Menjelajahi ‘Gurun Sahara’ di Lombok Timur: Jejak Bekas Tambang yang Menjelma Jadi Destinasi Estetik Ala Timur Tengah

Dimas Pratama | SuaraInfo
21 Jun 2026, 09:29 WIB
Menjelajahi 'Gurun Sahara' di Lombok Timur: Jejak Bekas Tambang yang Menjelma Jadi Destinasi Estetik Ala Timur Tengah

SuaraInfo — Sejauh mata memandang, hamparan pasir berwarna keabu-abuan membentuk gundukan-gundukan artistik yang mengingatkan kita pada lanskap eksotis di Jazirah Arab. Siapa sangka, pemandangan yang kini tengah menjadi primadona baru di jagat maya ini bukan berada di Timur Tengah, melainkan di pelosok Lombok Timur. Sebuah fenomena unik muncul ketika area yang dulunya merupakan kawasan industri berat, kini bertransformasi menjadi magnet wisata Lombok Timur yang memikat ribuan pasang mata.

Terletak di Dusun Dedalpak, Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, lokasi ini mendadak ramai diperbincangkan setelah potongan video dan foto-fotonya tersebar luas di berbagai platform media sosial. Para pelancong seolah menemukan oase visual di tengah pulau yang selama ini lebih dikenal dengan garis pantainya yang putih. Namun, di balik keindahannya yang sinematik, tersimpan cerita tentang sisa-sisa eksploitasi alam yang kini memberikan napas baru bagi ekonomi lokal melalui sektor pariwisata kreatif.

Transformasi Limbah Industri Menjadi Spot Foto Estetik

Secara teknis, gundukan pasir yang terlihat seperti gurun alami ini sebenarnya adalah sisa atau limbah dari aktivitas tambang pasir besi. Di masa lalu, lokasi ini dikelola oleh PT AMG untuk diambil kandungan mineralnya. Setelah aktivitas penambangan usai, tumpukan material yang tidak terpakai dibiarkan membentuk bukit-bukit kecil. Tak disangka, proses alam dan penataan yang tidak disengaja tersebut justru menciptakan struktur tanah yang sangat fotogenik, menjadikannya salah satu destinasi viral yang paling dicari saat ini.

Baca Juga Eksklusivitas di Awan: Menikmati Staycation Premium di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Penawaran Terbatas
Eksklusivitas di Awan: Menikmati Staycation Premium di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Penawaran Terbatas

Permukaan pasir yang luas dengan tekstur yang lembut namun padat menciptakan kontras yang luar biasa, terutama saat cahaya matahari mulai meredup di ufuk barat. Warna pasir yang cenderung gelap memberikan kesan dramatis, sangat berbeda dengan padang pasir kuning kecokelatan di Sahara. Inilah yang kemudian memicu kreativitas para pengunjung untuk datang dengan konsep pakaian yang unik demi mendapatkan konten media sosial yang sempurna.

Sensasi Jazirah Arab di Tanah Seribu Masjid

Salah satu daya tarik utama yang membuat tempat ini kian populer adalah tren berpakaian ala penduduk Timur Tengah. Tak jarang, pengunjung yang datang sengaja mengenakan gamis, jubah, hingga sorban lengkap. Fenomena ini menciptakan pemandangan unik di mana budaya lokal bersinggungan dengan imajinasi visual ala gurun pasir. Bagi masyarakat setempat, hal ini menjadi pemandangan baru yang menyegarkan sekaligus menghibur.

Asma Rani, seorang remaja berusia 17 tahun yang sempat kami temui di lokasi, mengungkapkan antusiasmenya. Ia mengaku rela menempuh perjalanan jauh hanya karena rasa penasaran setelah melihat unggahan di TikTok. “Tahunya dari media sosial, jadi ingin mencoba merasakan sensasi berfoto dengan gaya Timur Tengah. Ternyata memang suasananya mendukung sekali, apalagi kalau kita pandai mengambil sudut pandang kamera,” ujarnya dengan antusias. Baginya, kehadiran tempat ini memberikan alternatif liburan ke Lombok yang tidak melulu soal laut.

Baca Juga Strategi Besar Danantara: Mengonsolidasi Hotel BUMN di Bawah Naungan InJourney demi Kebangkitan Pariwisata
Strategi Besar Danantara: Mengonsolidasi Hotel BUMN di Bawah Naungan InJourney demi Kebangkitan Pariwisata

Aktivitas Berkuda: Menambah Otentisitas Pengalaman Gurun

Untuk menambah kesan otentik layaknya berada di padang pasir sesungguhnya, pengelola lokal telah menyediakan fasilitas penyewaan kuda. Kehadiran hewan tangkas ini seolah melengkapi potongan teka-teki visual yang dicari oleh para pemburu foto. Pengunjung tidak hanya bisa berpose statis, tetapi juga dapat merasakan sensasi berkuda mengelilingi gundukan pasir besi tersebut dengan latar belakang langit sore yang jingga.

Tarif yang ditawarkan pun tergolong sangat terjangkau bagi kantong wisatawan domestik. Hanya dengan merogoh kocek antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000, pengunjung sudah bisa menunggangi kuda dan mendapatkan momen foto yang sangat ikonik. Fasilitas ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar, yang dengan sigap menangkap peluang ekonomi dari keramaian yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Pengelolaan Lokal dan Harapan Pengembangan Masa Depan

Meskipun status awalnya adalah lahan bekas tambang, pengelolaan kawasan ini kini mulai tertata berkat inisiatif warga Desa Pohgading. Apriadi, salah satu pengelola di lapangan, menjelaskan bahwa lonjakan pengunjung mulai terasa signifikan dalam sepekan terakhir. Kehadiran ribuan orang ini tentu membutuhkan penanganan, mulai dari pengaturan parkir hingga aspek keamanan bagi para pengunjung yang naik ke puncak gundukan pasir.

Baca Juga Menguak Misteri Sumur Puter Kudus: Warisan Sunan Kudus yang Konon Membuat Pengunjung Tersesat dalam Labirin Gaib
Menguak Misteri Sumur Puter Kudus: Warisan Sunan Kudus yang Konon Membuat Pengunjung Tersesat dalam Labirin Gaib

“Kami melihat antusiasme yang luar biasa. Untuk saat ini, kami hanya memberlakukan biaya parkir sebesar Rp 2.000. Pendapatan dari parkir ini nantinya akan kami kumpulkan dan putar kembali untuk memperbaiki fasilitas pendukung, seperti penataan area dan penyediaan tempat sampah agar kebersihan tetap terjaga,” jelas Apriadi. Ia berharap, pemerintah daerah dapat memberikan atensi lebih lanjut agar spot foto instagramable ini bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata resmi yang berkelanjutan.

Tips Berkunjung ke Pantai Muara Harapan

Bagi Anda yang berencana mengunjungi lokasi ini, sangat disarankan untuk memperhatikan waktu kedatangan. Mengingat area ini merupakan hamparan pasir terbuka yang minim pepohonan, suhu udara bisa menjadi sangat terik di siang hari. Waktu terbaik adalah pada pagi hari sebelum pukul 09.00 WITA atau sore hari mulai pukul 16.00 WITA hingga menjelang matahari terbenam.

Untuk memudahkan navigasi, Anda dapat mencari titik lokasi dengan kata kunci Pantai Muara Harapan di aplikasi Google Maps. Akses menuju lokasi tergolong mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, agar pesona buatan manusia yang indah ini tetap dapat dinikmati oleh pengunjung-pengunjung berikutnya.

Baca Juga Jokowi Menuju Layar Lebar: Siap Perankan Tokoh Utama dalam Film Kolosal Budaya Dayak
Jokowi Menuju Layar Lebar: Siap Perankan Tokoh Utama dalam Film Kolosal Budaya Dayak

Kesimpulan: Keindahan yang Lahir dari Ketidaksengajaan

Destinasi padang pasir di Lombok Timur ini membuktikan bahwa potensi wisata bisa muncul dari mana saja, bahkan dari lahan bekas industri sekalipun. Kreativitas masyarakat dan kekuatan media sosial telah mengubah persepsi limbah menjadi sebuah aset berharga. Kini, Lombok tidak hanya menawarkan kemegahan Gunung Rinjani atau kejernihan Gili Trawangan, tetapi juga sebuah potongan kecil Jazirah Arab yang menawan di pesisir Pringgabaya.

Kisah sukses viralnya kawasan ini menjadi pengingat penting bagi para pelaku pariwisata bahwa keunikan visual dan pengalaman yang berbeda adalah kunci utama dalam menarik minat wisatawan modern. Mari kita nantikan bagaimana transformasi Pantai Muara Harapan ini akan terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi wajah pariwisata Nusa Tenggara Barat di masa depan.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *