Bahaya Tersembunyi Jeroan: Ancaman Radang Sendi dan Kerusakan Ginjal di Balik Lezatnya Hidangan Kurban

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
27 Mei 2026, 21:27 WIB
Bahaya Tersembunyi Jeroan: Ancaman Radang Sendi dan Kerusakan Ginjal di Balik Lezatnya Hidangan Kurban

SuaraInfo — Perayaan Idul Adha selalu menyisakan cerita kuliner yang menggugah selera. Di tengah gema takbir yang berkumandang, aroma sate yang membumbung tinggi dan deretan panci berisi gulai kental seolah menjadi pemandangan wajib di setiap rumah masyarakat Indonesia. Namun, di balik kemeriahan pesta daging kurban tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang mengintai jika kita tidak bijak dalam memilih apa yang masuk ke dalam piring makan kita.

Salah satu primadona yang kerap dicari namun sekaligus ditakuti adalah jeroan. Mulai dari sate hati yang lembut, gulai kikil yang kenyal, paru goreng yang renyah, hingga babat dan usus yang gurih, semuanya menjadi hidangan favorit yang sulit ditolak. Fenomena ‘balas dendam’ dalam mengonsumsi olahan organ dalam hewan ini sering kali terjadi setelah masa puasa atau sekadar merayakan limpahnya stok daging. Namun, para ahli kesehatan memberikan peringatan keras bahwa kenikmatan sesaat ini bisa berujung pada penderitaan jangka panjang bagi tubuh, khususnya pada sistem persendian dan fungsi filtrasi ginjal.

Baca Juga Waspada! Sering Bangun Tengah Malam untuk Buang Air Kecil? Ini Sederet Gejala Kanker Prostat dan Cara Mencegahnya
Waspada! Sering Bangun Tengah Malam untuk Buang Air Kecil? Ini Sederet Gejala Kanker Prostat dan Cara Mencegahnya

Dilema Nutrisi di Balik Gurihnya Jeroan

Secara objektif, jeroan memang bukan sekadar makanan tanpa manfaat. Organ dalam hewan seperti hati dan jantung merupakan sumber nutrisi yang padat. Di dalamnya terkandung zat besi yang melimpah, vitamin B12 yang krusial untuk saraf, serta kandungan protein yang cukup tinggi. Akan tetapi, jeroan ibarat pedang bermata dua. Di samping nutrisi mikro tersebut, jeroan menyimpan konsentrasi kolesterol, lemak jenuh, dan purin yang sangat tinggi dibandingkan dengan daging merah biasa.

Kandungan purin inilah yang menjadi aktor utama dalam memicu berbagai masalah kesehatan kronis. Purin adalah senyawa kimia alami yang ditemukan dalam banyak makanan, namun pada jeroan, kadarnya jauh melampaui batas toleransi harian bagi banyak orang. Ketika tubuh memproses purin, hasil sampingannya adalah asam urat. Dalam kondisi normal, asam urat akan larut dalam darah dan dibuang melalui ginjal. Masalah muncul ketika pasokan purin dari makanan seperti jeroan sapi atau kambing terlalu berlebihan, melampaui kemampuan ginjal untuk menyaringnya.

Baca Juga Alarm Keras dari Kampus Biru: Mengupas Bobroknya Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Pasca Skandal BGN
Alarm Keras dari Kampus Biru: Mengupas Bobroknya Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Pasca Skandal BGN

Serangan Asam Urat dan Ancaman Artritis Gout

Peningkatan kadar asam urat dalam darah atau yang secara medis dikenal sebagai hiperurisemia adalah konsekuensi langsung dari konsumsi jeroan yang tidak terkontrol. Praktisi kesehatan dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menekankan bahwa lonjakan asam urat ini tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, tumpukan asam urat yang tidak terbuang akan mengkristal dan mengendap di berbagai bagian tubuh, terutama pada jaringan sendi.

“Konsumsi jeroan yang berlebih itu akan menyebabkan gangguan terutama peningkatan asam urat,” jelas dr. Aru dalam sebuah kesempatan diskusi kesehatan. Penumpukan kristal tajam di persendian ini memicu kondisi yang disebut Artritis Gout. Gejalanya sangat khas dan menyiksa: rasa nyeri yang luar biasa hebat, pembengkakan, kemerahan, dan rasa panas pada sendi, yang sering kali menyerang jempol kaki, pergelangan kaki, atau lutut secara mendadak di malam hari.

Kondisi ini jika dibiarkan akan mengganggu mobilitas dan kualitas hidup. Bagi banyak orang, serangan asam urat setelah hari raya kurban adalah hal yang umum terjadi, namun sebenarnya merupakan sinyal darurat bahwa sistem metabolisme tubuh sedang mengalami tekanan hebat akibat asupan makanan yang tidak seimbang.

Baca Juga Mengapa Perut Mulas Menjelang Race? Mengenal Pre-Race Anxiety dan Fenomena Runner’s Trot pada Pelari
Mengapa Perut Mulas Menjelang Race? Mengenal Pre-Race Anxiety dan Fenomena Runner’s Trot pada Pelari

Beban Berat pada Fungsi Ginjal

Dampak buruk jeroan tidak berhenti di persendian saja. Organ vital lainnya yang paling terdampak adalah ginjal. Sebagai filter utama tubuh, ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan asam urat. Ketika kadar asam urat dalam urine menjadi terlalu pekat, risiko terbentuknya batu ginjal meningkat drastis. Kristal asam urat dapat mengendap di dalam saluran kemih, membentuk batu yang keras dan tajam.

Batu asam urat ini dapat menyumbat aliran urine, menyebabkan rasa nyeri pinggang yang hebat (kolik renal), mual, muntah, hingga munculnya darah dalam urine. Lebih jauh lagi, penumpukan kristal di dalam jaringan ginjal itu sendiri dapat memicu peradangan kronis yang berujung pada penurunan fungsi ginjal. Jika kebiasaan makan jeroan secara berlebihan ini menjadi gaya hidup jangka panjang, risiko gagal ginjal kronis bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi.

Mengatur Strategi Makan Sehat di Hari Raya

Menikmati hidangan hari raya sebenarnya diperbolehkan asalkan dengan kontrol diri yang ketat. Mengonsumsi jeroan secara sporadis mungkin tidak akan langsung menyebabkan kerusakan permanen pada individu yang sehat, namun ceritanya akan berbeda bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit metabolik. Dokter menyarankan agar kita lebih selektif dalam memilih bagian daging yang dikonsumsi.

Baca Juga Tragedi Maut di Stasiun Bekasi Timur: Mengapa Kita Harus Berhenti Menyebarkan Foto dan Video Korban?
Tragedi Maut di Stasiun Bekasi Timur: Mengapa Kita Harus Berhenti Menyebarkan Foto dan Video Korban?

Beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan antara lain:

  • Batasi Porsi: Jika ingin mencicipi jeroan, batasi jumlahnya hanya sebagai penambah rasa, bukan sebagai hidangan utama.
  • Imbangi dengan Serat: Konsumsi sayuran hijau dan buah-buahan yang kaya serat untuk membantu menghambat penyerapan lemak dan kolesterol jahat.
  • Hidrasi Maksimal: Minum air putih dalam jumlah banyak sangat krusial untuk membantu ginjal melarutkan dan membuang asam urat melalui urine.
  • Hindari Minuman Manis: Fruktosa dalam minuman manis dapat memicu peningkatan produksi asam urat di dalam tubuh, sehingga memperparah efek dari jeroan.

Perlunya Kesadaran Sejak Dini

Banyak orang menganggap bahwa gangguan kesehatan akibat makanan hanya dialami oleh lansia. Namun, tren saat ini menunjukkan bahwa penderita gout dan masalah ginjal mulai merambah usia muda akibat pola makan yang buruk. Momentum Idul Adha seharusnya menjadi waktu untuk bersyukur dan berbagi, bukan menjadi ajang untuk merusak kesehatan diri sendiri dengan pola makan buruk.

Kesadaran akan kandungan purin dan lemak dalam jeroan harus dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat. Mengolah jeroan dengan cara yang lebih sehat, seperti merebusnya berkali-kali dan membuang air rebusan pertamanya, bisa sedikit mengurangi kadar purin dan lemak, namun tetap tidak menghilangkan risikonya secara total. Oleh karena itu, moderasi adalah kunci utama dalam menikmati hidangan lezat namun tetap menjaga tubuh tetap bugar.

Baca Juga Awas! Kebiasaan ‘Asal Anak Mau Makan’ Ternyata Bahaya, Ini Strategi Nutrisi ala SuaraInfo
Awas! Kebiasaan ‘Asal Anak Mau Makan’ Ternyata Bahaya, Ini Strategi Nutrisi ala SuaraInfo

Kesimpulan: Bijak Menikmati Kelezatan

Pada akhirnya, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang paling berharga. Menikmati gulai babat atau paru goreng sesekali memang menggoda, namun bayang-bayang nyeri sendi dan gangguan ginjal harus menjadi pengingat bagi kita untuk tetap waspada. Jangan biarkan euforia hari raya berubah menjadi duka karena harus terbaring sakit akibat kelalaian dalam menjaga asupan makanan.

Mari jadikan momen kurban kali ini sebagai titik balik untuk memulai gaya hidup sehat. Pilihlah bagian daging yang rendah lemak, perbanyak aktivitas fisik setelah makan besar, dan jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala jika merasakan gejala nyeri sendi yang tidak biasa. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa menikmati lebih banyak momen berharga bersama keluarga di masa depan tanpa harus dihantui oleh penyakit metabolik yang sebenarnya bisa dicegah.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *