Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta
SuaraInfo — Kawasan pesisir utara Jakarta, khususnya daerah Kota Tua, seolah menjadi labirin waktu yang tak pernah habis menyimpan rahasia masa lalu. Di antara deretan bangunan tua yang merunduk dimakan usia, terdapat sebuah mahakarya arsitektur awal abad ke-20 yang masih berdiri dengan gagah, menyimpan memori kolektif tentang kejayaan salah satu perusahaan pelayaran terkaya di era kolonial Belanda. Bangunan ini bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan simbol kemakmuran yang pernah menjadi pusat logistik global pada masanya.
Gedung ini dikenal dengan nama Gedung Internasional. Keberadaannya menjadi sorotan utama dalam rute penelusuran sejarah bertajuk “Oud Batavia en Omstreken: Dulu & Sekarang”. Dipandu oleh Gilang Ramadhan, seorang pemandu berpengalaman dari Free Guided Tour UPK Old Town, rombongan pejalan diajak menyelami setiap sudut bangunan yang menyimpan sisa-sisa kemewahan era maritim. Meski berada di jantung Kota Tua yang didominasi struktur dari tahun 1800-an, Gedung Internasional memiliki karakter yang sedikit berbeda karena usianya yang relatif lebih muda.
Menelusuri Prasasti Peresmian 1912
Jika kita jeli memperhatikan bagian fondasi bangunan, terdapat sebuah prasasti batu yang mencatatkan tanggal bersejarah: 25 Mei 1912. Tanggal ini menandai kelahiran sebuah bangunan modern di masanya, yang dibangun dengan standar teknologi konstruksi yang jauh lebih maju dibandingkan tetangga-tetangganya. Gilang menjelaskan bahwa karena dibangun pada abad ke-20, gedung ini terlihat lebih kokoh dan memiliki detail desain yang lebih kompleks.
“Ini adalah produk awal abad ke-20. Itulah alasan mengapa fasadnya terlihat lebih segar dan strukturnya terasa jauh lebih solid dibandingkan bangunan-bangunan dari era 1800-an di sekitarnya. Pergeseran tren arsitektur dari gaya Neoklasik menuju gaya yang lebih modern dan fungsional sangat terasa di sini,” ujar Gilang saat memandu rombongan pada Selasa (8/4/2024).
Pada awal berdirinya, gedung ini menyandang nama yang cukup prestisius dan panjang: Van den Agent Der Internationale Crediet Enn Handelsvereeniging Rotterdam. Nama ini mencerminkan fungsinya sebagai pusat perkantoran bagi lembaga keuangan, asuransi, dan perusahaan dagang internasional. Namun, karena luasnya bangunan ini, pemiliknya memutuskan untuk menyewakan sebagian besar ruangannya kepada perusahaan-perusahaan elit lainnya.
Rotterdam Lloyd: Sang ‘Sultan’ Pelayaran Global
Salah satu penyewa yang paling menonjol dan menjadi identitas gedung ini hingga kini adalah Rotterdam Lloyd (RL). Dalam catatan sejarah maritim, Rotterdam Lloyd bukanlah perusahaan sembarangan. Ia merupakan satu dari lima perusahaan pelayaran terbesar atau yang sering dijuluki sebagai perusahaan ‘sultan’ milik Belanda. Perusahaan ini memegang kendali atas jalur-jalur logistik vital yang menghubungkan Hindia Belanda dengan dunia internasional.
Kejayaan Rotterdam Lloyd tidak hanya terlihat dari aset kapalnya, tetapi juga dari bagaimana mereka merepresentasikan diri melalui kantor pusatnya. Dari poster-poster promosi lawas yang pernah menghiasi dinding gedung ini, terungkap bahwa rute pelayarannya mencakup wilayah yang sangat luas. Mereka menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Sumatera dan Jawa hingga mencapai Ceylon (sekarang Sri Lanka) dan Mesir. Ini membuktikan bahwa dari gedung di Batavia inilah, koordinasi logistik lintas benua dikendalikan.
Detail Arsitektur yang Memukau: Kaca Patri dan Simbol Kerajaan
Memasuki area dalam Gedung Internasional adalah seperti masuk ke dalam mesin waktu. Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah keberadaan kaca patri (stained glass) yang masih terawat dengan sangat baik di lantai dua. Kaca berwarna-warni ini bukan sekadar hiasan, melainkan pernyataan status. Di sana, pengunjung bisa melihat perpaduan lambang Kota Batavia berdampingan dengan inisial ‘RL’—sebuah penghormatan visual bagi Rotterdam Lloyd.
Tak berhenti di situ, detail ornamen kayu pada kusen-kusen pintu juga menyimpan filosofi mendalam. Di sisi kanan gedung, terdapat sebuah ruangan yang dulunya berfungsi sebagai pusat keuangan dengan tulisan ‘Kas’ pada kusennya. Tepat di atas pintu tersebut, terukir patung singa bermahkota, yang merupakan lambang keagungan Kerajaan Belanda. Ukiran ini dikerjakan dengan tingkat ketelitian tinggi, menunjukkan betapa besarnya modal yang dikeluarkan untuk membangun kantor ini.
Bergeser ke sisi kiri, nuansa laut semakin kental terasa. Pengunjung akan disambut dengan ukiran kayu berbentuk kapal Galeon, jenis kapal layar besar yang populer di Eropa pada masa itu. “Ukiran-ukiran ini adalah bentuk branding masa lalu. Karena ini adalah markas perusahaan pelayaran, mereka ingin setiap orang yang masuk langsung merasakan atmosfer kekuatan maritim mereka,” tambah Gilang sambil menunjukkan detail serat kayu yang masih tampak asli.
Lantai Bersejarah dan Upaya Pelestarian
Keaslian gedung ini juga terjaga hingga ke bagian yang paling sering dipijak: lantai. Ubin keramik yang menghiasi lantai dan sebagian dinding adalah material asli yang dipasang sejak tahun 1912. Motif dan warnanya yang elegan mengingatkan kita pada lantai yang ada di Museum Bank Indonesia, memberikan kesan kemewahan yang tak lekang oleh waktu (timeless).
Saat ini, Gedung Internasional telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan berada di bawah pengelolaan Konsorsium Kota Tua. Upaya revitalisasi telah dilakukan untuk memastikan struktur bangunan tetap utuh tanpa menghilangkan nilai historisnya. Meski lantai dua saat ini cenderung kosong, pihak konsorsium membuka peluang bagi para pelaku usaha atau komunitas yang ingin menyewa ruangan tersebut untuk kegiatan bisnis maupun pertemuan privat.
Tantangan Vandalisme di Tengah Modernitas
Namun, di balik kemegahannya, Gedung Internasional tidak luput dari tangan-tangan jahil. Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa bagian dinding dan kusen pintu masih menjadi sasaran vandalisme berupa coretan cat semprot. Hal ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah dan komunitas dalam menjaga warisan leluhur.
Gilang Ramadhan menekankan bahwa pelestarian bangunan bersejarah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. “Vandalisme masih menjadi tantangan besar. Perlu ada sinergi antara edukasi masyarakat dan pengawasan yang ketat. Merawat gedung ini bukan sekadar menjaga tembok, tapi menjaga identitas sejarah bangsa agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
Bagi Anda yang ingin merasakan langsung kemewahan era pelayaran kolonial, berkunjung ke Gedung Internasional di Jakarta Utara adalah sebuah keharusan. Di sini, setiap sudut ruangan berbicara tentang bagaimana Jakarta pernah menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan dunia, sebuah warisan yang patut kita jaga bersama agar tidak hilang ditelan zaman.