Kritik Pedas Wesley Sneijder: Sebut Selebrasi Juara Barcelona Berlebihan dan Standar Klub Menurun

Aris Setiawan | SuaraInfo
13 Mei 2026, 21:25 WIB
Kritik Pedas Wesley Sneijder: Sebut Selebrasi Juara Barcelona Berlebihan dan Standar Klub Menurun

SuaraInfo — Pesta pora yang digelar Barcelona setelah memastikan diri sebagai jawara La Liga musim 2025/2026 rupanya tak mengesankan semua orang. Di tengah euforia publik Catalan yang merayakan kembalinya takhta domestik ke Camp Nou, sebuah suara sumbang datang dari mantan gelandang Real Madrid dan Inter Milan, Wesley Sneijder. Pria asal Belanda itu melontarkan kritik tajam yang menyasar pada apa yang ia sebut sebagai penurunan standar bagi klub sebesar Barcelona.

Barcelona memang tampil dominan di kompetisi domestik musim ini. Tim asuhan juru taktik mereka berhasil mengunci gelar juara saat kompetisi masih menyisakan dua laga. Selisih poin yang cukup jauh membuat rival abadi mereka, Real Madrid, tak lagi mampu mengejar. Namun, bagi Sneijder, keberhasilan di kancah lokal tidak seharusnya dirayakan seolah-olah klub telah mencapai puncak tertinggi sepak bola dunia.

Euforia yang Dianggap Melampaui Batas

Sneijder, yang dikenal vokal dalam menyuarakan pendapatnya, menilai bahwa intensitas perayaan Barcelona terasa ganjil mengingat kegagalan mereka yang berkepanjangan di kompetisi paling bergengsi di Eropa, Liga Champions. Menurutnya, sebuah klub dengan sejarah dan reputasi sebesar Barcelona seharusnya memiliki tolok ukur kesuksesan yang lebih tinggi daripada sekadar trofi liga nasional.

Baca Juga Misteri Kursi Kosong di Laga Korea Selatan vs Ceko: Klaim FIFA vs Realita di Stadion Akron
Misteri Kursi Kosong di Laga Korea Selatan vs Ceko: Klaim FIFA vs Realita di Stadion Akron

“Mereka adalah klub yang sudah tidak memenangi Liga Champions selama lebih dari 10 tahun. Mereka terus-menerus gagal di panggung Eropa, tetapi cara mereka merayakan gelar La Liga seolah-olah mereka baru saja menaklukkan seluruh dunia sepak bola,” ujar Sneijder dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh tim redaksi SuaraInfo dari media internasional, Tribuna.

Kritik ini merujuk pada fakta bahwa terakhir kali trofi Si Kuping Besar mampir ke lemari piala Barcelona adalah pada tahun 2015. Sejak saat itu, perjalanan raksasa Spanyol ini di Liga Champions lebih banyak diwarnai dengan drama menyakitkan dan eliminasi prematur. Sneijder melihat ada pergeseran mentalitas di tubuh klub yang ia anggap sebagai tanda-tanda kemunduran.

Dahaga Gelar Eropa yang Tak Kunjung Usai

Jika kita menilik ke belakang, catatan prestasi Barcelona di kancah internasional memang kontras dengan dominasi mereka di Spanyol. Dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir, klub ini memang rajin mengoleksi trofi La Liga, namun di Eropa, mereka seolah kehilangan taringnya. Setelah kejayaan di Berlin tahun 2015, Barcelona tercatat hanya sekali mencapai babak semifinal, sementara sisa musim lainnya berakhir di babak perempat final atau bahkan lebih awal.

Baca Juga Haaland Menggila di East Rutherford: Norwegia Kandaskan Senegal dan Melaju ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Haaland Menggila di East Rutherford: Norwegia Kandaskan Senegal dan Melaju ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan sang rival, Real Madrid. Meskipun Madrid terkadang kalah bersaing dalam perburuan gelar liga dalam satu dekade terakhir, mereka berhasil mengukuhkan diri sebagai raja Eropa dengan memenangi enam trofi Liga Champions dalam periode yang sama. Hal inilah yang tampaknya mendasari argumen Sneijder bahwa standar sukses di Spanyol telah mengalami distorsi.

“Standar mereka benar-benar menurun. Di masa lalu, bagi Barcelona, memenangi La Liga adalah sebuah kewajiban dan Liga Champions adalah target utama. Sekarang, mereka merayakan gelar liga seakan itu adalah pencapaian tertinggi yang bisa mereka raih,” tambah pria yang pernah mencicipi trofi Liga Champions bersama Inter Milan tersebut.

Polemik Perbandingan Lamine Yamal dan Cristiano Ronaldo

Selain mengkritik perayaan tim, Wesley Sneijder juga merasa gerah dengan perilaku sebagian pendukung Barcelona di media sosial. Ia menyoroti tren membanding-bandingkan talenta muda Barca, Lamine Yamal, dengan sang legenda hidup, Cristiano Ronaldo.

Pemicunya adalah statistik jumlah trofi La Liga, di mana penggemar Barcelona membanggakan bahwa Yamal, yang masih sangat muda, secara teknis telah mengoleksi lebih banyak trofi liga dibandingkan Ronaldo selama berkarier di Spanyol. Sebagai informasi, Ronaldo memenangi dua gelar liga bersama Madrid, sementara Yamal sudah mencatatkan koleksi yang lebih banyak berkat partisipasinya di tim utama dalam beberapa musim terakhir.

Baca Juga Era Baru Stamford Bridge: Xabi Alonso Resmi Nakhodai Chelsea, Harapan Besar di Tengah Keterpurukan
Era Baru Stamford Bridge: Xabi Alonso Resmi Nakhodai Chelsea, Harapan Besar di Tengah Keterpurukan

Sneijder menganggap perbandingan tersebut sangat tidak relevan dan cenderung merendahkan prestasi pemain yang telah mendominasi dunia selama dua dekade. “Cristiano Ronaldo telah mendominasi di Inggris, Italia, Spanyol, dan seluruh Eropa selama 20 tahun terakhir. Membandingkannya hanya berdasarkan jumlah trofi liga lokal dengan pemain yang baru memulai karier adalah hal yang konyol,” tegasnya.

Visi Masa Depan Barcelona

Sentimen Sneijder ini seolah menjadi pengingat bagi manajemen dan penggemar Barcelona. Meskipun gelar domestik adalah prestasi yang membanggakan, tantangan terbesar bagi klub adalah bagaimana mengembalikan martabat mereka di level internasional. Publik sepak bola dunia masih menantikan kapan gaya permainan indah Barcelona bisa kembali merajai kompetisi di Benua Biru.

Di sisi lain, munculnya nama Lamine Yamal sebagai pusat perhatian memberikan harapan baru bagi publik Camp Nou. Namun, seperti yang disarankan oleh banyak analis, memberikan beban ekspektasi yang terlalu besar kepada pemain remaja bisa menjadi pedang bermata dua. Barcelona perlu membangun tim yang kompetitif secara kolektif untuk bisa kembali bersaing dengan klub-klub elite seperti Manchester City, Bayern Munich, atau Real Madrid di Liga Champions.

Baca Juga Momen Haru Lionel Messi di Piala Dunia 2026: Terima Hadiah Rosario Suci dari Fans Usai Laga Sengit Kontra Tanjung Verde
Momen Haru Lionel Messi di Piala Dunia 2026: Terima Hadiah Rosario Suci dari Fans Usai Laga Sengit Kontra Tanjung Verde

Kritik Sneijder mungkin terdengar pedas dan provokatif bagi telinga pendukung Blaugrana. Namun, jika dilihat dari perspektif profesionalisme jurnalisme olahraga, apa yang disampaikan Sneijder adalah sebuah refleksi atas tingginya standar yang selama ini melekat pada nama Barcelona. Menjadi juara Spanyol adalah satu hal, tetapi menguasai Eropa adalah pembuktian sesungguhnya bagi klub yang memiliki moto ‘Més que un club’.

Penurunan standar atau sekadar proses transisi? Hanya waktu yang akan menjawab apakah Barcelona mampu membungkam kritik Sneijder dengan mengangkat trofi Liga Champions di musim-musim mendatang. Untuk saat ini, para penggemar mungkin lebih memilih untuk mengabaikan kritik sang mantan pemain Madrid dan terus menikmati pawai kemenangan di jalanan kota Barcelona.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *