Mengungkap Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Harus Dihindari atau Justru Penyelamat Kesehatan?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
25 Apr 2026, 09:37 WIB
Mengungkap Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Harus Dihindari atau Justru Penyelamat Kesehatan?

SuaraInfo — Di balik meja makan masyarakat Indonesia, tempe telah lama bertahta sebagai primadona yang tak tergantikan. Harganya yang merakyat dan cita rasanya yang fleksibel menjadikannya sumber protein andalan lintas generasi. Namun, di balik popularitasnya, terselip sebuah kekhawatiran yang sering kali menghantui para orang tua dan penderita nyeri sendi: benarkah tempe adalah pemicu utama kenaikan kadar asam urat?

Stigma ini begitu kuat melekat sehingga banyak orang langsung memangkas konsumsi tempe dari daftar menu harian mereka begitu merasakan denyut nyeri di persendian. Fenomena ini menarik untuk dibedah lebih dalam. Apakah kita sedang menghakimi pahlawan gizi yang salah, ataukah memang ada dasar ilmiah di balik tuduhan tersebut? Tim redaksi SuaraInfo mencoba menelusuri fakta medis dan pandangan para ahli untuk meluruskan kesalahpahaman yang telah mendarah daging ini.

Mengenal Purin: Musuh yang Sering Salah Alamat

Untuk memahami hubungan antara tempe dan radang sendi, kita harus terlebih dahulu mengenal apa itu purin. Purin adalah senyawa kimia alami yang ditemukan dalam banyak makanan dan juga diproduksi oleh tubuh manusia. Ketika tubuh memecah purin, hasil sampingannya adalah asam urat. Dalam kondisi normal, asam urat ini akan larut dalam darah dan dikeluarkan melalui urine.

Baca Juga Terobosan Medis Abad Ini: Angka Kematian Kanker Serviks Usia Muda Mencapai Titik Nol Berkat Vaksin HPV
Terobosan Medis Abad Ini: Angka Kematian Kanker Serviks Usia Muda Mencapai Titik Nol Berkat Vaksin HPV

Persoalan muncul ketika kadar asam urat melampaui ambang batas normal, sehingga membentuk kristal tajam di persendian yang memicu rasa sakit luar biasa. Di sinilah tempe sering menjadi kambing hitam. Sebagai produk olahan kedelai, tempe memang mengandung purin. Namun, yang sering luput dari perhatian publik adalah klasifikasi kadar purin tersebut.

Dalam literatur gizi, makanan dengan kadar purin tinggi biasanya mengandung lebih dari 200 mg purin per 100 gram bahan makanan. Contohnya adalah jeroan, daging merah tertentu, dan beberapa jenis seafood. Tempe, di sisi lain, masuk dalam kategori makanan dengan purin rendah hingga sedang. Artinya, dampak tempe terhadap lonjakan asam urat tidaklah sesignifikan yang dibayangkan banyak orang selama ini.

Sains di Balik Protein Nabati vs Protein Hewani

Penelitian epidemiologi terbaru memberikan angin segar bagi para pecinta tempe. Studi menunjukkan bahwa konsumsi purin dari sumber nabati—seperti kacang-kacangan dan olahannya—memiliki kaitan yang jauh lebih lemah terhadap risiko serangan gout (radang sendi akibat asam urat) dibandingkan dengan konsumsi purin dari sumber hewani.

Baca Juga Mengenal Fenomena Gaslighting di Tengah Viral Kasus MC Lomba Cerdas Cermat MPR RI 2026
Mengenal Fenomena Gaslighting di Tengah Viral Kasus MC Lomba Cerdas Cermat MPR RI 2026

Mengapa demikian? Hal ini diduga kuat karena perbedaan komposisi zat gizi pendampingnya. Makanan nabati seperti tempe kaya akan serat, vitamin, dan berbagai senyawa bioaktif yang justru membantu proses metabolisme tubuh. Serat dalam tempe dapat membantu mengontrol penyerapan zat-zat tertentu, sementara mineral di dalamnya mendukung fungsi ginjal dalam membuang sisa metabolisme.

Oleh karena itu, menghindari tempe secara total karena takut asam urat justru bisa menjadi langkah yang kurang tepat. Kehilangan asupan protein nabati yang berkualitas tanpa pengganti yang sepadan malah berisiko mengganggu keseimbangan gizi harian Anda.

Keajaiban Fermentasi: Rahasia Sehat di Balik Kapang Tempe

Salah satu poin krusial yang membuat tempe berbeda dari kacang kedelai mentah adalah proses fermentasinya. Dalam pembuatan tempe, digunakan kapang Rhizopus oligosporus yang bekerja secara ajaib mengubah struktur kimia kedelai. Menurut para pakar, proses ini sangat menentukan kualitas akhir tempe bagi kesehatan manusia.

Wida Winarno, seorang pegiat fermentasi pangan terkemuka dan co-founder Indonesia Tempe Movement, menjelaskan bahwa fermentasi memecah senyawa kompleks dalam kedelai menjadi bentuk yang lebih sederhana dan mudah diserap. “Berdasarkan penelitian ilmiah yang ada, tidak terbukti bahwa tempe itu menyebabkan asam urat. Justru proses fermentasinya membuat tempe lebih baik untuk kesehatan,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan bersama SuaraInfo.

Baca Juga Mengenal Hydration Break: Aturan Baru Piala Dunia 2026 yang Mengubah Wajah Sepak Bola Modern
Mengenal Hydration Break: Aturan Baru Piala Dunia 2026 yang Mengubah Wajah Sepak Bola Modern

Proses biologis selama fermentasi ini tidak hanya meningkatkan bioavailabilitas protein, tetapi juga menciptakan komponen kesehatan lainnya. Tempe mengandung apa yang disebut sebagai probiotik (bakteri baik), prebiotik (makanan bakteri baik), dan bahkan paraprobiotik yang tetap memberikan manfaat meski tempe telah melalui proses pemanasan atau pemasakan.

Raw atau Cooked? Memilih Cara Menikmati Tempe

Muncul tren di tengah masyarakat mengenai cara mengonsumsi tempe mentah demi mengejar manfaat enzim dan bakteri baiknya. Menanggapi hal ini, perspektif jurnalisme kesehatan kami menemukan bahwa baik tempe mentah maupun matang memiliki keunggulannya masing-masing. Konsumsi tempe mentah (dengan catatan proses produksinya higienis) memang memberikan asupan probiotik hidup yang melimpah.

Namun, bagi Anda yang lebih menyukai tempe yang diolah, jangan berkecil hati. Tempe yang dimasak tetap mengandung paraprobiotik dan senyawa bioaktif lainnya yang tetap berperan penting dalam memperkuat sistem imun tubuh. Pemanasan memang mematikan mikroorganisme hidup, tetapi struktur seluler mereka masih memberikan stimulus positif bagi sistem kekebalan kita.

Kunci utamanya terletak pada cara pengolahan. Menggoreng tempe dengan minyak yang digunakan berulang kali atau suhu yang terlalu tinggi (deep fried) mungkin akan menambah asupan lemak jenuh yang tidak diinginkan. Untuk penderita asam urat, mengolah tempe dengan cara dikukus, dipanggang, atau ditumis dengan sedikit minyak zaitun adalah pilihan yang jauh lebih bijak untuk menjaga pola makan sehat.

Baca Juga Komitmen Kemanusiaan: Menkes Kawal Penuh Rekonstruksi Wajah Korban Penyekapan Tiga Tahun di Bandung
Komitmen Kemanusiaan: Menkes Kawal Penuh Rekonstruksi Wajah Korban Penyekapan Tiga Tahun di Bandung

Tempe sebagai Superfood Masa Depan

Dengan segala profil nutrisi yang dimilikinya, tidak berlebihan jika tempe kini mulai dilirik dunia internasional sebagai superfood. Selain protein, tempe mengandung kalsium, zat besi, dan vitamin B12 yang jarang ditemukan pada sumber nabati lainnya. Ini menjadikannya sekutu yang kuat dalam menjaga kesehatan tulang dan mencegah anemia.

Bagi mereka yang memiliki riwayat asam urat, yang perlu dijaga bukanlah penghindaran total terhadap tempe, melainkan moderasi dan keseimbangan gaya hidup secara menyeluruh. Faktor-faktor seperti konsumsi alkohol, minuman berpemanis fruktosa tinggi, dan kurangnya aktivitas fisik justru memiliki peran yang lebih besar dalam memicu kekambuhan asam urat dibandingkan sepotong tempe di piring Anda.

Kesimpulan: Jangan Takut Makan Tempe

Sebagai rangkuman dari penelusuran SuaraInfo, mitos bahwa tempe adalah penyebab utama asam urat tidaklah didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Sebagai bagian dari diet seimbang, tempe tetap merupakan sumber nutrisi yang aman dan sangat direkomendasikan karena manfaatnya yang luas bagi pencernaan dan sistem imun.

Baca Juga Standar Baru Program Makan Bergizi Gratis: Kriteria Dapur yang Bakal Disetop Mulai 2 Juni 2026
Standar Baru Program Makan Bergizi Gratis: Kriteria Dapur yang Bakal Disetop Mulai 2 Juni 2026

Langkah terbaik bagi Anda adalah tetap memantau respon tubuh secara personal dan selalu berkonsultasi dengan ahli gizi jika memiliki kondisi medis khusus. Mari kita kembalikan kehormatan tempe di meja makan kita—sebagai simbol pangan lokal yang sehat, bergizi, dan penuh kearifan budaya.

Jadi, tidak perlu ragu lagi untuk menyertakan olahan kedelai fermentasi ini dalam menu harian Anda. Tempe bukan sekadar makanan murah, melainkan sebuah mahakarya bioteknologi tradisional yang telah teruji waktu dalam menjaga kesehatan bangsa.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *