Misteri Berat Badan: Mengapa Makan Sedikit Tetap Cepat Gemuk? Ini Tinjauan Medis Lengkapnya

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
10 Mei 2026, 05:25 WIB
Misteri Berat Badan: Mengapa Makan Sedikit Tetap Cepat Gemuk? Ini Tinjauan Medis Lengkapnya

SuaraInfo — Pernahkah Anda merasa sudah membatasi porsi makan sedemikian rupa, namun angka di timbangan justru terus merangkak naik? Fenomena ini sering kali memicu rasa frustrasi yang mendalam, terutama bagi mereka yang tengah berjuang menjalankan program diet sehat. Seolah-olah, hanya dengan mencium aroma makanan saja, berat badan sudah bertambah. Namun, dalam dunia medis, kondisi ini bukanlah sekadar perasaan subjektif atau nasib buruk belaka, melainkan hasil dari mekanisme biologis yang kompleks di dalam tubuh.

Membedah Rahasia Basal Metabolic Rate (BMR)

Menurut pemaparan dokter spesialis gizi klinik, dr. Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, Subsp.KM, SpKKLP, AIFO-K, kunci utama dari permasalahan ini terletak pada apa yang disebut sebagai Basal Metabolic Rate atau BMR. Istilah ini merujuk pada jumlah kalori minimum yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar agar tetap bertahan hidup saat dalam kondisi istirahat total. Fungsi dasar tersebut mencakup pernapasan, sirkulasi darah, produksi sel, hingga pengaturan suhu tubuh.

Dr. Iflan menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa sudah makan sangat sedikit namun tetap mengalami kenaikan berat badan, hal itu merupakan indikator kuat bahwa sistem metabolisme tubuh atau BMR-nya sedang melambat. Dalam sebuah kesempatan di Kawasan PIK 2, Kabupaten Tangerang, ia mengungkapkan bahwa kondisi ini sering kali disebabkan oleh performa otot yang sudah mulai ‘malas’ dalam proses pembakaran energi.

Baca Juga Evaluasi Besar-Besaran Program Makan Bergizi Gratis: Presiden Prabowo Tindak Tegas Ribuan Dapur Bermasalah
Evaluasi Besar-Besaran Program Makan Bergizi Gratis: Presiden Prabowo Tindak Tegas Ribuan Dapur Bermasalah

Peran Vital Massa Otot dalam Pembakaran Kalori

Mengapa otot menjadi aktor penting dalam skenario ini? Secara fisiologis, otot adalah jaringan yang aktif secara metabolik. Artinya, semakin banyak massa otot yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula energi yang dibutuhkan tubuh bahkan saat tidak melakukan aktivitas fisik berat. Dr. Iflan menekankan bahwa organ metabolisme terbesar dalam tubuh manusia, selain hati (liver), adalah jaringan otot-otot kita.

“Ototnya juga sudah mulai malas membakar kalori,” ungkap dr. Iflan. Oleh karena itu, solusi medis yang paling efektif untuk mengatasi perlambatan BMR bukanlah dengan mengurangi jatah makan secara ekstrem, melainkan dengan membangkitkan kembali performa otot tersebut. Meningkatkan massa otot melalui olahraga beban atau aktivitas fisik yang terukur akan memaksa tubuh untuk meningkatkan laju pembakaran kalori secara alami.

Ketidakadilan Genetik: Si Kurus yang Makan Banyak

Di sisi lain, kita sering menemui individu yang seolah memiliki ‘keajaiban’ biologis; mereka mampu mengonsumsi makanan dalam porsi besar tanpa mengalami kenaikan berat badan yang berarti. Dr. Iflan menyebut golongan ini sebagai orang-orang yang beruntung secara genetik. Secara medis, individu-individu ini memiliki pengaturan basal metabolik yang secara alamiah sudah tinggi sejak lahir.

Baca Juga Telur Omega-3 vs Telur Biasa: Mengupas Tuntas Perbedaan Nutrisi dan Manfaat Nyata bagi Kesehatan
Telur Omega-3 vs Telur Biasa: Mengupas Tuntas Perbedaan Nutrisi dan Manfaat Nyata bagi Kesehatan

Faktor genetik memegang peranan dalam menentukan seberapa efisien tubuh seseorang dalam mengolah nutrisi menjadi energi atau menyimpannya sebagai cadangan lemak. Namun, bagi Anda yang tidak memiliki ‘keberuntungan’ genetik tersebut, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Fokus pada komposisi tubuh dan gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama untuk memodifikasi cara kerja metabolisme Anda.

Bahaya ‘Starvation Mode’ Akibat Makan Terlalu Sedikit

Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah memangkas kalori secara drastis dalam jangka waktu lama. Ketika tubuh mendapatkan asupan yang sangat minim, ia akan masuk ke dalam mode bertahan hidup atau yang sering disebut sebagai starvation mode. Dalam kondisi ini, tubuh justru akan menurunkan laju metabolismenya untuk menghemat energi, yang pada akhirnya membuat berat badan sulit turun meskipun Anda sudah merasa makan sangat sedikit.

Kondisi ini diperparah jika asupan protein tidak terpenuhi, sehingga tubuh mulai memecah jaringan otot untuk mendapatkan energi. Berkurangnya massa otot inilah yang kemudian membuat BMR semakin anjlok, menciptakan lingkaran setan yang membuat seseorang semakin mudah gemuk meskipun porsi makannya minimalis. Oleh karena itu, menjaga asupan nutrisi yang seimbang jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah kalori.

Baca Juga Rahasia Waktu Terbaik Minum Kopi: Mengapa Menunggu 90 Menit Setelah Bangun Tidur Adalah Kunci Kebugaran?
Rahasia Waktu Terbaik Minum Kopi: Mengapa Menunggu 90 Menit Setelah Bangun Tidur Adalah Kunci Kebugaran?

Faktor Hormonal dan Gangguan Metabolisme Lainnya

Selain faktor BMR dan otot, kenaikan berat badan meski makan sedikit juga bisa dipicu oleh ketidakseimbangan hormon. Hormon seperti insulin, kortisol (hormon stres), dan hormon tiroid memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana tubuh menyimpan lemak. Misalnya, tingkat stres yang tinggi secara kronis dapat meningkatkan kadar kortisol, yang memicu penumpukan lemak di area perut.

Selain itu, fenomena food noise atau pikiran yang terus-menerus terobsesi pada makanan meskipun perut sudah terasa kenyang juga dapat mengganggu keberhasilan manajemen berat badan. Hal ini sering kali berkaitan dengan sistem penghargaan di otak yang tidak sinkron dengan kebutuhan fisik tubuh, sehingga menyebabkan asupan kalori ‘tersembunyi’ yang tidak disadari oleh individu tersebut.

Langkah Strategis Memperbaiki Metabolisme

Untuk memutus rantai masalah ini, langkah pertama yang disarankan adalah melakukan evaluasi terhadap komposisi tubuh, bukan hanya sekadar angka di timbangan. Fokuslah pada peningkatan massa otot melalui latihan kekuatan (strength training) minimal dua hingga tiga kali seminggu. Dengan bertambahnya otot, mesin pembakar kalori di dalam tubuh Anda akan bekerja lebih aktif sepanjang hari.

Baca Juga Strategi ‘Seks Aman’ Meksiko di Piala Dunia 2026: Distribusi 7 Juta Kondom Demi Cegah Ledakan IMS
Strategi ‘Seks Aman’ Meksiko di Piala Dunia 2026: Distribusi 7 Juta Kondom Demi Cegah Ledakan IMS

Kedua, pastikan asupan protein mencukupi untuk mendukung perbaikan dan pertumbuhan jaringan otot. Ketiga, perbaiki pola tidur karena kurang tidur dapat mengacaukan hormon pengatur rasa lapar (ghrelin) dan rasa kenyang (leptin). Terakhir, konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis profesional untuk memastikan tidak ada masalah medis mendasar seperti hipotiroidisme atau resistensi insulin yang menghambat upaya Anda.

Kesimpulannya, fenomena makan sedikit namun tetap gemuk bukanlah sebuah kemustahilan medis. Hal ini merupakan sinyal dari tubuh bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam mesin metabolisme Anda. Dengan memahami peran BMR dan pentingnya massa otot, Anda dapat mengambil langkah yang lebih tepat dan saintifik untuk mencapai berat badan ideal tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa lapar yang berlebihan.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *