Tragedi di Lereng Batukaru: Hilang Dua Pekan, Pendaki Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Kedalaman Jurang 93 Meter

Dimas Pratama | SuaraInfo
11 Mei 2026, 17:26 WIB
Tragedi di Lereng Batukaru: Hilang Dua Pekan, Pendaki Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Kedalaman Jurang 93 Meter

SuaraInfo — Kabar duka menyelimuti jagat pendakian di Pulau Dewata. Setelah upaya pencarian intensif yang memakan waktu selama dua pekan, misteri hilangnya seorang pendaki lansia di kawasan Gunung Batukaru, Kabupaten Tabanan, akhirnya menemui titik terang yang memilukan. I Made Dibia, pria berusia 84 tahun yang dilaporkan hilang sejak akhir April lalu, ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dasar sebuah jurang yang curam dan dalam.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan keganasan medan alam, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut namun tetap memiliki semangat tinggi untuk menaklukkan ketinggian. Penemuan jasad korban pada Sabtu (9/5) siang mengakhiri spekulasi dan harapan keluarga yang selama empat belas hari terus memanjatkan doa agar sang kakek ditemukan dalam keadaan selamat.

Kronologi Hilangnya Sang Penakluk Ketinggian

Tragedi ini bermula pada hari Sabtu, 25 April. Saat itu, I Made Dibia yang merupakan warga asal Banjar Sigaran, Desa Jegu, Penebel, memutuskan untuk ikut serta dalam rombongan pendakian menuju puncak Gunung Batukaru. Tak tanggung-tanggung, rombongan tersebut berjumlah 14 orang. Jalur yang mereka pilih adalah melalui Pura Jatiluwih, Banjar Dinas Sarinbuana, Desa Wanagiri, sebuah rute yang dikenal memiliki pemandangan luar biasa namun tetap menyimpan tantangan teknis yang tidak bisa diremehkan.

Baca Juga Jejak Sang Penguasa Hutan Jawa yang Kian Memudar: Antara Eksistensi Macan Tutul dan Misteri Harimau Jawa
Jejak Sang Penguasa Hutan Jawa yang Kian Memudar: Antara Eksistensi Macan Tutul dan Misteri Harimau Jawa

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim SuaraInfo, rombongan mulai merayap naik menembus hutan tropis Batukaru yang lebat. Namun, faktor usia tampaknya mulai berbicara. Sekitar pukul 15.00 Wita, ketika 10 orang rekan pendakinya telah berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi kedua di Bali tersebut, I Made Dibia bersama tiga pendaki lainnya masih tertinggal cukup jauh di belakang. Karena merasa stamina sudah tidak mencukupi untuk mencapai puncak, keempat orang ini, termasuk korban, memutuskan untuk memutar balik dan kembali menuju Pura Jatiluwih.

Keanehan terjadi saat perjalanan turun. I Made Dibia, yang meski sudah berusia senja namun dikenal masih cukup gesit, sempat mendahului ketiga rekannya yang lain. Ia berjalan lebih cepat dan menghilang di balik rimbunnya vegetasi hutan. Namun, saat ketiga rekannya tiba di titik kumpul Pura Jatiluwih sekitar pukul 18.30 Wita, sosok kakek berusia 84 tahun itu tidak terlihat di mana pun. Kekhawatiran pun mulai memuncak, dan laporan pendaki hilang segera diteruskan ke pihak berwenang.

Pengerahan 137 Personel Gabungan dalam Operasi Kemanusiaan

Kapolsek Selemadeg, Kompol I Made Subadi, dalam keterangannya menjelaskan bahwa skala operasi pencarian ini melibatkan sumber daya yang cukup besar. Sebanyak 137 personel gabungan dikerahkan untuk menyisir setiap jengkal lereng gunung. Sinergi ini melibatkan jajaran Polri, BPBD Kabupaten Tabanan, tim Basarnas, relawan pendaki, hingga warga lokal dari Desa Adat Sarinbuana dan Wanagiri yang sangat memahami karakteristik medan setempat.

Baca Juga Pesona Tersembunyi Curug Jami: Destinasi Healing Murah Meriah di Pelukan Gunung Sawal Ciamis
Pesona Tersembunyi Curug Jami: Destinasi Healing Murah Meriah di Pelukan Gunung Sawal Ciamis

Penyisiran dilakukan dengan membagi tim menjadi beberapa sektor. Fokus utama pencarian adalah jalur Munduk Ngandang, area yang diduga menjadi lokasi terakhir korban terlihat atau melenceng dari jalur utama. Medan yang dihadapi tim SAR tidaklah mudah. Selain kemiringan tanah yang ekstrem, cuaca di Batukaru seringkali tidak bersahabat, dengan kabut tebal yang tiba-tiba turun dan hujan yang membuat tanah menjadi licin dan berbahaya.

Penemuan Barang Pribadi dan Jasad di Dasar Jurang

Titik terang mulai muncul pada Sabtu siang sekitar pukul 13.30 Wita. Salah satu tim pencari menemukan sebuah tas yang tergeletak di jurang sebelah kiri atas Munduk Ngandang. Setelah diperiksa, tas tersebut dipastikan milik korban karena berisi obat-obatan pribadi dan perlengkapan rokok yang biasa dibawa oleh I Made Dibia. Temuan ini menjadi petunjuk krusial bagi tim untuk melakukan penyisiran vertikal.

Menggunakan peralatan high angle rescue, petugas kemudian menuruni jurang sedalam kurang lebih 93 meter dari permukaan tanah. Di dasar jurang yang gelap dan lembap itulah, petugas menemukan jasad korban. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan setelah terpapar elemen alam selama dua minggu. Pihak keluarga yang hadir di lokasi evakuasi memastikan identitas korban melalui pakaian dan barang-barang yang ditemukan di sekitar jasad.

Baca Juga Menjelajah Surga Nanas di Bolaang Mongondow: Keajaiban Cita Rasa Lobong Kuning yang Mendunia
Menjelajah Surga Nanas di Bolaang Mongondow: Keajaiban Cita Rasa Lobong Kuning yang Mendunia

Kendala Evakuasi: Cuaca Ekstrem dan Medan Terjal

Meski posisi jasad sudah ditemukan, proses evakuasi tidak bisa dilakukan seketika itu juga. Alam seolah memberikan tantangan terakhir bagi tim penyelamat. Kompol I Made Subadi menjelaskan bahwa medan yang sangat terjal ditambah dengan cuaca buruk memaksa tim untuk menghentikan operasi sementara waktu pada Sabtu sore.

“Langkah penghentian sementara ini diambil karena minimnya cahaya saat menjelang malam dan keterbatasan alat evakuasi khusus untuk menjangkau dasar jurang yang begitu dalam. Ditambah lagi, hujan deras dan kabut tebal di tengah cuaca ekstrem sangat membahayakan keselamatan jiwa para petugas,” jelas Subadi kepada awak media. Keputusan ini diambil demi keamanan bersama, dengan rencana melanjutkan proses pengangkatan jenazah pada hari Minggu (10/5).

Evaluasi Keselamatan di Kawasan Gunung Batukaru

Tragedi yang menimpa I Made Dibia ini kembali membuka diskusi mengenai standar keselamatan pendakian di Bali. Gunung Batukaru bukanlah gunung sembarangan; bagi masyarakat lokal, gunung ini adalah kawasan suci yang membutuhkan rasa hormat dan kewaspadaan tinggi. Jalur pendakiannya seringkali menipu dengan tutupan pohon yang rapat, sehingga pendaki yang kurang konsentrasi mudah sekali tersesat.

Baca Juga Mendorong Geliat Ekonomi Lewat Wisata Belanja: Kemenpar dan HIPPINDO Luncurkan Kampanye BINA Holiday 2026
Mendorong Geliat Ekonomi Lewat Wisata Belanja: Kemenpar dan HIPPINDO Luncurkan Kampanye BINA Holiday 2026

Para ahli pendakian menyarankan agar para pendaki lansia atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik selalu didampingi oleh pramuwisata lokal (guide) dan tidak dibiarkan terpisah dari rombongan, sekecil apa pun jaraknya. Kasus ini menunjukkan bahwa dalam hitungan menit, seorang pendaki bisa kehilangan arah dan terjebak dalam situasi yang mengancam nyawa.

Saat ini, jenazah korban telah berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk menjalani prosesi adat dan pemakaman. Seluruh jajaran kepolisian dan pemerintah daerah menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kejadian ini. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pecinta alam agar selalu mengutamakan keselamatan di atas ego untuk mencapai puncak.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *