Misteri Kepingan Emas dan Arca Dewa Surya: Menyingkap Tabir Sejarah di Balik Pemugaran Candi Losari Magelang
SuaraInfo — Tanah Jawa kembali memuntahkan rahasia terpendamnya yang telah membisu selama berabad-abad di bawah lapisan material vulkanik. Kali ini, perhatian dunia arkeologi tertuju pada sebuah dusun sunyi di Magelang, Jawa Tengah. Sebuah penemuan menakjubkan berupa kepingan logam yang diduga kuat sebagai emas murni muncul ke permukaan saat para pekerja sedang bergelut memugar struktur Candi Losari. Penemuan ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik megahnya alam pegunungan Jawa Tengah, tersimpan jejak peradaban luhur yang belum sepenuhnya terungkap.
Peristiwa yang menggetarkan para peneliti sejarah ini bermula ketika proses pemugaran rutin dilakukan di Candi Losari, yang terletak di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Di tengah deru alat dan ketelitian tangan para pekerja, sebuah kilauan kuning muncul dari balik lapisan tanah kuno. Bukan sekadar logam biasa, benda tersebut ditemukan terkubur jauh di bawah lantai asli candi, sebuah lokasi yang biasanya dianggap sakral dan menjadi tempat penyimpanan persembahan bagi para dewa di masa lampau.
Kronologi Penemuan di Kedalaman Struktur Candi
Restu Hidayat, sang juru pugar dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, menceritakan detik-detik mendebarkan saat benda berharga tersebut ditemukan. Menurut keterangannya, penemuan itu terjadi saat tim sedang melakukan pembongkaran di lapisan kesembilan struktur bangunan candi. Pada kedalaman tersebut, tim tidak hanya menemukan satu jenis benda, melainkan rangkaian artefak yang saling berkaitan secara teologis dan historis.
“Saat proses pembongkaran mencapai lapis sembilan, kami menemukan dua blok arca yang diidentifikasi sebagai arca Dewa Surya. Letaknya tepat di bawah lantai, sekitar tiga lapis dari permukaan lantai candi,” ungkap Restu dengan nada antusias saat ditemui langsung di lokasi proyek. Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Tim memutuskan untuk menggali lebih dalam hingga menyentuh lapisan tanah asli yang menjadi pondasi dasar bangunan purbakala tersebut.
Di kedalaman tanah asli itulah, mereka menemukan sebuah kotak peripih. Peripih dalam tradisi pembangunan candi di Jawa merupakan wadah suci yang biasanya berisi benda-benda simbolis untuk menghidupkan ‘ruh’ sebuah bangunan suci. Di dalam atau di sekitar peripih tersebut, terselip selembar logam berwarna kekuningan berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 1,5 x 1,5 sentimeter. Meski tipis seperti lempengan seng, warna kuningnya yang mencolok langsung mengarahkan dugaan pada logam mulia emas.
Dewa Surya: Sang Penjaga Candi Losari
Salah satu aspek yang paling menarik dari penemuan ini adalah konsistensi arca yang ditemukan. Sejauh ini, total ada lima arca yang telah berhasil dievakuasi dari situs Candi Losari. Menariknya, kelima arca tersebut memiliki visualisasi yang identik, yakni penggambaran Dewa Surya, sang penguasa matahari dalam panteon Hindu.
Tiga arca ditemukan pada tahap ekskavasi awal beberapa waktu lalu, sementara dua sisanya baru menampakkan diri saat proses pemugaran berlangsung. Restu menjelaskan bahwa perbedaan antara kelima arca tersebut sangatlah tipis, hampir tidak terlihat secara kasatmata kecuali melalui pengukuran mendetail. “Bentuknya sama semua, hanya beda ukurannya sangat tipis, mungkin selisih sekitar 1 sentimeter saja antara satu dengan yang lainnya,” tambahnya. Keberadaan lima arca Dewa Surya di satu titik bangunan suci memicu diskusi baru di kalangan sejarawan mengenai fungsi spesifik Candi Losari di masa pemerintahan Mataram Kuno.
Misteri Kotak Peripih yang Terbuka: Jejak Penjarahan Masa Lalu?
Namun, di balik kegembiraan atas penemuan emas dan arca tersebut, terselip sebuah misteri yang cukup meresahkan. Kotak peripih yang ditemukan tim juru pugar berada dalam kondisi yang tidak utuh lagi. Tutup kotak batu tersebut ditemukan terpisah dari wadah utamanya, memicu dugaan adanya intervensi manusia di masa lalu sebelum candi ini tertutup oleh material lahar dari letusan Gunung Merapi.
Junawan, Penanggung Jawab Kegiatan Rekonstruksi Candi Losari, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi kotak suci tersebut. Walaupun logam kuning ditemukan di lokasi yang sama, posisi tutup peripih yang sudah tidak menyatu menunjukkan bahwa tempat tersebut kemungkinan besar pernah dibongkar secara sengaja. “Kami tidak berani langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pencurian artefak, namun secara teknis memang sudah ada intervensi manusia di sana,” ujar Junawan.
Konteks sejarah menunjukkan bahwa banyak candi di lereng Gunung Merapi tertimbun material vulkanik dalam proses yang memakan waktu lama. Jika benar terjadi penjarahan, maka peristiwa tersebut kemungkinan terjadi pada masa transisi sebelum bencana besar melanda wilayah tersebut, atau bahkan pada masa-masa di mana pemukiman penduduk mulai bergeser. Hingga saat ini, para ahli masih meneliti apakah logam kuning yang tersisa adalah sisa-sisa yang tertinggal atau memang bagian dari ritual yang memang diletakkan di luar kotak.
Uji Laboratorium dan Konservasi Ketat
Untuk memastikan apakah lempengan kuning tersebut benar-benar emas murni, pihak BPK Wilayah X telah membawa temuan tersebut ke kantor pusat di Bugisan, Prambanan, Klaten. Langkah ini diambil demi alasan keamanan dan kebutuhan analisis ilmiah yang lebih mendalam. Mengingat lokasi situs yang terbuka dan risiko keamanan yang tinggi, artefak sekecil apa pun yang memiliki nilai berharga wajib segera diamankan.
“Secara visual memang berwarna kekuningan dan sangat menyerupai emas. Namun, kepastiannya harus menunggu hasil uji laboratorium. Kami telah mendaftarkan temuan ini ke bagian konservasi untuk dianalisis lebih lanjut menggunakan alat khusus,” jelas Junawan. Logam tersebut memiliki ketebalan sekitar setengah milimeter, sangat tipis namun terlihat tahan terhadap korosi, sebuah ciri khas yang sering diasosiasikan dengan logam mulia yang digunakan sebagai persembahan keagamaan.
Tantangan Pemugaran: Melawan Arus Air Bawah Tanah
Proses pemugaran Candi Losari sendiri bukanlah perkara mudah. Selain harus menjaga ketelitian dalam menangani batuan kuno, tim di lapangan dihadapkan pada tantangan alam yang cukup berat. Situs candi ini berada di area yang memiliki debit air bawah tanah yang sangat tinggi. Setiap kali penggalian dilakukan hingga ke bagian pondasi, air terus merembes dengan deras, mengancam kestabilan struktur yang sedang dibangun kembali.
Untuk mengatasi masalah ini, tim rekonstruksi terpaksa menggunakan teknologi modern berupa pengecoran semen pada bagian isian pondasi bawah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar bangunan candi tidak ambles di masa depan akibat tekanan air dan beban bangunan. Target pemugaran tahap ini adalah menyelesaikan hingga 14 lapis struktur kaki candi yang diperkirakan akan rampung pada bulan Oktober mendatang.
“Kami harus memastikan pondasinya sangat kuat. Jadi, isian bawah kami perkuat dengan semen mengingat debit air di bawah lantai candi ini sangat tinggi,” kata Restu Hidayat. Setelah tahap pondasi ini selesai, pemugaran akan dilanjutkan ke tahap kedua yang bertujuan untuk menyusun kembali bagian tubuh hingga atap candi, sehingga nantinya masyarakat dapat melihat wujud utuh dari mahakarya arsitektur masa lalu ini.
Signifikansi Penemuan bagi Pariwisata dan Sejarah Jawa
Penemuan kepingan emas dan arca-arca di Candi Losari ini semakin memperkaya daftar panjang kekayaan budaya di wilayah Jawa Tengah. Bagi masyarakat lokal, penemuan ini memberikan rasa bangga sekaligus harapan bahwa desa mereka akan menjadi pusat perhatian baru bagi para pecinta sejarah dan wisatawan edukasi. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan lebih dalam hal infrastruktur pendukung di sekitar situs agar kelestariannya terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Seiring dengan berjalannya proses pemugaran, Candi Losari diprediksi akan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan yang melengkapi kemegahan Candi Borobudur yang letaknya tidak terlalu jauh. Cerita tentang emas yang terpendam dan arca Dewa Surya yang tetap bersinar meski ribuan tahun tertimbun tanah akan terus menjadi daya tarik magis bagi siapa saja yang berkunjung ke kaki Gunung Merapi ini.
Kini, publik menanti hasil uji laboratorium yang akan menentukan status lempengan kuning tersebut. Apakah itu emas murni milik bangsawan Mataram Kuno, ataukah logam campuran yang memiliki makna simbolis tersendiri? Apapun hasilnya, Candi Losari telah membuktikan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk ditemukan kembali oleh mereka yang peduli pada akar budayanya sendiri.