Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026: Mengapa Fans Rival Merasa ‘Gerah’? Ini Penjelasan Pakar Psikologi

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
27 Mei 2026, 05:25 WIB
Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026: Mengapa Fans Rival Merasa 'Gerah'? Ini Penjelasan Pakar Psikologi

SuaraInfo — Penantian panjang itu akhirnya berakhir di musim 2025/2026. Setelah 22 tahun berada di bawah bayang-bayang kegagalan, Arsenal akhirnya resmi mentasbihkan diri sebagai raja sepak bola Inggris. Skuad asuhan Mikel Arteta berhasil membawa trofi Premier League kembali ke London Utara, memicu gelombang euforia luar biasa bagi para Gooners di seluruh dunia. Namun, di balik keriuhan pesta kemenangan tersebut, ada fenomena menarik yang terjadi di jagat maya: gelombang ketidaksenangan dari para pendukung klub rival.

Bukannya memberikan apresiasi atas pencapaian bersejarah tersebut, linimasa media sosial justru dipenuhi dengan sindiran, nyinyiran, hingga sikap apatis yang dipaksakan. Banyak netizen dari kubu lawan yang seolah kebakaran jenggot melihat kesuksesan Arsenal. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: mengapa keberhasilan sebuah tim bisa membuat pendukung tim lain merasa begitu terusik, seolah-olah mereka baru saja mengalami musibah pribadi?

Sentimen Negatif di Tengah Pesta Kemenangan

Pantauan di berbagai platform media sosial seperti X (Twitter) dan Threads menunjukkan adanya tensi yang tinggi. Sebagian besar fans rival mencoba mengecilkan makna gelar juara yang diraih Meriam London. Beberapa akun bahkan terang-terangan melontarkan komentar sinis yang meragukan relevansi kemenangan tersebut di mata publik sepak bola secara luas.

Baca Juga Uji Ketajaman Visual Anda: 8 Tantangan Tebak Gambar yang Hanya Bisa Dijawab oleh Si Paling Teliti!
Uji Ketajaman Visual Anda: 8 Tantangan Tebak Gambar yang Hanya Bisa Dijawab oleh Si Paling Teliti!

“Arsenal katanya juara Liga Inggris, tapi kok sepi amat? Enggak ada yang peduli apa ya?” tulis salah satu netizen yang tampaknya enggan mengakui dominasi tim besutan Arteta. Komentar lain senada juga bermunculan, menyebut bahwa perayaan fans Arsenal dianggap berlebihan atau bahkan mengganggu kenyamanan publik. “Jujur lucu dan agak gimana gitu, lihat postingan dan komenan fans lain tentang Arsenal. Rasanya kayak gerah bener lihat Arsenal juara, sampai-sampai bilang fans Arsenal kurang kerjaan nyenggol-nyenggol timnya padahal sudah juara atau bilang fans Arsenal berisik,” ungkap pengguna media sosial lainnya.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa rivalitas dalam sepakbola Inggris telah bergeser dari sekadar adu taktik di lapangan hijau menjadi adu mental dan narasi di dunia digital. Ketika satu pihak berada di puncak, pihak lain merasa perlu untuk menjatuhkan atau setidaknya meredam euforia tersebut agar tidak semakin menyakitkan untuk disaksikan.

Penjelasan Psikologis: Fenomena Disonansi Kognitif

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam benak para penggemar rival ini? Mengapa kesuksesan orang lain justru memicu rasa tidak nyaman? Menurut psikiater ternama dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, reaksi emosional yang muncul dari para pendukung rival sebenarnya memiliki dasar psikologis yang kuat. Dalam dunia medis dan kejiwaan, kondisi ini bisa dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai cognitive dissonance atau disonansi kognitif.

Baca Juga Fenomena Ubi Cream Cheese: Rahasia Nutrisi dan Polemik Kesehatan di Balik Camilan Viral Gen Z
Fenomena Ubi Cream Cheese: Rahasia Nutrisi dan Polemik Kesehatan di Balik Camilan Viral Gen Z

“Ketika Arsenal justru juara, muncul ketidaknyamanan psikologis karena realita yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau keyakinan yang selama ini dipegang. Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai cognitive dissonance,” jelas dr. Lahargo saat memberikan analisisnya. Selama dua dekade terakhir, narasi bahwa Arsenal adalah tim yang ‘selalu gagal di akhir’ telah menjadi identitas yang melekat di mata rival. Ketika kenyataan berbalik 180 derajat, otak manusia cenderung menolak realita baru tersebut untuk melindungi ego atau kenyamanan mental mereka sendiri.

Rasa tidak nyaman ini kemudian diekspresikan melalui berbagai mekanisme pertahanan, salah satunya adalah dengan meremehkan prestasi lawan atau menyerang perilaku penggemarnya. Hal ini dilakukan demi menyeimbangkan kembali perasaan internal yang terganggu akibat kemenangan sang rival abadi.

Rivalitas Sehat vs Toksisitas Digital

Meskipun rivalitas adalah bumbu penyedap dalam industri olahraga, dr. Lahargo memberikan wanti-wanti agar para penggemar tetap menjaga kewarasan mental mereka. Menjadi emosional saat tim kesayangan kalah atau tim rival menang adalah hal yang manusiawi, namun jika hal itu sudah mengarah pada kebencian mendalam yang terus-menerus, maka ada sesuatu yang salah dengan regulasi emosi individu tersebut.

Baca Juga Awas! Kebiasaan ‘Asal Anak Mau Makan’ Ternyata Bahaya, Ini Strategi Nutrisi ala SuaraInfo
Awas! Kebiasaan ‘Asal Anak Mau Makan’ Ternyata Bahaya, Ini Strategi Nutrisi ala SuaraInfo

“Selama masih dalam batas bercanda dan hiburan, tentu hal itu normal dan bagian dari dinamika pendukung bola. Tetapi kalau sampai memicu kebencian berlebihan, stres, atau perilaku toxic yang terus-menerus, itu menunjukkan regulasi emosinya mulai kurang sehat,” tegas dr. Lahargo. Stres yang dipicu oleh hal-hal di luar kendali kita—seperti hasil pertandingan sepak bola—sebenarnya adalah beban mental yang tidak perlu. Jika tidak dikelola, rasa ‘gerah’ ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental jangka panjang.

Olahraga, pada hakikatnya, diciptakan sebagai sarana hiburan, relasi sosial, dan media untuk melepas stres setelah penat dengan rutinitas harian. Namun, ironisnya, bagi sebagian orang, sepak bola justru menjadi sumber stres baru karena keterikatan emosional yang berlebihan atau yang sering disebut sebagai parasocial attachment.

Membangun Perspektif Baru dalam Menikmati Sepak Bola

Kemenangan Arsenal di bawah kepemimpinan Mikel Arteta adalah bukti dari proses panjang, ketahanan mental, dan kerja keras. Alih-alih merasa terancam, para pendukung klub lain bisa melihat ini sebagai siklus alami dalam dunia olahraga. Dr. Lahargo mengingatkan bahwa sepak bola bukan sekadar soal angka di papan skor atau trofi di lemari pajangan.

Baca Juga Daging Merah vs Daging Putih: Menelisik Mana yang Lebih Unggul untuk Kesehatan Jangka Panjang
Daging Merah vs Daging Putih: Menelisik Mana yang Lebih Unggul untuk Kesehatan Jangka Panjang

“Sepakbola kadang menjadi tempat manusia mencari rasa memiliki, harapan, dan kebersamaan. Ini adalah tentang bagaimana kita terhubung dengan orang lain melalui minat yang sama,” sambungnya. Menghargai proses sebuah tim, meskipun itu adalah tim rival, bisa menjadi salah satu cara untuk melatih empati dan kematangan emosional. Fokus pada perkembangan tim sendiri jauh lebih sehat daripada terus-menerus memantau dan membenci pencapaian tim lain.

Bagi para Gooners, gelar juara ini adalah penebusan atas kesabaran selama 22 tahun. Sedangkan bagi para rival, ini adalah pengingat bahwa dalam kompetisi, roda selalu berputar. Mengelola ekspektasi dan menerima realitas dengan lapang dada adalah kunci agar tetap bisa menikmati indahnya permainan tanpa harus mengorbankan ketenangan jiwa.

Kesimpulan: Jaga Mental, Nikmati Permainan

Di era informasi yang begitu cepat, gesekan antar fans di media sosial memang sulit dihindari. Namun, penting bagi setiap individu untuk menyadari batasan antara dukungan yang sehat dan fanatisme buta yang merusak kesehatan mental. Kemenangan Arsenal musim 2025/2026 mungkin terasa menyakitkan bagi sebagian orang, tetapi menjadikannya sumber permusuhan berkepanjangan hanya akan merugikan diri sendiri.

Baca Juga Mengapa Sulit Lepas dari Pelukan yang Menyakiti? Mengupas Fenomena Trauma Bonding dalam Hubungan Toksik
Mengapa Sulit Lepas dari Pelukan yang Menyakiti? Mengupas Fenomena Trauma Bonding dalam Hubungan Toksik

Mari kembali ke esensi dasar olahraga: hiburan dan sportivitas. Selamat untuk Arsenal atas gelar juaranya, dan bagi para fans rival, mungkin ini saat yang tepat untuk mematikan notifikasi media sosial sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan menyadari bahwa di luar lapangan hijau, masih banyak hal yang lebih layak untuk diperjuangkan daripada sekadar memenangkan perdebatan di kolom komentar.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *