Masa Depan Paul Pogba di Ujung Tanduk: Antara Ambisi Eropa atau Menjemput Senja di Jazirah Arab

Aris Setiawan | SuaraInfo
06 Jun 2026, 03:25 WIB
Masa Depan Paul Pogba di Ujung Tanduk: Antara Ambisi Eropa atau Menjemput Senja di Jazirah Arab

SuaraInfo — Rumput hijau Eropa tampaknya tak lagi seramah dulu bagi sang penyihir bola asal Prancis, Paul Pogba. Setelah sempat mendominasi lini tengah klub-klub raksasa dunia, pemain yang dijuluki ‘Il Polpo’ ini kini berada di persimpangan jalan yang menentukan arah akhir kariernya. Kabar terbaru dari kancah sepak bola Prancis menyebutkan bahwa Paul Pogba sedang menghadapi masa-masa tersulitnya di AS Monaco, memicu spekulasi kuat bahwa masa jayanya di Benua Biru mungkin telah mencapai titik nadir.

Awal Harapan yang Berujung Kekecewaan di Monaco

Kepindahan Paul Pogba ke AS Monaco pada musim panas 2025 awalnya disambut dengan penuh optimisme. Publik sepak bola berharap talenta besarnya bisa kembali bersinar setelah badai kasus hukum yang menimpanya. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Kontrak berdurasi dua musim yang ditandatanganinya kini terasa seperti beban berat bagi pihak klub maupun sang pemain sendiri.

Kembalinya Pogba ke Ligue 1 seharusnya menjadi panggung pembuktian. Setelah memenangi banding atas kasus doping yang sempat mengancam akan mematikan kariernya selama empat tahun—yang kemudian dipangkas menjadi 18 bulan—dunia menanti kembalinya sentuhan magis tersebut. Sayangnya, tubuh Pogba seolah menolak untuk diajak bekerja sama. Alih-alih menjadi jenderal lapangan tengah yang dominan, ia justru lebih sering menghabiskan waktu di ruang perawatan medis.

Baca Juga Drama Degradasi West Ham: David Sullivan Kabur dari Stadion Saat The Hammers Terlempar ke Championship
Drama Degradasi West Ham: David Sullivan Kabur dari Stadion Saat The Hammers Terlempar ke Championship

Hantuan Cedera dan Penurunan Performa yang Drastis

Catatan statistik Pogba musim ini bersama Monaco sungguh memprihatinkan. Pemain berusia 33 tahun tersebut hanya mampu mencatatkan enam penampilan di kompetisi domestik. Masalah utamanya bukan lagi sekadar adaptasi taktik, melainkan ketahanan fisik yang terus merosot. Cedera betis dan engkel yang kambuhan telah memaksanya absen dalam total 25 pertandingan penting, sebuah angka yang sangat merugikan bagi klub yang menggajinya dengan angka fantastis.

Kondisi ini memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola: apakah Paul Pogba sudah habis? Secara teknis, visi dan akurasi umpannya mungkin belum hilang sepenuhnya. Namun, dalam sepak bola modern yang menuntut intensitas tinggi dan fisik yang prima, Pogba tampak tertinggal jauh. Kecepatannya menurun, dan daya jelajahnya tidak lagi seperti saat ia membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2018.

Saran Menohok dari John Arne Riise

Situasi pelik yang dialami Pogba ini menarik perhatian mantan bek Liverpool, John Arne Riise. Sosok legendaris tersebut memberikan saran yang cukup radikal namun realistis. Menurut Riise, sudah saatnya Pogba mengakui bahwa tekanan kompetisi tingkat tinggi di Eropa mungkin tidak lagi cocok untuk kondisi fisik dan mentalnya saat ini.

Baca Juga Jejak Abadi Sang Maestro: Lionel Messi Raih Penghargaan Putri Asturias Jelang Piala Dunia 2026
Jejak Abadi Sang Maestro: Lionel Messi Raih Penghargaan Putri Asturias Jelang Piala Dunia 2026

“Jika dia merasakan badan dan pikirannya tidak mampu memberikan komitmen 100 persen, maka lebih baik dia pergi,” ujar Riise dalam sebuah wawancara. Riise menekankan bahwa kejujuran terhadap diri sendiri adalah kunci bagi seorang atlet profesional di masa senja kariernya. Memaksakan diri untuk bertahan di liga top Eropa hanya akan memperburuk citranya jika performanya terus merosot di bawah standar.

Opsi Masa Depan: MLS atau Saudi Pro League?

Lantas, ke mana kaki Pogba akan melangkah jika ia benar-benar meninggalkan Eropa? Dua destinasi populer muncul sebagai alternatif yang sangat masuk akal: Amerika Serikat (MLS) atau Arab Saudi (Saudi Pro League). Kedua liga ini menawarkan sesuatu yang tidak lagi bisa diberikan oleh sepak bola Eropa saat ini bagi Pogba: lingkungan yang lebih santai dengan tekanan kompetitif yang relatif lebih rendah, namun tetap dengan apresiasi finansial yang luar biasa.

Bergabung dengan klub di MLS bisa menjadi langkah strategis bagi branding pribadi Pogba. Kehidupan di Amerika Serikat akan memberinya kesempatan untuk lebih menikmati hidup di luar lapangan sambil tetap bermain di liga yang terus berkembang. Di sisi lain, Saudi Pro League menawarkan kemewahan dan kesempatan untuk bermain bersama bintang-bintang dunia lainnya yang juga telah memilih jalur serupa di akhir karier mereka.

Baca Juga Transformasi Magis Harry Kane: Rahasia di Balik Layar yang Diungkap Mauricio Pochettino
Transformasi Magis Harry Kane: Rahasia di Balik Layar yang Diungkap Mauricio Pochettino

Ancaman Pemutusan Kontrak oleh AS Monaco

Manajemen AS Monaco dikabarkan mulai kehilangan kesabaran. Kabar yang beredar di internal klub menunjukkan bahwa manajemen sedang mempertimbangkan opsi untuk memutus kontrak Pogba lebih awal. Langkah ini diambil sebagai bagian dari efisiensi finansial, mengingat kontribusi sang pemain yang sangat minim dibandingkan dengan beban gaji yang harus ditanggung klub. Jika performa dan kondisi fisiknya tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam waktu dekat, pintu keluar Monaco akan terbuka lebar bagi mantan bintang Juventus dan Manchester United tersebut.

Situasi ini tentu menjadi pukulan telak bagi pemain yang pernah menjadi pemain termahal di dunia tersebut. Namun, dalam industri sepak bola yang kejam, hasil di lapangan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku. Tanpa menit bermain dan kontribusi nyata, nama besar saja tidak akan cukup untuk mempertahankan posisinya di skuat utama.

Penutup: Menanti Babak Baru ‘Il Polpo’

Kisah Paul Pogba adalah pengingat bagi setiap pesepak bola bahwa kejayaan bersifat sementara. Dari puncak dunia hingga harus berjuang melawan cedera di klub medioker, perjalanan kariernya penuh dengan lika-liku dramatis. Kini, keputusan sepenuhnya ada di tangan Pogba. Apakah ia akan terus berjuang membuktikan sisa-sisa kehebatannya di Eropa, ataukah ia akan mengikuti saran Riise untuk mencari kebahagiaan baru di belahan dunia lain?

Baca Juga Kontroversi Tandukan Gabriel ke Haaland: Panel Premier League Sebut Harusnya Kartu Merah
Kontroversi Tandukan Gabriel ke Haaland: Panel Premier League Sebut Harusnya Kartu Merah

Satu hal yang pasti, publik akan selalu mengenang masa-masa keemasan Pogba sebagai salah satu gelandang paling berbakat di generasinya. Namun, untuk saat ini, melangkah keluar dari tanah Eropa mungkin adalah opsi terbaik agar ia bisa menutup buku kariernya dengan senyuman, bukan dengan rasa sakit akibat cedera yang tak kunjung usai. Kita tunggu saja ke mana arah angin Bursa Transfer akan membawa sang maestro di jendela transfer mendatang.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *