Makassar Siap Mengguncang Dunia: Indonesia Resmi Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Sepak Takraw 2027
SuaraInfo — Indonesia bersiap kembali ke panggung olahraga internasional dengan penuh kebanggaan. Setelah sukses menyelenggarakan berbagai event olahraga akbar, kini giliran cabang olahraga sepak takraw yang akan mencatatkan sejarah baru. Tanah air secara resmi telah ditunjuk sebagai tuan rumah perhelatan bergengsi Kejuaraan Dunia Sepak Takraw 2027. Kepastian ini menjadi angin segar bagi dunia olahraga nasional yang terus menunjukkan taringnya di kancah global.
Kepastian penunjukan ini dikukuhkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Federasi Sepak Takraw Internasional (ISTAF) dengan Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI). Seremoni yang menandai babak baru perjalanan sepak takraw Indonesia ini berlangsung dengan khidmat di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis, 11 Juni 2026. Penandatanganan tersebut bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah mandat besar bagi bangsa ini untuk menunjukkan kemampuannya menyelenggarakan turnamen kelas dunia.
Makassar: Jantung Perlawanan dan Sejarah Sepak Takraw
Salah satu poin menarik dari kesepakatan ini adalah ditunjuknya Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai lokasi utama penyelenggaraan. Pemilihan Makassar bukanlah tanpa alasan yang kuat. Selain memiliki fasilitas yang mumpuni, Makassar memiliki ikatan emosional dan historis yang sangat kental dengan olahraga ini. Akar budaya masyarakat setempat yang mengenal permainan tradisional ‘Sepak Raga’ menjadi landasan filosofis mengapa ibu kota Sulawesi Selatan ini dianggap sebagai rumah yang paling tepat bagi para atlet dunia.
Ketua Umum PB PSTI, Surianto, mengungkapkan bahwa mengembalikan turnamen internasional ke Makassar adalah seperti membawa pulang sebuah tradisi ke akarnya. Ia menjelaskan bahwa sepak takraw modern yang kita kenal sekarang merupakan evolusi dari permainan ketangkasan yang sudah dimainkan oleh masyarakat Bugis-Makassar selama berabad-abad. Dengan sentuhan modernitas, kejuaraan dunia nanti diharapkan mampu memadukan sportivitas dengan kekayaan warisan budaya lokal.
Dukungan Penuh dari Otoritas Olahraga Nasional
Langkah besar ini tidak dilakukan sendirian oleh PB PSTI. Presiden ISTAF, Abdul Halim Kader, dalam pernyataannya menegaskan bahwa Indonesia terpilih karena adanya sinergi yang sangat kuat antara federasi, pemerintah, dan organisasi olahraga pendukung. Dukungan penuh telah dikantongi dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI) di bawah kepemimpinan Raja Sapta Oktohari, serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat yang dipimpin oleh Marciano Norman.
“Kami telah mencapai kesepakatan yang solid dengan pihak tuan rumah. Restu dari Pak Okto (KOI) dan Pak Marciano (KONI) menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk menyelenggarakan Kejuaraan Sepak Takraw Dunia di Makassar,” ujar Abdul Halim Kader di hadapan awak media. Sinergi antarlembaga ini dianggap krusial untuk memastikan standar penyelenggaraan memenuhi kriteria internasional, mulai dari aspek keamanan, logistik, hingga kenyamanan para delegasi mancanegara.
Target 30 Negara dan Tantangan Anggaran Rp13 Miliar
Kejuaraan Dunia 2027 mendatang diproyeksikan akan diikuti oleh sekitar 25 hingga 30 negara dari berbagai benua. Partisipasi luas ini akan menjadikan Makassar sebagai titik kumpul elit atlet sepak takraw dunia. Namun, menggelar event berskala raksasa tentu membawa tantangan tersendiri, terutama dari sisi finansial dan kesiapan infrastruktur. Estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk memfasilitasi seluruh rangkaian turnamen ini mencapai angka 750 ribu dolar AS, atau setara dengan kurang lebih Rp13 miliar.
Meskipun persiapan saat ini masih berada di tahap awal—yang diperkirakan baru mencapai lima persen—optimisme tetap membumbung tinggi. Fokus utama panitia saat ini adalah mengamankan dukungan anggaran dari pemerintah pusat dan daerah, serta menggandeng pihak swasta melalui skema sponsor. “Ini bukan jumlah yang sedikit bagi kami, namun kami sangat yakin bahwa dengan kerja keras dan dukungan semua pihak, Kejuaraan Dunia di Makassar akan berjalan dengan sukses,” tambah Abdul Halim.
Fasilitas GOR Universitas Hasanuddin Sebagai Arena Utama
Untuk menunjang jalannya pertandingan yang kompetitif, PB PSTI telah melirik Gelanggang Olahraga (GOR) Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai salah satu venue utama. Kampus merah ini dianggap memiliki fasilitas yang representatif dan suasana yang mendukung untuk atmosfer pertandingan internasional. Koordinasi intensif dengan pihak rektorat Unhas akan segera dilakukan untuk memastikan sarana olahraga tersebut memenuhi standar teknis kejuaraan dunia.
Dalam waktu dekat, tim gabungan dari ISTAF dan PB PSTI dijadwalkan akan melakukan peninjauan lapangan langsung ke Makassar. Kunjungan ini bertujuan untuk memetakan kebutuhan renovasi kecil, pengaturan tribun penonton, hingga ketersediaan ruang ganti atlet dan pusat media. Standar internasional menuntut presisi tinggi, mulai dari jenis karpet lapangan hingga pencahayaan ruangan yang tidak boleh mengganggu fokus para pemain.
Prestasi Gemilang Sebagai Tiket Kepercayaan Internasional
Salah satu alasan kuat di balik terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah adalah prestasi cemerlang yang ditorehkan tim nasional sepak takraw Indonesia pada World Cup sebelumnya di Malaysia. Keberhasilan membawa pulang medali telah membuka mata dunia bahwa Indonesia bukan hanya sekadar penggembira, melainkan kekuatan utama yang diperhitungkan. Prestasi di lapangan inilah yang kemudian dikonversi menjadi kepercayaan diplomatik di meja organisasi internasional.
Surianto menekankan bahwa momentum tuan rumah harus dimanfaatkan dua arah. Pertama, sebagai sarana promosi pariwisata dan budaya Indonesia, khususnya Makassar. Kedua, sebagai pemicu semangat bagi atlet-atlet muda tanah air untuk menunjukkan performa terbaik di depan publik sendiri. Menjadi tuan rumah memberikan keuntungan psikologis yang besar bagi tim nasional untuk membidik gelar juara umum.
Harapan Bangkitnya Ekonomi Lokal dan Sport Tourism
Penyelenggaraan event ini juga diharapkan memberikan dampak domino terhadap perekonomian lokal di Makassar. Kedatangan ratusan atlet, ofisial, dan suporter dari mancanegara akan menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, hingga UMKM kuliner dan kerajinan tangan. Konsep sport tourism atau wisata olahraga menjadi strategi jitu untuk memperkenalkan keindahan Pantai Losari dan kelezatan Coto Makassar kepada dunia.
Pihak penyelenggara berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada pertandingan di dalam lapangan, tetapi juga menciptakan pengalaman budaya yang tak terlupakan bagi para tamu. Melalui ajang ini, diharapkan minat generasi muda terhadap sepak takraw kembali meningkat, mengingat olahraga ini adalah bagian dari jati diri bangsa yang harus terus dilestarikan di tengah gempuran tren olahraga modern lainnya.
Dengan penandatanganan MoU ini, genderang perang persiapan menuju Mei 2027 telah resmi ditabuh. Indonesia, melalui Kota Makassar, siap membuktikan diri bahwa mereka mampu menyuguhkan tontonan olahraga tingkat tinggi yang dibalut dengan keramah-tamahan khas nusantara. Mari kita dukung penuh agar gelaran PB PSTI ini menjadi salah satu tonggak sejarah olahraga Indonesia paling sukses di dekade ini.