewarnai Kemenangan A Selecao

Perbandingan Performa: Stagnasi di Periode Kedua

Jika kita menilik data statistik, perbedaan performa Griezmann di dua periode kepemimpinannya di lini depan Atletico sangat mencolok. Pada periode pertamanya (2014-2019), Griezmann adalah monster di kotak penalti lawan dengan torehan 133 gol dari 257 pertandingan. Di masa itu, ia setidaknya masih bisa membawa pulang trofi Liga Europa, Piala Super Spanyol, dan Piala Super Eropa.

Namun, di periode kedua yang dimulai sejak 2021 hingga musim ini, produktivitasnya menurun cukup signifikan. Griezmann tercatat hanya mencetak 71 gol dari 204 laga. Meskipun ia tetap menjadi pemain kunci dan pengatur serangan yang cerdas di bawah arahan Simeone, angka-angka tersebut tidak cukup kuat untuk mengangkat Atletico Madrid ke podium juara di kompetisi utama. Faktor usia dan perubahan peran taktik yang lebih mendalam ke tengah lapangan disinyalir menjadi alasan di balik menurunnya angka gol tersebut.

Nasib Kontras dengan Barcelona

Kepedihan Griezmann semakin terasa nyata jika melihat nasib mantan klubnya, Barcelona. Di saat Griezmann kesulitan mengangkat trofi bersama Atletico, klub asal Catalan tersebut justru tengah menikmati masa-masa keemasan baru. Barcelona sukses merengkuh dua gelar Liga Spanyol dan kini tengah memimpin perburuan gelar ketiga mereka dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga Era Baru Stamford Bridge: Xabi Alonso Resmi Nakhodai Chelsea, Harapan Besar di Tengah Keterpurukan
Era Baru Stamford Bridge: Xabi Alonso Resmi Nakhodai Chelsea, Harapan Besar di Tengah Keterpurukan

Situasi ini menciptakan paradoks bagi karier pemain berjuluk ‘Le Petit Prince’ tersebut. Pilihan-pilihan kariernya seolah selalu berada di waktu yang kurang tepat. Ia meninggalkan Atletico tepat sebelum mereka juara liga, dan ia meninggalkan Barcelona ketika klub tersebut mulai kembali mendominasi Spanyol. Malam di London melawan Arsenal seolah merangkum nasib kurang beruntung Griezmann di level klub dalam beberapa tahun terakhir.

Kandasnya Harapan di Copa del Rey

Sebelum tersingkir di panggung Eropa, Atletico sebenarnya memiliki peluang emas untuk mengakhiri puasa gelar di kancah domestik lewat ajang Copa del Rey. Mereka berhasil menembus babak final, namun harapan tersebut pupus di tangan Real Sociedad. Kekalahan di final tersebut menjadi tamparan awal musim yang sudah mengisyaratkan bahwa tahun ini bukanlah tahun keberuntungan bagi Simeone dan anak asuhnya.

Griezmann, yang diharapkan menjadi pembeda dalam laga-laga krusial seperti final Copa del Rey, tak mampu berbuat banyak menghadapi organisasi pertahanan lawan yang solid. Kegagalan demi kegagalan ini perlahan menutup pintu bagi dirinya untuk meninggalkan warisan trofi besar di penghujung kariernya di Eropa.

Baca Juga Tiket Emas ke Jepang: Mazda GB FC dan Bandung Legend Siap Guncang Junior Soccer World Challenge 2026
Tiket Emas ke Jepang: Mazda GB FC dan Bandung Legend Siap Guncang Junior Soccer World Challenge 2026

Babak Baru di Major League Soccer: Menuju Orlando City

Setelah peluit panjang berbunyi di London, berakhir pula spekulasi mengenai masa depan Antoine Griezmann. Kabar yang beredar kian menguat bahwa penyerang berusia 35 tahun ini akan segera mengemasi kopernya untuk meninggalkan hiruk-pikuk sepak bola Eropa. Griezmann dijadwalkan akan melanjutkan petualangannya di Amerika Serikat, tepatnya bersama Orlando City SC di kompetisi Major League Soccer (MLS).

Langkah ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi banyak pihak. Griezmann sudah lama menyatakan ketertarikannya untuk bermain di Amerika Serikat, negara yang ia cintai karena budaya olahraganya. Bergabung dengan Orlando City akan memberikannya kesempatan untuk memulai lembaran baru dengan tekanan yang mungkin tidak seberat di Madrid, namun tetap dengan ambisi untuk memberikan dampak besar di liga yang tengah berkembang pesat tersebut.

Legacy Griezmann: Sang Legenda Tanpa Mahkota Utama

Meskipun pergi tanpa trofi mayor di periode keduanya, status Antoine Griezmann sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah Atletico Madrid tetap tidak bisa didebat. Ia tetaplah pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub, melampaui rekor legenda Luis Aragones. Kepergiannya meninggalkan lubang besar dalam skema permainan Diego Simeone yang sudah sangat bergantung pada visinya.

Baca Juga Krisis Real Madrid Memuncak: 44 Juta Fans Desak Kylian Mbappe Segera Dijual, Ruang Ganti Membara!
Krisis Real Madrid Memuncak: 44 Juta Fans Desak Kylian Mbappe Segera Dijual, Ruang Ganti Membara!

Bagi para pendukung Atletico, Griezmann adalah sosok yang kompleks—pemain yang sempat dianggap pengkhianat saat pindah ke Barcelona, namun kemudian dimaafkan dan dicintai kembali karena kerja kerasnya di lapangan. Perpisahan di London memang pahit, namun kontribusinya bagi sejarah klub akan selalu diingat sebagai salah satu era paling berwarna bagi Los Colchoneros, meski harus berakhir tanpa pesta juara di akhir cerita.

Kini, saat Griezmann bersiap terbang melintasi Samudra Atlantik, publik sepak bola Spanyol akan merindukan sentuhan magis kaki kirinya. Liga Champions mungkin belum berjodoh dengannya, namun dedikasi sang pemain untuk lambang Atletico di dada akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi sepak bola modern. Selamat jalan Griezmann, babak baru di Orlando telah menanti.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *