Membongkar Mitos Ultra Processed Food: Benarkah 5 Produk Harian Ini Berbahaya Bagi Kesehatan?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
23 Mei 2026, 11:26 WIB
Membongkar Mitos Ultra Processed Food: Benarkah 5 Produk Harian Ini Berbahaya Bagi Kesehatan?

SuaraInfo — Di tengah kesadaran masyarakat yang kian meningkat terhadap kesehatan, istilah Ultra Processed Food (UPF) mendadak menjadi momok yang menakutkan di meja makan. Perdebatan mengenai apa yang layak masuk ke dalam tubuh kita sering kali berujung pada labelisasi hitam-putih: makanan alami itu baik, dan makanan olahan itu jahat. Namun, benarkah faktanya sesederhana itu? Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan oleh diskusi hangat mengenai sarden kalengan yang kerap dituding sebagai biang kerok masalah kesehatan, padahal klasifikasinya dalam piramida pangan tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.

Memahami Labirin Klasifikasi Pangan: Apa Itu UPF Sebenarnya?

Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam daftar produk yang sering disalahpahami, kita perlu memahami dasar klasifikasinya. Dunia nutrisi internasional sering menggunakan sistem klasifikasi NOVA untuk membagi makanan menjadi empat kelompok berdasarkan derajat pemrosesannya. Kelompok pertama adalah makanan yang tidak diproses atau diproses minimal, seperti buah segar atau daging tanpa tambahan apa pun. Kelompok kedua adalah bahan kuliner olahan seperti minyak dan garam. Kelompok ketiga adalah makanan olahan (processed food) sederhana, dan barulah kelompok keempat disebut sebagai Ultra Processed Food.

Baca Juga Menguak Rahasia Warna Keju: Benarkah Warna Oranye Lebih Bergizi daripada Putih?
Menguak Rahasia Warna Keju: Benarkah Warna Oranye Lebih Bergizi daripada Putih?

UPF didefinisikan sebagai produk pangan yang dibuat melalui serangkaian proses industri yang kompleks, biasanya mengandung bahan-bahan yang tidak lazim ditemukan di dapur rumah tangga, seperti perisa sintetik, pewarna buatan, pengemulsi, dan zat aditif lainnya. Namun, di sinilah letak kerancuannya. Banyak produk di supermarket yang terlihat “industri banget”, namun secara teknis belum tentu masuk ke kategori ultra. Ketidaktahuan ini sering kali memicu kecemasan kesehatan masyarakat yang sebenarnya bisa diredam dengan edukasi yang tepat.

Sarden Kalengan: Si Praktis yang Terjebak Stigma

Produk pertama yang paling sering menjadi korban salah sangka adalah sarden kalengan. Banyak orang menganggap bahwa karena ia berada di dalam kaleng dan memiliki masa simpan yang lama, maka sarden otomatis menjadi UPF. Padahal, jika kita menilik label di balik kemasannya, sarden umumnya hanya terdiri dari ikan, minyak nabati atau saus tomat, dan garam. Proses pengalengan sendiri adalah metode pengawetan fisik melalui pemanasan suhu tinggi, bukan melalui penambahan bahan kimia yang bersifat “ultra”.

Baca Juga Cold Pressed Juice vs Jus Blender: Mana yang Lebih Sehat? Simak Fakta Nutrisi dan Perbandingannya
Cold Pressed Juice vs Jus Blender: Mana yang Lebih Sehat? Simak Fakta Nutrisi dan Perbandingannya

Para ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) baru-baru ini memberikan kritik terhadap stigma negatif ini. Sarden kalengan justru merupakan sumber protein dan omega-3 yang sangat terjangkau bagi masyarakat luas. Menghindari sarden hanya karena ketakutan akan label UPF justru bisa menjauhkan masyarakat dari akses nutrisi pangan yang penting. Selama tidak mengandung deretan zat aditif kosmetik seperti penguat rasa yang berlebihan atau pengental sintetis, sarden kaleng lebih tepat masuk dalam kategori Processed Food sederhana, bukan UPF.

Susu Kental Manis: Antara Karbohidrat dan Protein

Produk kedua yang sering memicu perdebatan sengit adalah susu kental manis (SKM). Banyak yang meragukan apakah produk ini masih bisa disebut susu. Secara proses, SKM dibuat dengan menguapkan sebagian air dari susu sapi dan menambahkan gula sebagai pengawet alami sekaligus penambah rasa. Meski kandungan gulanya sangat tinggi dan tidak disarankan sebagai pengganti ASI atau susu pertumbuhan, SKM bukanlah produk yang sepenuhnya “kosong”.

Dalam konteks keamanan pangan, SKM sering dianggap UPF oleh sebagian orang karena penambahan gula yang masif. Namun, secara struktur dasar, ia adalah produk olahan susu yang terkonsentrasi. Isu utamanya bukan pada apakah ia UPF atau bukan, melainkan pada pola konsumsinya. Masalah muncul ketika masyarakat menganggapnya sebagai sumber nutrisi utama, padahal fungsinya lebih condong sebagai bahan pelengkap kuliner atau topping.

Baca Juga Rahasia Umur Panjang ala Denmark: Menkes Budi Gunadi Ungkap Obesitas Sebagai Penghambat Utama Harapan Hidup
Rahasia Umur Panjang ala Denmark: Menkes Budi Gunadi Ungkap Obesitas Sebagai Penghambat Utama Harapan Hidup

Sayuran Beku dan Buah dalam Kemasan

Pernahkah Anda ragu membeli brokoli beku di supermarket karena dianggap tidak sehat? Ini adalah miskonsepsi ketiga yang perlu diluruskan. Banyak yang menyangka sayuran beku adalah produk ultra karena dikemas dalam plastik dan dijual di mesin pendingin. Kenyataannya, sebagian besar sayuran beku diproses dengan cara blanching (direbus singkat) lalu langsung dibekukan dengan teknologi flash-freezing.

Proses ini justru mengunci nutrisi sayuran pada puncak kesegarannya. Tanpa tambahan saus, mentega, atau perisa buatan, sayuran beku tetap masuk dalam kategori diproses minimal. Mengonsumsi sayuran beku jauh lebih baik daripada tidak makan sayur sama sekali hanya karena terobsesi dengan label “segar” yang sering kali justru sudah kehilangan banyak vitamin selama perjalanan panjang dari kebun ke pasar tradisional.

Roti Gandum Utuh dan Produk Sereal

Roti sering kali berada di wilayah abu-abu atau grey area. Ada perbedaan besar antara roti yang dibuat di toko roti lokal dengan bahan sederhana (tepung, air, ragi, garam) dan roti tawar produksi massal yang bisa bertahan berminggu-minggu di rak supermarket. Produk roti yang mengandung daftar panjang bahan seperti calcium propionate, DATEM (pengemulsi), dan pemanis buatan barulah bisa dikategorikan sebagai UPF.

Baca Juga Evaluasi Besar-besaran Program Makan Bergizi Gratis: Mengapa Insentif Rp 6 Juta per Hari Bakal Dihentikan?
Evaluasi Besar-besaran Program Makan Bergizi Gratis: Mengapa Insentif Rp 6 Juta per Hari Bakal Dihentikan?

Namun, banyak produk sereal atau roti gandum yang difortifikasi dengan vitamin dan mineral esensial sering kali dipukul rata sebagai makanan berbahaya. Di sini kita harus jeli melihat label. Fortifikasi atau penambahan zat gizi adalah langkah kebijakan kesehatan untuk mencegah defenisi nutrisi di tingkat populasi. Jadi, meskipun sebuah produk melalui proses industri, keberadaan zat gizi tambahan di dalamnya tidak lantas membuatnya menjadi sampah pangan.

Yogurt: Nutrisi vs Penambahan Rasa

Yogurt adalah contoh klasik bagaimana produk sehat bisa berubah menjadi UPF. Yogurt original tanpa rasa (plain) yang hanya mengandung susu dan kultur bakteri adalah makanan olahan yang sangat sehat bagi pencernaan. Namun, ketika industri menambahkan pewarna merah cerah, perisa stroberi sintetik, pengental, dan gula dalam jumlah tinggi, yogurt tersebut bergeser menjadi UPF.

Kesalahpahaman masyarakat adalah menganggap semua yogurt itu sama. Penting bagi konsumen untuk mulai belajar membaca tabel komposisi. Memilih yogurt yang diproses minimal akan memberikan manfaat probiotik maksimal tanpa beban tambahan bahan kimia yang tidak perlu.

Baca Juga Mengenal Hydration Break: Aturan Baru Piala Dunia 2026 yang Mengubah Wajah Sepak Bola Modern
Mengenal Hydration Break: Aturan Baru Piala Dunia 2026 yang Mengubah Wajah Sepak Bola Modern

Mengapa UPF Tidak Selalu Berarti Racun?

Satu hal yang perlu ditekankan dalam narasi yang dibangun oleh SuaraInfo kali ini adalah bahwa pemrosesan makanan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas gizi yang buruk. Memang benar bahwa konsumsi UPF secara berlebihan dikaitkan dengan risiko obesitas dan penyakit metabolik, namun menyamaratakan semua produk olahan sebagai “racun” adalah langkah yang keliru secara saintifik.

Pangan olahan diciptakan untuk menjawab tantangan zaman: ketahanan pangan, keamanan dari bakteri, dan kemudahan distribusi. Tanpa teknologi pangan, masyarakat di daerah terpencil mungkin tidak akan pernah merasakan protein ikan atau susu. Kuncinya bukan pada penghindaran total, melainkan pada moderasi dan kecerdasan dalam memilih produk. Kita perlu beralih dari sekadar melihat label depan yang penuh klaim pemasaran, menuju pembacaan daftar bahan yang ada di belakang kemasan.

Menjadi Konsumen yang Bijak di Era Industri

Sebagai penutup, perdebatan mengenai sarden atau susu kental manis seharusnya tidak membuat kita takut untuk makan. Sebaliknya, ini harus menjadi momentum bagi kita untuk lebih mengenal apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Tidak semua yang diproses di pabrik itu jahat, dan tidak semua yang berlabel “alami” itu aman jika tidak dikelola dengan benar.

Mulailah dengan menerapkan prinsip keseimbangan. Perbanyak konsumsi makanan utuh (whole foods), namun jangan merasa berdosa jika sesekali harus mengonsumsi makanan olahan karena tuntutan aktivitas. Yang paling penting adalah tetap aktif mencari informasi yang akurat dan tidak terjebak dalam arus hoaks atau ketakutan yang tidak berdasar. Masa depan gaya hidup sehat kita tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja, melainkan oleh keseluruhan pola makan dan kesadaran kita dalam memilih.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *