Mengenal Gaslighting dan Dampak Ngerinya bagi Mental: Belajar dari Kasus Viral Cerdas Cermat MPR

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
14 Mei 2026, 05:26 WIB
Mengenal Gaslighting dan Dampak Ngerinya bagi Mental: Belajar dari Kasus Viral Cerdas Cermat MPR

SuaraInfo — Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah potongan video yang memicu perdebatan panas di kalangan netizen. Kejadian ini bermula dari perhelatan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang diselenggarakan oleh MPR RI. Namun, alih-alih menjadi ajang adu kecerdasan yang suportif, perhatian publik justru tertuju pada sikap pemandu acara atau MC dan dewan juri yang dinilai melakukan praktik gaslighting terhadap peserta didik yang tengah berkompetisi.

Situasi bermula ketika salah satu tim peserta memberikan jawaban yang sebenarnya tepat, namun juri justru menyatakannya salah. Saat peserta mencoba memberikan argumentasi dan menyuarakan protes secara sopan, respons yang didapat justru sangat mengecewakan. MC dalam acara tersebut melontarkan kalimat yang dianggap sebagai bentuk peremehan: “Hanya perasaan adik-adik saja.” Kalimat pendek ini, meski terdengar sederhana, mengandung esensi dari manipulasi psikologis yang kini ramai dibahas dengan istilah gaslighting.

Apa Itu Gaslighting Sebenarnya?

Istilah gaslighting mungkin sering terdengar di media sosial, namun banyak orang yang belum memahami kedalaman maknanya. Gaslighting bukan sekadar berbohong atau bersikap tidak menyenangkan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim redaksi SuaraInfo dari berbagai sumber medis termasuk Cleveland Clinic, gaslighting adalah bentuk pelecehan emosional yang sangat spesifik dan manipulasi mental yang bertujuan untuk membuat korban meragukan persepsi, ingatan, atau kewarasan mereka sendiri.

Baca Juga Ancaman Hantavirus di Samudra: Misteri Penularan Antarmanusia di Kapal Pesiar MV Hondius
Ancaman Hantavirus di Samudra: Misteri Penularan Antarmanusia di Kapal Pesiar MV Hondius

Psikolog Chivonna Childs menjelaskan bahwa inti dari perilaku ini adalah membuat perasaan seseorang menjadi tidak valid. Pelaku mencoba meyakinkan korban bahwa apa yang mereka alami sebenarnya tidak pernah terjadi atau hanya imajinasi belaka. Dalam konteks lomba MPR tersebut, pernyataan bahwa protes peserta hanyalah “perasaan” mereka sendiri merupakan upaya untuk mengalihkan kesalahan juri dan membuat peserta mempertanyakan kebenaran yang mereka yakini.

Seiring berjalannya waktu, paparan terhadap perilaku ini dapat merusak rasa percaya diri seseorang secara fundamental. Korban tidak lagi mempercayai insting mereka dan mulai bergantung pada narasi yang dibangun oleh sang manipulator untuk memahami realitas mereka sendiri.

Kronologi Kontroversi: Mengapa Publik Begitu Geram?

Dalam video yang viral tersebut, terlihat jelas adanya ketimpangan relasi kuasa. Juri dan MC berada di posisi otoritas, sementara peserta adalah siswa yang berada dalam tekanan kompetisi. Ketika juri menunjukkan sikap defensif dan malah menyalahkan artikulasi peserta sebagai alasan jawaban mereka tidak diterima, hal ini dipandang sebagai bentuk arogansi dan sikap antikritik.

Baca Juga Mengapa Indonesia Terbebas dari Ancaman Gelombang Panas Seperti Eropa? Simak Analisis Mendalam BMKG
Mengapa Indonesia Terbebas dari Ancaman Gelombang Panas Seperti Eropa? Simak Analisis Mendalam BMKG

Netizen Indonesia, yang dikenal sangat kritis, langsung menjadikan insiden ini sebagai bahan diskusi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Mereka menilai bahwa sikap meremehkan perasaan peserta adalah bentuk pendidikan yang buruk, di mana nilai kejujuran dan objektivitas dikalahkan oleh ego penyelenggara.

Dampak Psikologis yang Fatal bagi Korban

Dampak dari gaslighting tidak bisa dipandang sebelah mata. Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi mengungkapkan bahwa manipulasi psikologis semacam ini bisa meninggalkan luka batin yang dalam. Salah satu dampak yang paling nyata adalah hilangnya kepercayaan diri secara drastis.

“Korban gaslighting akan merasa tidak yakin dengan pemikiran dan perasaannya sendiri. Hal ini terjadi karena informasi yang mereka miliki terus-menerus dimanipulasi atau diputarbalikkan oleh lawan bicaranya,” ujar Anastasia dalam sebuah kesempatan wawancara. Ketika seorang siswa yang sudah belajar keras dan memberikan jawaban benar justru dipersalahkan dan diremehkan perasaannya, nilai-nilai kebenaran yang mereka pelajari selama ini menjadi goyah.

Selain masalah kepercayaan diri, terdapat beberapa risiko kesehatan mental lainnya yang mengintai korban gaslighting:

Baca Juga Ancaman Kenaikan Harga Obat: Dilema Industri Farmasi dan Nasib Apotek Rakyat di Tengah Fluktuasi Rupiah
Ancaman Kenaikan Harga Obat: Dilema Industri Farmasi dan Nasib Apotek Rakyat di Tengah Fluktuasi Rupiah
  • Kecemasan yang Meningkat: Korban akan selalu merasa khawatir apakah apa yang mereka sampaikan akan diterima atau justru dianggap salah lagi. Muncul ketakutan konstan untuk dinilai berlebihan atau aneh oleh orang lain.
  • Overthinking yang Berlebihan: Pikiran korban akan dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyalahkan diri sendiri, seperti “Apakah aku yang salah tangkap?” atau “Apakah aku memang tidak cukup baik?”
  • Penurunan Mood dan Depresi: Jika terus berlanjut, kondisi ini bisa mengarah pada gejala depresi. Korban merasa tidak dipahami, merasa tidak mampu, dan kehilangan harapan akan masa depan yang baik karena merasa realitasnya selalu diingkari.

Mengenali Bentuk-Bentuk Manipulasi Emosional

Penting bagi kita untuk mengenali pola-pola gaslighting agar tidak terjebak dalam lingkaran manipulasi tersebut. SuaraInfo telah merangkum beberapa perilaku umum yang sering ditunjukkan oleh pelaku gaslighting dalam interaksi sosial:

  1. Menyangkal Kesalahan: Meskipun bukti sudah jelas, pelaku akan tetap bersikeras bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apapun.
  2. Mengalihkan Argumen: Alih-alih menjawab inti persoalan, pelaku akan menyerang karakter atau cara penyampaian korban (seperti menyalahkan artikulasi bicara).
  3. Membuat Korban Merasa Bersalah: Pelaku memutarbalikkan fakta sehingga seolah-olah korbanlah yang menjadi penyebab masalah tersebut muncul.
  4. Meremehkan Perasaan (Trivializing): Menggunakan kalimat seperti “Kamu terlalu sensitif,” “Jangan baper,” atau “Itu cuma perasaanmu saja.”
  5. Berbohong secara Terang-terangan: Memberikan informasi palsu dengan penuh keyakinan untuk membingungkan ingatan korban.

Pentingnya Literasi Kesehatan Mental di Lingkungan Formal

Kasus di lomba cerdas cermat MPR ini menjadi pengingat keras bagi instansi pemerintah dan penyelenggara acara formal lainnya. Memiliki pengetahuan tentang manipulasi emosional sangatlah penting, terutama bagi mereka yang berinteraksi dengan generasi muda.

Baca Juga Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan
Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan

Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga soal menghargai proses dan integritas peserta didik. Ketika sebuah kesalahan terjadi, mengakui kesalahan tersebut justru menunjukkan kualitas karakter yang lebih tinggi dibandingkan bersikap defensif. Gaslighting di panggung publik seperti ini memberikan contoh yang buruk tentang bagaimana cara menangani perbedaan pendapat dan kritik.

Langkah yang Harus Diambil Jika Menjadi Korban

Jika Anda merasa sedang berada dalam situasi di mana seseorang terus-menerus meragukan realitas Anda, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi kesehatan mental Anda:

  • Percayai Insting Anda: Ingatlah bahwa perasaan dan persepsi Anda adalah valid. Jangan biarkan orang lain mendikte apa yang Anda rasakan.
  • Simpan Bukti: Dalam situasi formal, dokumentasi (seperti rekaman atau catatan) sangat penting untuk memvalidasi apa yang sebenarnya terjadi.
  • Cari Dukungan: Bicaralah dengan teman yang tepercaya atau profesional di bidang kesehatan mental untuk mendapatkan perspektif luar yang objektif.
  • Batasi Interaksi: Jika memungkinkan, kurangi atau putus komunikasi dengan orang yang secara konsisten melakukan manipulasi terhadap Anda.

Mari kita belajar dari insiden ini untuk menjadi pribadi yang lebih empatik dan menghargai orang lain. Realitas seseorang bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan demi menjaga ego atau otoritas semata. Tetaplah waspada terhadap segala bentuk manipulasi psikologis demi menjaga kesehatan jiwa kita di masa depan.

Baca Juga Ancaman Virus Ebola Capai Prancis: Pasien Nol Terdeteksi, Otoritas Perketat Protokol Kesehatan Global
Ancaman Virus Ebola Capai Prancis: Pasien Nol Terdeteksi, Otoritas Perketat Protokol Kesehatan Global
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *