Menelusuri Jejak Budaya di Kampung Ismail Marzuki: Oase Hijau dan Napas Betawi di Jantung Setu Babakan

Dimas Pratama | SuaraInfo
30 Apr 2026, 19:42 WIB
Menelusuri Jejak Budaya di Kampung Ismail Marzuki: Oase Hijau dan Napas Betawi di Jantung Setu Babakan

SuaraInfo — Di tengah kepungan gedung pencakar langit dan deru mesin kendaraan yang seolah tak pernah tidur, Jakarta menyimpan sebuah rahasia cantik yang perlahan mulai bersolek. Di sudut selatan ibu kota, tepatnya di kawasan Srengseng Sawah, sebuah transformasi budaya tengah berlangsung. Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan kini menghadirkan permata baru yang diberi nama Kampung Ismail Marzuki.

Resmi dibuka untuk publik sejak Februari 2026, Kampung Ismail Marzuki bukan sekadar taman atau area rekreasi biasa. Ia adalah sebuah manifestasi rindu akan akar budaya yang kian tergerus zaman. Dengan konsep pulau buatan yang tenang di tengah danau, kawasan ini menawarkan mesin waktu bagi siapa saja yang ingin merasakan kembali atmosfer budaya Betawi tempo dulu yang autentik dan bersahaja.

Visi Dua Dekade: Merawat Identitas yang Nyaris Hilang

Kehadiran Kampung Ismail Marzuki tidak muncul begitu saja dalam semalam. Menurut Shafrina Fauzia, perwakilan dari Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB), proyek ambisius ini merupakan bagian dari cetak biru besar yang telah dirancang selama lebih dari dua puluh tahun. Wanita yang akrab disapa Riri ini menceritakan bahwa embrio kawasan ini sudah mulai direncanakan sejak periode 2003 hingga 2005.

Baca Juga Menyongsong Lima Abad Jakarta: Menakar Visi Kota Global Pramono Anung dan Narasi Kemanusiaan Rano Karno
Menyongsong Lima Abad Jakarta: Menakar Visi Kota Global Pramono Anung dan Narasi Kemanusiaan Rano Karno

“Kala itu, ada lahan seluas 289 hektar di Kelurahan Srengseng Sawah yang memang disiapkan untuk menjadi pusat pelestarian budaya. Kami merasa ada kebutuhan mendesak untuk menciptakan sebuah area yang benar-benar bisa merepresentasikan wajah kampung Betawi di masa lampau,” ujar Riri saat berbincang hangat dengan tim SuaraInfo di lokasi.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Modernisasi Jakarta yang agresif telah mengubah wajah arsitektur lokal. Rumah-rumah tradisional Betawi yang dulu berdiri kokoh dengan kayu-kayu pilihan, perlahan berganti menjadi bangunan bata minimalis yang seragam. Identitas arsitektur seperti teras yang luas dan ukiran khas mulai hilang dari pandangan keseharian warga.

Pulau Mungil dengan Arsitektur yang Bercerita

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah membangun sebuah pulau buatan seluas 3,2 hektare tepat di tengah Setu Babakan. Pulau inilah yang kini dikenal sebagai Kampung Ismail Marzuki. Begitu menapakkan kaki di sini, pengunjung akan disambut dengan deretan rumah adat yang dibangun dengan presisi tinggi, lengkap dengan ornamen gigi balang yang menghiasi setiap lisplang atap.

Baca Juga Mengenal Farang Kee Nok: Stigma dan Sejarah di Balik Istilah Turis Asing di Thailand
Mengenal Farang Kee Nok: Stigma dan Sejarah di Balik Istilah Turis Asing di Thailand

Pembangunan pulau ini bertujuan untuk membagi wilayah Betawi secara edukatif ke dalam tiga zona utama: Betawi Pesisir, Betawi Tengah atau Betawi Kota, serta Betawi Pinggir. Setiap zona memiliki karakteristik unik yang tercermin dari bentuk bangunan dan tata ruangnya. Hal ini memberikan wawasan mendalam bagi generasi muda bahwa sejarah Jakarta tidaklah monolitik, melainkan kaya akan lapisan tradisi yang dipengaruhi oleh letak geografisnya.

Mengabadikan Sang Maestro dalam Nama

Pemilihan nama “Ismail Marzuki” sendiri memiliki makna filosofis yang dalam. Sebelumnya, area ini hanya dikenal secara administratif sebagai Zona C. Namun, seiring dengan semangat penghormatan terhadap tokoh bangsa, pemerintah provinsi melakukan rebranding besar-besaran terhadap fasilitas umum di Jakarta.

“Pengubahan nama ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi kepada para pahlawan dan budayawan Betawi. Ismail Marzuki adalah sosok maestro yang karyanya melampaui zaman, dan menyematkan namanya di sini adalah cara kita menjaga ingatan kolektif bangsa agar tetap hidup,” tambah Riri. Tidak hanya Kampung Ismail Marzuki, kawasan PBB Setu Babakan kini terbagi menjadi beberapa zona yang masing-masing mengusung nama tokoh besar:

Baca Juga Tragedi Erupsi Gunung Dukono: Sorotan Dunia dan Pahitnya Konsekuensi Wisata Ekstrem di Jalur Terlarang
Tragedi Erupsi Gunung Dukono: Sorotan Dunia dan Pahitnya Konsekuensi Wisata Ekstrem di Jalur Terlarang
  • Kampung Muhammad Husni Thamrin: Berfungsi sebagai pusat administrasi dan museum (sebelumnya Zona A).
  • Kampung Ismail Marzuki: Pulau edukasi dan replika permukiman tradisional (sebelumnya Zona C).
  • Kampung KH Noer Ali: Area pendidikan yang mencakup SMK 74, sekolah khusus kesenian.
  • Kampung Abdulrahman Saleh: Sentra kuliner yang memanjakan lidah dengan kerak telor dan bir pletok.
  • Zona Embrio: Area pengembangan masa depan yang masih dalam tahap inkubasi.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Lokal

Satu hal yang unik dari pengelolaan Setu Babakan adalah keterlibatan warga secara langsung. Meskipun ada area yang dikelola secara eksklusif oleh pemerintah, sebagian besar dari 289 hektar lahan tersebut merupakan permukiman warga. Di sinilah letak tantangannya: bagaimana menyatukan kehidupan modern warga dengan visi pelestarian budaya.

Pemerintah setempat telah mengeluarkan regulasi yang mengarahkan warga untuk tetap mempertahankan unsur budaya Betawi pada hunian pribadi mereka. “Warga didorong untuk setidaknya menambahkan ornamen gigi balang atau gaya arsitektur Betawi pada rumah mereka. Jadi, atmosfer budayanya tidak hanya terasa di dalam objek wisata, tapi meresap ke seluruh nadi perkampungan,” jelas Riri kepada SuaraInfo.

Baca Juga Nyawa Lebih Berharga dari Koper: Mengapa IATA Berencana Mengunci Bagasi Kabin Saat Kondisi Darurat?
Nyawa Lebih Berharga dari Koper: Mengapa IATA Berencana Mengunci Bagasi Kabin Saat Kondisi Darurat?

Fasilitas dan Pengalaman Wisata Gratis

Kabar baik bagi para pelancong dan pemburu konten estetik, akses masuk ke Kampung Ismail Marzuki saat ini tidak dipungut biaya alias gratis. Dibuka setiap hari dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, pulau ini menjadi tempat pelarian sempurna dari kebisingan kota. Berbagai fasilitas telah disiapkan untuk menunjang kenyamanan pengunjung:

1. Jalur Pedestrian yang Menyejukkan: Terdapat jogging track yang mengitari pulau, sangat ideal untuk olahraga pagi sambil menghirup udara segar yang jarang ditemukan di pusat kota. Pemandangan danau yang tenang di satu sisi dan rumah adat di sisi lain menciptakan harmoni yang magis.

2. Spot Foto Instagramable: Bagi penggemar fotografi, setiap sudut pulau ini adalah karya seni. Mulai dari jembatan penghubung yang ikonik hingga detail ukiran kayu pada saung-saung tempat bersantai.

3. Fasilitas Umum Lengkap: Pengelola telah menyediakan musala, toilet yang bersih, serta area parkir yang memadai di luar pulau. Kebersihan menjadi prioritas utama dengan petugas yang rutin berkeliling memastikan area tetap asri.

Baca Juga Skandal Alkohol Japan Airlines: Investigasi Mendalam Terhadap Prosedur Keselamatan Maskapai Nasional Jepang
Skandal Alkohol Japan Airlines: Investigasi Mendalam Terhadap Prosedur Keselamatan Maskapai Nasional Jepang

Masa Depan: Festival Budaya dan Pemberdayaan Ekonomi

Menatap masa depan, UPK PBB memiliki rencana besar untuk menjadikan Kampung Ismail Marzuki sebagai episentrum kegiatan seni. Berbagai festival tahunan seperti HUT DKI Jakarta dan perayaan kemerdekaan rencananya akan dipusatkan di sini. Panggung-panggung pertunjukan akan dihidupkan kembali dengan alunan musik gambang kromong dan tarian tradisional.

Selain aspek budaya, pemberdayaan ekonomi melalui UMKM juga menjadi fokus utama. Meskipun saat ini belum banyak pedagang yang masuk ke area pulau demi menjaga ketenangan, ke depannya akan ada ruang kolaborasi bagi masyarakat lokal untuk memasarkan produk kerajinan dan kuliner khas Betawi secara lebih terorganisir.

Kampung Ismail Marzuki adalah bukti bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan jati diri. Ia adalah oase di mana sejarah dan masa depan bertemu dalam pelukan danau Setu Babakan yang tenang. Bagi Anda yang rindu akan ketenangan atau ingin mengenalkan akar budaya kepada buah hati, destinasi ini adalah jawabannya.

Mari berkunjung, menjaga kebersihan, dan menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan leluhur kita. Karena jika bukan kita yang menjaga destinasi wisata Jakarta yang penuh sejarah ini, siapa lagi?

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *