Revolusi Hijau FIFA: Mengupas Wacana Ekspansi Piala Dunia Menjadi 64 Peserta

Aris Setiawan | SuaraInfo
22 Mei 2026, 13:25 WIB
Revolusi Hijau FIFA: Mengupas Wacana Ekspansi Piala Dunia Menjadi 64 Peserta

SuaraInfo — Di tengah antusiasme menyambut era baru sepak bola global, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) nampaknya belum puas dengan transformasi besar-besaran yang akan terjadi pada edisi 2026 mendatang. Setelah resmi mengonfirmasi penambahan peserta dari 32 menjadi 48 tim, kini otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut dikabarkan tengah menggodok wacana yang jauh lebih ambisius: Piala Dunia dengan format 64 tim peserta.

Lompatan Berani Menuju Era Inklusivitas

Langkah ini menandai babak baru dalam sejarah panjang turnamen paling bergengsi di kolong langit. Sejak pertama kali digulirkan pada tahun 1930, Piala Dunia telah mengalami berbagai fase evolusi. Jika pada awalnya turnamen ini hanya diikuti oleh segelintir negara undangan, kini FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino ingin menjadikannya sebagai hajatan kolosal yang benar-benar merangkul seluruh penjuru dunia. Penambahan kuota ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah pernyataan politik dan olahraga bahwa sepak bola bukan lagi monopoli kekuatan tradisional semata.

Perubahan format menuju 48 tim pada Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebenarnya sudah dianggap sebagai perubahan radikal. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa diskusi mengenai format 64 tim bukan lagi sekadar isu di balik meja. FIFA secara serius meninjau kemungkinan ini untuk diimplementasikan di masa depan, demi memberikan panggung yang lebih luas bagi talenta-talenta dari negara berkembang yang selama ini kesulitan menembus ketatnya fase kualifikasi.

Baca Juga Misi Kebangkitan Anthony Ginting: Membidik Top 20 Dunia dan Menata Mental di Tengah Ketatnya Persaingan
Misi Kebangkitan Anthony Ginting: Membidik Top 20 Dunia dan Menata Mental di Tengah Ketatnya Persaingan

Dorongan dari Amerika Selatan dan Lampu Hijau Infantino

Gagasan untuk menambah jumlah peserta menjadi 64 tim ternyata tidak lahir begitu saja dari internal FIFA. Berdasarkan informasi yang dihimpun, usulan ini pertama kali diletupkan oleh CONMEBOL, konfederasi sepak bola Amerika Selatan. Meskipun wilayah mereka dihuni oleh raksasa seperti Brasil dan Argentina, CONMEBOL merasa bahwa penambahan kuota akan semakin meningkatkan prestise dan daya saing global. Mereka memandang bahwa semakin banyak negara yang terlibat, maka demam sepak bola akan semakin merata di seluruh benua.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyambut hangat usulan tersebut. Sang presiden memang dikenal sebagai sosok yang sangat pro-ekspansi. Sejak menjabat, ia konsisten dengan visinya untuk melakukan demokratisasi sepak bola. Dengan memberikan lampu hijau agar wacana ini terus dikaji secara mendalam, Infantino mengirimkan sinyal kuat bahwa strategi FIFA ke depan adalah memperbesar skala kompetisi. Baginya, Piala Dunia adalah instrumen utama untuk mempromosikan nilai-nilai olahraga dan persatuan global.

Dampak Ekonomi dan Signifikansi Bagi Tuan Rumah

Salah satu alasan kuat di balik wacana 64 tim ini tentu saja berkaitan dengan aspek finansial dan ekonomi makro. Sudah bukan rahasia lagi bahwa penyelenggaraan Piala Dunia mendatangkan arus modal yang luar biasa besar. Dengan jumlah tim yang lebih banyak, otomatis jumlah pertandingan yang dimainkan akan meningkat secara signifikan. Hal ini berkorelasi langsung dengan peningkatan pendapatan dari hak siar televisi, sponsor, hingga penjualan tiket pertandingan.

Baca Juga Sejarah di Estadio Azteca: Julian Quinones, Sang Predator Liga Arab Saudi, Cetak Gol Pertama Piala Dunia 2026
Sejarah di Estadio Azteca: Julian Quinones, Sang Predator Liga Arab Saudi, Cetak Gol Pertama Piala Dunia 2026

Bagi negara tuan rumah, format 64 tim adalah berkah sekaligus tantangan. Di satu sisi, masuknya lebih banyak suporter dari berbagai belahan dunia akan memberikan suntikan dana segar bagi sektor pariwisata, perhotelan, dan UMKM lokal. FIFA menilai bahwa sumbangan ekonomi ke negara penyelenggara akan berlipat ganda jika skala turnamen diperbesar. Namun, di sisi lain, infrastruktur yang dibutuhkan pun harus jauh lebih mumpuni. Stadion berstandar internasional, sistem transportasi yang terintegrasi, hingga fasilitas keamanan ekstra menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Evaluasi Pasca 2030: Menanti Waktu yang Tepat

Kendati wacana ini terus digulirkan, publik tidak akan melihat format 64 tim ini dalam waktu dekat. FIFA bertindak cukup hati-hati dengan tidak langsung menerapkannya secara mendadak. Fokus utama saat ini masih tertuju pada keberhasilan format baru 48 tim pada edisi 2026 dan 2030. Kedua edisi tersebut akan menjadi laboratorium besar bagi FIFA untuk mengevaluasi efektivitas penambahan jumlah peserta, mulai dari durasi turnamen, beban kerja pemain, hingga kualitas kompetisi.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa FIFA kemungkinan besar baru akan menguji coba format 64 tim selepas gelaran Piala Dunia 2030. Masa transisi ini dianggap krusial untuk memastikan bahwa penambahan kuota tidak menurunkan kualitas permainan. Kekhawatiran akan adanya kesenjangan kualitas antara tim elit dan tim kuda hitam tetap menjadi catatan penting yang harus dijawab melalui mekanisme kualifikasi yang lebih kompetitif di tingkat regional.

Baca Juga Drama Perburuan Gelar Liga Inggris: Thierry Henry Beri Peringatan Keras untuk Arsenal Usai Tergelincirnya Manchester City
Drama Perburuan Gelar Liga Inggris: Thierry Henry Beri Peringatan Keras untuk Arsenal Usai Tergelincirnya Manchester City

Tantangan Logistik dan Kualitas Kompetisi

Menambah jumlah peserta hingga 64 tim tentu memunculkan perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola. Salah satu isu utama adalah beban fisik pemain. Dengan jadwal kompetisi klub yang sudah sangat padat, menambah jumlah pertandingan di level internasional dikhawatirkan akan memicu badai cedera. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa fase grup mungkin akan terasa membosankan jika terdapat terlalu banyak pertandingan yang dianggap tidak seimbang.

Namun, pendukung wacana ini berargumen bahwa penambahan peserta justru akan memotivasi negara-negara di Asia dan Afrika untuk berinvestasi lebih besar dalam pembinaan usia dini. Dengan peluang lolos ke putaran final yang lebih terbuka, federasi nasional akan lebih bersemangat dalam mengembangkan liga domestik dan infrastruktur sepak bola mereka. Inilah yang diharapkan menjadi efek bola salju bagi kemajuan sepak bola secara global.

Masa Depan Sepak Bola di Tangan FIFA

Pada akhirnya, rencana ekspansi ini merupakan refleksi dari ambisi FIFA untuk menjadikan sepak bola sebagai industri yang tak pernah berhenti tumbuh. Meskipun pro dan kontra terus mengiringi, langkah Gianni Infantino dan jajarannya menunjukkan bahwa arah masa depan sepak bola adalah keterbukaan. Kita mungkin akan segera melihat negara-negara yang sebelumnya hanya bisa bermimpi, kini memiliki kesempatan nyata untuk mengibarkan bendera mereka di panggung dunia.

Baca Juga Mimpi Juara Persija Jakarta Pupus, Rizky Ridho Sampaikan Permohonan Maaf Mendalam kepada Jakmania
Mimpi Juara Persija Jakarta Pupus, Rizky Ridho Sampaikan Permohonan Maaf Mendalam kepada Jakmania

Piala Dunia bukan lagi sekadar turnamen olahraga, melainkan festival budaya global yang merayakan keberagaman. Dengan terus menggodok wacana 64 tim, FIFA sedang berupaya merancang warisan jangka panjang yang akan mengubah wajah sepak bola selamanya. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan dari dinamika sepak bola internasional ini dalam beberapa tahun ke depan. Apakah 64 tim akan menjadi standar emas baru dalam dunia olahraga? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan minat besar pada taktik sepak bola dan otomotif. Menyajikan ulasan mendalam dari pinggir lapangan untuk pembaca Suara Sport.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *