Bukan Sekadar Cedera Otot: Kisah Eric Dillon Menghadapi Multiple Myeloma di Balik Nyeri Bahu

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
05 Jul 2026, 15:27 WIB
Bukan Sekadar Cedera Otot: Kisah Eric Dillon Menghadapi Multiple Myeloma di Balik Nyeri Bahu

SuaraInfoSeringkali, tubuh manusia memberikan sinyal-sinyal kecil yang kita anggap remeh sebagai konsekuensi dari aktivitas fisik yang padat. Rasa pegal, nyeri sendi, atau ketegangan otot biasanya hanya dianggap sebagai ‘bumbu’ dari gaya hidup aktif. Namun, bagi Eric Dillon, seorang pria asal Texas, Amerika Serikat, apa yang ia kira sebagai sekadar cedera otot biasa ternyata merupakan peringatan dini dari penyakit yang jauh lebih mematikan: kanker darah.

Kisah Dillon menjadi pengingat yang sangat berharga bagi kita semua tentang pentingnya mendengarkan tubuh dan tidak meremehkan rasa sakit yang menetap. Apa yang dimulai sebagai ketidaknyamanan sederhana di bahu, perlahan-lahan menyingkap tabir kondisi medis kompleks yang dikenal sebagai Multiple Myeloma. Perjalanan panjangnya dari diagnosis awal yang keliru hingga mencapai masa remisi adalah sebuah narasi tentang ketabahan, kemajuan medis, dan pentingnya intuisi dalam menjaga kesehatan.

Awal Mula yang Menipu: Diagnosis Cedera Rotator Cuff

Semuanya bermula ketika Eric Dillon mulai merasakan nyeri yang mengganggu di area bahunya. Sebagai seseorang yang menjalani kehidupan dengan aktif, ia secara alami berasumsi bahwa dirinya mungkin melakukan gerakan yang salah saat berolahraga atau bekerja. Berdasarkan laporan medis awal yang dikutip oleh SuaraInfo, pemeriksaan pertama yang dijalani Dillon memang menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada rotator cuff.

Baca Juga Bukan Sekadar Mitos Seblak, Inilah Pemicu Utama Kista Ovarium yang Sering Diabaikan Wanita
Bukan Sekadar Mitos Seblak, Inilah Pemicu Utama Kista Ovarium yang Sering Diabaikan Wanita

Untuk diketahui, rotator cuff adalah kelompok otot dan tendon yang mengelilingi sendi bahu, berfungsi menjaga bagian atas tulang lengan atas tetap stabil di soket bahu. Dokter ortopedi yang menanganinya kala itu menyarankan terapi fisik dan serangkaian peregangan rutin. Awalnya, metode ini tampak berhasil. Rasa sakitnya mereda, dan Dillon merasa bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, di sinilah letak bahayanya; gejala kanker terkadang bisa bersembunyi di balik perbaikan kondisi yang bersifat sementara.

Dua Tahun dalam Ketidakpastian

Selama periode dua tahun berikutnya, nyeri bahu tersebut tidak benar-benar menghilang. Rasa tidak nyaman itu muncul sesekali, seperti tamu yang tidak diundang. Dillon, yang mencoba untuk tetap positif, beradaptasi dengan kondisi tersebut. Ia mulai mengubah posisi tidurnya, mengurangi beban aktivitas fisiknya, dan melakukan berbagai penyesuaian gaya hidup demi meminimalisir rasa sakit di bahu.

Bagi banyak orang, rasa sakit yang hilang dan muncul kembali seringkali dianggap sebagai proses penuaan atau cedera lama yang belum pulih sempurna. Dillon pun berpikir demikian. Namun, pada bulan Mei 2024, sesuatu berubah. Rasa sakit itu menjadi lebih intens dan terus-menerus hadir dalam kesehariannya. Naluri Dillon membisikkan bahwa ia harus kembali mencari jawaban yang lebih pasti. Ia memutuskan untuk menemui dokter ortopedi sekali lagi, sebuah langkah yang kemudian akan mengubah garis hidupnya selamanya.

Baca Juga Membongkar Mitos Ultra Processed Food: Benarkah 5 Produk Harian Ini Berbahaya Bagi Kesehatan?
Membongkar Mitos Ultra Processed Food: Benarkah 5 Produk Harian Ini Berbahaya Bagi Kesehatan?

Momen Menegangkan di Ruang Praktik Ahli Onkologi

Pemeriksaan kali ini jauh lebih mendalam. Dokter menyarankan prosedur MRI untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi di dalam struktur bahu Dillon. Hasilnya mengejutkan: ada temuan mencurigakan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori cedera otot biasa. Tanpa penjelasan panjang lebar yang menakutkan, Dillon segera dirujuk ke seorang ahli onkologi ortopedi.

Pertemuan itu terpatri jelas dalam ingatan Dillon. Saat melangkah masuk ke ruang praktik, dokter tersebut langsung melontarkan pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran. “Anda tahu mengapa Anda ada di sini?” tanya dokter itu. Dillon menjawab dengan polos bahwa ia hanya mengikuti rujukan dari dokter sebelumnya. Jawaban sang dokter pun singkat namun merubah segalanya: “Saya seorang ahli onkologi ortopedi… Saya menangani kanker.”

Mendengar kata ‘kanker’ adalah pukulan telak bagi siapa pun. Dillon yang awalnya hanya mengharapkan solusi untuk nyeri bahunya, kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia mengidap Multiple Myeloma, sebuah bentuk kanker darah langka yang menyerang sel plasma di sumsum tulang.

Baca Juga Inovasi Digital Badan Gizi Nasional: Membedah Aplikasi Reviu Menu MBG dalam Menjamin Keamanan Pangan Generasi Bangsa
Inovasi Digital Badan Gizi Nasional: Membedah Aplikasi Reviu Menu MBG dalam Menjamin Keamanan Pangan Generasi Bangsa

Mengenal Multiple Myeloma: Kanker yang Merusak Tulang

Penyakit yang diidap Dillon, Multiple Myeloma, bukanlah kanker yang umum terdengar seperti kanker paru atau payudara. Ini adalah kondisi di mana sel plasma yang tidak normal berkembang biak secara tidak terkendali di sumsum tulang. Sel-sel kanker ini mengganggu produksi sel darah normal, yang dapat memicu anemia, gangguan fungsi ginjal, hingga peningkatan kadar kalsium dalam darah.

Yang paling relevan dengan kasus Dillon adalah bagaimana penyakit ini menyerang bagian keras tulang. Dr. Hearn Cho, spesialis yang menangani Dillon di MD Anderson Cancer Center, menjelaskan bahwa Multiple Myeloma seringkali menciptakan lesi pada tulang, membuatnya rapuh dan menyebabkan nyeri yang luar biasa. Inilah alasan mengapa nyeri bahu Dillon tak kunjung sembuh; rasa sakit itu bukan berasal dari otot yang robek, melainkan dari tulang yang sedang ‘dimakan’ oleh sel kanker dari dalam.

Dr. Cho juga menekankan bahwa tidak jarang penyakit ini salah didiagnosis sebagai cedera muskuloskeletal biasa, terutama pada tahap awal. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya pemeriksaan lanjutan jika rasa sakit pada tubuh tidak kunjung membaik dengan penanganan standar kesehatan tulang.

Baca Juga Lawan Ancaman Penyakit Kronis di Usia Muda, BPJS Kesehatan Gelar Fun Run 2026 sebagai Investasi Kesehatan Jangka Panjang
Lawan Ancaman Penyakit Kronis di Usia Muda, BPJS Kesehatan Gelar Fun Run 2026 sebagai Investasi Kesehatan Jangka Panjang

Perjuangan Melalui Siklus Pengobatan dan Radiasi

Setelah diagnosis dikonfirmasi di MD Anderson Cancer Center di Houston, Texas, Dillon memulai perjalanan panjang pengobatannya. Ia menjalani delapan siklus terapi intensif selama hampir satu tahun. Selama proses ini, Dillon menunjukkan ketegaran yang luar biasa dengan mendokumentasikan setiap langkah perjalanannya dalam sebuah jurnal harian.

Beruntung bagi Dillon, tubuhnya merespons pengobatan dengan sangat baik. Ia melaporkan tidak adanya efek samping yang merusak kualitas hidupnya secara signifikan. Namun, tantangan belum berakhir. Setelah menyelesaikan uji klinis, pemeriksaan menunjukkan masih ada sisa-sisa sel kanker yang bersarang di tulang bahunya. Tim medis memutuskan untuk melakukan beberapa sesi radiasi tambahan untuk memastikan area tersebut benar-benar bersih.

Hasilnya sangat memuaskan. Setelah radiasi diselesaikan, rasa sakit yang telah menghantui Dillon selama bertahun-tahun akhirnya sirna sepenuhnya. “Rasanya luar biasa bisa bebas dari rasa sakit dan terus melangkah maju,” ungkap Dillon dengan penuh rasa syukur. Bagi Dillon, kemampuan untuk kembali menggerakkan bahu tanpa rasa nyeri adalah keajaiban kecil yang sangat ia hargai.

Baca Juga Mengenal ‘Silent Killer’ di Balik Tragedi Glamping Temanggung: Bagaimana Karbon Monoksida Merenggut Nyawa Tanpa Suara
Mengenal ‘Silent Killer’ di Balik Tragedi Glamping Temanggung: Bagaimana Karbon Monoksida Merenggut Nyawa Tanpa Suara

Menatap Masa Depan: Remisi dan Kesadaran Masyarakat

Saat ini, Eric Dillon berada dalam kondisi remisi—sebuah istilah medis yang berarti tanda-tanda dan gejala kankernya telah berkurang atau hilang. Meskipun demikian, ia tetap waspada. Dillon rutin melakukan pemeriksaan berkala dengan tim onkologinya untuk memastikan kankernya tidak kembali aktif. Ia juga mengonsumsi satu jenis obat pemeliharaan setiap hari sebagai langkah preventif.

Kini, misi Dillon telah meluas. Ia tidak hanya ingin sehat untuk dirinya sendiri, tetapi juga ingin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gejala Multiple Myeloma yang seringkali tidak lazim. Ia ingin orang-orang tahu bahwa teknologi medis saat ini sudah sangat maju untuk membantu diagnosis dini dan pengobatan yang efektif.

“Ini bukan salah satu jenis kanker yang tidak ada obatnya,” kata Dillon dengan nada optimis. “Masa depannya cerah. Peluangnya sangat besar bagi siapa pun yang mendeteksinya lebih awal.” Kisah Dillon di SuaraInfo ini menjadi bukti bahwa meskipun kanker adalah lawan yang tangguh, dengan kewaspadaan, diagnosis yang tepat, dan semangat untuk sembuh, harapan akan masa depan yang indah tetap selalu ada.

Pesan utama dari kisah ini bagi pembaca adalah: jangan pernah mengabaikan sinyal dari tubuh Anda. Jika Anda mengalami nyeri yang persisten, jangan ragu untuk mencari opini kedua atau meminta pemeriksaan yang lebih mendalam. Pengetahuan adalah kekuatan, dan deteksi dini adalah kunci utama dalam memenangkan peperangan melawan kanker.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *