Tragedi di Kawah Dukono: Kisah Pilu Istri Pendaki Singapura yang Kehilangan Belahan Jiwa Setelah 6 Bulan Menikah

Dimas Pratama | SuaraInfo
12 Mei 2026, 11:28 WIB
Tragedi di Kawah Dukono: Kisah Pilu Istri Pendaki Singapura yang Kehilangan Belahan Jiwa Setelah 6 Bulan Menikah

SuaraInfo — Takdir sering kali menuliskan skenario yang sulit dicerna oleh nalar manusia, menyisakan duka yang mendalam di balik megahnya alam bebas. Bagi Nurina Iffah Jusmani, sebuah perjalanan pendakian yang seharusnya menjadi bagian dari cerita petualangan suaminya, justru berubah menjadi babak akhir yang menyayat hati. Suaminya, Shahin Muhrez Abdul Hamid, seorang warga negara Singapura berusia 27 tahun, mengembuskan napas terakhirnya di pelukan Gunung Dukono, Halmahera Utara, setelah terjebak dalam erupsi yang tak terduga.

Cinta yang Singkat Namun Tak Tertandingi

Kepergian Shahin bukan sekadar berita tentang kecelakaan di gunung, melainkan kisah tentang cinta yang baru saja mekar namun harus layu sebelum waktunya. Pasangan muda ini baru saja mengikat janji suci pada Oktober 2025. Namun, hanya berselang enam bulan setelah hari bahagia itu, Nurina harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pria yang ia cintai telah berpulang ke haribaan Tuhan. Hubungan yang masih dalam masa bulan madu ini menyisakan kekosongan yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.

“Tuhan hanya meminjamkannya kepada saya selama enam bulan. Namun dalam waktu sesingkat itu, saya merasakan cinta yang tak tertandingi,” ungkap Nurina dengan nada tegar namun penuh kepedihan, sebagaimana dirangkum oleh tim redaksi kami. Bagi Nurina, Shahin bukan sekadar suami, melainkan teman hidup yang membawa kebahagiaan luar biasa dalam waktu yang sangat singkat. Kehilangan ini terasa semakin berat mengingat rencana masa depan yang telah mereka susun dengan rapi untuk membangun biduk rumah tangga yang harmonis.

Baca Juga Farhan Geram! Alun-alun Bandung Ditutup Lagi Akibat Hasil Renovasi Miliaran Rupiah yang ‘Raruksak’
Farhan Geram! Alun-alun Bandung Ditutup Lagi Akibat Hasil Renovasi Miliaran Rupiah yang ‘Raruksak’

Mimpi yang Terkubur di Bawah Abu Vulkanik

Sebuah rumah di kawasan Sengkang, Singapura, seharusnya menjadi saksi bisu dimulainya fase baru kehidupan mereka. Nurina menceritakan bahwa mereka telah bersiap untuk menempati hunian tersebut dan memulai rutinitas sebagai pasangan suami istri yang utuh. Namun, alam memiliki kehendak lain. Rencana untuk mengisi rumah tersebut dengan tawa dan kenangan manis kini harus terkubur bersama abu vulkanik di puncak Gunung Dukono.

Meski hatinya hancur, Nurina mencoba untuk bersikap ikhlas. Ia percaya bahwa setiap kejadian, sekecil apa pun, merupakan bagian dari rencana besar Sang Pencipta yang melampaui pemahaman manusia. “Kami seharusnya memulai fase baru di rumah kami di Sengkang, tetapi saya percaya Tuhan adalah perencana terbaik,” tuturnya. Ketabahan Nurina menjadi refleksi betapa dalamnya rasa cinta dan rasa hormat yang ia miliki terhadap mendiang suaminya.

Kado Pahit di Hari Ibu untuk Sang Ibunda

Duka ini tidak hanya milik Nurina. Noraini Ibrahim, ibunda Shahin, harus menelan pil pahit tepat di hari yang seharusnya menjadi momen perayaan bagi para ibu di seluruh dunia. Kabar meninggalnya sang putra bungsu ia terima pada 10 Mei 2026, yang bertepatan dengan perayaan Hari Ibu. Bagi seorang ibu, kehilangan anak adalah jenis kesedihan yang tak memiliki penawar, sebuah lubang di hati yang mungkin tidak akan pernah benar-benar tertutup.

Baca Juga Horor Rem Blong di Jalur Maut Karanganyar: Bus Rombongan Pendaki Gunung Lawu Hantam Rumah Makan, Puluhan Terluka
Horor Rem Blong di Jalur Maut Karanganyar: Bus Rombongan Pendaki Gunung Lawu Hantam Rumah Makan, Puluhan Terluka

Noraini menggambarkan Shahin sebagai sosok yang sangat luar biasa. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Shahin dikenal sebagai pribadi yang saleh dan sangat mengutamakan kepentingan keluarga di atas segalanya. “Kehilangan Shahin seperti tembok tempat saya bersandar runtuh,” ujar Noraini dengan penuh emosi. Baginya, Shahin adalah pilar kekuatan yang selalu memberikan pengabdian tanpa batas. Karakter Shahin yang penuh kasih membuat kepergiannya meninggalkan luka yang teramat dalam bagi seluruh keluarga besar.

Jiwa Petualang yang Mencintai Ketinggian

Shahin Muhrez Abdul Hamid bukanlah sosok baru dalam dunia pendaki gunung. Ia dikenal sebagai pencinta alam sejati yang selalu haus akan tantangan dan keindahan dari puncak-puncak tertinggi. Sebelum memutuskan untuk mengeksplorasi keindahan Maluku Utara, Shahin sempat menaklukkan Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia, hanya beberapa bulan sebelumnya. Kegemarannya pada aktivitas outdoor membawanya berkelana ke berbagai penjuru, mencari ketenangan di tengah rimbunnya hutan dan dinginnya udara gunung.

Kunjungannya ke Indonesia kali ini direncanakan untuk mendaki tiga gunung berbeda di wilayah Maluku Utara. Sayangnya, Gunung Dukono menjadi destinasi terakhir dalam catatan perjalanannya. Ketertarikannya pada fenomena geologi dan keindahan alam Halmahera Utara memang sangat besar, namun tak ada yang menyangka bahwa gunung api yang aktif tersebut akan menunjukkan sisi ganasnya tepat saat Shahin berada di zona bahaya.

Baca Juga Tragedi Maut di Grobogan: Detik-detik Avanza Terhantam Argo Bromo Anggrek Hingga Terpental ke Sawah
Tragedi Maut di Grobogan: Detik-detik Avanza Terhantam Argo Bromo Anggrek Hingga Terpental ke Sawah

Kronologi Tragedi di Puncak Dukono

Tragedi ini bermula ketika rombongan pendaki yang terdiri dari 20 orang—9 warga negara Singapura dan 11 warga Indonesia—memulai pendakian pada 7 Mei. Semuanya tampak berjalan normal hingga erupsi gunung api terjadi secara mendadak. Gunung Dukono memuntahkan material vulkanik berupa batu-batu panas dan abu pekat ke area pendakian, menciptakan situasi kacau yang memaksa para pendaki untuk menyelamatkan diri di tengah visibilitas yang buruk dan ancaman maut.

Dalam kekacauan tersebut, tiga orang dilaporkan hilang, termasuk Shahin. Tim SAR gabungan segera melakukan upaya pencarian dan penyelamatan di tengah kondisi medan yang masih sangat berbahaya. Korban pertama, seorang warga negara Indonesia, ditemukan pada 9 Mei. Namun, nasib Shahin dan rekan sesama warga Singapura, Timothy Heng (30), baru diketahui dua hari kemudian.

Ditemukan Berdampingan dalam Pelukan Terakhir

Sebuah detail yang sangat mengharukan terungkap saat proses evakuasi. Jasad Shahin dan Timothy Heng ditemukan dalam posisi berdampingan di dekat puncak gunung. Seolah-olah dalam detik-detik terakhir kehidupan mereka, keduanya mencoba untuk saling menguatkan atau berlindung bersama dari amukan material vulkanik. Keadaan jasad yang terdampak hebat oleh material panas menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan alam yang mereka hadapi saat itu.

Baca Juga Menelisik Keunikan Dukuh Mao di Klaten: Dusun Tiga Huruf dengan Makna ‘Sang Penguasa Hutan’ yang Melegenda
Menelisik Keunikan Dukuh Mao di Klaten: Dusun Tiga Huruf dengan Makna ‘Sang Penguasa Hutan’ yang Melegenda

Sementara itu, tujuh rekan pendaki asal Singapura lainnya berhasil dievakuasi dengan selamat. Mereka telah kembali ke negara asal pada 10 Mei, membawa trauma dan kenangan pahit tentang perjalanan yang seharusnya berakhir menyenangkan. Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi para pegiat wisata gunung api untuk selalu waspada dan mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.

Pelajaran Berharga tentang Keamanan Mendaki

Tragedi di Gunung Dukono ini kembali memicu diskusi mengenai pentingnya manajemen risiko dalam aktivitas pendakian di gunung api aktif. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan berbagai otoritas terkait telah berulang kali menghimbau agar pendaki tidak menukar nyawa mereka demi konten media sosial atau kepuasan sesaat di zona bahaya. Alam memiliki siklusnya sendiri, dan sebagai tamu, manusia harus memiliki rasa hormat serta kewaspadaan yang tinggi.

Kepergian Shahin meninggalkan pesan moral yang kuat: bahwa hidup sangatlah berharga dan bisa berubah dalam sekejap. Di balik setiap angka statistik kecelakaan di gunung, ada keluarga yang menanti di rumah, ada istri yang mendamba kehadiran suami, dan ada ibu yang selalu mendoakan keselamatan anaknya. Kini, Shahin telah tenang di peristirahatan terakhirnya, meninggalkan warisan berupa cinta dan pengabdian yang akan selalu dikenang oleh mereka yang mencintainya.

Baca Juga Kilau Sejarah di Balik Tanah Magelang: Temuan Kepingan Emas dan Arca Dewa Surya di Candi Losari Terkonfirmasi Asli
Kilau Sejarah di Balik Tanah Magelang: Temuan Kepingan Emas dan Arca Dewa Surya di Candi Losari Terkonfirmasi Asli
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *