Jakarta Bidik Turis China: PHRI Bersiap Tancap Gas Dukung Promosi Masif di Xiamen dan Shanghai
SuaraInfo — Langkah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memperluas jangkauan pasar pariwisata internasional kini tengah menjadi sorotan hangat. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta baru-baru ini melancarkan sebuah gebrakan promosi besar-besaran yang menyasar dua kota megapolitan di Negeri Tirai Bambu, yakni Xiamen dan Shanghai. Inisiatif ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan sebuah misi diplomasi ekonomi untuk menarik minat wisatawan asal China agar menjadikan Jakarta sebagai destinasi utama mereka.
Gebrakan ini pun disambut dengan optimisme tinggi oleh para pelaku industri di tanah air. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta secara terbuka memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap langkah berani ini. Menurut mereka, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha adalah kunci utama untuk membangkitkan kembali gairah sektor industri pariwisata yang sempat terdampak dinamika global beberapa tahun terakhir.
Strategi Jitu di Balik Pemilihan Pasar China
Ketua BPD PHRI Jakarta, Sutrisno Iwantono, menegaskan bahwa keputusan untuk membidik pasar China merupakan langkah yang sangat relevan dan visioner. Hal ini didasari oleh fakta bahwa China tetap menjadi salah satu pasar wisatawan outbound terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Dengan populasi yang besar serta daya beli yang terus meningkat, wisatawan asal China memiliki potensi luar biasa untuk mendongkrak devisa negara melalui sektor pariwisata.
“Kami melihat ini sebagai peluang emas. China bukan hanya sekadar pasar, melainkan mesin pertumbuhan pariwisata global. Kehadiran DKI Jakarta dalam ajang bergengsi seperti ITB China 2026 di Shanghai adalah bukti nyata bahwa kita siap bersaing di panggung internasional,” ujar Sutrisno. Keikutsertaan Jakarta dalam ajang tersebut dianggap sebagai momentum krusial untuk memperkuat branding kota sebagai destinasi yang modern, aman, dan penuh kejutan bagi para pelancong mancanegara.
Melalui skema sales mission dan business matching, Jakarta berupaya membangun jembatan komunikasi langsung dengan para agen perjalanan dan investor di China. Strategi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan angka kunjungan secara kuantitas, tetapi juga secara kualitas, dengan menyasar segmen wisatawan yang memiliki waktu tinggal lebih lama dan pengeluaran yang lebih tinggi selama berada di Jakarta.
Memahami Pergeseran Tren Wisatawan Modern
Dunia pariwisata terus berevolusi, begitu pula dengan preferensi wisatawan asal China. Berdasarkan pengamatan PHRI, saat ini terjadi pergeseran tren yang cukup signifikan. Jika dahulu wisatawan lebih menyukai perjalanan grup dalam skala besar dengan destinasi yang umum, kini mereka lebih mendambakan pengalaman yang bersifat personal, berkualitas, dan autentik. Hal ini mencakup eksplorasi city tourism, wisata belanja di pusat perbelanjaan kelas dunia, hingga petualangan kuliner yang menggugah selera.
“Wisatawan China sekarang jauh lebih cerdas dalam memilih destinasi. Mereka mencari ekonomi kreatif, gaya hidup premium, dan kenyamanan dalam melakukan perjalanan bisnis. Jakarta memiliki semua elemen itu,” tambah Sutrisno. Sebagai kota metropolitan yang tidak pernah tidur, Jakarta menawarkan perpaduan unik antara modernitas gedung pencakar langit dengan kekayaan budaya yang terselip di sudut-sudut kotanya.
Keunggulan Jakarta sebagai pintu gerbang utama Indonesia juga menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki kota lain. Konektivitas penerbangan internasional yang semakin mudah, ketersediaan transportasi publik yang kian terintegrasi, serta fasilitas akomodasi yang beragam—mulai dari hotel butik hingga hotel bintang lima bertaraf global—menjadikan Jakarta siap memanjakan setiap tamu yang datang.
Jakarta Sebagai Pusat MICE dan Gaya Hidup Global
Selain sektor rekreasi, salah satu fokus utama dari promosi di Xiamen dan Shanghai ini adalah penguatan sektor MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions). Jakarta telah lama dikenal sebagai pusat bisnis di Asia Tenggara, dan potensi ini terus dikembangkan agar bisa bersaing dengan Singapura atau Bangkok. Keberadaan fasilitas konvensi yang megah dan dukungan infrastruktur teknologi yang mumpuni menjadikan Jakarta destinasi ideal bagi perusahaan-perusahaan asal China untuk menggelar acara skala internasional.
Sutrisno Iwantono meyakini bahwa dengan promosi yang konsisten dan berkelanjutan, sektor MICE akan menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan okupansi hotel di Jakarta. “Ketika ada konferensi besar atau pameran dagang internasional, seluruh ekosistem pariwisata akan bergerak. Mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM di sekitar lokasi acara akan merasakan dampak ekonominya secara langsung,” jelasnya.
Namun, PHRI juga mengingatkan bahwa persaingan di kawasan regional tidaklah mudah. Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand juga sangat agresif dalam merebut pasar China. Oleh karena itu, Jakarta harus terus berinovasi dalam menawarkan paket wisata yang lebih kompetitif dan menarik tanpa mengesampingkan kualitas layanan.
Kesiapan Industri: Hotel dan Restoran Siap ‘Tancap Gas’
Merespons kebijakan pemerintah, industri hotel dan restoran di Jakarta menyatakan kesiapan mereka untuk menyambut gelombang wisatawan asing. Berbagai langkah internal mulai disiapkan, mulai dari peningkatan standar protokol kesehatan, pelatihan bahasa bagi staf hotel, hingga penyediaan menu-menu kuliner yang disesuaikan dengan selera pasar internasional tanpa kehilangan jati diri lokal.
PHRI berkomitmen untuk terus mendorong anggotanya agar memperkuat hospitality experience. Bagaimanapun, kesan pertama wisatawan saat tiba di hotel atau saat bersantap di restoran akan sangat menentukan apakah mereka akan kembali lagi di masa depan atau memberikan rekomendasi positif melalui media sosial. Di era digital saat ini, reputasi di dunia maya adalah mata uang yang sangat berharga bagi industri pariwisata.
“Kami tidak ingin hanya sekadar menyambut tamu. Kami ingin mereka merasakan keramah-tamahan asli Indonesia yang dikemas secara profesional. Inilah yang akan membedakan Jakarta dengan kota-kota besar lainnya di dunia,” tegas Sutrisno dalam pernyataan resminya.
Harapan untuk Pertumbuhan Pariwisata Jangka Panjang
Promosi masif di China diharapkan bukan sekadar program musiman, melainkan awal dari hubungan kerja sama yang lebih erat antara Jakarta dan kota-kota besar di China. PHRI berharap pemerintah terus mendukung keberlangsungan program promosi ini dengan kebijakan-kebijakan yang memudahkan akses masuk wisatawan, seperti penyederhanaan proses visa atau penambahan frekuensi penerbangan langsung.
Dengan sinergi yang solid antara pemerintah provinsi melalui Disparekraf dan para pelaku usaha di bawah naungan PHRI, optimisme menyongsong Jakarta sebagai “Kota Global” pun semakin nyata. Masa depan pariwisata Jakarta kini bergantung pada seberapa konsisten semua pihak dalam menjaga standar layanan dan terus mempromosikan kekayaan kota ini ke mata dunia.
Mari kita dukung terus perkembangan wisatawan mancanegara di Jakarta agar ekonomi lokal terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Jakarta siap melangkah lebih jauh, menembus batas, dan menjadi destinasi impian di panggung global.