Polemik Ferrari Luce EV: Mantan Bos Sebut Desainnya Terlalu Buruk Hingga Pabrikan China Enggan Meniru

Citra Kirana | SuaraInfo
28 Mei 2026, 23:26 WIB
Polemik Ferrari Luce EV: Mantan Bos Sebut Desainnya Terlalu Buruk Hingga Pabrikan China Enggan Meniru

SuaraInfo — Dunia otomotif global tengah diguncang oleh perdebatan sengit menyusul peluncuran resmi mobil listrik murni pertama dari pabrikan ikonik asal Italia, Ferrari. Kendaraan yang diberi nama Ferrari Luce EV ini seharusnya menjadi tonggak sejarah baru bagi pabrikan berlogo kuda jingkrak tersebut. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan hangat dan tepuk tangan meriah, kehadiran Luce EV justru memicu gelombang kritik, bahkan dari orang dalam yang pernah membesarkan nama Ferrari di kancah dunia.

Kekecewaan ini muncul bukan tanpa alasan. Bagi para purist dan penggemar fanatik, Ferrari bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah karya seni bergerak yang memadukan performa brutal dengan estetika Italia yang tak lekang oleh waktu. Sayangnya, Luce EV dianggap gagal membawa ruh tersebut. Desainnya yang radikal dinilai terlalu jauh melompat dari pakem desain supercar Maranello yang selama ini kita kenal.

Kritik Pedas dari Sang Legenda: Luca Di Montezemolo

Salah satu suara paling vokal yang mengkritik keras mobil ini adalah Luca Di Montezemolo. Bagi mereka yang mengikuti sejarah otomotif, nama Montezemolo bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah orang yang memimpin Ferrari selama dua dekade dan berhasil mengembalikan kejayaan tim Formula 1 serta memperkuat citra eksklusivitas Ferrari di pasar mobil jalan raya.

Baca Juga Jaecoo J5 EV Dominasi Pasar Mobil Listrik: Strategi Agresif Omoda-Jaecoo Capai 1 Juta Penjualan Global
Jaecoo J5 EV Dominasi Pasar Mobil Listrik: Strategi Agresif Omoda-Jaecoo Capai 1 Juta Penjualan Global

Dalam sebuah wawancara yang dilansir dari Politico, Montezemolo tidak menyembunyikan rasa frustrasinya saat melihat wujud nyata dari Luce EV. Ia bahkan melontarkan sindiran yang sangat tajam terkait kualitas desain mobil tersebut. Menurutnya, desain mobil ini sangat tidak menarik hingga pabrikan otomotif asal Negeri Tirai Bambu pun tidak akan berminat untuk menjiplaknya.

“Kita berada dalam risiko besar menghancurkan sebuah legenda yang telah dibangun selama puluhan tahun. Setidaknya, satu hal yang pasti, ini adalah mobil yang tidak akan pernah ditiru oleh pabrikan-pabrikan China,” ujar Montezemolo dengan nada getir. Pernyataan ini menjadi tamparan keras, mengingat industri otomotif China seringkali dikenal karena kemampuannya mengambil inspirasi atau mereplikasi desain-desain ikonik dari Eropa.

Montezemolo menambahkan bahwa identitas Ferrari seolah hilang ditelan ambisi elektrifikasi yang kurang matang secara visual. Ia bahkan menyarankan agar logo ‘Il Cavallino Rampante’ sebaiknya tidak dipasang pada mobil tersebut. “Jika saya mengatakan apa yang benar-benar ada di pikiran saya, saya mungkin akan merugikan citra perusahaan. Namun, saya benar-benar merasa menyesal. Saya berharap mereka setidaknya melepas logo kuda jingkrak dari mobil itu,” tambahnya.

Baca Juga Drama Panas MotoGP Catalunya: Jorge Martin Sampaikan Permohonan Maaf Usai Insiden Emosional di Garasi Aprilia
Drama Panas MotoGP Catalunya: Jorge Martin Sampaikan Permohonan Maaf Usai Insiden Emosional di Garasi Aprilia

Sentuhan Apple di Balik Desain Kontroversial

Menariknya, estetika Ferrari Luce EV yang dianggap “aneh” oleh banyak pihak ini merupakan hasil karya dari studio desain LoveFrom. Bagi Anda yang akrab dengan dunia teknologi, LoveFrom adalah studio yang didirikan oleh Jony Ive dan Marc Newson—dua sosok jenius di balik desain ikonik iPhone, iMac, hingga Apple Watch. Kolaborasi antara dunia teknologi Silicon Valley dan tradisi otomotif Italia ini ternyata menghasilkan produk yang sangat memecah opini publik.

Pendekatan desain yang diterapkan pada Luce EV memang sangat kental dengan nuansa futuristik yang minimalis. Ferrari menyebutnya sebagai desain glass house yang super bersih. Alih-alih garis-garis tajam yang agresif, mobil ini menonjolkan permukaan yang halus dan transparan. Berikut adalah beberapa elemen desain utama yang menjadi sorotan:

  • Sayap Aerodinamis Melayang: Terdapat struktur sayap di bagian depan dan belakang yang terpisah dari bodi utama, memberikan kesan aerodinamika aktif yang sangat ekstrem.
  • Suicide Doors: Berbeda dengan pintu gunting (scissor doors) yang biasa ditemukan pada model V12 Ferrari, Luce EV menggunakan pintu baris kedua dengan gaya suicide doors, serupa dengan yang digunakan pada mobil mewah Rolls-Royce.
  • Velg Raksasa: Untuk menunjang proporsinya, mobil ini dibekali velg berukuran masif, yakni 23 inci di bagian depan dan 24 inci di belakang, menjadikannya velg terbesar yang pernah dipasang pada mobil produksi jalan raya Ferrari.

Meskipun secara teknis desain ini sangat efisien dalam membelah angin (drag coefficient rendah), namun secara visual, banyak yang menilai Luce EV kehilangan agresivitas khas Ferrari yang biasanya membuat jantung berdegup kencang hanya dengan melihatnya terparkir.

Baca Juga Revolusi Besar Moto3 2028: Yamaha Resmi Jadi Pemasok Tunggal dengan Kekuatan Mesin CP2
Revolusi Besar Moto3 2028: Yamaha Resmi Jadi Pemasok Tunggal dengan Kekuatan Mesin CP2

Performa Buas di Balik Kontroversi Visual

Jika dari sisi desain Ferrari Luce EV banyak menuai hujatan, lain halnya jika kita berbicara mengenai spesifikasi teknis. Di bawah bodi yang kontroversial itu, tertanam teknologi mobil listrik mutakhir yang mampu menghasilkan performa luar biasa. Ferrari tampaknya tidak ingin berkompromi soal kecepatan, meski mereka beralih dari mesin pembakaran internal (ICE) ke motor listrik.

Mobil ini mengusung konfigurasi empat motor listrik yang bekerja secara simultan. Motor bagian depan mampu menyemburkan tenaga sebesar 282 HP, sementara motor di bagian belakang menjadi jantung pacu utama dengan daya mencapai 831 HP. Saat pengemudi mengaktifkan Boost Mode, total tenaga kombinasi yang dihasilkan menyentuh angka fantastis, yakni 1.035 HP.

Dengan tenaga sebesar itu, Luce EV mampu melesat dari posisi diam hingga kecepatan 100 km/jam hanya dalam waktu 2,5 detik saja. Angka ini menempatkannya sejajar dengan jajaran hypercar tercepat di dunia saat ini. Kemampuan akselerasi instan khas motor listrik digabungkan dengan sistem penggerak semua roda (all-wheel drive) yang cerdas, menjanjikan sensasi berkendara yang mungkin belum pernah dirasakan sebelumnya oleh pengguna Ferrari konvensional.

Baca Juga Mugello Berguncang: Jorge Martin Pecahkan Rekor Kecepatan MotoGP, Akankah Menjadi Rekor Abadi Sebelum Era 850cc?
Mugello Berguncang: Jorge Martin Pecahkan Rekor Kecepatan MotoGP, Akankah Menjadi Rekor Abadi Sebelum Era 850cc?

Strategi In-House dan Investasi Masa Depan

Salah satu poin penting yang ditekankan oleh Ferrari dalam peluncuran Luce EV adalah komitmen mereka terhadap keberlanjutan dan nilai jangka panjang kendaraan. Perusahaan menyatakan bahwa hampir seluruh komponen utama mobil ini dikembangkan secara mandiri atau in-house di fasilitas terbaru mereka di Maranello.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa mobil listrik pertama mereka tetap dapat diperbaiki dan didukung oleh pabrikan hingga puluhan tahun ke depan. Ferrari sadar bahwa pembeli mereka adalah kolektor yang sangat memperhatikan nilai jual kembali (resale value). Dengan memproduksi baterai dan motor listrik sendiri, Ferrari menjamin ketersediaan suku cadang asli di masa depan, sesuatu yang sering menjadi kekhawatiran pada adopsi awal teknologi otomotif berbasis baterai.

Namun, semua kecanggihan dan jaminan masa depan ini dibanderol dengan harga yang sangat tinggi. Di pasar Eropa, Ferrari Luce EV dipasarkan mulai dari harga 520 ribu euro, atau jika dikonversi ke mata uang kita, nilainya menembus angka Rp 12 miliar. Harga tersebut belum termasuk pajak dan opsi personalisasi yang biasanya menambah biaya hingga miliaran rupiah lagi bagi konsumen di luar Eropa, termasuk Indonesia, yang baru akan mendapatkan unitnya pada tahun mendatang.

Baca Juga Dominasi Tak Terbendung Honda HR-V: Menilik Strategi Sang Raja SUV Kompak di Tengah Gempuran Rival
Dominasi Tak Terbendung Honda HR-V: Menilik Strategi Sang Raja SUV Kompak di Tengah Gempuran Rival

Kesimpulan: Masa Depan yang Menantang bagi Kuda Jingkrak

Kehadiran Ferrari Luce EV menjadi bukti nyata bahwa transisi menuju era elektrifikasi bukanlah perjalanan yang mudah bagi merek-merek legendaris. Ada pertentangan batin antara menjaga warisan masa lalu dengan tuntutan inovasi masa depan. Kritik pedas dari Luca Di Montezemolo mencerminkan ketakutan akan hilangnya jiwa Ferrari di tengah derasnya arus modernisasi.

Apakah desain futuristik ala Jony Ive ini pada akhirnya akan diterima oleh pasar seiring berjalannya waktu? Ataukah Luce EV akan diingat sebagai sebuah eksperimen yang gagal secara estetika? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang pasti, perdebatan mengenai identitas sebuah merek besar di era listrik akan terus menjadi topik hangat di kalangan pecinta otomotif global.

Bagi Anda yang ingin terus mengikuti perkembangan terbaru seputar industri otomotif, teknologi kendaraan listrik, dan berita eksklusif lainnya, pastikan untuk selalu memantau informasi terkini hanya di platform kami.

Citra Kirana

Citra Kirana

Pengamat tren otomotif dan mobilitas. Fokus pada review kendaraan terbaru dan tips perawatan praktis bagi pengendara urban di Suara Oto.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *