Debat Viral Sarden Kalengan: Membedah Mitos UPF dan Realita Nutrisi di Balik Kemasan

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
21 Mei 2026, 07:33 WIB
Debat Viral Sarden Kalengan: Membedah Mitos UPF dan Realita Nutrisi di Balik Kemasan

SuaraInfo — Jagat media sosial baru-baru ini dihangatkan oleh sebuah perdebatan yang cukup menarik perhatian publik, khususnya bagi mereka yang peduli dengan isu kesehatan dan pola makan. Perdebatan tersebut berpusat pada satu pertanyaan sederhana namun mendalam: apakah sarden kalengan termasuk dalam kategori Ultra Processed Food (UPF) atau tidak? Diskusi ini menjadi viral setelah banyak netizen baru menyadari bahwa tidak semua produk dalam kaleng secara otomatis menyandang predikat UPF, sebuah istilah yang belakangan ini sering diasosiasikan dengan makanan tidak sehat.

Fenomena ini menarik untuk ditelisik lebih jauh karena mencerminkan adanya pergeseran paradigma di masyarakat. Jika sebelumnya sarden kalengan dianggap sebagai pilihan ‘alternatif’ yang kurang bergizi karena proses pengolahannya, kini pandangan tersebut mulai goyah. Namun, benarkah label non-UPF secara otomatis membuat sebuah produk menjadi ‘si paling sehat’? Mari kita bedah secara mendalam dari sudut pandang jurnalisme pangan yang lebih komprehensif.

Memahami Klasifikasi NOVA: Kompas dalam Memilih Pangan

Untuk memahami polemik ini, kita harus merujuk pada sistem klasifikasi NOVA yang dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Sao Paulo, Brasil. Sistem ini tidak menilai makanan berdasarkan kandungan nutrisi makronya saja, melainkan berdasarkan tingkat dan tujuan pemrosesan industrinya. Dalam perspektif gaya hidup sehat, pemahaman terhadap NOVA sangatlah krusial.

Baca Juga Rahasia Pola Asuh Nutrisi ala Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck: Kunci Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Era Modern
Rahasia Pola Asuh Nutrisi ala Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck: Kunci Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Era Modern

Klasifikasi NOVA membagi makanan menjadi empat kelompok utama:

  • Kelompok 1: Unprocessed or Minimally Processed Foods. Ini adalah bahan pangan asli seperti buah segar, sayuran, telur, susu murni, dan ikan segar yang belum ditambah apa pun.
  • Kelompok 2: Processed Culinary Ingredients. Bahan-bahan yang berasal dari alam namun telah diproses untuk membantu memasak di dapur, seperti minyak goreng, mentega, gula, dan garam.
  • Kelompok 3: Processed Foods. Produk yang dibuat dengan menambahkan bahan dari Kelompok 2 ke Kelompok 1. Tujuannya biasanya untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa, contohnya adalah roti artisan, keju, dan ikan kalengan sederhana.
  • Kelompok 4: Ultra-Processed Foods (UPF). Produk pangan yang diproduksi secara massal melalui serangkaian proses industri yang kompleks dan mengandung bahan-bahan yang jarang kita temukan di dapur rumah, seperti pewarna sintetis, pemanis buatan, pengental, dan pengemulsi.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sarden kalengan sebenarnya berada di persimpangan antara Kelompok 3 dan Kelompok 4, tergantung pada apa saja yang dimasukkan produsen ke dalam kaleng tersebut.

Baca Juga Ancaman ‘Cacing Pemakan Daging’: Kasus New World Screwworm Guncang Texas, Seberapa Bahaya bagi Manusia?
Ancaman ‘Cacing Pemakan Daging’: Kasus New World Screwworm Guncang Texas, Seberapa Bahaya bagi Manusia?

Bedah Kandungan: Apa yang Sebenarnya Ada di Dalam Kaleng Sarden?

Berdasarkan penelusuran tim SuaraInfo pada berbagai label produk di pasar ritel, komposisi utama sarden kalengan tentu saja adalah ikan (sarden, makarel, atau tuna). Persentasenya bervariasi secara signifikan, mulai dari yang sangat tinggi hingga di atas 60 persen, hingga produk ekonomis yang kandungan ikannya mungkin hanya berkisar di angka 20-an persen. Sisa dari ruang dalam kaleng tersebut diisi oleh saus atau media perendam.

Komposisi standar biasanya melibatkan air, minyak nabati, saus tomat, garam, gula, dan rempah-rempah seperti bawang putih atau cabai. Jika sebuah produk sarden hanya mengandung bahan-bahan dasar ini, maka ia secara teknis masuk ke dalam kategori Processed Food (NOVA 3), bukan UPF. Penggunaan teknologi sterilisasi suhu tinggi dalam proses pengalengan memungkinkan produk ini bertahan lama tanpa perlu tambahan pengawet kimia yang berlebihan.

Namun, ceritanya berubah ketika kita melihat daftar komposisi yang lebih panjang. Banyak produk di pasaran menambahkan bahan-bahan tambahan pangan (BTP) untuk efisiensi produksi dan konsistensi rasa. Berikut adalah beberapa bahan yang sering ditemukan dan bisa mendorong sarden kalengan masuk ke kategori Ultra Processed Food:

Baca Juga Dilema Daging Kurban: Perlukah Dicuci Sebelum Masuk Kulkas? Simak Penjelasan Ilmiah Agar Daging Tetap Sehat dan Awet
Dilema Daging Kurban: Perlukah Dicuci Sebelum Masuk Kulkas? Simak Penjelasan Ilmiah Agar Daging Tetap Sehat dan Awet
  • Natrium Benzoat: Digunakan sebagai pengawet tambahan untuk memastikan kestabilan produk dalam jangka panjang.
  • Mononatrium L-Glutamat (MSG): Penambah rasa gurih atau ‘micin’ yang seringkali digunakan untuk menutupi rasa ikan yang mungkin kurang segar atau saus yang encer.
  • Pati Termodifikasi (Modified Starch): Bahan ini berfungsi sebagai pengental saus agar terlihat lebih ‘mantap’ dan tidak memisah saat disimpan lama.
  • Pewarna dan Perisa Sintetik: Untuk memberikan warna merah saus yang lebih menggoda atau aroma rempah yang lebih tajam.

Dilema GGL: Gula, Garam, dan Lemak

Label UPF atau bukan sebenarnya hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya yang tak kalah penting adalah profil nutrisi atau kandungan GGL (Gula, Garam, Lemak). Meskipun sebuah merek sarden masuk dalam kategori NOVA 3 (non-UPF), bukan berarti ia bisa dikonsumsi secara membabi buta. Masalah utama pada makanan kalengan seringkali terletak pada kandungan natrium atau garam yang sangat tinggi.

Natrium digunakan tidak hanya untuk rasa, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengawetan. Bagi individu dengan riwayat hipertensi, konsumsi sarden kalengan berlebih bisa memicu tekanan darah tinggi. Begitu pula dengan kandungan gula dalam saus tomatnya yang terkadang cukup signifikan untuk memberikan rasa seimbang.

Baca Juga Rapor Kesehatan Donald Trump: Berat Badan Menanjak di Tengah Rahasia Jantung ‘Awet Muda’
Rapor Kesehatan Donald Trump: Berat Badan Menanjak di Tengah Rahasia Jantung ‘Awet Muda’

Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan manfaat gizinya. Ikan sarden adalah sumber protein berkualitas tinggi dan kaya akan asam lemak Omega-3 yang sangat baik untuk kesehatan jantung dan fungsi otak. Kalsium dalam tulang ikan sarden yang menjadi lunak setelah proses pemanasan juga merupakan bonus nutrisi yang jarang didapatkan dari sumber lain.

Sikap Bijak Konsumen: Membaca Sebelum Membeli

Polemik mengenai UPF ini sebenarnya membawa dampak positif: meningkatnya literasi pangan masyarakat. Kita diajak untuk tidak lagi menjadi konsumen pasif. Membaca label informasi nilai gizi dan daftar komposisi adalah langkah awal yang sangat krusial.

Tips praktis dari SuaraInfo bagi Anda yang ingin tetap menikmati sarden kalengan namun tetap sehat adalah dengan memilih produk yang memiliki daftar bahan paling pendek. Semakin pendek daftar bahannya, biasanya semakin dekat produk tersebut ke kategori alami. Hindari produk yang mengandung banyak istilah kimia yang sulit diucapkan, karena itu adalah indikator kuat dari produk industri pangan yang sangat diproses.

Baca Juga Investasi Masa Depan: Rahasia Frisian Flag dalam Mengawal Tumbuh Kembang Optimal Anak Indonesia
Investasi Masa Depan: Rahasia Frisian Flag dalam Mengawal Tumbuh Kembang Optimal Anak Indonesia

Selain itu, teknik pengolahan di rumah juga bisa membantu. Menambahkan sayuran segar seperti sawi, tomat, atau bawang bombay saat memanaskan sarden kalengan dapat meningkatkan kadar serat dan menyeimbangkan asupan natrium yang tinggi. Jangan lupa untuk tetap membatasi frekuensi konsumsinya dan mengutamakan bahan pangan segar jika memungkinkan.

Kesimpulan

Sarden kalengan adalah bukti nyata betapa kompleksnya dunia nutrisi modern. Ia tidak bisa diberi label ‘sehat’ atau ‘tidak sehat’ secara mutlak hanya berdasarkan kemasannya. Kuncinya ada pada detail komposisi dan bagaimana kita mengintegrasikannya ke dalam pola makan sehari-hari. Apakah ia UPF? Jawabannya: tergantung pada merek dan bahan tambahannya. Apakah ia bergizi? Ya, namun dengan catatan waspada pada kandungan garam dan gulanya.

Pada akhirnya, pengetahuan adalah alat pertahanan terbaik kita di meja makan. Menjadi konsumen yang cerdas berarti mampu melihat melampaui tren media sosial dan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh kita. Terus ikuti informasi terbaru mengenai kesehatan dan nutrisi hanya di portal berita terpercaya untuk menunjang kualitas hidup Anda dan keluarga.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *